7. Ancaman untuk Berliana

1117 Words
Oliver sedang duduk di balkon kamar hotelnya, menatap pemandangan malam Havana yang gemerlap. Di tangan kanannya sebatang rokok sudah terbakar separuh. Pikirannya melayang pada sosok Berliana. "Pacar pura-pura, ya …" gumamnya lirih. Dia tersenyum miris, lalu mengembuskan asap rokok perlahan. "Kamu bahkan nggak tahu kalau aku udah lama jatuh cinta sama kamu, Liana." Ponselnya bergetar di meja kecil sebelah kursi. Nama di layar membuat senyumnya menghilang. Jonathan. Dengan alis berkerut, Oliver menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya. "Kenapa kamu meneleponku malam-malam begini?" tanyanya datar. "Aku cuma ingin mengingatkanmu satu hal, Ver," suara Jonathan terdengar berat dan dingin. "Jangan terlalu dekat dengan Berliana." Oliver tertawa pendek. "Lucu sekali ucapanmu. Apa kamu lupa kalau status kalian sekarang adalah saudara, bukan sepasang kekasih." Hening sejenak. Lalu Jonathan bersuara dengan nada penuh intimidasi, "Jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu." Setelah mengatakan itu, Jonathan menutup panggilannya, membuat Oliver memandang layar ponselnya yang kini menghitam. Hembusan napas pun keluar dari mulutnya. "Kalau ini harga yang harus aku bayar untuk mendapatkanmu, aku akan melakukannya, Berliana." *** Di sisi lain, Berliana yang sudah berbaring di tempat tidur tak juga bisa memejamkan mata. Ucapan Oliver terus terngiang di kepalanya, termasuk tentang komitmen dan janji pria itu yang tak akan menjalin hubungan dengan wanita lain,. Dia menggigit bibir, merasakan dadanya berdebar tanpa alasan. "Kenapa rasanya seperti ini …" bisiknya lirih. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Jonathan. 'Apa kamu pikir dapat lepas dariku dengan menggunakan b******n itu?' Berliana menatap layar itu dengan kesal. "Apa sih maunya? Padahal dia sudah berpacaran dengan Clara." Karena tak ingin diganggu, Berliana mematikan ponselnya. Dia langsung tertidur begitu merebahkan tubuh ke ranjang. Sinar matahari pagi yang menembus gorden membangunkan Berliana, setelah mandi dia turun ke restoran hotel untuk sarapan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang duduk di salah satu meja dekat jendela. Orang itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung. Oliver. Pria itu mengangkat kepala, menatap Berliana sembari tersenyum kecil. "Kamu terlihat lebih segar dibandingkan kemarin." Berliana membalas senyum Oliver. "Kamu kok datang pagi-pagi sekali, Ver?" tanyanya yang lalu duduk di depan Oliver. Oliver tak langsung menjawab, dia memanggil seorang pelayan pria yang kebetulan melintas di meja mereka. Setelah menyebutkan pesanan mereka berdua, barulah Oliver menjawab pertanyaan Berliana. "Tadi subuh aku datang ke mari, dan mulai hari ini aku resmi pindah ke hotel ini." Berliana menatap Oliver terkejut. "Kamu serius?" "Tentu saja aku serius, Liana. Oh iya, kita resmi bekerja besok. Jadi hari ini kita mesti mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna." Berliana hanya mengangguk saat mendengar penjelasan Oliver. "Oke. Apa kita bisa mulai setelah sarapan?" tanya Berliana ketika pesanan mereka berdua tiba. Oliver menatap Berliana dengan senyum tipis. "Tentu saja. Tapi aku punya syarat kecil sebelum kita mulai," ucapnya sambil menatap mata Berliana dalam-dalam. "Syarat?" Berliana mengerutkan kening, sedikit waspada. "Iya," Oliver mencondongkan tubuh ke depan. "Hari ini, kamu harus ikut aku jalan-jalan keliling Havana dulu. Anggap saja refreshing sebelum kerja besok." "Jalan-jalan? Ver, kita ke sini bukan buat liburan, tapi bekerja," protes Berliana. Oliver terkekeh kecil setelahnya. "Aku benar-benar nggak habis pikir sama kamu, Liana. Padahal papamu itu CEO perusahaan besar, tapi kenapa kamu bertingkah seperti ... membutuhkan pekerjaan?" "Yang CEO itu papaku, bukan aku. Dan aku ingin merintis dari awal, bukan meneruskan sebagai pewaris," ucap Berliana yang membuat Oliver semakin terkagum. Oliver menatap Berliana yang sedang mengunyah makanannya dalam diam. Tatapan itu bukan sekadar rasa kagum, tapi juga rasa hormat yang semakin dalam. Dia menyandarkan tubuh ke kursi, lalu tersenyum kecil. "Kamu berbeda dari apa yang orang-orang katakan, Liana," ujar Oliver pelan. Berliana mengangkat wajah, menatapnya dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu?" "Menurut kabar burung yang beredar ... katanya kamu manja, keras kepala dan nggak pernah serius dalam menjalani hidup." Oliver meneguk kopinya sebelum melanjutkan, "tapi pada kenyatannya kamu berbeda dari semua deskripsi itu." Berliana tersenyum samar. "Mungkin karena kamu baru mengenalku dari sisi yang berbeda, Ver. Aku nggak sesempurna yang kamu pikir." Oliver menatapnya lembut. "Kesempurnaan itu relatif. Tapi aku rasa, kamu punya sesuatu yang nggak dimiliki orang lain." Berliana tertawa pelan. "Kalau aku nggak tahu kamu playboy, pasti aku terjebak sama gombalanmu." "Bukan gombal, tapi itu memang kenyataan," sahut Oliver cepat. Suasana di antara mereka seketika menjadi canggung. Hanya suara alat makan dan obrolan pengunjung lain yang terdengar. "Baiklah," ucap Berliana yang akhirnya mencoba mencairkan suasana. "Aku ikut kamu jalan-jalan. Tapi setelah itu, kita fokus kerja. Deal?" Oliver tersenyum lebar, matanya berbinar. "Deal." Namun sayang, senyum itu menghilang ketika mata Oliver melihat sesuatu. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, lalu berkata pelan, "Liana, kamu tahu kalau Jonathan ada di seberang sana?" Berliana menoleh ke arah yang ditunjuk Oliver, dan jantungnya mencelos. Jonathan duduk dalam jarak 3 meja darinya, dan di depannya duduk Clara dengan posisi cukup menggoda. "Ver. Bisa kita pindah ke restoran lain? Rasanya aku nggak akan bisa makan lagi karena tegang," ucap Berliana cemas. "Kenapa kamu harus cemas seperti seorang buronan yang tertangkap polisi?" tanya Oliver menatap Berliana gusar. "Aku ... hanya tidak ingin menimbulkan keributan, Ver," ucap Berliana. "Kamu tenang saja, Liana. Selama dia tidak menyenggolku, aku tidak akan menanggapinya," kata Oliver sembari tersenyum. Tapi Berliana masih cemas, bahkan dia menghabiskan kopinya, berharap efek kafein akan membuatnya tenang. Namun yang terjadi justru sebaliknya, dia malah semakin tegang karena perutnya melilit. Oliver hanya dapat mengembuskan napas panjang saat melihatnya, dia mengulurkan sebotol air mineral yang memang tersedia di masing-masing meja. "Minumlah air ini biar kamu lebih rileks," ujarnya lembut. "Terima kasih, Ver. Apakah kita bisa pergi dari sini sekarang? Aku merasa sesak dan mual," ucap Berliana yang mulai meneteskan keringat dingin. Oliver langsung berdiri, lalu membantu Berliana bangkit dari kursinya. "Oke, ayo kita Kita keluar," ucapnya berusaha menenangkan. Berliana mengangguk lemah, menunduk sambil menahan perutnya yang terasa tidak nyaman. Mereka berjalan menuju pintu keluar restoran, tetapi belum sampai di ambang pintu, suara yang sangat familiar membuat langkah Berliana terhenti. "Berliana, berhenti." Suara itu tegas dan penuh penekanan. Oliver berhenti bersamaan dengannya, lalu menoleh. Di belakang mereka, Jonathan sudah berdiri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Antara terkejut, cemburu dan marah. Clara masih duduk di kursinya, memandangi mereka dengan senyuman sinis. Berliana menggertakkan giginya, mencoba tetap tenang. "Ada apa kamu memanggilku. Apa kamu mau membuat keributan di saat Papa dan Tante ada di sini?" Jonathan menatap tajam ke arah Berliana, namun telunjuknya mengacung ke arah Oliver. "Aku tidak akan membuat keributan kalau kamu tidak mengikuti b******n ini." Berliana menatap Jonathan dengan wajah menantang. Dia bahkan melawan perasaan tak nyaman pada perutnya. "Kalaupun Oliver b******n, apa urusannya denganmu?" Jonathan menyunggingkan senyum sinis dan perlahan menghampiri Berliana. Dia lalu menunduk dan berbisik tepat di telinga gadis itu. "Aku penasaran ... apa dia akan tetap bersikap ini saat mengetahui seberapa binalnya dirimu di ranjang." Tak pelak ucapan itu membuat Berliana terpaku, tak menyangka jika Jonathan mengancamnya seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD