Oliver membelalakan mata saat mendengar pertanyaan Berliana. "Liana. Apa kamu serius dengan ucapanmu?"
"Tentu saja aku serius, Ver," ucap Berliana dengan penuh keyakinan.
"Tapi ... kenapa tiba-tiba? Kemarin waktu di bandara, kamu masih enggan berdekatan denganku," tanya Oliver yang masih tak percaya.
"Karena setelah aku pikir-pikir, kamu adalah pria yang tepat untuk menjadi pacar pura-puraku," jawab Berliana.
Oliver tersenyum getir saat mendengarnya, harapan jika Berliana memiliki perasaan yang sama dengannya seketika pupus.
"Pacar pura-pura, ya," ulang Oliver.
"Iya. Pacar pura-puraku. Kamu itu playboy dan aku sudah tahu semua sifatmu, jadi aku tidak akan terjebak rayuan gombalmu," ucap Berliana dengan penuh keyakinan.
"Apa hanya itu yang kamu tahu dariku, Liana? Aku anggap itu pujian."
Oliver tertawa kencang sembari bergurau,
berusaha menutupi kekecewaannya. Padahal rasa sakit semakin menggerogoti hatinya.
"Bukannya itu memang kenyataannya? Koleksi mantanmu saja mungkin bisa membentuk 2 tim sepakbola," ucap Berliana mengimbangi gurauan Oliver.
"Melihatmu yang sudah bisa bercanda seperti ini, aku yakin kamu sudah bisa ditinggal sendirian," kata Oliver.
"Iya. Kamu boleh pergi sekarang. Terima kasih sudah menemaniku."
"Aku balik dulu ke hotel, ya. Dan jangan ragu menghubungiku jika butuh sesuatu," ucap Oliver yang segera menuju pintu.
Berliana menatap punggung pria itu dengan ragu. Tepat di saat Oliver akan membuka pintu, gadis itu memanggilnya.
"Oliver ...." Pria itu berbalik dan bertatapan langsung dengan mata Berliana.
"Jadi apa jawabanmu atas pertanyaanku tadi?" tanya Berliana setelah meneguk saliva.
"Apa kamu serius dengan ucapanmu, Liana? Meskipun hubungan ini hanya pura-pura, tetap saja kita harus memiliki komitmen," ucap Oliver setelah menarik napas panjang.
"Iya. Aku serius," sahut Berliana dengan nada yakin.
"Baiklah. Aku setuju untuk menjadi pacar pura-puramu, Liana. Dan aku janji sama kamu nggak akan menjalin hubungan dengan wanita lain." Berliana menggigit bibirnya saat mendengar ucapan Oliver, merasa jika pria itu terlalu berlebihan.
"Tidak perlu seperti itu, Ver. Kita 'kan cuma pura-pura, jadi aku nggak mau mencampuri urusan pribadimu ...."
"Tidak. Aku tidak mau mengambil resiko dihajar oleh papamu, Liana," potong Oliver yang membuat Berliana terdiam.
"Terserah kamu saja kalau begitu," ucap Berliana dengan nada pelan.
"Istirahatlah, hari sudah semakin larut." Oliver berdiri, lalu memberikan senyum lembut. "Aku akan kembali ke hotelku, tapi besok aku akan pindah ke hotel ini."
"Jangan membantah, Liana. Ini sudah keputusanku." Oliver yang melihat raut wajah terkejut Berliana segera memberi peringatan.
Berliana segera mengunci pintu saat Oliver pergi, tak mau mengambil resiko jika Jonathan memasuki kamarnya.
Seketika ingatan saat Jonathan berada di kamar ini tadi siang terlintas dalam benak Berliana, membuatnya menarik napas panjang.
"Kayaknya dia nggak mungkin bertindak bodoh, di saat semuanya berkumpul di hotel ini," gumam Berliana yang lalu memejamkan mata.
***
Di sebuah kamar hotel yang berbeda. Jonathan duduk berhadapan dengan Juniawan, raut wajahnya masih menyimpan emosi yang membara.
Emilia yang mengerti jika keduanya membutuhkan ruang pribadi, segera mengajak Clara meninggalkan kamar.
"Apa yang membuatmu bertindak tanpa akal, Joe? Ini seperti bukan kamu saja," tanya Juniawan dengan nada dingin.
"Maksud Om apa?" Jonathan sengaja memancing Juniawan dengan panggilan 'Om'.
"Kamu memang anak Emilia, tapi sekarang kamu sudah menjadi anakku, Joe. Jadi jangan lupakan itu," ucap Juniawan.
"Aku tentu tidak akan melupakan itu, Tuan Juniawan," sahut Jonathan dengan senyum mengejek.
"Kamu ini benar-benar anak pembangkang, Joe. Apa kamu tak sadar kalau perbuatanmu tadi di rumah sakit dapat menghancurkan citramu sebagai pewaris Giovani Grup?" tanya Juniawan dengan suara berwibawa.
"Bukannya citraku sudah terlanjur buruk? Kenapa tidak aku tambahkan sekalian?" sahut Jonathan yang seakan tak puas menantang Juniawan.
Juniawan menatap Jonathan tajam, bola matanya memancarkan amarah yang tertahan. "Apa kamu pikir semua ini lelucon, Joe?!" bentaknya sembari mengacungkan telunjuknya ke arah Jonathan.
Hening sejenak sebelum Juniawan kembali bersuara. "Memangnya kamu tidak malu dengan mendiang papamu yang telah mewariskan Giovani Grup padamu?"
Jonathan terdiam sesaat setelah mendengar sindiran itu, tapi itu tak berlangsung lama, dia lalu tertawa sinis. "Mendiang papaku? Tentu saja Papa pasti tidak akan malu denganku, Om."
Juniawan mengembuskan napas kasar, dia menatap jengah Jonathan. "Joe. Melihatmu yang membenciku ... aku jadi penasaran, kenapa kamu setuju aku menikahi mamamu?"
Jonathan berdiri, menatap pria paruh baya itu dengan tatapan menantang. "Aku tidak akan menjawab pertanyaan itu, biar Om saja yang mencari tahu sendiri."
Juniawan mendengus pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Aku memang tidak tahu apa yang ada di kepalamu, Joe. Tapi apa pun alasanmu, aku tidak akan membiarkan kebencianmu menghancurkan apa yang sudah kita bangun sejauh ini."
Jonathan menyipitkan mata, bibirnya menegang. "Kita? Jangan mengelompokkan aku dengan Om. Giovani Grup itu bukan hasil kerja keras kita, tapi hasil kerja keras Papa."
Setelah mengatakan itu Jonathan keluar dari kamar, meninggalkan ketegangan yang menggantung di udara.
"Anak itu benar-benar mirip dengan ayahnya," gumam Juniawan.
***
Di restoran hotel, Emilia sedang berbincang santai dengan Clara sembari menikmati makan malamnya.
"Jadi sudah berapa lama kamu kenal dengan Jonathan?" tanya Emilia.
"Mungkin ada sekitar tiga tahun ini, Tante. Tapi kami baru saja dekat sekitar 5 bulan ini," jawab Clara, mencoba memberikan kesan baik.
"Lama juga ya proses pendekatan kalian, tapi Tante nggak heran sih dengan Jonathan. Anak itu dari dulu memang nggak terlalu pandai mengungkapkan perasaannya," ucap Emilia dengan helaan napas panjang.
"Tapi yang sejauh aku lihat tidak begitu, Tante." Emilia menatap Clara antusias, merasa mendengar hal baru mengenai sang putra.
"Jonathan yang pertama kali menghubungiku dan mengajak bertemu di Havana. Rencananya kami mau berlibur sembari mengenal satu sama lainnya."
Emilia tersenyum kecil, meski sorot matanya masih tampak menyimpan keraguan. “Oh begitu… jadi dia yang mengajakmu ke Havana?” tanyanya pelan.
Clara mengangguk, pipinya sedikit merona. "Iya, Tante. Awalnya aku juga kaget, karena Jonathan jarang bersikap seperti itu. Tapi waktu dia bilang ingin serius mengenalku lebih jauh, aku pikir ... mungkin saja kami bisa menjalin hubungan."
Emilia mengaduk minumannya perlahan. "Jonathan memang sulit ditebak. Kadang dia bisa sangat hangat, tapi di sisi lain … dia bisa jadi dingin dan menakutkan."
Clara terdiam sejenak, lalu memberanikan diri untuk berbicara. "Seperti tadi di rumah sakit?"
Emilia termenung setelahnya, dia menatap kosong gelas minumannya. "Iya. Dia bisa meledak-ledak seperti tadi. Apalagi kalau menyangkut Berliana."
Clara berdecak di dalam hati saat mendengarnya. "Berliana lagi ...," gumamnya pelan, tapi terdengar cukup jelas di telinga Emilia.
"Tapi kamu nggak usah khawatir, Clara," sahut Emilia cepat. "Berliana sedang dekat dengan pria yang tadi kita lihat di rumah sakit. Jadi Tante yakin Jonathan pasti akan memfokuskan perhatiannya sama kamu."
"Benarkah itu, Tante?" tanya Clara dengan nada manis yang dibuat-buat.
Sejujurnya tidak penting bagi Clara, jenis hubungan yang dilakukan Jonathan dan Berliana. Karena dia hanya mengincar satu hal dari Jonathan, yaitu menjadi istri pria itu dan menikmati kekayaan yang dimiliki oleh pewaris Giovani Grup itu.
"Tentu saja itu benar, Clara. Tante yakin Jonathan memiliki perasaan sama kamu. Kalau tidak, dia sudah pasti mengabaikanmu sejak lama," ucap Emilia.
Clara tersenyum lembut, tapi di balik senyum itu, pikirannya bekerja cepat. Dia tahu betul jika Jonathan bukan pria yang mudah ditaklukkan, apalagi dengan caranya yang penuh rahasia dan tak terduga. Namun, justru itu yang membuatnya semakin tertantang.
'Aku akan membuatmu bertekuk lutut, Jonathan,' gumam Clara di dalam hatinya.