Semua mata serempak menoleh dan melihat sepasang suami istri paruh baya berpakaian mahal berdiri di depan pintu IGD. Wajah sang pria terlihat tegang, dan tatapannya yang tajam memancarkan aura dingin yang kuat.
Sementara wanita yang bibirnya dipoles gincu merah menyala, menyunggingkan senyum yang mampu membuat siapapun merasa terintimidasi.
Wajah Berliana langsung pucat pasi. Jantungnya mencelos. "Papa, Tante ..." gumamnya pelan karena suaranya tercekat di tenggorokan.
Pria itu adalah Juniawan Cahyadi-ayah Berliana dan sang wanita adalah Emilia Susanto-ibu Jonathan.
"Papa mendapat kabar kalau Berliana kecelakaan. Karena itu kami langsung kemari dan menunda bulan madu kami," kata Juniawan dengan nada datar.
"Tapi apa yang Papa lihat ini? Beraninya kamu berkelahi di tempat umum seperti ini. Di mana kamu letakan otakmu, Joe?" ucap Juniawan sedikit mengeraskan suara.
Jonathan seketika mengembuskan napas kasar, rasa marahnya bertambah berkali-kali lipat karena ditegur oleh ayah tirinya di depan umum seperti ini.
"Bulan madu? Kalian ini bertingkah seperti anak muda saja," sindir Jonathan.
"Diam," potong Juniawan dingin. "Jangan membuat keributan dan ikut Papa sekarang. Biarkan Berliana diantar oleh pria itu."
"Pah! Mana bisa Papa mempercayakan Berliana sama orang asing seperti dia," protes Jonathan seraya mengacungkan telunjuknya ke arah Oliver.
Clara hanya bisa berdiri mematung, merasa kesal karena perhatian Jonathan kepada Berliana yang lebih seperti seorang kekasih dibandingkan kakak. Dalam hati dia bersumpah akan membuat hari-hari Berliana terasa seperti di neraka.
"Dia bukan orang asing, Joe. Papa sudah tahu siapa Oliver, dia adalah teman kuliah kalian dan juga sekarang perusahaan tempatnya bekerja sedang melakukan kerjasama dengan perusahaan tempat Berliana bekerja."
Berliana menatap sang ayah yang masih menampilkan raut wajah dingin, lalu beralih ke Jonathan yang siap menyemburkan amarahnya.
Dahinya mengerut, merasa aneh dengan sikap Jonathan yang sekarang seperti tak menyukai Juniawan. Padahal pria itu yang awalnya menyetujui pernikahan antara Juniawan dan Emilia.
Seketika Berliana merasa sangat lelah. Dia tidak ingin lebih lama menyaksikan perdebatan antara Juniawan dan Jonathan. Dia menarik pelan tangan Oliver lalu berbisik kepada pria itu. "Ver ... aku mau balik ke hotel sekarang."
"Tapi infusanmu masih tersisa seperempat lagi, Liana. Tunggulah sebentar lagi," balas Oliver yang juga berbisik.
"Perutku kram, Ver. Sepertinya karena tegang." Oliver mengembuskan napas kasar saat mendengarnya, mengerti dengan perasaan Berliana saat ini.
"Sabar dulu, Liana. Keluargamu sebentar lagi akan pergi dari sini," ucap Oliver sembari menepuk pelan bahu Berliana.
"Baiklah," ucap Berliana yang mencoba memejamkan mata.
Baru saja Berliana akan terlelap, dia merasa tangannya digenggam. Saat membuka mata, dia melihat Juniawan menatapnya khawatir. Tatapan yang sudah lama tak dia lihat dari sang ayah.
"Liana. Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Juniawan yang memecah lamunan Berliana.
"Aku masih sedikit lemas dan perutku kram, Pah," jawab Berliana.
"Kalau begitu, apa perlu Papa menghubungi atasanmu untuk membatalkan pekerjaanmu di sini?" tanya Juniawan lembut.
"Tidak perlu, Pah. Aku hanya butuh beristirahat sehari penuh," jawab Berliana cepat.
"Apa kamu yakin?" tanya Juniawan yang masih menampilkan raut wajah khawatir.
"Aku yakin. Pah ... bukannya Papa mau bicara dengan Jonathan? Kenapa Papa masih ada di sini?" tanya Berliana yang seketika merasa risih dengan keberadaan sang ayah.
Juniawan tersenyum tipis, lalu melepaskan genggaman tangannya dari sang putri. Dia menatap Berliana dengan tatapan yang menyiratkan banyak hal yang tak terucapkan.
"Papa hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja, Liana. Sekarang kamu istirahat saja dulu, mungkin besok atau lusa Papa akan menjadwalkan makan malam keluarga."
Setelah mengatakan itu, Juniawan lalu menatap Oliver. "Kamu yang namanya Oliver? Ini pertama kalinya kita bertemu, tapi saya yakin kamu pasti akan mengantar Berliana ke hotel dengan selamat."
Seketika Oliver meringis, mobil yang disediakan oleh kantor hancur cukup parah. Dan opsi mengantar Berliana sudah pasti menggunakan taxi konvensional.
"Iya, Om," jawab Oliver dengan nada hormat. "Saya akan pastikan Liana tiba di hotel dengan selamat. Dia tanggung jawab saya sampai dia pulih."
"Bagus." Juniawan mengangguk puas. "Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang. Biarkan Berliana beristirahat."
Juniawan berbalik dan berjalan cepat ke luar. Jonathan menghela napas kasar, menatap Oliver dengan tatapan penuh ancaman terakhir, lalu bergegas menyusul ayah tirinya.
Emilia memberikan senyum kepada Oliver sebelum dia dan Clara bergegas mengikuti langkah Juniawan dan Jonathan.
Begitu pintu ruang IGD tertutup, Berliana menghela napas lega.
"Akhirnya mereka pergi juga," ucap Berliana yang wajahnya yang rileks.
"Melihat adegan barusan, aku bisa menebak seberapa harmonisnya keluargamu, Liana." Berliana hanya dapat mencebikan bibirnya saat mendengar sindiran Oliver.
Saat infusan Berliana habis, Oliver memanggil salah satu perawat untuk melepaskan selang infus yang ada di tangan Berliana.
"Semua perawatan Nona Berliana sudah dibayarkan oleh Tuan Juniawan," ucap petugas administrasi rumah sakit kepada Oliver.
"Aku nggak menyangka informan Papa ada di mana-mana," gumam Berliana yang berdiri di samping Oliver.
"Papamu 'kan CEO, wajar kalau dia cepat mendapatkan kabar mengenai kamu," ucap Oliver sambil tersenyum tipis.
Di luar rumah sakit, Oliver segera memanggil taksi. Saat mereka sudah duduk di kursi belakang, barulah ponsel Oliver berdering. Panggilan yang berasal dari atasannya, yang memberi tahu perubahan jadwal meeting dan pekerjaan-pekerjaan lainnya selama berada di Havana.
"Ini semua pasti ada campur tangan Papa," kata Berliana yang hanya dapat tersenyum pasrah setelah Oliver menyampaikan berita itu.
***
Setengah jam kemudian, mereka tiba di hotel tempat Berliana menginap.
Setelah memastikan duduk Berliana nyaman di sofa dekat jendela, Oliver meletakkan tas gadis itu di ranjang.
"Liana, aku tinggal dulu ya. Mau belikan kamu makan malam, terus kembali ke hotelku," kata Oliver.
"Tunggu, Ver." Berliana menahan Oliver dengan nada memohon.
"Bisakah kamu ... tinggal di sini sebentar lagi? Aku tidak suka berada di tempat asing sendirian dalam keadaan tidak enak badan. Rasanya sesak."
Oliver memandang Berliana, dan melihat kerapuhan di balik mata gadis itu.
"Oke. Aku di sini sebentar lagi. Biar aku mau pesan makanan melalui room service," putus Oliver yang tak tega melihat muka sendu Berliana.
Oliver segera menelepon room service dan meminta dua teh hangat serta beberapa makanan utama dan penutup. Setelah makanan tiba dan Berliana menghabiskan makan malamnya, gadis itu mulai terlihat lebih tenang.
Berliana menyandarkan kepalanya ke bantal sofa, memejamkan mata sejenak. Beberapa menit kemudian, dia
menatap Oliver yang duduk di pinggir ranjang.
"Aku merasa lebih baik sekarang, Ver," kata Berliana pelan. "Kram perutku sudah hilang. Terima kasih sudah mau menemani dan mengantarku pulang ke hotel."
"Syukurlah kalau kamu sudah tidak apa-apa lagi, Liana," balas Oliver.
Berliana menghela napas panjang. Dia mengambil napas dalam-dalam, seolah baru akan mengatakan sesuatu yang berat.
"Apa kamu mau berpacaran denganku, Ver?"