Raut wajah Fiona berubah muram dan itu sempat terlihat oleh Berliana, namun gadis itu hanya diam. Lama Fiona terdiam dan berniat meraih bahu Berliana, tapi terdengar suara langkah terburu-buru mendekati meja mereka. Fiona menoleh, di susul Berliana. Di samping mereka, berdiri Oliver dengan wajah tegang dan napas memburu. Tatapan Oliver langsung tertuju ke Berliana dan jatuh pada mata sembapnya. Pipi yang masih basah dan senyum kecil yang dipaksakan. Wajah Oliver langsung mengeras, bukan karena marah … tapi panik. Panik yang tidak dia sembunyikan sama sekali. Oliver menelan saliva, lalu mendekat seperti seseorang yang takut apa yang dia lihat akan berubah atau hilang. "Fiona. Kenapa Liana nangis?" tanyanya kepada sang kakak. Fiona hanya mengembuskan napas panjang, dia segera memi

