Chapter 4

1966 Words
@eusan02 : Hari ini benar-benar hujan. Ujian praktekku jadi ditunda wkwk @yourwitch : @eusan02 :) Tasya memandangi tweets yang telah dua hari berlalu. Ia baru sempat dan ingat membukanya akibat pekerjaan yang mulai menumpuk pasca libur cutinya. "Pasti kebetulan lainnya bukan?" Pikiran Tasya seolah bercabang bahwa tweets isengnya memberi dampak yang aneh baginya. Belum lagi kemunculan Galan kemarin yang seakan mengabulkan permintaannya tentang cheese bagels yang selalu membuatnya kehabisan setiap datang ke kafe itu. "Tasya, bagaimana progres iklan sepatu dari Ganora." Suara Albiru yang terdengar membuat Tasya segera menekan tombol Windows Key dan tombol huruf D sebagai jalan pintas menutup jendela perambannya yang sedang membuka Twitter, untuk segera kembali ke deskop dan membuka salah satu folder kerja. Tasya mendongak mendapati Albiru sudah hampir sampai di mejanya. "Tim editing sudah menyerahkan hasilnya. Rencananya mau aku berikan sama Pak Albi setelah jam makan siang hari ini." Albiru hanya mengangguk pelan. Ia bukan hanya sampai di meja Tasya, tetapi juga telah berdiri di sebelah wanita itu. "Coba putar videonya." Perintah itu segera dilaksanakan oleh Tasya. Tangannya gemetar, takut bahwa ia akan salah tekan dan berakhir menampilkan kekonyolan tweets yang ditulisnya. Entah bagaimana reaksi Albiru jika melihat hal tersebut. Seperti video iklan promosi pada umumnya, hasil yang ditampilkan tak lebih dari setengah menit. Namun isi iklan tersebut padat akan identitas produk, pemilihan warna agar produk menjadi stand out dan tentunya menampilkan keunggulan yang membuat konsumen akan tertarik membelinya. Ketika Tasya akan menoleh dan sedikit menengadah untuk melihat tanggapan Albiru, ternyata pria itu telah merendahkan tubuhnya agar bisa sejajar dengannya yang sedang duduk. Tak lain adalah agar bisa menonton video iklan tadi secara jelas. Namun karena itu juga, Tasya menjadi sadar bahwa wajahnya dan wajah Albiru hanya terpisah oleh ruang yang sangat pendek. Mata Tasya mengerjap, mana kala menemukan bahwa bulu mata Albiru ternyata sangatlah panjang dan lentik. Gila, bahkan jika aku memoles beberapa kali bulu mataku dengan maskara, tidak akan selentik itu, ujarnya berteriak dalam hati. Terlalu terpukau akan salah satu fitur wajah Albiru, menjadikan Tasya tidak sadar bahwa bosnya itu telah memicingkan mata, bahkan sedikit memutar leher menghadapnya. "Terus bagaimana dengan laporan iklan yang dikerjakan selama tiga bulan terakhir?" tanya Albiru kemudian mengubah posisinya menjadi berdiri tegak kembali. Mendengar hal itu, Tasya mulai mengobrak-abrik meja kerjanya untuk mencari laporan yang sebenarnya telah dikebut untuk dikerjakannya karena mengingat dirinya saat itu akan mengambil cuti nikah. "Ini Pak, tapi belum termasuk iklan yang masuk saat aku cuti," kata Tasya menyerahkan laporan tersebut. Albiru tidak langsung beranjak, melainkan memilih berdiri sambil mulai membaca laporan itu. Wajahnya tampak serius dan membuat karyawan di ruangan itu mencuri pandangan ke arahnya, termasuk Tasya. "Aku ingin kau mulai memasukkan iklan yang masuk saat kau cuti dan juga ... aku ingin kau mengklasifikasikan iklan yang masuk itu berdasarkan jenisnya," jelas Albiru telah menutup laporan itu dan mengembalikannya kepada Tasya. Artinya laporan yang ditulis Tasya baru saja mendapat revisi. "Klasifikasi untuk tiga bulannya?" ulang Tasya mengetahui jumlah halaman laporan itu yang tidak sedikit. "Ya, semuanya," balas singkat Albiru, lalu melangkah pergi. Tasya hanya bisa melongo tidak percaya, bahwa kerja kerasnya sebelum mengambil cuti, nyatanya harus terulang kembali. Meski mengerjakan kembali laporan itu tidaklah berat, tetapi tetap saja merepotkan. Apalagi dirinya juga masih memiliki pekerjaan lainnya. "Semangat Tasya." "Sambutan hangat setelah cuti dari Pak Albi memang mendebarkan." "Hahaha iya, ingat dulu Maisuri yang setelah cuti melahirkan langsung dihadapkan pada perombakan desain sebuah iklan secara keseluruhan." Tasnya mulai mendengar bagaimana rekan kerjanya mencoba menyemangati dan mengingatkan bahwa sifat Albiru tersebut bukanlah hal yang baru. Ia juga mengetahuinya, namun setidaknya dirinya ingin bekerja dengan tenang beberapa saat setelah musibah yang dialaminya. "Aku harap pria itu akan segera menikah, biar tahu bahwa pekerjaan sempurna bukanlah segalanya," gerutu Tasya yang mendapat kekehan dari rekan kerja lainnya. Albiru, pria lajang yang mapan, tampan dan cukup dermawan. Semua karyawan Derling tahu hal tersebut, namun tidak ada karyawan wanita yang berani mengerjar sang bos. Apalagi kalau sifat perfeksionis dari pria itu. Karyawan wanita Derling menganggap sosok Albiru hanya sebatas untuk dikagumi dan sebagai penyegar mata di kantor. Terlalu semu untuk dijadikan kekasih, apalagi pasangan hidup. Namun beberapa karyawan wanita Derling juga beranggapan bahwa mungkin sifat dan sikap Albiru akan berbeda jika bersama wanita yang dicintainya. Who knows? ♡♡♡ Berkutat di depan komputer mulai pagi hingga siang, menjadikan Tasya dan Dinaya mencari makan siang di luar kantin kantor. Hitung-hitung mencari suasana dan menu makanan yang lain dari biasanya. Apalagi hari ini kantin kantor terlihat cukup sesak. "Wah ini bahkan sudah hampir jam satu," celetuk Tasya melirik jam tangannya. "Itu karena kita juga baru selesai kerjain jadwal rapat desain, pemasaran dan show, ketika sudah lewat jam dua belas. Tenang saja, telat sedikit nggak bakal kena pecat. Kan Pak Albi juga ada tadi, paling dia juga sibuk cari makan." Dinaya mencoba berpikir positif sambil terus menyetir. Tasya hanya bisa mengedarkan pandangannya ke jendela mobil. Berharap segera menemukan restoran yang mereka cari, yaitu sebuah warung bakmie terkenal yang banyak direkomendasikan oleh orang-orang di kantor juga. Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Setelah Tasya merogoh tasnya, ternyata bukan berasal dari ponselnya. Ia menoleh dna mendapati Dinaya telah memelankan mobil, lalu menjawab panggilan yang masuk dengan sebuah buds yang telah terpasang di telinga Dinaya. "Halo." "Oh? Apakah parah?" "Baiklah. Aku segera ke situ. Jangan banyak gerak! Aku menuju ke rumah sakit sekarang." Setiap kata yang keluar dari bibir Dinaya begitu cepat, hingga membuat Tasya terkejut. "Ada apa?" tanya Tasya melihat raut wajah Dinaya yang tampak kaget dan panik. "Itu, adik laki-lakiku yang masih SMA mengalami kecelakaan. Dia terjatuh dari motor." Mata Tasya terbelalak mendengarnya. "Itu gawat, lalu bagaimana keadaannya? Atau kita langsung ke sana saja." Dinaya terkekeh tanpa bersuara. "Tenanglah Tasya. Dia meneleponku tadi, artinya baik-baik saja. Katanya cuma lecet di bagian lutut, kurasa dia takut ibuku akan mengetahuinya. Kau tahukan bagaimana menyeramkannya ibuku kalau marah?" Tasya ikut merasa lega. "Tapi tetap harus ke rumah sakit. Dia pasti trauma juga." "Ya, aku memang berencana begitu," balas Dinaya lalu menatap serius Tasya sejenak. "Apa?" "Kau pasti sangat lapar, karena sarapan pun dengan segelas sereal. Lebih baik aku saja yang pergi dan kau bisa menyampaikan izinku kepada Pak Albi kalau misalnya aku tidak sempat balik ke kantor." Ucapan Dinaya membuat Tasya terdiam sejenak. "Kau yakin bisa sendirian?" Dinaya tertawa pelan. "Memangnya aku anak-anak? Oh itu restoran cepat saji, kau mau singgah di situ saja? Lumayan dekat dengan kantor juga," usulnya memandang nama plakat sebuah restoran cepat saji terkenal. Tasya menoleh sekilas, lalu menganggukkan kepalanya. "Ya, sepertinya ayam goreng dan minuman bersoda cukup menggoda siang ini." "Kabari aku jika ada sesuatu. Aku akan menyampaikan izinmu kepada Pak Albi nanti," ucap Tasya bersiap keluar dari mobil Dinaya. "Sip. Nikmati makan siang dengan kesendirianmu Tasya." Tasya sempat mencebikkan bibirnya mendengar ejekan Dinaya, tetapi ia hanya tersenyum lalu melambaikan tangan. Setelah memastikan mobil Dinaya telah berlalu pergi, Tasya juga mulai memasuki restoran cepat saji tersebut. Tanpa membuang lebih banyak waktunya, ia segera mengantre di depan kasir untuk memesan makanan. Untung saja antrean cukup pendek, sehingga dengan mudah Tasya mendapatkan nampan berisikan satu set menu yang telah membuat wanita itu meneguk salivanya. Aroma dan rasa lapar adalah penggoda terbaik dalam keadaannya saat ini. Namun betapa terkejutnya Tasya ketika mulai melangkah mencari meja kosong, karena dalam restoran cepat saji tersebut, dirinya berhasil menemukan sosok Albiru sedang makan sendirian di sana. "Pak Albi?" Albiru hampir tersedak, karena sepertinya tidak menyangka kehadiran Tasya pada tepat itu. "Duduklah." Ajakan dari atasan langsung diterima oleh Tasya. Ia bukan tidak tahu malu, tetapi rasa terkejutnya membuat tubuhnya spontan untuk duduk di hadapan pria itu. "Pak Albi suka makan di sini?" tanya Tasya sambil mulai membuka bungkusan nasinya, lalu memisahkan kulit ayam dengan dagingnya. Bagi Tasya, kulit ayam berbalung tepung bumbu itu harus dihabiskan setelah daging ayamnya selesai disantap dengan nasi. Albiru sedikit terkejut melihat set menu Tasya yang memiliki banyak macam, juga ritual makan wanita itu. "Tidak juga. Cuma aku sudah lapar dan ini menu yang cepat tersaji. Habis bayar, makanan langsung ada." Tasya terkekeh kecil. "Namanya juga restoran cepat saji, Pak Biru." Ia reflek menutup mulut dengan sebelah tangannya, begitu sadar akan panggilannya kepada sang bos. Tasya lalu merasakan tasnya bergetar dan diikuti oleh suara nada dering. Batinnya melonjak bahagia, karena siapapun yang meneleponnya saat ini. Maka orang itu adalah penyelamatnya dari krisis kerutan yang telah tampak pada dahi Albiru. Sebuah serbek kemudian dipakai Tasya untuk membersihkan tangannya sebelum mengambil ponselnya. Ketika melihat nama Tisha, ada perasaan terkejut karena biasanya saudari kembarnya itu lebih suka mengirim pesan terlebih dahulu jika ingin menghubunginya. Melakukan panggilan suara adalah opsi terakhir bagi Tisha. "Ya, halo?" "Kenapa suaramu pelan begitu? Kau di mana sekarang?" Tasya cemberut. Ia tidak dapat membalas perkataan Tisha, mengingat Albiru yang melanjutkan makannya seolah tidak terganggu dan risih akan kehadirannya pada restoran yang sama. "Tidak, aku sedang makan siang di luar," balas Tasya berusaha tenang. Tisha terdengar terkekeh dari tempat berada sekarang. "Kau pasti masih uring-uringan untuk datang bekerja bukan? Tapi jangan khawatir, minggu depan aku akan ke Jakarta." "Ada urusan apa?" Tasya cukup terkejut dengan pernyataan Tisha. Pasalnya, wanita itu baru saja meninggalkan Jakarta dua minggu lalu, tiga hari setelah rencana pernikahannya batal. "Pekerjaan dan ... ibu khawatir denganmu," balas Tisha membuat Tasya menghela napas. Ia kemudian teringat akan orang tuanya yang kini berada di Solo. "Aku baik-baik saja," tukas Tasya tidak ingin terlihat atau membiarkan dirinya lemah, karena masalah kemarin. Mata terus memandang ke depan, menatap saksama Albiru yang masih asyik makan. "Terserah, tapi aku akan tetap datang. Kita akan bersenang-senang nanti," ujar Tisha telah terdengar girang. "Selain itu, banyak hal yang ingin kuceritakan padamu secara langsung." Tasya berdecak lidah. "Pasti tentang pria bukan?" Dahinya tiba-tiba berkerut mana kala Albiru memandangnya saat ini dengan serius. "Salah satunya. Sudah ya, aku tutup dulu. Akan aku kabari kalau jadwal tiketnya sudah pasti." Suara Tisha seolah merambat pelan tersamarkan pada telinga Tasya ketika melihat tangan Albiru terulur lalu meraih kulit ayam yang telah pisahkannya tadi. Perlahan lelaki itu mulai memakannya dengan hikmat. Tasya menganga untuk sesaat. Ia spontan menjauhkan ponsel dari telinganya. "Bangke." "Hoek!" Kali ini Albiru sukses tersedak ketika memakan kulit ayam milik Tasya. Ia pun menatap lekat wanita itu. "Apa yang baru ... kau bilang?" Albiru masih terkejut bahwa satu kata sukses membuat dirinya terkesiap. "Ah, itu ... maksudnya, ayam Pak Albi sisa bangkainya saja." Tasya yang baru sadar akan ucapannya kembali, langsung memelintirnya ketika melihat makanan Albiru yang telah habis. "Ini bukan bangkai Tasya, tapi tulang," jelas Albiru dengan wajah mulai kembali santai. Seolah dirinya tak melakukan kesalahan apapun. "Kenapa Pak Albi memakan kulit ayamku tadi?" tanya Tasya tak mampu menahannya. Albiru mengerjap setelah membersihkan sementara tangannya dengan serbek, lalu menyeruput es kopinya. "Bukannya kau melepasnya, karena tidak suka? Kebetulan ... aku sangat suka bagian itu." "Aku melepasnya ... karena sengaja menyisakannya untuk dimakan terakhir nanti," jawab Tasya dengan dramatis dan Albiru kembali tersedak, kali ini dengan minumannya. "Oh maaf. Aku lancang memakan punyamu tanpa permisi." Balasan Albiru ternyata jauh dari bayangan Tasya. Wanita itu berpikir bahwa Albiru akan mengelak dan akan mengatakan untuk membelikan ayam goreng yang lainnya. Ternyata Albiru menyampaikan kalimat penyesalan yang sederhana. "Mau aku gantikan?" tanya Albiru telah bersiap beranjak. Tasya segera menggeleng. "Tidak perlu, lagipula aku masih memiliki burger dan kentang goreng," balasnya tidak ingin membuat kecanggungan hanya karena insiden kulit ayam yang tak sengaja dirampas oleh Albiru. "Sebagai gantinya, Pak Albi bisa temani aku makan? Kebetulan aku ke sini menumpang di mobil Dinaya dan dia sedang menuju rumah sakit karena adiknya mengalami kecelakaan. Dinaya berkata mungkin akan izin jam kedua," lanjut Tasya mencoba mencari jalan lain dari bentuk upaya balasan Albiru. Albiru mengangguk pelan. "Baiklah. Nikmati makanmu, aku cuci tangan dulu," ujarnya bangkit menuju wastafel. Diam-diam setelah kepergian Albiru tersebut, Tasya mengulum senyum. Mengetahui bosnya suka kulit ayam goreng tepung, mana lagi yang lebih mengejutkan. Padahal ia berpikir pria itu hanya menyukai makanan sehat penuh gizi. ♡♡♡ Gimana menurut kalian cerita ini? Ini bukan fantasi ya wkwkwk
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD