Chapter 5

1847 Words
Mei, 2019. Seorang wanita baru saja menghubungi pihak fotografer untuk mendokumentasikan hari bahagianya sebentar lagi. Namun naas, ponsel yang dipakai oleh wanita itu kini tercebur ke dalam kolam ikan, karena tidak sengaja bersenggolan dengan seseorang. "Aduh, sial." Untung saja, kolam ikan itu dangkal, sehingga sang wanita bisa mengambil langsung ponselnya yang terjatuh itu. Sayang, barang elektronik yang tercebur ke air secara keseluruhan adalah jalan pintas merusaknya. Wanita itu tidak punya waktu untuk menggerutu dan segera membawa ke tempat servis ponsel. Katanya butuh waktu memperbaikinya dan membuat sang wanita hanya mengambil kartu nomornya, kemudian membeli ponsel yang baru. Prosesnya cukup cepat, hingga wanita itu bisa menggunakan kembali ponsel barunya sebagai media komunikasi. Hanya saja seluruh foto, kontak dan file masih ada pada ponsel lamanya. Namun wanita itu mengernyitkan dahi begitu menerima pesan ke dalam w******p barunya. Tanpa nama, hanya nomor, karena seluruh kontaknya hilang dan ia belum menyimpan satu nomor pun. "Apa ini?" Wanita itu tampak terkejut, melihat bahwa pesan itu ternyata berupa sebuah foto. Foto calon suami sedang berciuman di elevator dengan wanita lain. Beruntung dalam foto tersebut, tertera stiker nama hotel pada bagian sisi dinding elevator dan pada sang calon suami sedang memegang kunci hotel yang tertulis nomor kamar. Akhirnya untuk mempertegas sekaligus mengkonfirmasi kebenaran foto tersebut, sang wanita sekaligus juga sebagai calon mempelai segera menuju hotel dalam foto. Dalam perjalanan, ia berdoa dalam hati bahwa pria yang ada dalam foto tersebut hanyalah mirip dengan calon suaminya. Perasaannya terombang-ambing. Wanita itu bahkan tak sempat memikirkan siapa yang mengirimkan foto tersebut padanya. Cukup lima belas menit bagi wanita itu untuk sampai di hotel. Ia langsung menuju elevator dan bayangan pria yang berciuman langsung memenuhi pikirannya. Jantungnya berdetak dan kepalanya mulai pening. Setelah sampai pada lantai yang dituju, ia keluar dari elevator untuk mencari nomor kamar yang dilihatnya tadi. Ketemu, hanya beberapa langkah dari elevator tadi. Wanita itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Tangannya terulur dan mulai mengetuk pintu kamar hotel tersebut. Ia berpikir mungkin akan membutuhkan waktu, tetapi tidak, pintunya mulai bergerak terbuka. "Anda sudah membawa handuk--" Pria yang membuka pintu terhenyak, dengan memakai baju mandi, matanya membeliak melihat kedatangan yang jauh berbeda dari yang disangkanya. "Sayang? Mana handuk--" Dari arah belakang pria itu, sesosok wanita juga tampak memakai baju mandi. Akan merangkul lengan sang pria sebelum menampakkan raut wajah kaget tak terbendung. Sedangkan wanita yang kedatangannya tak disangka hanya tersenyum miris. Berharap di hadapannya kini hanya mimpi, halusinasi, atau bayangan semu. Ternyata kebahagiaan yang sudah hampir digenggamnya, berubah menjadi malapetaka seumur hidup. Satu tamparan dilakukan wanita itu sebelum meninggalkan depan kamar hotel dan pria yang pipinya telah memerah hanya bisa bersandar lesu. Sebuah rencana pernikahan yang akan dihelat beberapa hari lagi, harus batal bagai alur dalam cerita film. Sayangnya, itu kenyataan. ♡♡♡ Rinai hujan membuat Tasya kembali mengingat kenangan buruknya. Sekaligus berpikir tentang siapakah gerangan yang mengirimkan foto Ravi sedang mencium dan pergi ke hotel bersama Vania. Dalam masa berkabungnya itu, Tasya sempat melihat kembali kontak yang mengirimkan foto tersebut, namun ketika mencoba mencocokkan dengan kontak kenalannya, tak satu pun memiliki kontak nomor sang pengirim. Tasya pun berandai-andai, jika hari itu ponselnya tidak rusak maka mungkin ia sudah tahu siapa pengirim foto. Andai ia tak langsung membeli ponsel baru, maka ia mungkin masih akan menikahi Ravi, sang pengkhianat dan terjebak dalam pernikahan tanpa kesetiaan. Pengirim foto menjadi penghancur pernikahan sekaligus penyelamat kehidupan Tasya. Wanita itu tetap bersyukur, hanya saja ia tahu bahwa pasti sang pengirim masih orang yang mengenalnya, tetapi siapa? Sampai hari ini tak ada yang mengaku padanya. "Apa kau datang ke sini hanya untuk menatap hujan?" Suara Albiru menjadikan lamunan Tasya buyar seketika. Pria itu sengaja memanggil Tasya untuk membahas tentang rencana produksi iklan dari Monitus. "Maaf Pak, cuma hujannya kayaknya awet," balas Tasya mengambil alasan. Albiru yang masih duduk, mendongak ke atas sekilas untuk melihat Tasya yang berdiri di depan meja kerjanya. "Kan memang sudah musim hujan." "Ya dan aku lupa bawa payung." Albiru menghela napas pendek. "Galan akan meluncurkan Monitus Love, dia ingin kita lebih berfokus untuk memikirkan periklanannya. Terlebih lagi itu bidang berorientasi pada aplikasi." Ia kemudian mengambil sesuatu dari lacinya. "Ini gambaran besarnya tentang Monitus Love. Aku sendiri yang akan mengawasi langsung proyek ini." Tasya mengangguk pelan. "Aku akan mempelajarinya," ujarnya mengambil sebuah cetakan dokumen yang sepertinya berasal dari pihak Monitus sendiri. "Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu yang lain," balas Albiru yang kemudian bangkit dari kursi kerjanya, bahkan sebelum Tasya beranjak. Sambil memeluk pekerjaan yang perlu dipelajarinya terlebih dahulu tersebut, Tasya mulai melangkah menuju pintu. "Ambillah payung dekat pintu itu. Lagipula aku tidak memerlukannya, karena memarkir mobil di basement." Ucapan Albiru menjadikan Tasya terkesiap. Ia pun melirik payung yang tergantung pada dinding dekat pintu. Payung berwarna kuning yang pasti mencolok apabila dipakainya nanti. "Baiklah, makasih Pak Albi. Besok akan kukembalikan," balas Tasya berbalik sejenak. Menemukan Albiru telah memakai jasnya kembali, tanda pria itu akan segera meninggalkan ruang kerjanya. Tasya memandang jam dinding pada ruang yang sama dan waktu memang telah menunjukkan pukul lima sore. Jam pulang kantor yang memang sudah seharusnya. Albiru mengangguk pelan, memandang serius Tasya untuk sesaat. Setelah keluar dari ruangan sang bos, Tasya juga mulai bersiap untuk meninggalkan kantor. Bukan langsung pulang, tetapi akan singgah ke suatu tempat, yaitu apartemen Argus yang baru dimasukinya. Ia dan Alika diundang sebagai syukuran kecil-kecilan, padahal hanya akan ada mereka bertiga di sana nantinya. Tasya berjalan menuju elevator sambil menenteng payung milik Albiru. Lobi kantor tampak sesak, karena hujan semakin deras dan kebanyakan karyawan tidak membawa payung. Hampir saja Tasya bernasib sama, untung saja Albiru berbaik hati meminjamkan payungnya. Dengan begitu Tasya bisa melenggang bebas menuju gerbang kantor untuk mendapatkan taksi di tepi jalan. Ia tak menawari orang untuk berbagi payung dengannya, mengingat ukuran payung Albiru sendiri cukup sempit. Namun sebelum taksi berhenti di depannya, Tasya malah mendapati sebuah mobil sedan dan pada kursi sebelah pengemudi, kacanya diturunkan. Mata Tasya membulat begitu sedikit membungkuk dan menyadari siapa yang menjalankan mobil itu. "Ayo masuk!" "Gila, nggak mau," tolak Tasya mentah-mentah. Ravi, mantan calon suaminya muncul mendadak di hadapannya. Bagai mimpi buruk yang seolah bertransisi menjadi kenyataan saat ini. "Aku nggak akan pergi sebelum kau masuk. Mau jalan keluar kantormu macet?" pekik Ravi memberi ancaman. Dan benar saja, baru dua menit Tasya berdiri di sana, suara klakson mobil dari arah belakang sudah menghujaninya. Ketika berbalik, betapa terkejutnya dirinya mengenali mobil Albiru yang sepertinya baru akan keluar dari area kantor. Perasaan berat dan sangat tidak nyaman pun memaksa Tasya masuk ke dalam mobil Ravi dan duduk di sebelah pria itu kembali. Tentu saja setelah melipat payung kuning Albiru. Ravi mengulum senyum sekilas, sebelum menginjak gas kembali. "Baru pulang kerja?" Tasya berdecak tanpa menoleh memandang Ravi. "Apakah kita di sini untuk haha hihi dengan santai? Apa maumu?" tukasnya mencoba menyadarkan dirinya bahwa pria di sebelahnya adalah penjahat paling kejam di kehidupannya. "Kau tahu kan Sya, aku mengalami masalah itu." "Lalu untuk apa kau menemuiku dan memberitahu hal itu? Harusnya ke dokter kan," balas Tasya tidak mau pura-pura tidak tahu. "Terus antar aku ke Gedung Putikasa." "Bukan pulang? Itukan gedung apartemen, mau ke mana?" "Bukan urusanmu. Turuti atau aku lompat." Ravi terkekeh pelan. "Tenang Tasya. Akan aku antar ke sana." Tasya menarik napas. Entah mengapa suara tawa Ravi malah membuatnya bertambah jengkel. Seolah mereka tak pernah ada masalah, padahal mereka adalah pasangan yang gagal menikah. Pertemuan keduanya saat ini saja tidak wajar. Wanita itu pun menoleh, berharap bisa bicara dengan serius dengan Ravi tentang maksud pria itu ingin bertemu. "Aku tahu kau impoten, tapi itu masalahmu." "Tapi masalah itu darimu," balas Ravi melirik Tasya sekilas sebelum kembali fokus menatap ke depan. "Apa?" Dengan satu gerakan Ravi memutar kemudi dan mengarahkannya memasuki area sebuah taman. Memarkirnya di bawah pohon yang rantingnya masih dibasahi oleh hujan yang turun. "Aku mengalami impoten, karena gangguan psikologis dari seseorang yang menerorku karena perselingkuhan yang kulakukan. Itu menghantuiku dan membuatku selalu mengingatkanku penderitaanmu," ujar Ravi mulai ikut menatap dalam Tasya. "Setelah kemurkaanmu hari itu dan pembatalan pernikahan, kita tidak pernah bicara lagi." "Karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Sendu pada mata Tasya tak bisa disembunyikannya. "Aku tahu, aku salah. Jangan memaafkanku, aku tidak berani memintanya padamu," kata Ravi dengan mata bergetar. "Tapi bukankah kejam jika kau mengutukku agar impoten? Harusnya lupakan saja aku." Tasya terkesiap mendengarnya. "Apa maksudmu?" "Setelah teror yang kualami, aku berpikir bahwa mungkin kau atau Alika dan Argus membuat thread di Twitter tentang perselingkuhanku dan gagalnya pernikahan kita," jelas Ravi semakin membuat Tasya terkejut. "Mungkin thread itu trending topic dan keluarga atau kenalanmu dendam padaku, tapi ... aku menemukan akunmu menyuruh sebuah akun mengutukku agar impoten." Mimpi buruk lagi. Tasya tidak menduga Ravi akan mengetahui tweets konyolnya itu. "Aku memang melakukannya. Apakah salah jika aku melakukan sumpah serapah kepada pria yang sebentar lagi akan menikah denganku, tapi malah berselingkuh dengan wanita lain?!" Tasya bersuara keras mengatakannya. Luapan yang sempat dipendamnya dulu kini tersalurkan. "Aku tidak tahu siapa yang menerormu, meski aku berterima kasih padanya karena melakukan hal yang tak sempat kulakukan. Jangan bilang kau percaya takhayul bahwa gara-gara tweets-ku itu kau jadi impoten," lanjut Tasya dengan mata berkaca. "Kenyataan aku mengalaminya," balas Ravi. "Tapi ketika mengingatmu, tidak terjadi dan itu ... membuatku gila." "Lalu kau mau melaporkanku ke polisi, karena tweets itu?" Tasya memikirkan tentang rencana Ravi mengajaknya bertemu. "Tentu saja tidak. Jika kau ceritakan, bisa jadi mereka malah ikut mengutukku. Aku ingin kau membantuku mencari tahu siapa pemilik akun @yourwitch tersebut," tutur Ravi hanya ingin memastikan siapa orang yang menerornya. "@yourwitch tak mengenalmu. Lagipula aku hanya memberi nama lengkap dan tanggal lahir seperti yang kau baca." Tasya menolak, tidak ingin membuang waktunya. "Itu sudah cukup membuatnya memperoleh informasi tentangku. Apa kau ingin aku terus berfantasi tentangmu agar bisa kembali merasakan menjadi seorang pria?" Tidak ada yang lebih mengerikan bagi Tasya dari ucapan Ravi. Pria yang telah menyelingkuhinya, malah menjadikannya fantasi. Tasya berpikir sejenak. Ia sudah tidak ingin lagi berurusan atau mengenal sosok Ravi Ardiansyah. "Itu mustahil, lagipula akun @yourwitch tampak anonim yang iseng doang." "Dia telah mengabulkan permintaanmu membuatku impoten dan juga pasti juga cheese bagels itu bukan?" Tasya lupa bahwa ia memang sempat membalas terima kasih atas cheese bagels yang benar-benar didapatkannya. "Jika aku impoten hanya kebetulan dengan tweets itu, lalu bagaimana dengan permintaamu yang satunya? Bukankah aneh jika ikut terwujud juga?" "Bukan hanya aku, ada yang lain juga. Dia meminta hujan." "Itu hanya kebetulan Tasya." Ravi membalas, lalu menarik napas. "Dan hal yang mungkin tak kau sadari adalah ... akun itu dibuat tepat pada hari pernikahan kita." "Jangan memakai teori cocoklogi," ujar Tasya merasa Ravi terlalu jauh berpikir. "Lebih baik aku membantumu mencari tahu tentang siapa yang menerormu. Kuyakin bukan dari akun itu." "Kalau bukan Alika, Argus atau Tisha, maka tidak akan ada yang menerorku sekejam itu," kata Ravi masih kukuh bahwa @yourwitch yang melakukannya. Tasya menghela napas panjang. "Lalu kau mau aku apa dengan @yourwitch?" "Buatlah satu permintaan lagi, agar dia menampakkan dirinya," usul Ravi. "Kurasa ... dia orang yang kau kenal." Satu hal yang Tasya lupakan, bahwa Ravi adalah lulusan teknik informatika dan ahli dalam bidang komputer. Ia tahu bahwa pria itu tak sekadar mencurigai @yourwitch hanya karena tweets miliknya, lalu bagaimana jika akun itu benar-benar milik orang yang dikenal dan mengenalnya? ♡♡♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD