“Biarin saja dia keki sendiri membacanya,” pikir Tiara puas. Hati Tiara merasa lega jika bisa sedikit-sedikit menyakiti hati laki-laki itu. “Belum seberapa dibanding sakit hatiku sama dia,” ucapnya lagi dalam hati. Tidak ada lagi pesan masuk dari manusia yang dibencinya hingga ke ubun-ubun itu. *** Keesokan harinya, Sabtu sore. Tiara dan Tania mendatangi showroom mobil yang menjual merk yang dia suka. Tiara akan membeli sebuah mobil mungil untuk aktifitasnya sehari-hari dengan putrinya. Sepertiga dari uang penjualan rumah akan dialokasikan untuk membeli mobil. Sisa uangnya akan didepositokan saja. Tiara belum ada niat untuk membeli rumah lagi. Toh, saat ini rumah tinggalnya sudah disediakan oleh perusahaan. Tiara merasa optimis bisa mempertahankan kinerjanya dalam waktu yang lama di pe

