"Kakak bersih-bersih dulu ya, setelah itu kakak istirahat."
"Iya Mommy."
"Kakak mau makan apa?"
"Sean masih kenyang Mommy. Nanti aja makannya." Via menganggukkan kepalanya. Pasti Sean juga sudah memakan makanan yang ia bawakan tadi.
"Mommy liat Alleta dulu ya, kalau kamu butuh sesuatu kamu panggil Mommy aja."
"Siap Mommy!"
Mereka baru saja tiba di rumah, Rafael pergi memarkirkan mobilnya di garasi. Sedangkan Via dan Sean masuk kedalam rumah terlebih dahulu.
"Mommy, Sean mau liat Alleta dulu yaa."
"Iya, tapi kamu cuci tangan dulu. Ganti bajunya. Mommy juga mau cuci tangan dulu." Sean pun mengangguk mengerti.
"Ma, Pa." Via memanggil mertuanya yang sedang duduk di kasur sambil menjaga Alleta. Via menghampiri mertuanya dan menyalami mereka bergantian
"Gimana keadaan Sean?"
"Sean baik-baik aja kok Pa. Via lagi nyuruh Sean cuci tangan sama ganti baju dulu." Dani pun merasa lega jika cucunya baik-baik saja.
"My, mimik." Alleta mulai terbangun dan mencari keberadaan Via.
"Eh cucunya Oma udah bangun. Pinter banget sih, gak nangis." Via pun tersenyum dan mendekat kearah putrinya.
"Kok sebentar banget kamu boboknya sayang, biasanya lama. Haus yaa nak."
"Mimik My, mimik." Alleta terus berceloteh meminta minum. Ia merangkak kearah Mommynya dan menepuk-nepuk dekat d**a Mommynya.
"Iya sayang, sabar dulu." Via mencari posisi yang nyaman. Ia duduk sambil bersandar di kapala ranjang. Apalagi perutnya sudah mulai membuncit, membuatnya sulit bergerak dengan leluasa. Via segera merengkuh tubuh Alleta dan memposisikan Alleta agar putrinya itu nyaman.
"Papa keluar dulu ya, mau liat keadaan Sean." Via dan Siska pun mengangguk.
***
Edgar dan Nadia segera pergi kerumah Via setelah mendengar kabar mengenai Sean. Mereka juga ikut merasakan sedih mengenai trauma yang di alami Sean hingga membuat anak itu menjadi fobia terhadap darah.
Semenjak Alleta terbangun, suasana rumah Rafael menjadi ramai, di tambah lagi kedatangan Aland dan Tasya bersama anak-anak. Mereka menjemput anak-anak di sekolah. Dan Rafael juga meminta tolong pada Aland untuk menjemput Farel. Setelah terbangun, tentu saja Alleta mencari daddynya.
"Aduh gemes banget sih kamu, pengen Mami gigit pipi bakpao kamu." Tasya pun mencubit pelan pipi Alleta yang mirip bakpao itu. Beruntung saja kulit Alleta tidak sensitif, pipinya tidak mudah iritasi saat di sentuh. Jika ada orang lain yang ingin menyentuh anaknya, Via akan memperingatinya dengan pelan-pelan agar orang tersebut tidak tersinggung. Via hanya takut, jika Alleta akan mengalami iritasi di pipinya nanti. Rafael lebih over protective lagi kepada Alleta, Rafael akan menjaga anaknya dengan sebaik mungkin.
"No Mi! No no!" Alleta menggelengkan kepalanya. Ia tidak suka jika pipinya di cubit-cubit.
"Salah sendiri kamu lucu." Tasya pun terkekeh karna Alleta sangat menggemaskan.
"Main sama Papi yuk!" Mendengar kata bermain membuat Alleta mengalihkan perhatiannya, ia pun merentangkan tangannya agar Aland menggendongnya. Dengan senang hati Aland pun langsung menggendong Alleta.
"Gemes banget sih baby mochi ini." Aland mencium wajah Alleta, dari kening, pipi, dan hidung. Aland dan Tasya membawa Alleta bergabung bersama kakak-kakaknya.
Sean, Farel, Gilang, Rara, Zia, dan Arsen berkumpul di ruang keluarga. Mereka sudah mengganti pakaian sekolahnya dengan baju santai. Setelah makan siang bersama, mereka memilih untuk mengerjakan tugas sekolahnya agar mereka bisa bermain lebih lama lagi nantinya.
Setelah sampai di rumah anak dan menantunya, Nadia dan Edgar segera masuk ke dalam dan mencari keberadaan Sean.
"Sean!" Nadia sedikit berteriak memanggil Sean. Ia ingin segera mengetahui keadaan cucunya itu. Kebetulan Sean baru saja keluar dari kamarnya. Setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya, Sean meletakkan kembali buku-bukunya di meja belajar yang ada di kamarnya. Rasa rajinnya sedang mendominasi saat ini, sehingga ia mau merapikan buku-bukunya. Biasanya ia dan Farel akan terkena omelan mommynya karena kamar mereka berantakan.
"Oma Nadia!" Sean tersenyum sampai deretan giginya yang rapi terlihat. Ia begitu senang jika omanya datang ke rumahnya. Nadia tersenyum melihat Sean yang berlari menghampiri dirinya. Ketika sudah di dekat Nadia, Sean langsung memeluknya.
"Kamu gak papa sayang?" Sean menggelengkan kepalanya.
"Sean gak papa Oma. Sean baik-baik aja." Nadia mencium seluruh wajah cucunya itu, hingga Sean tertawa karena merasa geli. Nadia juga ikut tertawa pelan, sedangkan Edgar tersenyum melihat istri dan cucunya. Nadia pun menghentikan aksinya.
"Kok kamu gak istirahat?"
"Sean males di suruh tidur terus." gerutu Sean.
"Kan enak cuma di suruh istirahat. Atau mau Opa temani?" Sean mengalihkan perhatiannya pada Edgar.
"Opa!" Sean segera menyalami Edgar dan memeluknya.
"Gimana keadaan kamu nak?"
"Sudah lebih baik Opa." Sean menjawabnya dengan mantap. Karena memang dirinya sudah jauh lebih baik. Edgar tersenyum mendengar ucapan Sean.
"Ayo kita keruang keluarga Opa, Oma!" Sean berada diantara Edgar dan Nadia. Ia menarik pelan tangan mereka dan membawa mereka keruang keluarga.
***
Rencana Gilang, Rara, Zia, dan Arsen untuk tinggal di rumah Via pun menjadi gagal total. Oma dan opa dari pihak ibu, meminta mereka untuk berkunjung.
"Pi, Gilang di rumah Bunda aja ya." Sejak tadi Gilang terus merengek ingin tetap tinggal di rumah Via. Ia sangat merindukan bundanya ini. Sudah hampir seminggu ia tidak menginap di rumah Via. Aland dan Tasya pun menghela napasnya. Mereka lelah membujuk Gilang, karna anaknya itu memiliki pendirian yang kuat.
"Oke, malam ini boleh tidur di rumah Bunda Via. Besok kamu pulang," ucap Tasya dengan tegas. Gilang pun tersenyum senang dan langsung memeluk Tasya.
"Terimakasih Mami! Gilang sayang Mami." Tasya mensejajarkan tingginya dengan Gilang.
"Ingat! Gak boleh nakal, gak boleh ngerepotin Bunda Via. Bunda kamu itu gak boleh kelelahan." Gilang mengangguk mantap. Gilang mencium kedua pipi Tasya. Tasya tersenyum tipis, kali ini ia akan memberikan izin kepada Gilang. Lagi pula, beberapa hari yang lalu, ia juga sudah membawa Gilang bertemu dengan nenek dan kakeknya. Bahkan orang tua Tasya sampai hafal jika Gilang tidak ikut berkunjung kerumah mereka. Mereka pun tidak mempermasalahkan hal itu.
"Ya udah, Mami, Papi, dan kakak-kakak kamu pulang dulu ya."
"Iya Mami." Gilang bergantian menyalami kedua orang tuanya. Kemudian, Tasya dan Aland mencari keberadaan Nadia dan Edgar, ternyata mereka ada di taman depan rumah sambil mengajak Alleta bermain. Mereka juga berpamitan kepada orang tua Rafael yang ikut serta menjaga Alleta. Sedangkan Rafael membuatkan makanan yang sedang di inginkan oleh istrinya. Tiba-tiba saja Via ingin memakan salad buah, dan ia ingin salad buah buatan suaminya. Setelah berpamitan, Tasya, Aland, Rara, Zia, dan Arsen segera meninggalkan rumah Via.
"Baby Al, udah yuk! Kita kedalam ya." ucap Siska.
"No! No!" Lihatlah, tubuh Alleta sudah kotor oleh pasir yang dimainkannya. Nadia sengaja melepas baju Alleta dan membiarkan cucunya menggunakan kaos pendek dan celana pendek. Nadia dan Siska membiarkan cucunya bermain apapun asal tidak berbahaya dan masih dalam pengawasan mereka.
"Kita main boneka atau nonton cocomelon mau?" Tawar Nadia. Alleta langsung mengalihkan perhatiannya ketika mendengar ucapan omanya yang membuatnya tertarik.
"Au!"
"Mau? Ayo sama Oma!" Alleta langsung merentangkan tangannya ketika Nadia mengulurkan tangannya untuk menggendong Alleta.
"Kalau kamu itu ya Al, seneng banget nonton cocomelon." Gemas Siska pada cucu perempuan kesayangannya itu. Padahal Alleta itu masih kecil, tapi seolah paham dengan apa yang ia tonton. Nadia dan Siska segera masuk ke dalam rumah. Sedangkan Edgar dan Dani pergi ke post satpam di dekat pagar rumah Via. Mereka sedang bermain catur dan mengobrol bersama satpam dan beberapa bodyguard yang di pekerjakan oleh Rafael. Hal itu sudah biasa mereka lakukan untuk mengurangi rasa canggung di antara mereka.
***
Farel, Sean, dan Gilang kini tengah asik menonton dua bocah kembar yang berkepala botak di ruang tamu. Mereka juga menikmati es krim dengan varian rasa stroberi dan cokelat.
"Yan! Yan! El!" Alleta langsung memanggil kedua kakaknya ketika melihat mereka.
"Alleta mandi dulu ya sayang. Penuh pasir ini badan kamu." Siska pun mengambil alih Alleta dari gendongan Nadia. Ia akan memandikan cucunya itu terlebih dahulu. Dan beruntung, Alleta sedang dalam mode menurut. Setelah itu Nadia menghampiri Sean, Farel, dan Gilang.
"Kalian kok gak tidur siang?"
"Masih asik nonton Oma, sebentar lagi." sahut Gilang. Sean bangkit dari duduknya, hal itu mengundang perhatian Farel, Gilang, dan Nadia.
"Mau kemana Yan?"
"Mau ke dapur Oma, mau minta salad buah buatan Daddy."
"Sean! Aku ikut." Gilang segera pergi menyusul Sean.
"Mommy."
"Eh, duduk sini sayang." Bukannya duduk, justru Sean memeluk Mommynya. Via mengusap pelan punggung Sean agar Sean merasa lebih nyaman.
"Ada apa, hmm?"
"Gak papa, cuma lagi pengen peluk Mommy aja." Ketika sudah sampai di dapur, Gilang langsung duduk di kursi dekat Via.
"Ini udah jadi salad buahnya." Rafael membawa beberapa cup berbeda ukuran dan bentuk yang berisi salad buah itu. Ia meletakkannya di atas meja makan. Dan sebagian Rafael masukkan kedalam kulkas. Ia sengaja membuat banyak, karena keluarga mereka juga banyak, dan bisa juga untuk berbagi.
"Sean sama Gilang mau juga?" Mereka berdua dengan kompak menganggukkan kepalanya.
"Ambil yang di cup kecil dulu, nanti kalau mau tambah, boleh ambil lagi. Mommy gak mau kalau kalian sampai membuang-buang makanan." Sean dan Gilang pun mengangguk patuh.
"Sini, Sean duduk di samping Mommy." Tanpa banyak bicara, Sean langsung duduk di samping kanan Mommynya sedangkan Gilang di samping kiri.
"Waah, keliatannya enak ni," ucap Nadia. Ia datang bersama Farel.
"Mama sama Kak Farel kalau mau ambil aja, salad buahnya buat banyak kok." sahut Rafael. Nadia dan Farel pun duduk di kursi untuk menikmati salad buah itu.
"Alleta dimana Ma?" tanya Rafael.
"Alleta lagi mandi sama Mama kamu. Habis main pasir di taman depan." Rafael pun mengangguk mengerti.
"Kamu mau kemana Vi?"
"Ini mau ngasih salad buah buat Mbak Anna, Ma."
"Sini Mama aja yang nganterin."
"Gak usah, nanti ngerepotin Mama."
"Enggak lah, Mama juga mau tanya resep kue sama Anna." Akhirnya Via pun mengangguk.
"Gilang ikut kerumah Ella, Oma."
"Oke, ayo!"
Setelah Nadia dan Gilang pergi, Sean dan Farel pun kembali ke ruang keluarga sambil membawa salad buah yang mereka makan. Sedangkan Via dan Rafael masih berada di dapur.
"Alleta, sini!" Farel memanggil Alleta yang sedang di dalam gendongan Siska. Seolah mengerti, Alleta pun meminta turun pada omanya.
"Sabar sayang." Siska sedikit kewalahan dengan keaktifan Alleta. Siska pun menatah cucunya itu, dengan semangat Alleta pun berjalan cepat, hampir berlari menuju kakaknya berada.
"Seneng banget sih nak, mau main sama Kak Farel sama Kak Sean ya?"
"He'em." Karna terlalu gemas, Siska pun mencium pipi chubby Alleta.
"Alleta mau salad buah? Atau mau kejunya?"
"Juju." Farel pun menyendok sedikit keju yang ada di salad buahnya dan menyuapkannya pada Alleta. Gadis kecil itu sangat menyukai keju.
"Kak Farel, Sean, Oma tinggal ganti baju sebentar yaa. Baju Oma basah, tolong jagain adiknya sebentar." Farel dan Sean pun mengangguk.
"Iya Oma."
"Mimik."
"Alleta mau minum apa? s**u?" Alleta pun mengangguk.
"Cucu."
"Sean, sebentar yaa. Aku ke dapur dulu, mau minta tolong sama Mommy buatin s**u untuk Alleta."
"Iya Kak." Setelah Farel pergi, Alleta merangkak ke dekat meja. Ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sean mengawasi Alleta sambil memakan salad buahnya. Setelah mendapatkan sesuatu yang menarik perhatiannya, Alleta pun langsung memakannya. Sean memperhatikan adiknya yang duduk tenang. Sean mendekat ke arah Alleta, ia melebarkan matanya ketika Alleta memakan es krim cup yang sudah mencair itu.
"Alleta, Kakak pinjem yaa, ganti sama mainan boneka beruang dan bebek yaa. Nih main masak-masakan juga." Sean memberikan barang-barang yang ada di sekitarnya yang belum di bereskan. Itu semua adalah mainan milik Alleta. Setelah perhatiannya teralihkan, dengan segera Sean mengambil cup es krim itu dan meletakkannya di atas meja. Perasaan khawatir, cemas, dan takut bercampur menjadi satu.
Alleta mulai menggaruk tangannya yang terasa sangat gatal, begitu juga dengan pipinya. Wajahnya mulai memerah, karna tidak tahan lagi, Alleta pun menangis. Hal itu membuat Via, Rafael, dan Farel yang ada di dapur segera pergi ke ruang keluarga. Begitu pula dengan Siska, setelah selesai berganti pakaian ia langsung menuju ke ruang keluarga.
"Astaghfirullahalazim Alleta!" Rafael, Via, dan Siska cukup terkejut, sedangkan Sean terdiam karna bingung harus apa. Dan ia juga takut terjadi apa-apa dengan adiknya. Rafael segera menggendong Alleta dan tanpa pikir panjang ia langsung membawa pergi ke klinik atau rumah sakit di dekat rumahnya. Via pun mengikuti langkah suaminya. Mereka berdua cukup panik dan berusaha untuk tetap tenang. Bahkan mereka sampai melupakan keberadaan Siska, Farel, dan Sean.
Siska segera ke depan untuk memberitahukan kepada suami dan besannya. Dan ia juga ingin menyusul Rafael dan Via. Ia sangat ingin tau keadaan cucu perempuannya itu.
"Ada apa Sean? Kenapa Alleta bisa begitu?" Sean terdiam sejenak mendengar pertanyaan Farel. Tanpa berbicara apapun, Sean menatap cup es krim yang ia letakkan di atas meja tadi. Farel pun melihat apa yang Sean lihat, ia melebarkan matanya. Itu adalah es krim stroberi miliknya, masih tersisa sedikit, dan itu pun sudah mencair. Alleta alergi stroberi, dan baru saja Alleta memakannya. Bagaimana bisa ia seceroboh itu, sampai lupa membuang sampahnya. Ia merasa bersalah pada adiknya, pasti Alleta sangat kesakitan sekarang. Farel segera membuang dua cup es krim stroberi itu. Es krim satu lagi adalah milik Gilang, dan es krim milik Sean sudah habis dan ia sudah membuangnya ke tempat sampah. Yang Sean makan pun es krim cokelat.