Mbak Yeyen dan Mbak Susi menuju ruang keluarga karena mendengar suara yang sedikit keributan. Para pekerja yang bekerja di rumah Rafael sedang istirahat, dan mereka ada di rumah belakang. Jika ada keperluan, Rafael atau Via akan menelpon mereka. Kebetulan Mbak Yeyen dan Mbak Susi masih di daerah kolam renang di dekat dapur.
Mbak Yeyen dan Mbak Susi menghampiri Sean dan Farel yang ada di ruang keluarga. Mereka sedang duduk di sofa sambil menundukkan kepala. Mbak Yeyen dan Mbak Susi segera menghampiri mereka.
"Den Farel, Den Sean." Sean dan Farel pun menoleh ke arah Mbak Yeyen.
"Ada apa Den?" Tanya Mbak Yeyen pada Farel.
"Alleta di bawa ke rumah sakit Mbak, gak sengaja makan es krim punya Farel." Farel merasa bersalah. Wajahnya tampak begitu murung.
"Coba tadi aku buang es krimnya, pasti Alleta gak akan sakit." batin Farel penuh sesal.
Es krim milik Farel memang sudah habis, hanya tersisa sedikit. Namanya anak kecil, semua yang ada di sekitarnya pasti akan di sentuhnya atau bahkan di makannya.
"Mbak, Sean pengen pergi ke rumah sakit. Sean mau liat adek." pinta Sean.
"Farel juga mau pergi ke rumah sakit, Mbak."
"Sekarang Den Sean sama Den Farel masuk aja ke kamar siap-siap. Nanti Mbak bilangin sama Nyonya Siska, atau pergi sama Pak Jarwo aja." Farel dan Sean pun mengangguk.
"Tapi mainannya belum kami beresin, Mbak." Mbak Yeyen dan Mbak Suci pun tersenyum mendengar ucapan Farel. Mereka salut dengan didikan Rafael dan Via. Mereka selalu memandang manusia sama rata, tanpa membedakan kasta ataupun derajatnya.
"Gak papa, nanti biar Mbak Suci sama Mbak Yeyen yang beresin." Farel dan Sean pun menurut.
"Makasih Mbak, udah bantuin kami beresin mainannya." Sean mengucapkan terimakasih kepada kedua ART nya itu. Farel dan Sean selalu di didik Mommy dan Daddynya untuk selalu mengucapkan terimakasih ketika di beri bantuan, mengucapkan maaf ketika bersalah, dan mengucapkan kata tolong ketika sedang membutuhkan bantuan.
Sean berdiri di dekat jendela kamarnya. Ia merasa sangat bersalah kepada adiknya. Ia merasa tidak bisa menjaga adiknya dengan benar.
Sean membalikkan badannya ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Siska yang berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang terlihat marah.
"Oma," gumam Sean dengan suara pelan. Sean menundukkan kepalanya ketika Siska sudah dekat dengannya.
"Kamu itu gimana sih! Kenapa cucu Oma bisa makan es krim stroberi?"
"Maaf, Oma. Sean gak tau kalau Alleta makan es krim stroberi." Sean menjawab ucapan Siska dengan suara yang sedikit pelan. Bahkan ia tidak berani melihat raut wajah Siska.
"Oma cuma minta tolong untuk jagain adik kamu sebentar aja! Tapi kenapa kamu malah celakain adik kamu! Dasar anak pembawa sial! Kenapa kamu gak mati aja waktu itu!" Pekik Siska dengan kesal.
"Semenjak ada kamu, semuanya berubah! Kamu memang pembawa sial! Anak saya dan menantu saya juga meninggal karena kamu! Via celaka juga karena menyelamatkan kamu! Dan sekarang cucu saya masuk rumah sakit karena kamu! Setelah ini kesialan apa lagi yang akan terjadi karena kamu?" Siska mendorong Sean hingga tersungkur di lantai. Bahkan kepala Sean sampai terbentur ujung meja. Siska meninggalkan Sean begitu saja yang sedang menangis.
"Hikss ... sakit .... hikss." Sean menangis sambil memegang kepalanya. Ucapan Omanya tadi terngiang-ngiang di kepalanya. Ia berpikir apakah benar jika ia selalu membawa kesialan dalam keluarganya.
"Ya Allah! Den Sean!" Pekik Mbak Yeyen yang melihat Sean sudah tergeletak di lantai.
"Darah," gumam Sean dengan lirih. Tubuhnya bergetar ketika melihat darah di tangannya. Mbak Yeyen langsung menggendong Sean dan mendudukkannya di sofa yang ada di kamar Sean.
"Pejamkan mata aja Den. Atur napasnya ya." Mbak Yeyen membawa Sean kedalam pelukannya. Sean menuruti semua ucapan Mbak Yeyen. Setelah cukup tenang, Mbak Yeyen pamit kepada Sean untuk mengambil kotak P3K.
"Den Sean disini dulu ya, Mbak Yeyen ambilkan obat dulu."
"Mbak Yeyen disini dulu aja. Temenin Sean," ucap Sean dengan suara lirih. Bahkan ia masih memejamkan matanya.
"Sebentar aja Den. Lukanya biar Mbak bersihin dulu ya. Pasti sakit kan? Sebentar aja." Akhirnya Sean pun mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Mbak Yeyen datang membawa kotak obat. Dengan telaten Mbak Yeyen mengobati luka Sean. Sean hanya diam saja, ia tetap memejamkan matanya.
"Sudah selesai. Sekarang, Den Sean disini dulu. Udah sore, lebih baik Den Sean mandi, biar Mbak yang siapin airnya." Sean mengangguk dan menuruti ucapan Mbak Yeyen.
"Mbak."
"Iya?"
"Sean tau, Mbak pasti liat Oma keluar dari kamar Sean. Mungkin Mbak juga denger yang di bilang Oma. Tapi, Sean minta tolong sama Mbak. Jangan bilang ke siapa-siapa ya. Terutama Mommy sama Daddy."
"Tapi—"
"Please, kalau enggak Sean akan marah sama Mbak Yeyen." Mbak Yeyen terkekeh geli melihat raut wajah Sean yang terlihat sedang merajuk.
"Jangan di ketawain!"
"Siap, aman Den!"
"Janji, cuma kita aja yang tau?" Sean menjulurkan jari kelingkingnya di hadapan Mbak Yeyen dengan raut wajah yang serius.
"Janji." Mbak Yeyen menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking kecil milik Sean.
"Tapi kalau Nyonya Siska benar-benar keterlaluan, Mbak akan berbicara pada Mommy dan Daddy kamu, Sean." batin Mbak Yeyen. Mbak Yeyen kembali melanjutkan aktivitasnya. Sepertinya mereka tidak jadi menyusul ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alleta.
"Mbak ke kamar Den Farel dulu. Bajunya udah Mbak siapkan di atas kasur ya. Kalau butuh apa-apa, panggil Mbak."
"Iya Mbak."
Setelah menyiapkan air hangat untuk Sean, Mbak Yeyen pergi ke kamar Farel untuk menyuruhnya mandi.
***
"Bagaimana keadaan anak gue, Bi?" Tanya Rafael dengan tidak sabaran.
"Alleta gak apa-apa. Keadaannya juga tidak parah. Lain kali di perhatikan lagi ya Bang untuk makanan yang menyebabkan Alleta alergi. Alleta udah boleh pulang. Resep obatnya udah gue tulis." Abi adalah sahabat Via sejak SMA. Mereka memang sudah dekat, jadi tak heran jika mereka berbicara dengan santai.
"Kalian gak usah khawatir berlebihan. Kalian udah membawa Alleta tepat waktu. Sebentar lagi pasti sembuh."
"Makasih ya, Bi." Abi mengangguk dan tersenyum kepada Rafael dan Via. Rafael pun menggendong Alleta yang masih lumayan rewel.
Setelah selesai, mereka pun langsung pulang ke rumah. Sedangkan orang tua Via menebus obat untuk Alleta terlebih dahulu. Orang tua Via memang menaiki mobil yang berbeda, karena mereka menyusul ke rumah sakit. Nadia juga menyuruh Via untuk pulang lebih dahulu.
Saat ini Alleta pun tertidur di pangkuan Via. Sedih rasanya melihat sang putri seperti itu. Rafael yang paham akan perasaan istrinya pun menggenggam sebelah tangan Via dan mengusapnya.
"Udah sayang, Alleta baik-baik aja. Jangan sedih terus, kasian baby twins." Via pun tersenyum dan mengangguk.
"Mas, bisa ke supermarket sebentar, s**u Alleta tinggal sedikit."
"Iya, sayang." Beberapa saat kemudian, mereka tiba di supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
"Kamu di sini aja, biar Mas yang turun. Kasian nanti Alleta kebangun."
"Iya, Mas."
"Ada yang perlu di beli lagi?"
"Tolong belikan bahan kue, aku ingin membuat brownies. Jangan lupa cemilan dan jajan untuk Sean dan Farel."
"Oke." Rafael segera turun dari mobil dan masuk kedalam supermarket itu.
"Maafin Mommy ya, Nak. Mommy lalai jagain kamu." Via mencium kening dan pipi Alleta penuh kasih sayang. Ia juga mengusap rambut lembut milik Alleta yang masih tertidur dengan pulas.
Beberapa saat kemudian, Rafael sudah selesai berbelanja. Hari sudah mulai sore, mereka pun langsung pulang ke rumah.