Aku Harus Kuat

1233 Words
Bab 6 Setelah mas Ari pergi berangkat kerja, kok tiba tiba saja ibu mertua pamit mau istirahat karena kurang enak badan ya??. Apa memang benar ibu mertuaku sakit?? Tapi kalo pun memang benar, ya mudah mudahan lah ibu cepat sembuh. Tapi ya, kok firasat ku bilang kalo ibu mertuaku itu cuman pura pura aja ya?? Karena masih aja pagi pagi, kok tiba tiba gak enak badan, semalam masih sehat sehat aja kok. Astaghfirullah.... Ampuni aku Tuhan,, sudah punya firasat buruk pada ibu mertua ku. "Oek.. Oek"... Suara tangisan bayiku membuat aku harus bergegas siap siap makan dan menyuapi Meri anak pertama ku,.. " Aduh kak, maaf kaka makan nya sendiri aja dulu yah, ibu mau lihat adik dulu, karena adik udah bangun dan nangis tuh" Ucap ku pada Meri yang belum siap aku suapi makan. "Iya mamah, gak apa apa kok aku makan sendiri". " Anak pintar, makasih ya sayang udah ngertiin mamah".. Ya Tuhan anak sekecil Meri saja bisa tau dan ngerti keadaan ku, tapi masa ibu mertuaku.... Aduh.. Ampuni aku Tuhan,, aku menghentikan firasat ku yang buruk.. Ku ambil dan ku gendong baby imut mungilku, tak tega rasanya harus menggendong dia karena badanku masih demam tinggi. Tapi ya, apa boleh buat,, mudah mudahan demam ini gak menular pada bayi ku. Ku tatap wajah mungil bayiku, dan sebentar sebentar ku lirik juga Meri anak pertamaku, kadang dalam hati mau menangis, apa yang salah dengan malaikat kecilku yang dia ini?. Kenapa mereka ikut juga menerima perlakuan yang tidak adil dari keluarga ayahnya. Tapi ada rasa hati yang kuat karena mereka lah alasanku saat ini untuk hidup dan tetap kuat menghadapi perlakuan yang tidak adil buat kami. Kalo aku sendiri gak kuat, bagaimana mungkin mereka bisa bertahan. ["Maafkan mamah yah nak"] Hari sudah sore, nampak dari depan rumah, mas Ari sudah pulang dari tempat pekerjaannya. "Assalamu'alaikum" Salam suamiku. "Wa'alaikumsalam, pa, papah udah pulang, ku raih tangan suamiku dan mencium punggung tangannya. " Iya mah, oh ya mah, ibu dimana? Kok gak nampak"? Ingin rasanya menjawab pertanyaan mas Ari, bahwa ibu mertuaku berpura pura sakit, supaya gak datang kesini untuk ngurusin bayiku, tapi aku masih memikirkan perasaanya. Bagaimana pun beliau adalah ibu yang melahirkannya. "Tadi pagi ibu pamit pulang pa, karena katanya asam uratnya kambuh, badannya keram" Jawabku memastikan mas Ari. "Kok bisa? Perasaan tadi malam masih baik baik aja kan" Sambung mas Ari yang kelihatan curiga juga dengan tingkah ibu nya itu. "Aku juga gak tau pa, tapi ya udahlah pa, gak baik juga kan memaksakan orang tua, kalo memang dia benar sakit ya mudah mudahan cepat sembuh. Tapi kalo memang dia beralasan supaya gak kesini, ya itu terserah ibu juga pa". " Tapi kamu gak apa apa kan mah, bisa sendiri ngurus anak kita"? "Iya pa, aku gak apa apa kok, sebisa mungkin aku kerjakan, aku kan harus kuat demi anak anak kita pa,". " Makasih ya mah, kamu sangat pengertian" Pujian mas ari, membuatku tambah semangat, meskipun dengan tubuh yang masih lemas, tapi demi anak anak, aku harus kuat... Terimakasih Tuhan, engkau memberikan suami yang sangat baik kepadaku, disaat keluarganya tidak menginginkanku, tapi suamiku yang menjadi penyemangat ku untuk tetap bertahan di keluarga mereka. ** Seperti biasa, mas Ari yang duluan bangun untuk nyuci kain baby dan masak makan kami, sepertinya dia gak tega harus bangunin aku untuk melakukan semua itu. Karena yang dia tau aku sangat kelelahan ngurus rumah dan anak anak kami seharian. "Mah, ayok kita serapan yok, pa udah siapin semuanya" Panggil mas Ari dari luar kamar. Sementara aku masih menyusui bayiku. "Iya pa, sebentar" Gak lupa juga aku bangunkan Meri untuk ikut makan bersama,. Ya seperti itu lah kesibukan kami tiap hari. Setelah selesai makan mas Ari akan siap siap untuk berangkat kerja, sementara aku tinggal di rumah bersama kedua anak anakku. "Ya udah mah, papa berangkat kerja dulu ya" "Iya pa, hati hati kerjanya ya pa" Sambil mencium punggung tangan suamiku. [Ya Tuhan... Panjang kan lah umur suami hamba ini, dan engkau lancarkan rezekinya ya Allah]. Gak lama mas Ari pergi berangkat kerja, tiba tiba dari pintu terdengar suara yang gak asing bagiku. Ya itu mbak pita, entah ngapain dia datang kemari, aku juga gak tau. "Nita,, maaf katanya yah, ibu mertua kita gak bisa datang kesini untuk bantuin kamu" Ucap mbak pita. Lagian juga aku gak mengharapkan nya lagi kok, yang ada nanti hinaan dan sakit hati yang kudapat dari dia. "Iya mbak", ucapku cuek menanggapi mbak pita. Lagian kok tumben tumbenan dia kesini, atau ada maksud lain? Selain ngasih tau kalo ibu mertua gak bisa datang kesini. Kulihat mbak pita langsung duduk di kursi, tanpa aku persilahkan duduk. Sementara aku sibuk untuk menyuapi Meri makan, sebelum bayiku bangun. "Makanya nit,,, jadi mantu itu berkualitas sedikit lah buat mertua" Ya aku tau maksud perkataan mbak pita itu, dia seolah olah membanggakan dirinya yang bisa memberikan cucu laki laki pada mertua, sementara aku belum bisa. "Maksud mbak apa"? Tanyaku pura pura gak tau. " Yah,, kamu tau sendiri lah nita, kamu gak bisa kasih keluarga suami kita keturunan laki laki. Makanya ibu malas datang kesini, lihat tuh ibu Baik baik saja kok di rumah, mana ada dia sakit, dia hanya berpura pura nita"... Perkataan mbak pita membuatku sedikit terkejut, meskipun sebenarnya aku sudah tau. Tapi mok tega yah seorang ibu dan nenek seperti itu??? "Oh jadi ibu pura pura sakit ya mbak, supaya dia gak datang kemari bantuin aku" Ucapku agak kesal. Karena ya, setau aku, dimana mana kalo menantu itu lagi paska lahiran, ya selagi ada mertua, ya mertua yang ikut berperan. Katanya itu tanggung jawab keluarga laki laki. Tapi aku gak menuntut itu, aku gak butuh itu. Cukup suamiku aja perhatian sama kami sudah membuat aku bahagia kok. " Ya jelas lah,, makanya jadi mantu itu jangan terlalu bodoh, masa kau bisa di bodoh bodohi sama ibu mertua". Perkataan mbak pita itu seolah olah ingin memprovokasi kan aku dan ibu mertua. Ya Tuhan... Sebegitu kejam nya ibu mertuaku kepada kami. Dia mengatas namakan berpura pura sakit, supaya dia gak datang ke rumah ku. Jangankan untuk mengurus bayiku, melihat sekilas muka bayi ki saja maunya ibu mertua datang. Istilahnya sekedar basa basi. Tapi aku masa bodoh aja lah, nanti semakin ku pikirkan Yang ada kacau pikiranku. Dan malah menimbulkan sakit hati nantinya. Yang penting sekarang keluarga kecilku ini. Aku bisa kuat karena mereka, terlebih lebih karena kedua putri putriku yang cantik dan imut. Setelah siap menyampaikan perkataan nya, mbak pita langsung pamit pulang. "Ya udah, aku pulang aja ya nit, aku juga malas sih lama lama disini". " Iya mbak" Jawabku singkat. Ya Tuhan... Lagian siap minta sih dia datang ke rumah ku ini?? Gak ada yang minta kok,, lagian dia datang juga gak ada gunanya, malah menambah masalah, dengan seolah olah memprofokator aku dan ibu mertua. Lagian dia gak kerja apa?? Sampai sampai datang kesini untuk cerita yang gak bermutu. Nambahin masalah, buat sakit hati aja. Padahal kan kita sama sama menantu loh?? Mbak pita juga ikut menyudutkan ku karena gak bisa kasih keturunan laki laki buat keluarga. Mungkin dia merasa hebat kali yah, karena sudah kasih keturunan laki laki buat keluarga. Mungkin. Tapi meskipun demikian, aku harus tetap kuat dan gak bisa goyah dengan kata kata mbak pita dan ibu mertua. Cukup hanya aku melihat suamiku yang masih berpihak kepadaku saja sudah membuatku merasa nyaman. Sejauh ini sih mas Ari masih tetap mendukung ku. Aku gak tau kedepannya. Ya mudah mudahan ya Allah..... bersambung...........
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD