KESEPAKATAN

1261 Words
Pagi ini, Jakarta mendung. “Kamu nggak kerja, Sayang?” Silvi bertanya dengan manja, sementara dia sudah berpakaian lengkap hendak berangkat bekerja. Sementara yang ditanya, hanya menggeliat malas di atas kasur. Wajahnya kusut masai. Bukan hanya pergumulan semalam yang menguras tenaga, bahkan pikirannya terasa sangat berat. “Aku masih bisa tetap disini, kan?” tanya si laki-laki. Kenapa juga musti bertanya, toh ini juga apartemen dia yang belikan, batin Silvi. Silvi tersenyum dengan sangat manjanya. Senyum modelnya yang biasa dia sunggingkan di depan kamera para fotografer, kini dia suguhkan untuk lelakinya. “Whatever you want, Baby...” ucapnya sambil mengelus manja wajah di lelaki. Spontan si lelaki menyambar Silvi lantas menciumnya dengan kecupan panas untuk suasana sepagi ini. Sejenak menanggapi, tapi Silvi kemudian menarik diri. Kalau dituruti, nafsu lelakinya yang satu ini akan membuat absen kerjanya kembali alpha. Romi, lelaki itu, mendengus. Karena bagaimanapun, dan sekecil apapun interaksinya dengan perempuan selalu membuatnya kehilangan jati diri, kehilangan kendali kalau sudah berurusan dengan s*x. “Setelah empat sesi yang membuatku mengantuk pagi ini, apa masih belum cukup? Hm?” Silvi menangkup wajah Romi. Dahinya yang menyatu dengan dahi Romi membuat hembusan napas mereka terasa panas. “Kamu tahu kan, tubuhmu selalu membuatku lapar?” senyum Romi sangat menggoda dengan suaranya yang sedikit serak dan terdengar seksi. “Jangan menggodaku, Baby ... kamu tahu kan absenku menjadi buruk karenamu?” Silvi merengut manja. “Bahkan kamu nggak harus bekerja, aku masih sanggup memenuhi kebutuhan kamu,” Romi masih saja berusaha menahan Silvi. Tapi gelengan Silvi memaksanya untuk melawan nafsunya sendiri. ‘Masih ada waktu’ batinnya menggila. Romi mengangguk. Sepeninggal Silvi, Romi kembali rebahan. Mencoba tidur kembali, mengabaikan pekerjaannya yang kadang dirasakannya membuatnya menjadi seorang robot. Pagi ini dia terlalu lelah, tentu saja setelah pergumulan empat sesinya yang sangat menguras tenaga. Senyum kecil tanpa sengaja tersungging di bibirnya, mengingat bagaimana panasnya dia tadi malam. Untungnya Silvi sanggup melayani kegilaannya akan s*x, dan itu yang membuat Romi agak awet bersama dengan Silvi. Karena perempuan-perempuan terdahulunya selalu angkat kaki dari sisinya padahal hubungan juga belum sampai lima bulan. Kecuali Rindu, karena sekian tahun bersama, tak sekalipun Romi menyentuh Rindu, dalam artian sentuhan intim yang mengacu pada s*x. Tak pernah karena Romi sangat mencintai Rindu, cinta sialan yang membuatnya patah hati bahkan nyaris hancur lebur. Drrrttt......ddrrrtt.... Tiba-tiba smartphone Romi bergetar, dan nama Desi muncul di layarnya. “Halo, Des?” “............... “ Wajah Romi terlihat panik. “Astaga, Desi? Kenapa tak memberitahu saya dari tadi? Kamu tahu ini pertemuan penting kan?” jawab Romi panik sambil bergegas dari kasur. “...............” “Oke .... saya akan datang dalam setengah jam.“ Menutup smartphonenya dan setengah jam kemudian adalah menit-menit yang berantakan karena ternyata pagi ini Romi akan ada rapat dengan kolega penting dari Singapura. “Beliau sudah tiba, Des?” tanya Romi begitu ia sampai di kantor. “Sudah, Pak. Beliau sedang berbincang dengan Ibu Rin dan Pak Chandra di ruangan Pak Chandra,” kata Desi yang tiba-tiba saja wajahnya bersemu merah ketika tanpa sengaja melihat ruam merah kehitaman di leher Romi. Dan Romi terlihat heran dengan sikap Desi. “Ada apa, Des?” Romi bertanya penuh selidik. “Tidak ada apa-apa, Pak. Maaf,” Desi segera kembali ke mejanya. Sambil berjalan, Romi curiga pada pandangan mata Desi yang menatap lehernya. Romi bergegas memasuki ruangannya, mencari kaca yang terpasang di salah satu sisi almari arsipnya. Sesampai di depan kaca, Romi langsung mencari sumber kegugupan Desi. ‘s**t!’ Romi mengumpat dalam hati akibat ulah Silvi yang membuat ruam merah kehitaman di lehernya. Sebisa mungkin diaturnya letak krah bajunya, agar tak terlihat. Tapi tetap saja tak menghasilkan sama sekali, karena terlalu mencolok. Meski sedikit gugup, tapi Romi lantas mengabaikan ruam itu. Bergegas dia memasuki ruangan pak Chandra, demi didapatinya bagaimana akrab dan manisnya perbincangan tak resmi pagi ini. “Selamat pagi, maaf terlambat,” ucap Romi. Pak Chandra tentu saja memandang sedikit intens karena kegugupan Romi yang diluar kebiasaannya. Tapi bukan Romi kalau ia masih saja gugup karena pada menit berikutnya ia begitu pandai membawa diri. “Oh, ya, Sir... Kenalkan ini Pak Romi, kepala Divisi A yang akan langsung berhubungan dengan proyek resort Anda,” pak Chandra memperkenalkan Romi dengan sangat professional karena tak mau menyebut bahwa Romi adalah putranya. Mr. William lantas menyambut uluran tangan Romi dan tersenyum santun. “Oke, bisa kita mulai perbincangan resminya,” Romi memang selalu to the point dalam urusan pekerjaan. “Oke, saya rasa akan lebih baik jika kita membahasnya dengan segera”, jawab Mr. Will. “Good. Apa konsep kita sudah disiapkan, Ibu Rin?” Romi menatap Rin sedikit tajam, sedikit mengintimidasi karena sedikit keki dengan keakraban perbincangan antara Rin, Pak Chandra, dan Mr. Will. “ Sesuai dengan permintaan Anda, Pak Romi,” jawab Rin mantap dan penuh percaya diri. Dalam hati Romi mengumpat, bagaimana menjatuhkan mental dan kinerja gadis ini? Segala sesuatu pekerjaannya tersusun sedemikian sempurna, bahkan sikap dan pembawaannya diluar dugaan. Romi mengangguk dan mereka segera melakukan pembicaraan sesuai dengan rencana semula, pembangunan resort di Pangandaran.   * * * *   “Masih tak setuju dengan gagasan Ayah, Rom?” tanya Pak Chandra tiba-tiba ketika pagi ini beliau memasuki ruang kerja Romi. Romi yang semula menekuri pekerjaan dan planning hasil rapat kemarin, lantas mendongak. “Bagaimana kalau Romi menolak, Yah?” “Ya hasilnya seperti keputusan Ayah, kamu harus mengucapkan selamat tinggal untuk jabatan pimpinan dan sebagian besar saham perusahaan.” Romi mendengus dengan sangat kesal. “Bagaimana jika anak perempuan Pak Rustam yang menolak rencana Ayah?” Pak Chandra tersenyum. “Ayah tahu perempuan itu tak akan menolak.” “Apa Ayah memberinya iming-iming kemewahan?” Romi bertanya curiga. “Setidaknya Ayah akan sukarela memberinya kemewahan jikapun dia memintanya. Tapi harap kamu tahu, dia gadis sederhana. Mungkin kamu akan mengingat bagaimana dia berkawan dengan sahabat-sahabat dhuafanya ketika dia masih kecil dulu.” “Ingatan Romi sedikit kabur, Yah,” Romi menjawab dengan malas. “Karena otakmu hanya kau isi dengan Silvi ...Silvi... dan Silvi,” kata Pak Chandra sedikit emosi dengan berbagai alibi penolakan Romi. “Lalu bagaimana dengan keakraban Ayah dengan sekretaris baru Romi itu? Tidakkah keseharian Ayah juga dipenuhi dengan diskusi–diskusi yang mungkin bisa saja menimbulkan gosip di kantor?” Romi balik bertanya dengan nada menuduh telah terjalin sesuatu antara Pak Chandra dan Rin. Pak Chandra hanya tersenyum geli dengan kata-kata Romi. “Ayah nggak mau berdebat dan menanggapi kesimpulan gilamu itu, keputusan ada di tangan kamu.” Romi mengusap rambutnya kasar begitu dilihatnya Pak Chandra dengan cueknya keluar dari ruangan Romi. “Siall!” Romi menggeram dengan kesalnya. Silvi, tiba-tiba Romi ingat Silvi. “Kamu ke apartemenku malam ini,” kata Romi di telepon .......... “Ada yang harus kita bahas.” .......... “Ya, setidaknya ini penting untuk hubungan kita.” ......... “Aku nggak mau membahasnya sekarang, nanti malam kita bahas.” ........... “Oke, bye.” Romi menutup teleponnya. Disandarkannya bahunya ke sandaran kursi kebanggaanya, dia bingung memikirkan langkahnya. Menolak tawaran pak Chandra dan berakibat kariernya amblas dan fasilitas yang selama ini dia terima dan nikmati akan ikut lenyap, yang mungkin juga akan membuat Silvi berpaling darinya karena ia jelas tak mau bersama dengan laki-laki miskin. Atau menerima tawaran ayahnya, dengan kompensasi kemewahan dan fasilitas, tapi tetap saja kemungkinan Silvi berpaling juga sama besarnya. Atau... “Hmm,” Romi hanya manggut-manggut dengan ide cemerlang yang tiba-tiba saja muncul dibenaknya. Menikah dengan kesepakatan. Kesepakatan antara dia dan Silvi, juga kesepakatan antara dia dengan perempuan yang akan dijodohkan dengannya. Romi tersenyum, jabatan dan kemewahan yang akan tetap digenggam, juga Silvi yang juga tetap bisa dimilikinya.   _ oOo _
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD