INTRIK

1488 Words
Apartement  Silvi, malam ini. “Hanya sekedar bertunangan, biar ayah percaya sama aku dan tetap memberiku jabatan pimpinan di perusahaan,” kata Romi saat membicarakan rencana Pak Chandra. “Kamu bilang ‘hanya’, Rom? Kamu tahu nggak sih, mami aku udah nanyain tiap hari tentang rancana kamu ngelamar aku?” Silvi murka dengan Romi yang tak memperjuangkan cintanya. Silvi menggeram kesal. “Kita tak punya pilihan, Silvi, karena ayah tetap keukeuh dengan keputusannya.” “Kenapa nggak melawan? Toh kamu punya andil yang besar terhadap pendirian perusahaan, sampai menjadi besar seperti sekarang?” Silvi tetap mengamuk. Romi diam, pikirannya makin berkecamuk. Antara tak ingin melawan ayahnya dan mempertahankan Silvi. “Bagaimanapun, ayah satu-satunya yang aku punya setelah ibuku pergi meninggalkan kami,”  kata Romi datar. “Oh ... jadi aku nggak punya arti dan andil dalam hidup kamu, begitu, Rom?” “Silvi, come on ... kamu dan Ayah tentu saja punya arti besar dalam hidup aku, tapi kalian punya tempat dan porsi yang berbeda kan?” Silvi kaget dengan jawaban Romi, dia tak menyangka Romi akan tegas memberinya jawaban. “Secantik apa sih perempuan yang membuat Ayah kamu kesengsem sampe tetap nggak mau merestui hubungan kita?” Romi menggeleng. “Aku bahkan tak tahu seperti apa dia sekarang,” jawab Romi seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Sekarang? Jadi kalian pernah ketemu sebelumnya?” Romi mengangguk, hatinya yang kacau makin galau karena memikirkan bahwa dia memang pernah ketemu dengan gadis kecil yang sekarang akan dijodohkan dengan dirinya. Tapi itu dulu sekali, bahkan gadis itu masih sekolah SD. “Kok bisa?” “Keluarganya yang dulu menolong kami saat kami dalam keadaan terpuruk, Silvi. Kehidupan kami yang kacau waktu itu terangkat oleh keluarga mereka.” Sekilas, di benak Romi berkelebat bayangan bagaimana keadaan mereka yang parah. Hingga ada sebuah keluarga yang bersedia memberi mereka tumpangan makan dan tempat tinggal, bahkan memberi mereka sedikit modal untuk kembali memulai usaha hingga mereka berada pada posisi wenang seperti sekarang. Dan seorang gadis kecil, yang saat itu masih mengenakan seragam merah putih, berkulit kuning langsat dengan rambut ikalnya yang sedikit kecoklatan, yang selalu membawa teman-teman dhuafanya ke rumah, sedikit terabaikan oleh memori Romi. Perempuan kecil yang memang cantik waktu itu, meski Romi sama sekali tak pernah memperhitungkannya mengingat waktu itu dia sudah menjadi mahasiswa yang dewasa, dengan kehidupannya sendiri. Pertemuan mereka tidak intens, karena gadis kecil itu lebih suka bermain dengan teman-temannya. “Dan mereka meminta balasan? Mengapa tak kamu bayar saja berapa yang mereka mau? Atau jabatan menarik, asal kamu nggak menikah dengan dia? Kamu milik aku, Romi!” Silvi sedikit histeris karena emosinya. “Mereka nggak meminta balasan, Silvi. Tapi Ayah yang punya ide perjodohan ini,” Romi menjawab datar tanpa emosi. Karena dia tahu, jika emosi Silvi diladeninya, maka akan berakibat lebih buruk dari sekedar histerisnya. Dan tentu mengundang simpati buruk dari penghuni lain. “Ini terjadi karena kamu nggak pernah mengijinkan aku mengenalkan diri sebagai pacar kamu, Rom. Begini kan akhirnya, ayahmu nggak mau tahu tentang aku?” Romi terdiam. Pikirannya masih sangat buntu. Romi bangkit, meraih jas kerjanya yang tadi tersampir di atas sofa ruang tamu apartemen Silvi. Dia beranjak hendak pulang ke flatnya, atau mencari sedikit hiburan mungkin. “Kemana?” tanya Silvi panik dengan pembicaraan mereka yang belum tuntas tapi Romi malah hendak pergi meninggalkannya. “Pulang.” “Pembicaraan kita bahkan belum selesai, Rom?” “Nggak akan pernah selesai, Silvi. Kita ikuti saja dulu arus yang ayah buat, baru kita bisa tahu apa yang bisa kita perbuat,” kata Romi yang lalu keluar dari apartement Silvi. Sebenarnya sih apartement Romi, yang dibeli dulu. Tapi karena Silvi merengek minta disewakan apartement, maka Romi akhirnya memberikannya untuk ditempati Silvi. Dan cash backnya tentu sangat sesuai dengan harga yang Romi gelontorkan, yakni dia bebas kapan saja datang ke apartement tersebut, berikut bebas pula atas penghuninya, Silvi. Silvi mendengus kesal dengan apa yang dikatakan Romi malam ini. Jelas kemewahannya terancam jika Romi memang berniat menuruti keinginan Ayahnya dengan perjodohan sialan itu. Sejenak, Silvi tersenyum licik. ‘Apapun tak boleh menghalanginya untuk memiliki Romi, dengan segala kemewahan yang menyertai kebersamaannya dengan Romi. Dan apapun akan dia lakukan untuk tetap membuat Romi berada dalam cengkeramannya. ‘Apapun alasannya, kamu harus tetap menjadi milikku’, Silvi membathin dengan sangat liciknya. Dia segera meraih handphonenya, memencet beberapa nomor yang dihapalnya. Meletakkan handphone tersebut di telinganya, menunggu seseorang mengangkatnya di seberang. “ ..... ..... ..... “ “Aku mau kamu mengawasi Romi mulai malam ini, kemanapun dan apapun yang dia lakukan.” “ ..... “ “Sampai aku memerintahkanmu untuk berhenti.” “ ..... “ “Kamu masih meragukan aku mengenai nominalnya? Bukan sekali ini  kita bekerjasama, Baron. Dan aku masih menganggap kamu partner terbaikku dalam beberapa hal.” “ ..... “ “Tak sampai 24 jam, uang sudah bisa kamu cairkan dari rekeningmu.” Silvi menutup telepon secara sepihak, lantas tersenyum.   * * *   Seperti biasa, kota ini tak pernah mati, bahkan untuk malam selarut ini masih saja hingar bingarnya melebihi siang hari. Derap langkah kehidupan tak juga berhenti, meski hanya untuk menghela nafas. Romi membawa mobilnya menyusuri jalanan yang terus bising. Melewati pertokoan yang menjual berbagai macam blazer kerja, Romi berhenti tiba-tiba. Sesuatu seperti menuntunnya untuk masuk. ‘Ah, membeli beberapa jas kerja mungkin sedikit mengurangi kekacauan pikiran yang sempat muncul’, pikirnya. Seorang penjaga toko segera menyambutnya. Pembeli dengan penampilan elegan meski sedikit acak-acakan tentu mengundang minat untuk sekedar over acting. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” si Penjaga toko menawarkan jasanya. Romi mengangguk tanpa senyum. “Saya butuh beberapa jas,” jawab Romi. “Kami memiliki beberapa koleksi impor, jika Bapak berkenan, silahkan melihat katalog kami.” Romi menerima katalog yang disodorkan penjaga toko yang memang cantik dan luwes itu. Melihat keluwesan penjaga itu, entah mengapa Romi ingat keluwesan Rin menghadapi kliennya, bahkan klien baru sekalipun. Tanpa sadar Romi tersenyum. “Maaf, Bapak berminat yang mana?” si penjaga bertanya karena dilihatnya Romi tersenyum. Romi mendongak melihat penjaga itu, lalu tersenyum lagi. “Saya sedang memilih.” Penjaga mengangguk. “Maaf, Mbak, bisa saya meminta blazer type ini?” sebuah suara pembeli yang familiar terdengar ke telinga Romi. Romi mendongak mencari sumber suara tersebut. Dan tanpa diduganya, tiba-tiba senyumnya terbit dan kenyamanan menyusup ke dalam hatinya ketika dilihatnya pemilik suara familiar itu. Dekat dengannya, tak sampai 3 meter dari tempatnya berdiri. “Rin?”  panggil Romi. Perempuan itu, Rin, menoleh. “Eh, Pak Romi? Maaf, dengan siapa, Pak? Mencari jas juga?” Rin bertanya dengan memberondong. “Ya, ada beberapa jas yang sudah usang. Kamu sendiri perlu jas juga?” “Mencari stelan blazer, Pak. Untuk persiapan pergi ke Pangandaran bulan depan.” Romi mengernyitkan dahi. Pangandaran? Bulan depan? Apa ada yang terlewat olehnya sehingga dia tak tahu tentang Pangandaran? “Maaf, Mbak, ini pesanannya,” seorang penjaga toko memberikan bungkusan blazer pesanan Rin. “Terima kasih,” kata Rin lantas mengeluarkan uang dari dompetnya. “Tak usah, biar saya yang membayarkannya,” kata Romi yang lantas menyodorkan kartu kreditnya. “Nggak perlu, Pak, saya sudah membawa uangnya, kok,” sanggah Rin menolak kebaikan bossnya. Romi menggeleng. “Tidak apa-apa. Hitung-hitung sebagai bonus karena kamu piawai meyakinkan investor kita yang dari Singapura kemarin.” “Tapi,Pak?” “Sudahlah  tak apa-apa.” Rin tersenyum kikuk. “Masih mau belanja?” tanya Romi sok akrab. Dan tentu saja Rin kebat-kebit dengan bosnya yang tiba-tiba sangat mempesonanya ini. Bukan karena sepasang blazer ini, tapi memang seiyanya Romi sedemikian menawan. Rin menggeleng. “Bisa menemani saya untuk sekedar makan malam?” Romi menawarkan makan malam bersama. “Makan malam?” Rin bertanya bingung. Bosnya mengajaknya makan malam setelah membelajakannya sepasang blazer yang tidak murah ini? Keajaiban apalagi ini? “Ya, makan malam. Kebetulan saya belum makan.” Rin masih meragu. “Deal?” Romi mendesak. Meski sedikit ragu, tapi Rin mengangguk. Akhirnya Romi membawa Rin keluar dari toko blazer dan melupakan rencananya untuk membeli sebuah jas, membuat penjaga toko sedemikian mencelos karena seorang pembelinya gagal transaksi hanya karena bertemu seorang perempuan manis. Mereka berjalan menuju sebuah rumah makan yang elegan, tak jauh dari toko jas tersebut. Sementara di sudut jalanan yang lain, seorang lelaki menatap mereka berdua dengan pandangan tajam penuh selidik. Lantas dia menelepon seseorang. “Dia bersama seorang perempuan, keluar dari toko blazer. Sekarang sedang menuju rumah makan Garnis.” “..... “ “Oke, saya akan terus mengikutinya. Saya pastikan, besuk pagi laporannya sudah Anda terima.” Lelaki itu mengangguk, lantas menutup teleponnya. Pandangannya kembali mencari sosok Rin dan Romi dan terus memantau setelah melihat bahwa pasangan itu memang sedang makan malam. Pandangannya tetap tajam. Rokok yang dihisapnya dibuangnya begitu saja, lantas ikut memasuki restoran Garnis, untuk kemudian mencari tempat duduk paling pojok, waspada dan mengawasi. Berlagak seolah sedang memainkan smartphonenya, lelaki misterius ini mengambil beberapa foto Romi secara candid. Sementara Romi dan Rin duduk dengan canggung menunggu pesanan mereka datang. Tak sadar  bahwa kebersaman mereka terekam kamera smartphone.     _ oOo _
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD