CIUMAN (1)

1785 Words
Kafe Garnis ... Rin dan Romi terlihat canggung. “Saya... hanya ingin meminta maaf untuk semua rasa ketidaknyamanan kamu ketika kita di Surabaya waktu itu,” Romi  membuka pembicaraan. Rin tersenyum kikuk. “Saya juga minta maaf, karena membiarkan Bapak tidur di luar. Maaf, bukannya saya sok baik, tapi itu yang saya jalani selama ini,” kata Rin lirih. ‘What???? Tak pernah tidur sekamar dengan orang lain? Berarti masih .... s**t !!!! Yang benar saja? Hari gini?’ Romi membatin. Tak urung Romi mengangguk juga. “Jadi .... bagaimana dengan  Denis?” entah mengapa tiba-tiba saja Romi jadi kepo luar biasa. Rin tersenyum  kecil, seolah mengingat sesuatu yang menggelikan. “Itu keajaiban Tuhan, Pak. Dia dulu teman kuliah saya di Jogja, nggak nyangka banget ketemu di tempat kerja yang bahkan di tempat yang sama.” Romi melongo, teman kuliah? “Dia anak kolega Ayahku, meski dia masuk bukan karena koneksi. Dia pekerja yang handal, menurut laporan beberapa pegawai di sana.” Rin mengangguk. Seorang pelayan mengantar pesanan mereka, dan menikmati hidangan dalam diam akhirnya menjadi pilihan. “Kok Bapak sendirian?” tanya Rin setelah mereka makan. “Maksudnya?” tanya Romi sambil menyesap jus yang dipesannya, membuat Rin kaget dengan pertanyaannya sendiri. “Ehm...biasanya Bapak sama Nona itu?” tanya Rin sedikit malu-malu. Romi tersenyum sebentar. “Silvi? Ehm ... kami sedang berpikir.” “Merencanakan pertunangan?” tanya Rin. Entah mengapa keponya kali ini membuat hatinya sedikit nyeri. Bagaimana dia menanyakan sesuatu yang membuatnya merasa sakit hati tanpa jelas penyebabnya ? Romi menggeleng dengan raut wajah yang tiba-tiba penuh kabut masalah. “Maaf .... lupakan saja kalau tadi saya bertanya. Oh, ya, saya harus berterima kasih karena blazer yang Bapak bayarkan untuk saya,” Rin mengalihkan pembicaraan. Romi tersenyum. “Sudahlah, anggap saja bonus.” Pembicaraan yang biasanya berlangsung kaku selama di kantor, kini tiba-tiba sedikit ramah dan mencair alami. Rin merasakan bahwa pak Romi seorang yang hangat dan tentu saja royal. Bagaimana mungkin dia mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk membayarkan blazer pegawainya? Sementara di pojok restoran, laki-laki berjaket hitam dengan topi rapatnya terlihat menelepon seseorang dengan suara yang diatur sehingga tak terdengar oleh orang lain. “Mereka kelihatan akrab dan hangat.” “ ..... ..... “ “Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat.” Sambungan telepon terputus sepihak, sementara orang yang diawasi oleh laki-laki itu ternyata sudah angkat kaki, keluar dari restoran Garnis tanpa dia ketahui. Laki-laki itu menggeram kesal karena terlena dari mengikuti pasangan itu. Sementara di apartemennya, Silvi uring-uringan karena mendengar kabar bahwa Romi sedang makan malam dengan seorang perempuan. ‘Pantas saja tadi pulang dan tak mau menginap. Ternyata sudah ada janji dengan perempuan lain? Arrrggghhhh....!!!!” Silvi menggeram kasar. Diteleponnya Romi berulang kali, namun hanya operator yang menjawab. Dia melangkah mondar-mandir dan gelisah. Tiba-tiba dia punya ide menunggu Romi di apartemennya. Maka disambarnya kunci mobilnya dan melangkah tergesa meninggalkan flatnya, menuju ke tempat Romi.   * * *   “Kemana aku harus mengantar kamu, Rin?” tanya Romi ketika mereka keluar dari restoran Garnis. “Bapak bisa mengantar saya ke kedai tempat saya kerja dulu, tadi saya sudah berjanji dengan teman untuk pulang bersama.” “Oke.” Perjalanan berlalu dengan sunyi. Beberapa kali Rin melirik ke arah Romi, dan dia yakin, bahwa bosnya yang satu ini benar-benar lelaki jantan impian perempuan, terutama bagi Nona Silvi yang cantik dan super centil. Bagaimana tidak? Ketenangannya memegang kendali mobil setenang dia mengendalikan perusahaan yang kata Desi benar-benar dibangun dari nol. Dan Desi termasuk salah satu saksi sejarah berdirinya perusahaan, meski sudah setengah perjalanan Desi baru bergabung. “Memikirkan sesuatu?” tanya Romi lirih, yang terdengar sangat seksi di telinga Rin. Rin tergagap dengan pertanyaan Romi. Perempuan itu menoleh, menatap romi untuk kemudian menggeleng. Tentu saja dia akan sangat malu jika jujur bahwa dia sedang memikirkan Bossnya yang satu ini. Sementara Romi tersenyum melihat Rin yang gugup karena pertanyaannya tersebut. “Sudah sampai,” suara Romi mengagetkan Rin yang masih tenggelam dalam lamunannya. Rin terhenyak dan segera bersiap untuk keluar dari mobil ketika Romi tiba-tiba meraih lengannya. Rin menoleh kaget. “Terima kasih sudah menemani saya makan malam.” Rin tersenyum, lantas mengangguk. Dan entah setan mana yang membakar otak Romi saat tiba-tiba melihat senyum Rin, kemudian merasakan kesejukan disaat yang sama, untuk kemudian dia menuntut lebih dan ingin tenggelam dalam kesejukan di depannya kali ini. Tak terkontrol, dia mendekatkan wajah kokoh coklatnya ke arah Rin. Merasakan aroma manis yang menguar dari nafas Rin yang tiba-tiba terasa memburu, namun hangat. Berhenti sejenak seolah menimbang, berhenti atau terus untuk merasakan kesejukan yang menyapanya. Dan Rin, entah mengapa terlupa bahwa laki-laki didepannya ini adalah bossnya. Apalagi ketika dirasakannya kehangatan menyentuh bibirnya yang perawan, mengecup sekilas, berhenti, namun kemudian berlanjut karena tidak ada penolakan. Dunia Rin hilang, luruh disela nafas Romi yang menggulung nalurinya, meninggalkan batas dan norma antara atasan dan bawahan. Menyesap dan meminta lebih dari apa yang kini mereka nikmati, bahkan mereka terengah dan terpaksa melepaskan diri masing-masing ketika oksigen serasa hilang dari paru-paru mereka. Keduanya terengah dengan mata tertutup, saling mengadu jidat,  mencari kesadaran yang sejenak hilang tergulung nafsu. “Maaf,” hanya itu yang mampu Romi ucapkan. Rin terkejut. Maaf? Apakah itu berarti yang terjadi barusan adalah sebuah kesalahan? Tapi Rin akhirnya tersadar, bahwa ia memang melakukan kesalahan dengan membiarkan Romi, bossnya di kantor, laki-laki yang sudah memiliki pacar, menciumnya dengan, ehm....sedikit ...atau segunung  nafsu? Rin mengangguk. Ia lantas melepaskan jemari Romi yang masih menangkup wajahnya yang kini pasti semerah wortel, dan beranjak keluar dari mobil laki-laki itu tanpa mengucapkan kata sepatahpun. Bagaimanapun, ini sangat sangat tidak pantas dan gila buat dirinya. Sepeninggal Rin, Romi terdiam. Masih terasa di bibirnya bagaimana kelembutan bibir gadis itu, yang begitu kikuk membalas pagutannya, Bahkan masih terasa nafas memburu gadis itu saat dia memaksa untuk menikmati sentuhannya, menikmati pagutannya, dan aroma manis yang tadi menguar dari hembusan nafasnya seolah masih berhembus di bibirnya. Romi mengeluh, bagaimana dia dengan sangat kurang ajarnya mencium bawahannya, sementara seminggu lagi dia akan bertunangan dengan perempuan pilihan ayahnya, yang bahkan dia juga masih memiliki ikatan, meski hanya sekedar ikatan yang terkoneksi oleh pemenuhan syahwat, dengan Silvi. Silvi??? ‘Oh, God!!! Bahkan aku bisa sangat lupa dengan perempuan posesif itu hanya karena kesejukan dan kelembutan yang tersaji di depannya oleh karena seorang Rin? Perempuan muda yang workaholic, yang manis dengan kesantunannya, yang memukau dengan penampilan dan kinerjanya, yang juga sangat komit dengan pekerjaannya, dan juga yang ... yang baru saja terhanyut sedemikian lumernya di bawah ciumannya?’ bathin Romi mendesah. Ada perasaan tak nyaman ketika dia ingat bagaimana dengan kurang ajarnya dia nekad mencium Rinjani, tapi jujur saja, Romi tak menyesalinya. Diremasnya rambutnya dengan kesal. Bagaimana ini? Tiga perempuan dalam waktu yang bersamaan? Yang bahkan dia tak tahu kepada siapa hatinya kini condong. Romi tak bisa membayangkan, bagaimana jika esok pagi dia ketemu Rin di kantor. Kemudian, tak mau terhanyut dengan hayalannya tentang Rin, Romi berajak meninggalkan jalanan depan restoran. Melaju ke arah timur, bukan ke apartemennya, tapi ke rumahnya.   * * *   Di apartemen Romi, Silvi dengan mudahnya masuk ke dalam dan semakin murka karena tak didapatinya Romi di sana. Telepon genggam yang sedari tadi dia gunakan untuk menghubungi Romi, dihempaskannya ke atas sofa karena hanya dijawab oleh operator. “Baron bodoh!!! Mengapa bisa kehilangan jejak mereka?” Silvi mengumpat marah merutuki kebodohan Baron. Menunggu Romi yang biasanya merupakan hal menyenangkan bagi Silvi, tapi tidak untuk malam ini. Karena amarah dan kecemburuan menguasai hatinya. Beberapa kali dia menghenttakkan kakinya dengan kesal dan menggeram dengan sedemikian kesalnya. Tiba-tiba Silvi teringat sesuatu, dan dia segera memasuki kamar Romi. Kamar yang biasanya mereka gunakan untuk bercinta, menghabiskan malam-malam dingin dengan memuaskan syahwat. Dibukanya lemari yang berada di pojok ruangan, mencari-cari sesuatu. Tapi lagi-lagi Silvi kesal karena tak menemukan bukti kecurigaan yang sejenak melintas di benaknya. Bahwa mungkin saja Romi menyimpan sesuatu tentang seorang perempuan. Karena reputasinya sebagai seorang player memang melewati kenormalan, apalagi jika menilik akan nafsunya yang selalu .... Ugh !!! Silvi mendadak leleh hanya dengan mengingat bagaimana hot–nya laki-laki yang satu ini. Maka Silvi menghempaskan tubuhnya ke ranjang, yang hanya menimbulkan kenangannya akan Romi meraung di otaknya. ‘Apakah aku cemburu? Eits, bukankah cemburu hanya milik orang yang jatuh cinta? JATUH CINTA???? Silvi menggeleng ketika tiba-tiba angannya memunculkan sebuah kesimpulan bahwa ia jatuh cinta dengan partner s*x-nya ini. Hubungan mereka memang bukan sewajarnya hubungan yang sehat, karena sejak pertemuan mereka di sebuah kafe, mereka lantas menjadi partner yang kompak. Terutama untuk hubungan yang mengacu pada pemenuhan seksual. Yang tertukar dengan pemenuhan kebutuhan materi Silvi. Ketika dengan manisnya Silvi nyaris mampu menggiring Romi ke arah sebuah hubungan yang lebih serius, Romi hanya mengiyakan. Karena dalam angan-angan Silvi, bahwa hanya dengan Romilah segala kegilaannya akan kemewahan bakal terpenuhi. Karena terus terang saja, honornya sebagai fotomodel tak akan cukup untuk memenuhi obsesi materinya. Mengingat kenangannya bersama Romi, membuat kekesalan Silvi perlahan menguap, terbuai kantuknya. Sementara Romi memasuki rumahnya yang mewah, tempat Pak Chandra tinggal sendiri hanya dengan pegawai rumah tangga. Deru mobilnya yang berhenti di halaman sedikit mengagetkan Pak Chandra, karena sangat jarang Romi pulang ke rumah. Karena ia lebih senang tinggal di flatnya yang tak kalah mewah. Pak Chandra keluar dari ruang kerjanya demi mendapati Romi yang muncul dengan wajah cerahnya. Pak Chandra berkerut heran, kok tumben? “Halo, Yah?” sapa Romi ramah. Pak Chandra makin heran, tak biasanya dia seramah ini? “Hmm ... tumben pulang dengan wajah cerah?” tanya Pak Chandra sambil menghisap cerutunya kemudian duduk di atas sofa ruang tengahnya yang luas itu. Romi menghempaskan tubuhnya di atas sofa juga, dengan santainya memungut buah apel yang selalu tersaji di atas meja. Mengunyahnya dengan sangat riang, dan ini mengherankan, sejak kapan Romi suka buah apel? “Pegawai pilihan Ayah ternyata manis juga?” tiba-tiba Romi nyeletuk membuka percakapan. “Pegawai? Pegawai Ayah banyak. Tentu tak semua manis kan?” Pak Chandra bertanya heran. “Iya, Rin kan pegawai pilihan Ayah?” “Oohh... sejauh ini, selain manis dengan kesantunannya, Ayah rasa dia pegawai yang bisa diandalkan.” “Tentu saja, dalam segala hal,” jawab Romi dengan senyum setannya. Sekilas terbayang dengusan nafas memburu Rin saat Romi memagutnya paksa, intens, dan menuntut. “Dalam segala hal? Bisa kamu jelaskan lebih spesifik?” pak Chandra sedikit curiga dengan senyum Romi yang memiliki makna lain. “Ya, nyatanya dia memang pandai, bahkan cerdas,” jawab Romi. ‘Meski sangat tidak berpengalam dalam berciuman,’ batin Romi dengan senyum kecil pertanda geli. ‘Namun begitu sangat mempesona saat dicium’  lanjut Romi yang hanya terucap dalam hati. Pak Chandra hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Romi kali ini. Heran, tumben dia memuji Rin, biasanya anaknya ini hanya akan mencibir dan merendahkan kinerja Rin. Tapi kenapa kali ini memujinya ? Pak Chandra lantas tersenyum kecil, penuh misteri.     _ oOo _  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD