SC - Part 5

1241 Words
Seluruh mata memandang aneh. Tentu saja karena penampilannya. “Kamar kita ada di atas,” ucapku. Ihsan terlihat ragu saat akan menaiki tangga. Para palayan masih memandang padanya. Sebelumnya, mereka sudah tahu jika aku akan menikahi. Dari tatapan mereka, sepertinya tidak menyangka jika suamiku lelaki cupu. “Silahkan masuk. Aku akan mengosongkan satu lemari untukmu.” Pintu kudorong pelan, hingga langsung menampakkan ranjang dan aneka isi kamar. Seperti kataku, bergegas menuju lemari. Pakaian yang masih tersisa kupindahkan ke lemari lainnya. “Saya akan pulang sebentar lagi untuk mengambil pakaian,” ucapnya. Aku menoleh. Masih ingin menawarkan permintaan sebelumnya. “Masih keukeh dengan keputusanmu untuk tetap berpenampilanseperti itu?”Aku menatapnya dari atas ke bawah. Tentu saja memberikan penilaian buruk. Dia malah mengangguk. “Ya,” jawabnya. “Kamu tau resikonya jika tetap pada pendirianmu?” “Ya, saya siap resikonya.” “Kamu tidak aku izinkan ikut ke mana pun aku pergi,” ucapku tegas. “Ya, saya paham.” Dasar, keras kepala. Apa susahnya menurut? Semua juga demi kebaikan dia. “Baiklah. Terserah kamu saja.” Setelah itu, aku menjelaskan detail ruangan di kamarku dan untuk apa fungsinya. Ia mengangguk paham. Tanpa kuminta, iakeluar saat aku mengatakan ingin mengganti pakaian. Saat itulah, aku mulai ragu. Jika dia lelaki normal, tentu tidak mempermasalahkan jika aku mengganti pakaian di depannya. Dia suamiku, berhak atas diriku. Aku malah merasa, dia menikahiku tidak hanya sepakat demi memberikan anak. Entah kenapa, menatapnya heran seperti memiliki aura lain. Dia tak bodoh, suamiku bukan seorang yang tidak berpengalaman. Buktinya, dia dengan mudah menarik perhatian papa. Sebaiknya, aku mulai berhati-hati. Mungkin dia punya modus lain. *** Semalam menginap di hotel, malam ini sudah berada di rumah sendiri. Rasanya tak ada bedanya. Ihsan malah tidur lebih awal. Dengan tenang merebahkan dirinya di sofa, lalu tak bergerak, kecuali dadanya yang tampak naik turun. Aku sendiri berada dalam situasi yang serba salah. Aku menikahinya demi anak. Tampaknya, aku sedikit kesulitan mewujudkannya. Ihsan bukan laki-laki rakus yang gampang dirayu. Aku menatapnya lekat, dari samping. Meskipun berada di atas ranjang, dapat kulihat dengan jelas tidurnya yang tenang, seperti bayi. Aku masih terganggu dengan pakaian yang dia kenakan. Tidak pagi, siang maupun malam, model baju yang dia kenakan tetap sama, celana bahan cutbray dengan atasan kemeja kotak-kotak. Bahkan semua pakaian di dalam lemaripun semuanya dengan model yang sama. Sekarang, aku tak ingin menuntutnya. Biar dia belajarmengenali lingkungan lebih dulu. Ucapannya malam tadi kubenarkan, bahwa sebaiknya aku dan dia lebih banyak mengobrol. *** Pagi ketika membuka pintu, sudah kutemukan Ihsan berdiri dibalkon kamar. Mengahadap ke luar, menatap tukang kebun yang sedang menyirami tanaman. “Papa menunggumu sarapan ke bawah,” ucapku. Tadinya, aku tidak ingin mengajaknya sarapan bersama papa. Makanan untuknya cukup di antar ke kamar saja. Akan tetapi, papa tidak setuju dengan keputusanku. Ihsan mengangguk. Tumben tidak membantah atau menolak. Dia mengikutiku menuruni tangga. “Ihsan, ayo duduk.” Papa ramah sekali menyambutnya. Seperti menantu kesayangan saja, padahal pada Revan dulu, tidak pernah sehangat ini. “Terima kasih, Pak.” “Lho ... kok masih memanggil Pak. Panggil papa saja dong.” Ihsan memandangku dengan sungkan. Sepertinya tahu jika aku sedang memberi penilaian terhadapnya. “Em, iya,” jawabnya kemudian. “Papa dengar, kamu jago sekali memperbaiki laptop yang rusak. Apa benar begitu?” tanya papa. “Bisa dong ikut papa ke kantor?” “Pa, Ihsan itu tukang reparasi laptop, bukan pekerja kantoran,” selaku sebelum Ihsan menjawab dan mengiyakan ajakan papa. “Bisa, Kay, Ihsan bisa kerja di kantoran. Dia kan sarjana, bisa mengoperasikan laptop.” “Saya di rumah saja, Pa. Di rumah, saya juga bisa melakukan banyak kegiatan,” jawab Ihsan. Papa memandangiku dengan tatapan kesal. Benar, Papa menghendaki Ihsan bekerja di kantor. Tetapi sebaliknya denganku, tidak akan pernah kuizinkan. ** Setelah obrolan pagi itu, Ihsan benar-benar mengerjakan banyak sesuatu di rumah. Seperti pekerjaan sebelumnya sebagai reparasi barang-barang elektronik yang rusak. Dia lebih banyak berada di gudang. Dalam waktu 3 hari saja, dia sudah akrab dengan seluruh pelayan. Dia cupu, tapi begitu mudah menarik perhatian orang baru. Ini aneh. Di pagi berikutnya, tiba-tiba Ihsan datang padaku dan mengatakan jika dirinya diajak mengunjungi kantor oleh papa. Tentu saja responsku luar biasa berlebihan. “Nggak boleh. Kita sudah membuat kesepakatan bahwa kita tidak menunjukkan status ke dunia luar. Janjimu saja belum kau tunaikan, ini sudah sibuk mau ikut ke kantor segala. Pokoknya nggak boleh!” Keputusan tegas itu aku ucapkan padanya supaya dia tau batasan. “Saya nggak masalah kalau harus di rumah saja. Tapi papa sudah berkali-kali mengajak dan berulang kali juga saya tolak. Nggak enak jadinya.” “Jangan banyak alasan.” “Seandainya saya tunaikan janji saya, apakah saya boleh ikut ke kantor?” Pertanyaan macam apa itu? Kenapa dia yang malah memberiku pilihan? Aku meletakkan lipstik yang belum sempat kupakai mendengar pertanyaan anehnya. “Lebih baik kamu tetap di rumah,” jawabku tegas. Setelah itu, mengolesi bibir ini dengan benda berwarna merah itu, lalu meninggalkan Ihsan sendirian. * Waktu seakan-akan berpacu lebih cepat. Pekerjaan menggunung yang harus aku selesaikan tak juga usai. Bahkan ada saja bawahan yang datang untuk menyelesaikan pekerjaan, meminta tanda tangan dan lain sebagainya. Jadinya semakin terasa berat. Mata hampir memejam. Mungkin karena lelah. Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan, padahal baru jam 11. “Kay!” Panggilan Siena membuat mataku membulat karena terkejut. Dengan sekejap mengusir kantuk yang menyerang. Kebiasaan temanku ini setiap masuk pasti sambil berteriak. Membuatku ingin mengumpat karena terkejut. “Apa, Siena? Kebiasaan, deh!” Aku merutuk. Dia membuka pintu ruang kerjaku lebar-lebar, menunjuk arah luar dengan bibir terbuka tetapi sulit berbicara. “A-anu!” ucapnya tergagap. “Ada apa?” “Suamimu, Ihsan datang kemari.” Bola mata membulat penuh. Gegas ke pintu untuk membuktikan ucapan Siena. “Mana?” tanyaku sambil melongok ke pintu. “Masuk ruangan Pak Surya,” jawabnya. “Salah lihat kali,” sangkalku. “Nggak mungkin. Lelaki modelan begitu kan cuma laki lo doang, Kay!” Aku menatap tajam padanya. Terkadang, kata-kata Siena lebih tajam dari belati. “Sialan!” Aku melangkah ke ruangan Papa yang berada tak jauh dari posisiku. Berjalan dengan terburu-buru untuk membuktikan ucapan Siena. “Pa!” panggilku di tengah pintu yang terbuka. “Ihsan!” kejutku kemudian. Bukan salah lihat lagi. Benar kata Siena. Lelaki berkacamata tebal itu tersenyum padaku. “Kay, ngapain berdiri di situ. Ayo, masuk,” ajak Papa. Aku masuk, menutup pintu segera. “Ngapain Papa mengajak Ihsan ke kantor?” tanyaku pada Papa. “Hush, nggak sopan amat memanggil suami tanpa embel-embel Mas atau apa? Jangan begitu dong. Hormati suami bagaimanapun keadaannya. Bukankah kamu memilih Ihsan tanpa dipaksa oleh siapa pun? Itu artinya, Ihsan pilihanmu sendiri. Jadi, hormati dia.” “Nggak apa-apa, Pa. Cuma masalah panggilan saja tidak perlu dipersoalkan,” sahut Ihsan menengahi. “Nggak bisa gitu, dong!” Papa menyahut lagi. “Ya, sudah- ya, sudah. Aku akan memanggilnya Mas, Mas Ihsan. Papa ngapain mengajak Mas Ihsan ke kantor?” Akhirnya aku mengalah. “Saya tadinya menolak, kok. Kalau kamu nggak nyaman saya adadi sini, saya bisa pulang sekarang juga.” “Jangan. Papa yang mengajakmu, bukan istrimu. Lagipula, Papa di sini sedang membutuhkan kamu.” Papa membuat keputusan sepihak yang tidak memikirkan perasaanku. “Tapi kami punya kesepakatan sendiri, Pa,” ucapku. “Akan lebih baik jika Ihsan bekerja, Kay. Bukankah dia kepala rumah tangga? Kewajibannya adalah menafkahimu, bukan malah kau suruh diam di rumah.” Aku dan Ihsan saling berpandangan. Sepertinya percuma kesepakatan itu kami buat. ••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD