SC - Part 4

1031 Words
Rasa kesalku karenanya tiba-tiba menguap. Benar juga, dia memang belum kuberi tahu harus tinggal di mana. “Tinggal di mana itu bukan soal penting. Nanti aku tunjukkan tempat tinggal kita. Sekarang aku mau tanya soal lain. Kamu tadi berbicara apa sama laki-laki yang datang ke sini? Kamu mengenalnya, kan?” Dia malah menunjuk ke d**a sendiri. Apa maksudnya coba? “Iya, kamu mengenalnya, kan? Apa dia menghinamu? Atau jangan-jangan mengancammu?” Entah kenapa mendadak khawatir padanya. “Oh, saya nggak kenal. Kebetulan saja saya ditanyai pas nungguin kamu di situ tadi.” Telunjuknya mengarah ke lobi yang letaknya di belakangku. “Tanya apa dia?” tanyaku penasaran. “Cuma ditanya ada perlu sama siapa. Saya jawab, sedang menunggu teman.” “Terus?” “Sudah, itu saja.” “Bohong! Aku lihat dia bicara banyak sama kamu. Nggak mungkin ngomong itu aja.” “Memangnya bicara apa? Nggak ada apa-apa.” “Ah, aku nggak suka dibohongi.” “Itu bukan obrolan yang penting.” “Jadi benar kalian ngobrol banyak, kan?” Aku memandangnya dengan tajam. Lama-lama, aku merasa Ihsan tidak seperti kelihatannya. Tidak b*doh seperti yang kuduga. “Ya, hanya sebatas basa-basi saja.” Akhirnya dia mengaku. “Apa dia tau kau suamiku?” tanyaku lagi. “Sepertinya tahu.” Aku mencebik. Sesuatu yang kusembunyikan, akhirnya terkuak juga oleh Revan. Lelaki itu pasti tidak akan tinggal diam. Sebentar lagi, seluruh orang-orang kantor pasti tahu tentang pernikahanku, juga tahu lelaki aneh ini. Aku meliriknya dengan sebal. “Maaf, saya sekarang harus bagaimana?” Aku menjejakkan kaki ke arah mobil di belakangnya. Aku perlu udara bebas. Dadaku terasa sesak. “Kita pulang,” ucapku. Lalu, membuka pintu mobil bagian depan. “Biar saya yang menyetir,” pintanya. Aku terhenti saat aku masuk. Dia bisa menyetir? “Jangan khawatir, saya punya SIM A. Mau saya tunjukkan?” “Nggak usaha,” jawabku cepat. Aku segera berjalan memutar, meraih pintu yang lain dan memberikan kunci padanya. Ihsan menerimanya. Tanpa kata-kata lagi masuk kemudian duduk di belakang stir kemudi. Dia menjalankan kendaraan, tampak mudah dan lihai. “Kamu nggak kelihatan kaku membawa mobil, pernah punya mobil?” tanyaku. Sebenarnya, aku sadar ini adalah pertanyaan tidak berbobot. Iseng saja, rasanya tak masalah. “Bisa karena diajari teman,” jawabnya tidak nyambung. Setelah itu, aku malas bertanya lagi. Lebih memilih menyumpal telinga dengan earphone, mendengarkan lagu dari ponsel. Memejam, merasakan sedikit ketenangan oleh irama lagu yang kudengar. Aku membuka mata, merasa lupa harus menunjukkan arah tujuan padanya. “Kenapa melihatku seperti itu?” tanyaku saat menyadari Ihsan diam-diam memandang saat aku terpejam. “Maaf, saya nggak sengaja melihat. Saya tadi—“ “Jangan ngeles, aku nggak suka,” potongku. Selanjutnya, aku memberikan ponsel padanya, menunjukkan arah tujuan melalui google map. Ihsan hanya mengangguk. Tampaknya, dia sudah paham tempat itu. Kami sampai di depan gerbang sebuah rumah yang dijaga oleh dua sekuriti. Begitu melihat mobilku, pintu langsung dibuka. Ihsan melaju kembali, perlahan dan berhenti di halaman. “Apa kita akan tinggal di sini?” tanyanya. “Ya. Ini rumah papa. Aku disuruh tinggal di sini sekarang. Kamu juga.” Papa sudah mengenal Ihsan, terlepas setuju atau tidak dia tinggal juga di sini. “Saya belum membawa baju-baju saya. Boleh saya pulang dulu ke rumah?” Pertanyaannya membuatku menghentikan langkah. “Nggak usah. Sebaiknya, kamu memperbaiki penampilan kamu mulai sekarang. Baju-bajumu yang jadul itu, nggak usah dipakai lagi.” “Saya nggak bisa,” jawabnya. “Nggak bisa apa?” “Maaf, saya nggak bisa merubah penampilan. Ini adalah diri saya, jati diri saya. Kalau pun saya harus berubah, itu berdasarkan kemauan saya sendiri.” “Kan aku yang menyuruhmu, bukan orang lain?” “Maaf, saya tetap tidak bisa. Saya nyaman dengan penampilan saya.” “Kamu nyaman, aku yang nggak nyaman.” Dia terdiam. Dasar, keras kepala. Aku beranjak ke teras. Dia masih berdiri dan menunduk di halaman. “Kalau kamu mau tinggal denganku, kamu harus merubah penampilan. Titik.” Tak kuperdulikan lagi Ihsan yang berdiri di sana. Aku melangkah masuk ke dalam. Berdebat dengannya hanya membuatku kepalaku sakit. Kupikir, dia lelaki penurut, mudah mengaturnya dan gampang diajak kerjasama. Nyatanya, baru satu hari saja sudah banyak kemauanku yang dia bantah. Biarlah dia berdiri di luar. Orang di rumah ini tidak ada yang mengenalmu. Mungkin, dia akan menyerah, lalu patuh pada perintahku saat menyadari tidak ada seorang pun yang akan perduli padanya, kecuali hanya aku. Aku memasuki kamar, menyiapkan segala keperluan dia jika merubah keputusan. Tak lupa menghubungi Siena, menyuruhnya menggantikan meeting siang ini. Aku ingin fokus menyelesaikan masalahku lebih dulu. Rasanya cukup lelah menghadapi orang yang tidak sepemikiran. Bagaimana kami bisa bisa cocok, masalah paling sepele saja susah menyatukan. Tapi ... bukankah tidak masalah penampilannya seperti itu? Aku hanya butuh anak darinya. Toh, dia tidak akan datang ke kantor, ikut meeting atau berkenalan dengan teman-temanku. Dia cukup sebagai pembukti bahwa aku bisa hamil, aku bukan wanita mandul. Jadi merasa bersalah sudah bicara kasar padanya. Kasihan dia. Dengan terburu-buru, aku mencarinya ke depan. Dia pasti masih di halaman. Saat berada di teras, tak terlihat sosoknya. Jangan-jangan dia pergi. Tapi tidak. Ihsan ternyata sedang duduk di teras seorang diri. Melamun sambil menatap ke depan. Kasihan dia. Kaki ini baru akan melangkah mendekatinya, tiba-tiba papa muncul dari samping. “Nah, kita ngopi dulu.” Papa datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan membawanya ke teras, ke sebelah Ihsan. Mereka duduk bersisian. Papa memang mengenal Ihsan saat ijab qobul semalam, tapi seperti sudah sangat akrab. Ini sangat aneh. Papa juga tidak pernah membuat kopi sendiri, apalagi untuk orang lain. Sekarang, papa malah membuatnya untuk Ihsan yang baru dikenalnya. “Pa!” panggilku. Keduanya menoleh. Aku mendekat mereka, tapi bingung harus berkata apa. “Kay, kenapa kamu tidak menyuruh Ihsan masuk? Malah membiarkannya sendiri di luar? Jangan egois dong.” Loh, belum apa-apa malah anak sendiri dituduh egois. “Ini baru mau mengajaknya masuk,” jawabku. “Nanti saja. Biar Ihsan menemani Papa ngopi di sini.” Aku hanya berdiri di belakang mereka. Papa terdengar asik berbincang dengan Ihsan. Keduanya tampak akrab dan nyambung. Padahal, jarang-jarang papa bisa akrab dengan orang yang baru dikenal. Sebenarnya, siapa Ihsan ini? Kenapa aku merasa dia gampang sekali mempengaruhi orang-orang di sekitarku? ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD