SC - Part 3

972 Words
"Nggak usah sok akrab dengan tanya-tanya begitu. Aku menikah lagi atau tidak, itu bukan menjadi urusanmu. Lagipula, kamu kan sudah hidup bahagia sama Tante Lira, jadi nggak usah kepo sama urusan orang lain." "Wow, wow! Ada yang tersinggung rupanya. Padahal, aku care sama kamu lo, Kay. Artinya, aku masih perduli demi kebaikan kamu. Siapa tau aku kenal laki-laki itu? Aku kan bisa menilai apakah dia cocok untukmu atau tidak." Aku terpaksa mundur dua langkah demi menghindari aroma dari tubuhnya. Jujur, wangi itu mengingatkanku pada beberapa kenangan saat bersamanya, dan itu membuatku sangat sakit. "Terima kasih banyak. Tapi tidak usah repot-repot. Urusi saja istri barumu, tuh!" Aku menunjuk dengan mengalalihkan pandangan pada seorang wanita yang berjalan di kejauhan. Penampilannya sangat menarik, rok span pendek dan sangat ketat hingga membentuk tubuhnya yang padat. Tante Lira memang sangat menarik. Aku baru sadar, bagian tubuh yang ia tonjolkan merupakan daya pikatnya. Pantas Revan sampai kepincut dan memilih meninggalkan aku. Dari pada urusan melebar ke mana- mana, aku mengajak Siena untuk bergegas pergi dari hadapan mantan. Sebelum tante Lira datang juga. Aku memang sengaja menghindarinya, bertegur sapa pun ogah, karena aku sudah melakukan mogok bicara padanya sejak dia ketahuan menginap di villa luar kota bersama Revan. Itu dulu, sebelum Revan masih sah suamiku. Sekarang, aku tak perduli lagi dengan kelakuan mereka. Hanya saja, aku masih butuh memprotek diri untuk tidak berinteraksi terlalu jauh dengan mereka. Aku takut jika emosiku tiba-tiba tak terkontrol. Bagaimanapun, sakit akibat penghianatan mereka, tidak dapat begitu saja aku terima. Pintu ruang kerja kudorong cepat-cepat sebelum tante Lira sampai ke hadapanku. Siena pun mengerti. Dia langsung menutup pintu dan bersandar di sana. "Sumpah. Revan itu ngeselin banget tau, nggak, sih! Sok kecakepan, sok pinter, sok punya guna. Padahal hidup juga menumpang sama Tante Lira." Siena menggerutu. Dia mungkin lupa pada ponselnya yang terjatuh tadi. Buktinya, tak membahas masalah Ihsan lagi. "Sudahlah. Toh, aku sudah dapat ganti. Semoga saja Ihsan nggak sebrengsek Revan." "Jelas bedalah. Kelasnya juga kelas teri sama kelas kakap. Ihsan Alfarukhi mah mainannya wanita berkelas sekelas Kayra Faradina. Bukan seperti Revan, mainannya sama tante-tante seksi macam tante Lira." "Hush! Orangnya lewat tuh, nanti kedengaran sama dia." Aku dan Siena memandang ke luar. Seseorang memang tampak lewat, dinding yang sengaja dibuat tranparan menampakkan setiap orang yang lalu lalang. “Udah, ah. Nggak usah membahas mantan. Mending buruan siapkan bahan-bahan untuk meeting nanti siang. Aku nggak mau papa ngamuk lagi seperti kemarin gara-gara salah membawa file.” “Iya, Kayra, Sayang ....” Aku berjalan ke meja kerja. Menyibukkan diri di sana, menghadap setumpuk map. Sedangkan Siena yang ruang kerjanya ada di ruang lain, segera pergi tanpa berbicara lagi. Kami menjalankan tugas seperti biasanya. Tak seperti pernikahan yang pertama, sebagai pengantin baru, aku tak merasa bahagia. Bukan sengaja menyembunyikan status istri yang sekarang sudah kusandang, aku merasa butuh waktu untuk mengenalkan Ihsan pada banyak orang atau mungkin tidak sama sekali. Aku takut malu, apalagi Ihsan adalah orang yang penampilannya aneh. Satu ketakutan yang harus kuhadapi, yaitu tidak siap untuk dicemooh. Baru duduk satu jam di dalam ruangan, aku sudah dikejutkan oleh suara dering telepon dari ponsel yang sengaja kegeletakkan di meja. Nomor baru calling. Mungkinkah Ihsan? Sebab, sebelumnya aku tidak menyimpan nomornya. “Halo ...,” sapaku pelan. “Ya, halo. Ini saya. Sekarang saya ada di lobi kantormu.” Suara itu .... “Ihsan?” tanyaku. “Iya. Bisakah turun sebentar? Saya bingung, harus—“ “Stop di situ! Mundur aja ke parkiran. Jangan sampai ada yang lihat. Ingat, jangan tanya macam-macam ke siapa pun. Aku turun sekarang juga!” Gawat! Gawat kalau sampai ada orang yang tau kalau dia suamiku.Tidak. Jangan sekarang, aku belum siap dibuat malu. Gegas beranjak tanpa membereskan meja yang masih berantakan, aku hanya membawa tas dan ponsel. Kemudian, berlari kecil meninggalkan ruangan. Duh, kenapa datang ke kantor segala, sih? Mudah-mudahan belum ada orang yang mengenalinya. Aku sampai ngos-ngosan sampai di lantai bawah. Melewati lobi, sepasang mataku sudah menyapu ke segala penjuru. Jangan-jangan dia bandel, nyelonong masuk ke bagian dalam. Tapi, dia tak ada dia di sini. “Cari siapa, Bu?” Aku terkejut. Seorang sekuriti bertanya. “Em, Bapak liat seorang laki-laki berkacamata tebal nggak di sini tadi?” tanyaku. “Oh, iya ada. Tadi berdiri di sini. Terus pindah ke ... sana.” Sekuriti itu menunjuk ke belakang sebuah mobil. “Ke arah situ, Bu,” lanjutnya. “Oh, iya, terima kasih.” Meningglkan penjaga keamanan, aku menuju arah yang ditunjuknya. Aku mencari tanpa memanggil, dan ternyata dia sedang berbincang dengan seseorang. Orang yang sedang berbincang dengan Ihsan itu, bukankah dia Revan? “Revan!” seruku. Dua lelaki sama-sama menoleh. Revan dan Ihsan berbincang? Apa mereka saling mengenal? “Hai, saya di sini!” panggil Ihsan dengan tangan melambai. Segera setelah itu, Revan mundur dari sana dan berjalan ke arahku. Tatapannya aneh. Aku menghentikan langkah, bersiap jika dia berhenti untuk mengejek. Tapi, rupanya Revan tak melakukan apa yang kusangkakan. Dia terus berjalan lurus tanpa berkata-kata dan melewatiku begitu saja. Ada yang aneh di sini. Revan seakan-akan mengenal Ihsan. “Hai! Saya di sini saja atau boleh ke situ?” Ihsan melambai lagi. Perhatianku teralihkan oleh panggilannya yang sejak tadi kuabaikan. Aku masih tak menjawab, berjalan lurus ke arahnya, menatap lelaki yang kini sudah mengganti pakaian semalam dengan pakaian andalannya, celana cutbray dan kemeja kotak-kotak. “Ngapain datang ke sini, sih? Pakai baju begini lagi? Mana baju yang semalam?” cercaku dengan pertanyaan. “Saya pulang dulu, ganti baju setelah dari rumah sakit, baru datang kemari. Saya bingung mau pulang ke mana.” Rasa kesalku karenanya tiba-tiba menguap. Benar juga, dia memang belum kuberi tahu harus tinggal di mana. “Tinggal di mana itu bukan soal penting. Nanti aku tunjukkan tempat tinggal kita. Sekarang aku mau tanya soal lain. Kamu tadi berbicara apa sama laki-laki yang datang ke sini? Kamu mengenalnya, kan?” ••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD