“Kamu ... suamiku sekarang. Jadi ... buruan, hamili aku!”
Dia malah memundurkan kakinya. Jadinya, tanganku mengambang di udara. Si4lan. Apa dia menolakku?
Aku mengembuskan nafas kasar, seraya menarik tangan, kesal dengan responsnya. Kalau sampai dia menolak, malulah aku.
“Kamu menolaknya?” Aku harus tahu dulu, benar dia menolak atau hanya malu saja.
“Tidak. Saya paham, bahwa itu adalah kewajiban saya. Hanya saja ....” Dia mengantung ucapan. Ditatapnya ranjang yang ada di sisi kiri kami. Apa dia mau langsung mengajak tidur? Makanya dia memberikan isyarat menatap tempat tidur itu.
“Hanya apa? Apa karena saya janda, sehingga kamu menyesal tidak mendapatkan wanita yang masih ....”
Perawan. Inginku melanjutkan kata itu, tapi akhirnya hanya menggantung pula.
Ya, seorang perjaka seperti dia memang jiwa penasarannya sangat tinggi, bukan? Jadi, wajarlah kalau merasa sedikit kecewa. Apalagi perkenalan kami hingga memutuskan untuk menikah sangatlah singkat.
“Em, bukan itu. Saya nggak masalah janda atau pun gadis.”
Dia mengatakan jawaban seperti itu malah semakin membuatku penasaran, apa sebenarnya yang Ihsan ragukan?
“Lalu?”
“Bisa kita ngobrol sambil duduk?”
Oh, rupanya dia menatap ranjang hanya ingin mengajakku duduk. Okelah.
“Bisa.”
Aku bergerak lebih dulu, dia menyusul setelah aku mengenyakkan pinggul di bibir ranjang. Rasanya canggung, juga kaku. Kok, keberanianku yang menggunung tadi jadi hilang?
“Jadi ... maaf, saya ingin kamu mengulang permintaan tadi. Saya takut salah tanggap,” ucapnya setelah aku dan dia melewati keheningan beberapa menit.
Aku sedikit ragu mengulang permintaan memalukan itu. Rasanya, harga diriku sudah tidak ada. Tapi, aku butuh pembuktian bahwa aku adalah wanita normal, sehat dan bisa hamil.
“Aku mau kau memberiku anak.” Aku mengganti permintaan dengan bahasa yang lebih baik.
Dia tidak langsung menjawab. Lekat, kupandangi suamiku ini hanya karena ingin segera tahu jawabannya. Terlihat gelenyar tenggorokannya menelan ludah. Sepertinya, dia sedang tertekan.
“Kamu dengar permintaanku, kan?”
“Oh, tentu saja dengar.”
“Jadi bagaimana?”
“Em, apanya?”
Aku meremas ujung seprai karena kesal. Bebal bener masalah begituan saja mesti dijelaskan.
“Nggak mungkin Om Imam nggak menjelaskan tujuanku menikahimu kan?” Aku mengingatkan kembali tentang perjanjian itu.
“Oh, itu ....” Lagi, dia hanya menjawab setengah kalimat. Astaga.
“Aku ini janda. Janda yang dicerai karena dituduh mandul, padahal aku sehat-sehat saja. Cek dokter pun tidak ditemukan masalah. Makanya, aku ingin membuktikan pada mantan suamiku kalau aku bisa punya anak.”
Aku merasa capek sekali kalau harus mengulang sesuatu yang sudah dijelaskan sejak awal.
“Mauku, kita menikah sat set-sat set terus jadi anak. Simpel, kan?”
“Tidak sesimpel itu, Bu,” sahutnya.
“Jangan panggil aku Ibu, aku ini istrimu. Panggil nama saja. Terus, katakan apa masalahnya? Kenapa nggak bisa dibikin simpel?”
Aku meradang, kepalaku berdenyut dan terasa sedikit pusing. Aku baru ingat, tadi belum sempat makan.
“Baik, Bu em, Kayra. Jadi begini, kita belum lama kenal. Kita butuh ngobrol dulu supaya bisa akrab dan tidak canggung. Maaf, ini bukan hal sulit sebenarnya, tapi kita butuh menjalin keakraban lebih dulu.”
“Sebenarnya nggak sesulit itu. Aku bisa kok, bantuin kamu biar berjalan mudah. Nggak perlu ngobrol juga, kelamaan.”
“Oh, nggak apa-apa. Ma-maksud saya, tidak usah. Saya kan suami. Saya bisa melakukannya hanya saja—“
“Oke bagus, kamu bisa melakukannya. Aku percaya itu. Sekarang, kita permudah saja, kamu mau lampunya dimatikan atau dihidupkan?” Aku tak mau memberinya kesempatan untuk menghindar lagi. Bagaimanapun caranya, aku harus segera hamil.
Aku menggeser posisi duduk lebih rapat padanya. Biar kutanggalkan rasa malu ini. Terpenting, aku bisa mendapatkan anak darinya. Tak perlu dengan cinta.
“Sebentar-sebentar. Ponsel saya bunyi.”
Dia berdiri merogoh saku celana. Kupikir bakal mangkir, ternyata ponselnya benar-benar bergetar karena ada panggilan.
“Assalamualaikum, Bu.” Dia mengucapkan salam. Mungkin ibunya yang telepon. Mungkin mau menanyakan keberadaan anaknya. Aku dengar dari pengakuan Om Imam sih, ibunya tidak tau anak lelakinya menikah malam ini.
“Maaf, saya harus terima telepon di luar. Sebentar saja,” ucapnya membuatku terkejut. Dia melangkah ke luar. Main rahasia rupanya. Jadi penasaran, ada apa sebenarnya?
Huff ... belum apa-apa sudah ada gangguan. Pokoknya, malam ini dia harus menyerah.
Lima menit berselang, dia masuk lagi, tapi dengan wajah yang kacau.
“Maaf sebelumnya.” Dia mengatupkan kedua tangan ke depan d**a. “S-saya harus pergi sekarang juga. Adik saya masuk rumah sakit lagi. Kondisinya mengkhawatirkan saat ini.”
Duh, gimana ini? Gagal, dong!
Aku mencebik. Kecewa.
“Saya tidak berbohong. Ibu saya tadi yang menelepon,” ucapnya lagi. Terlihat bingung, dia menggaruk-garuk kepalanya pertanda segan.
“Ya, sudah pergilah!” jawabku dengan nada tinggi. Tak bisa ku sembunyikan lagi rasa kecewa ini.
“Terima kasih atas pengertiannya. Saya janji, begitu urusan selesai, saya akan tunaikan janji saya.”
Tangannya masih mengatup, bingung, berjalan mundur lalu berbalik dan pergi. Sebelum menutup pintu, dia sempat menatap. Kupalingkan wajah sebagai respons sebal. Biar dia tau kalau kepergiannya sangat mengecewakan aku.
****
Pagi-pagi sekali, aku sudah sampai di lobi kantor. Semalam, aku tidak tidur gara-gara memikirkan malam pertama yang gagal. Sebal bercampur dongkol, akhirnya membuatku tak dapat memejamkan mata hingga pagi.
“Kay, Kayra!”
Sebuah panggilan dari arah resepsionis, aku menatap lurus. Seorang wanita datang mendekat. Siena, temanku sekaligus karyawan di kantor papa ini.
“Apa? Jangan tanya tentang malam pertama. Aku malas membahasnya,” ucapku memberi peringatan. Siena tahu semua kisah rumah tanggaku bersama dengan Revan. Biasanya, si kepo Siena suka menggosip.
“Nggak, ih! Yang ini jauh lebih penting dari pada cerita malam pertamamu yang pastinya gagal itu. Eit, jangan kepo dari mana aku tau, ya? Jelas dari muka lo itu lah!”
“Si4lan,” gerutuku sambil berjalan ke arah lift. Siena mengejar sambil sibuk mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
“Tunggu dong, Kay. Beritanya ada di dalam sini, nih! Tunggu, ya, sabar ....” Dia menganggap itu penting, padahal bagiku tidak.
Kami memasuki lift. Ruang sempit ini perlahan mulai bergerak.
“Begini, Kay. Aku semalam sepulang dari acara kamu, sampai di rumah langsung ngebatin, deh,” ucapnya dengan kemayu. Khas seorang Siena yang centil.
“Terus kenapa? Mau bilang kalau suamiku cupu?” tebakku sadar diri.
“Bukan,” jawabnya.
“Jelek?” akuku lagi.
“Bukan, ih.”
“Atau kampungan barangkali.”
“Bukan itu, Kayra. Lihat ini deh.”
Siena menunjukkan sebuah foto di galeri ponselnya.
“Suamimu namanya Ihsan kan? Ihsan Alfarukhi?”
“Ya, kenapa? Apa hubungannya sama foto cowok ganteng itu?” tanyaku menunjuk ke ponselnya.
“Ya, ini dia, Kay? Ini foto Ihsan Alfarukhi lima tahun yang lalu. Ihsan Alfarukhi suami lo, setampan ini waktu dulu.”
Aku mengamati foto itu baik-baik, lalu menggeleng.
“Nggak mungkin. Jelas beda orang.”
Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar diikuti Siena yang masih sibuk dengan ponselnya.
“Sumpah, Kay. Ini Ihsan Alfarukhi suami kamu!”
Bukk! Prang!
Siena menabrak punggungku karena gerak kaki ini berhenti seketika. Ponselnya terjatuh di bawah kakiku.
“Aduh, Kay! Hancur dah, HP gue!”
Lima langkah di hadapanku berdiri lelaki yang telah menghancurkan hidupku, Revan.
“Hai, mantan. Apa kabar?”
Senyumnya sangat manis, tapi bagiku tak ubahnya seperti belati t4jam yang siap menggor3s hati. Aku tak menjawab, memilih bungkam. Dia melangkah semakin rapat. Berdekatan seperti ini, jujur membuatku sangat muak.
“Siena bilang tadi, kamu sudah punya suami, ya? Siapa tadi namanya? Ihsan ... Ihsan Alfarukhi? Benar itu, Kay?”
****