Aku mengerjapkan mataku pelan-pelan, sedikit bersyukur bahwa rasa panas yang menjalar pada bahu kananku sedikit memudar. Aku melirik kearah Gavin yang kudapati juga menatapku dengan sebuah senyum lemah. Tidak bisa kupungkiri bahwa dia memang pemilik wajah rupawan, setelah dia mengatakan hal gila dipertemuan pertama kami beberapa waktu lalu. Aku tidak mengatakan apapun dan membiarkan keheningan mendominasi diantara kami berdua. Perlahan Gavin mengangkat satu tangannya untuk membelai pipiku dengan sangat lembut. “Apa kau marah padaku?” aku yang mendengar pertanyaannya hanya bisa tersenyum geli. Hal apa yang bisa membuatku marah setelah semuanya? Aku tidak memperlihatkan ekspresi apapun sedangkan Gavin, pria itu justru terlihat mengulum senyum simpul yang sedikit dipaksakan. Sebetulnya mema

