“Kita kedatangan tamu,” suara Marcel sedikit lebih serius kali ini, ketika dia menatap wajah Gavin. Lalu tanpa perlu direspon oleh sang pangeran kedua, Marcel tidak mengatakan apapun lagi dan bergerak layaknya mesin yang telah deprogram sebagai pemandu jalan baginya. Melihat gelagat Marcel yang teramat tegang, Gavin yakin tamu yang datang bukanlah tamu sembarangan. Tanda tanya besar makin meningkat dikepalanya tatkala langkah Marcel membawanya ke tenda Alvaro. Ketika pemuda itu menyibak pintu masuknya, barulah Gavin dapat melihat siapa tamu yang dimaksud oleh sang sahabat. Wajahnya tertutup oleh tudung dan jubah berwarna hitam. Namun dari cara bicaranya Gavin bisa menyimpulkan bahwa tamu tersebut adalah seorang pria. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Pangeran Gavin.” Ketika orang

