Humeera menatap nyalang pada sang mata mata yang ditugaskan olehnya untuk memberitahu kabar berita tentang Ephraim. Pria itu menjawab segala hal yang dia tanyakan dengan sebuah kesopanan yang dia nilai terlalu berlebihan untuk sebuah kabar buruk. Menghadapi kemarahan sang selir yang juga tak naik tahta meski sang permaisuri telah berpulang, pria itu hanya menahan emosinya sendiri dengan kepala dingin. Dia tetap berusaha berdiri tegak walaupun dengan kepala menunduk tepat di depan pintu peraduan milik sang nyonya. Bahkan hanya untuk pertemuan ini Humeera sampai menempatkan prajurit terbaik disegala titik untuk menghalau cicak putih yang mungkin saja akan mencuri dengar percakapan mereka. “Memang dasar tidak berguna. Dia malah berakhir dengan cara semenyedihkan itu.” Humeera tertawa miris,

