Diatas genangan darah perempuan itu menari dengan gemulai. Mulutnya bersenandung merdu, merapalkan kata-kata yang entah apa. Beberapa saat kemudian dia melirik kearah suaminya, lalu terdiam dan terbahak dengan sangat puas. “Biar kuberitahu sesuatu padamu Achazia. Saat kau marah karena dulu percaya bahwa Birdella menyiksaku, sungguh aku sangat bahagia saat itu. Tapi disaat yang sama aku juga kasihan padamu, bagaimana bisa kau dengan begitu mudahnya mempercayai sebuah dusta yang aku hembuskan?” cibirnya membuat Achazia mengetatkan rahangnya. Humeera menjeda. “Birdella memang tidak bersalah, sampai akhir dia memang sangat keren. Aku akui itu,” dia memiringkan kepalanya sekali lagi. Mencela. “Tapi kau tidak mempercayai dia dan lebih memilih aku tapi hingga saat ini kau tidak melupakan dia. Buk

