13-Mabuk

1564 Words
Cikko mengantar Caca ke rumah Ziddan. Saat di perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. Cikko semakin yakin Caca sedang sakit, di perjalanan wanita itu berkali-kali memegangi kepala sambil merintih. “Cikko. Aku terlalu banyak merepotkanmu,” ucap Caca tak enak. “Apanya yang merepotkan ,sih?” tanya Cikko sambil terkekeh. Iamengambil barang belanjaan Caca lalu berjalan menuju pintu utama. Caca hanya bisa menggeleng melihat Cikko yang selalu memaksa itu. “Huh... Dua sahabat yang punya sifat sama.” Cikko menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang dan menatap Caca dengan satu alis terangkat.  “Sifatku sama sifat Ziddan nggak sama.” Caca membuka pintu dan meminta Cikko segera masuk. Setelah Cikko masuk Caca berjalan menuju dapur. “Kalian punya sifat yang sama, keras kepala dan pemaksa.” Cikko meletakkan belanjaan Caca di atas meja lalu bersedekap di depan d**a. “Memang terlihat keras kepala ya?” “Iya. Hampir sama. Pantes kalian bersahabat.” Caca mengambil minuman kaleng yang tadi dibelinya dan menyodorkannya ke Cikko. Lalu ia berbalik, mengambil gelas dan menuangkan air putih. Cikko membuka minuman kaleng dari Caca dan menegaknya langsung. Ia terus memperhatikan wajah Caca yang semakin pucat itu. “Kamu sakit Ca?” tanyanya. Bodoh, pertanyaan apa itu!! Jelas dia sakit. Caca menunduk, kemudian menggeleng. Ia memencet hidungnya yang terasa gatal. “Hatcii.. Hatciii..” “Aku cuma kecapekan.. nggak perlu khawatir,” ucap Caca menenangkan. “Aku antar ke rumah sakit ya.” “Nggak perlu. Aku cuma perlu tidur,” ucap Caca. Lalu ia menutup mata saat kepalanya kembali berdenyut. “Oh ya, kamu nggak ada kerjaan?” Sebenarnya Caca ingin Cikko segera pulang agar ia bisa tidur. Cikko melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 14.05. Cukup lama ia meninggalkan kantor.  “Ya sudah. Kamu istirahat saja. Aku balik. Cepat sembuh ya.” “Ya...” Cikko berjalan meninggalkan dapur. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Caca sendirian. Prang!! Saat hendak membuka pintu Cikko mendengar suara pecahan. Ia langsung berbalik arah dan berlari menuju dapur. “Ya ampun!!” Cikko melihat Caca tergeletak di lantai. Cikko menghampiri, menarik kepala Caca agar bersandar di pahanya. Tangannya menepuk pipi Caca pelan. “Badan kamu panas banget, Ca,” ucapnya panik. Perlahan Cikko mengangkat Caca ke dalam gendongan, lalu berlari menuju mobil. Ia membuka pintu belakang, membaringkan tubuh Caca di bangku penumpang. Cikko lalu berlari memutari mobil dan masuk ke bangku kemudi. Sesampainya di rumah sakit Caca langsung di bawa ke UGD. Sedangkan Cikko, menunggu di depan UGD dengan harap-harap cemas. Cikko mondar-mandir tidak jelas dengan pikiran tertuju kepada seseorang di dalam sana. Caca. Tak lama Cikko tersentak saat tiba-tiba dokter membuka pintu ruang UGD. “Dokter!! Bagaimana keadaannya?” Cikko menatap dokter itu dengan tak sabaran. “Anda suami dari pasien?” Dokter itu melepas stetoskop yang masih menggantung di leher dan memasukkan ke saku jas. “Saya temannya, Dok,” jawab Cikko dengan sedikit ragu. Ya, teman. Ia harus mematri kata itu dalam hatinya. “Pasien hanya demam biasa. Tensinya juga rendah,” ucap dokter itu dengan sopan. “Oh ya, dari tadi pasien mengigau memanggil nama Ziddan. Sepertinya pasien membutuhkan seseorang bernama Ziddan itu,” lanjut dokter saat teringat pasiennya yang mengigau saat pemeriksaan. Deg!! Jantung Cikko berdegup kencang. Caca butuh Ziddan. Apa yang harus ia lakukan? Menyuruh Ziddan ke sini? Percuma. Ziddan pasti tidak mau memperhatikan Caca. Tapi Caca butuh Ziddan. Cikko menggeram, apa yang harus ia perbuat? Kenapa ia berada di posisi rumit   ***   Cikko menatap Caca yang berbaring di ranjang rumah sakit. Tangannya terulur mengusap kening Caca dengan lembut. “Kenapa gadis sebaik kamu punya nasib seperti ini?” Cikko kasihan. Gadis sebaik Caca harus bersanding dengan sahabatnya yang tempramental itu. “Mas Ziddan,” gumam Caca dalam tidurnya. Cikko menjauhkan tangan dari kening Caca. Ia merasa ada pukulan keras tepat mengenai hatinya. Dalam keadaan seperti ini kamu mencari Ziddan? Aku yakin yang bikin kamu kayak gini Ziddan. Tapi kenapa kamu masih mencarinya? Apa cintamu begitu besar untuk Ziddan? “Mas... Mas Ziddan.” Kini air mata Caca menetes. Cikko mengusap air mata Caca dengan ibu jarinya. Hatinya ikutan sakit melihat Caca yang seperti ini. Lalu ia merogoh ponsel dan menelepon sahabatnya. Tut...Tut... “Please Ziddan angkat.” Ibu jadi Cikko kembali memencet nomor Ziddan, tapi tetap saja panggilannya tidak dijawab. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Seharusnya Ziddan sudah selesai meeting dan pekerjaannya. Akhirnya Cikko mencari nomor kantor Ziddan. “Halo.. Maya.. Ziddan ada?” tanyanya saat panggilannya dijawab oleh seseorang. “Pak Ziddan pergi beberapa menit yang lalu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Maya dari ujung sana. “Bilang Cikko telepon!! Kalau dia balik ke kantor suruh segera telepon balik.” ucap Cikko tidak sabaran kemudian memutuskan sambungan.   ***   Ziddan melirik ponselnya yang sejak tadi berbunyi itu. Sengaja, ia tidak mengangkat panggilan. Ia sedang marah kepada sahabat yang tadi jalan dengan istrinya itu. Malam ini, Ziddan ada acara di Xks-Club. Tadi setelah ia dan Carlos sepakat menanda tangani perjanjian, Carlos mengajak Ziddan sebagai acara perayaan atas kerja sama mereka. Ziddan sebelumnya menolak ajakan itu, ia paling tidak bisa minum minuman beralkohol. Hanya meminum satu gelas ia langsung mabuk dan menjadi ledekan Cikko. Dua jam kemudian Ziddan sampai di Xks-Club. Ia masuk dan mendapati tempat itu sangat ramai. Dari kejauhan Ziddan melihat seorang lelaki dengan dua wanita sexy di sebelahnya. Dalam dunia bisnis, hal seperti itu sudah tidak asing. Kebanyakan rekan bisnisnya menghabiskan sisa waktunya di kelab sebagai pelampiasan dari pekerjaan di kantor yang mencekik. “Pak Carlos,” sapa Ziddan. Carlos mengangguk dan mempersilahkan Ziddan bergabung. Ziddan melirik seorang wanita sexy duduk di sebelahnya. Wanita itu lalu tanpa malu melingkarkan tangannya ke perutnya. Ziddan menyentakkan tangan wanita itu dan berjalan pergi. Ia memilih duduk di depan bartender yang meracik minuman untuk pengunjung itu. “Vodka satu,” ucapnya. Beberapa menit kemudian minuman Ziddan tersaji. Ia menegak minuman itu hingga tandas. “Satu lagi.” Ziddan menunduk merasakan matanya berkunang-kunang. Ia menatap bartender yang duduk tidak  jauh darinya itu. Dalam pengelihatannya ia melihat bartender itu begitu mirip dengan Cikko. “Sini,” ucap Ziddan ke bartender itu. Sang bartender mendekat dan duduk di seberang meja. “Mau pesan lagi?” Ziddan menggeleng, tangannya terulur menarik kerah kemeja bartender itu. “Kau mirip Cikko.” Sang bartender menjauhkan tangan Ziddan. “Lo mabuk.” “Mereka jalan di belakangku.” Ziddan mengusap wajah dengan kedua tangan. “Nggak kenapa gue nggak suka lihat itu!!! Gue nggak suka!!” Tangan Ziddan mengambil gelas kosong di depannya dan melemparkannya asal. Beruntung arah lemparannya mengenai tembok, bukan mengenai pengunjung lainnya. “Suruh dia pergi sebelum membuat kekacauan di sini!!” teriak bartender yang lainnya.   ***   “Halo.” Cikko mengembuskan napas lega. Akhirnya panggilannya diangkat oleh Ziddan. “Lo di mana sih? Dari tadi panggilan gue nggak diangkat!!” ucapnya marah. “Maaf, saya bartender di Xks-Club. Pemilik ponsel ini sedang mabuk dan membuat kekacauan. Bisa anda jemput sekarang?” Cikko mengernit bingung, Ziddan mabuk? “ “Baik saya segera ke sana.” Cikko mematikan sambungan dan mendekati ranjang. Tunggu sebenar. Aku akan menjemput suamimu yang bodoh itu!!” Sejam kemudian Cikko sudah sampai di kelab yang dimaksud oleh penelepon tadi. Ia masuk dan mendapati pengunjung begitu ramai. Dari kejauhan Cikko melihat punggung yang ia kenal. Ia berjalan mendekat dan menepuk punggung itu, tapi tidak ada jawaban. “Sebaiknya segera Anda bawa pulang. Kami nggak mau teman Anda membuat keributan di sini,” ucap bartender yang mendekati Cikko. Cikko mengangguk, menarik tangan Ziddan dan mengalungkannya di leher. “Aku mau dibawa ke mana?” gumam Ziddan. Cikko tidak menjawab. Ia terus menuntun Ziddan masuk ke mobilnya. Cikko membuka pintu penumpang dan mendorong Ziddan. Setelah itu ia memutari mobil dan masuk ke bangku kemudi. Cikko mengubah posisi duduknya, menatap Ziddan dari samping. “Lo bodoh atau gimana, sih!!” ucap Cikko marah. Tangan Cikko menarik kerah kemeja Ziddan. Membuat Ziddan menegakkan tubuh dan menatap Cikko dengan mata berkunang-kunang. “Lo Cikko?” Plak... Cikko menampar pipi Ziddan cukup keras. Tangannya sampai terasa panas setelah menampar pipi Ziddan. “Kenapa lo nampar gue!!” teriak Ziddan. Tangan Ziddan mengusap pipinya yang memanas karena tamparan itu. Ia setengah sadar saat tiba-tiba Cikko menampar pipinya. Ziddan menatap Cikko tajam. Tidak terima atas perlakuan itu. “Otak lo di mana, Dan!!! Otak lo dimana!!” ucap Cikko kecewa. Ia membuang muka, menatap parkiran kelab yang tampak sepi. “Lo bodoh atau gimana!! Udah tahu nggak bisa minum alkohol, malah minum. Otak lo di mana!!” Ziddan menyandarkan tubuh ke kursi dan memejamkan matanya. Pusing karena alkohol mulai menyerangnya. “Istri lo sakit. Lo malah mabuk-mabuan nggak jelas,” ucap Cikko lirih. Seketika ia ingat Caca yang terbaring di rumah sakit dan terus memanggil nama sahabatnya itu. “Oh ya?” tanya Ziddan masih memejamkan matanya.  “Oh jelas tahu. Kan tadi kalian jalan bareng di belakang gue,” tambahnya. Seketika Cikko menoleh. Ia sempat menanangkap ada nada cemburu. Ia tersenyum tipis, yakin jauh di lubuk hati Ziddan, lelaki itu memiliki rasa untuk Caca. Tinggal menunggu rasa itu berkembang dan mengalahkan seluruh dendam di hati Ziddan. “Cemburu, huh?” “Enggak.” Ziddan menegakkan tubuh dan menatap Cikko dengan tajam. “Lo cuma belum sadar. “ “Gue sadar!” “Nggak penting bahas itu. Sekarang istri lo nggak sadarkan diri.” Ziddan menatap Cikko dengan rahang mengeras. Percampuran antara marah dan sesuatu yang belum ia ketahui apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD