“Ziddan.”
Dalam tidurnya Ziddan menggeliat, mendengar suara yang begitu ia rindukan. Ziddan ingin membuka mata, tapi usapan di rambutnya membuatnya terbuai.
“Ziddan.” Terdengar suara bisikan lagi.
Ziddan membuka mata dengan enggan. Ia melihat wajah berseri ibunya tepat di depan wajahnya.
“Kamu belum ikhlas melepas ibu pergi,” kata sosok itu sambil memandang Ziddan dengan sedih.
“Ziddan sayang sama ibu. Ziddan nggak mau ada orang yang menyakiti ibu,” jawab Ziddan membela diri.
“Sudah saatnya kamu mengikhlaskan ibu. Ini memang takdir, Sayang,” ucap sosok itu. “Kalian saling mencintai.”
“Kami tidak saling mencintai,” jawab Ziddan sedikit marah.
Sosok itu memegang pipi Ziddan dengan lembut. “Ikhlaskan ibu. Awali hidup baru.” Kemudian sosok itu mulai mengeluarkan cahaya yang terang hingga membuat mata Ziddan memicing karena silau.
“Ibu!”
Ziddan terbangun karena mimpi itu. Ia menatap sekeliling dan mengernyit, merasa ruangan ini cukup asing. Ruangan serba putih dan bau khas rumah sakit. Ziddan menoleh ke ranjang dan mendapati istrinya tidur di sana.
Ingatan itu mulai kembali. Saat Ziddan dijemput Cikko dan mereka ke rumah sakit karena Caca tidak sadarkan diri. Kemudian Ziddan berbaring di sofa tak lama kemudian ia tertidur dan bermimpi ibunya.
Ikhlaskan ibu. Ucapan ibu dalam mimpinya membuat Ziddan bertanya. Apakah ia harus memulai kehidupan sesuai dengan penuturan ibunya?
***
Caca terbangun dengan bagian perut terasa berat. Lalu ia menoleh dan mendapati sebuah d**a tegap yang begitu dekat dengan wajahnya. Caca mendongak.
Mas Ziddan.
Caca memperhatikan sekitar, tempat yang ia tempati bukan kamarnya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi, dan kenapa Ziddan tertidur di sampingnya, terlebih memeluknya. Pandangan Caca lalu menyapu ke seluruh ruangan yang bernuansa putih itu.
“Sudah sadar?”
Caca mendongak, Ziddan masih terlelap. Ia menatap sekeliling dan menemukan lelaki yang kemarin ditemuninya. “Kenapa kamu di sini?”
Cikko mendekat, menatap Caca yang sudah sadar dan juga melihat Ziddan yang tahu-tahu pindah ke ranjang itu. Cikko lalu meletakkan punggung tangannya ke kening Caca. “Panasmu sudah mulai turun.”
“Kamu kemarin pingsan. Makanya aku bawa ke sini,” ucap Cikko seolah ia tahu apa yang ada di pikiran Caca.
Sreek...
Tak lama Caca dan Cikko menoleh ke belakang saat terdengar suara langkah kaki mendekati mereka.
“Selamat pagi, Nyonya,” ucap dokter lelaki itu sambil berjalan mendekati ranjang.
Caca melepas tangan Ziddan yang masih melingkar di perutnya. Ia hendak bangun, tapi kepalanya masih terasa sakit.
“Berbaring saja,” ucap dokter itu sopan.
Cikko mengguncangkan Ziddan yang masih terlelap itu. Tapi tidak ada tanggapan dari sahabatnya itu. “Ziddan.. bangun woy!!”
Caca melihat Cikko yang mulai jengel karena Ziddan yang susah dibangunkan itu. “Nggak apa, dia pasti kecapekan.” Caca melihat wajah Ziddan yang terlelap begitu pulas itu.
“Ziddan bangun!!!” teriak Cikko cukup kencang di telinga Ziddan.
Ziddan jengkel mendengar teriakan tepat di telinga kanannya itu. Tapi ia tidak beranjak.
“Astaga nih anak!!”
Geraman Cikko membuat Caca dan dokter itu terkekeh geli. Tubuh Caca berada dalam pelukan hangat Ziddan. Jika keadaannya sedang tidak di rumah sakit, ia akan membiarkan Ziddan memeluknya erat.
“Bangun, Mas,” bisik Caca kemudian. Tangannya mengusap pipi Ziddan lembut dan penuh sayang.
Ziddan mendengar sebuah bisikan lembut. Ia sedikit membuka mata dan terlihat leher jenjang di depannya. Dengan gerakan cepat Ziddan melepaskan pelukannya. Ia menatap Cikko yang sedang menatapnya dengan garang dan juga seorang dokter yang menatapnya sambil menahan senyum itu. Kemudian tatapan Ziddan teralih ke Caca yang tengah menunduk malu.
Perlahan Ziddan bangkit dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi ditutup, tangan Ziddan menyentuh d**a, merasakan jantungnya berdegup lebih kencang.
***
“Ziddan please. Gue tahu lo peduli ke Caca. Sampai kapan lo bakal nyangkal kata hati lo?” Ucap Cikko yang mulai terpancing emosi melihat Ziddan yang pengecut itu.
Saat ini mereka berbincang di pojok lorong rumah sakit. Cikko berbalik menatap Ziddan dengan tangan terlipat di depan d**a.
“Siapa yang nyangkal? Enggak kok,” bohong Ziddan.
“Lo perlu tahu, omongan orang mabuk itu jujur.” Cikko menerawang ke depan sedang mengingat kekhawatiran Ziddan saat mengetahui Caca sakit.
“Emang gue ngomong apa?” Ziddan sepenuhnya menatap Cikko dengan satu alis terangkat. Ia semakin geram saat melihat ekspresi Cikko yang tersenyum tak jelas itu.
“Rahasia,” bisik Cikko sok misterius. Ia lalu berjalan meninggalkan Ziddan yang menahan amarah itu.
Cikko berjalan menuju ruang perawatan Caca tidak memedulikan Ziddan yang menatapnya jengkel. Sesampainya di ruangan ia melihat Caca sedang makan sambil bersandar di kepala ranjang.
“Maaf lama.” Cikko duduk di pinggir ranjang. Ia menarik mangkuk berisi bubur yang berada di depan Caca.
“Nggak apa.”
Caca melihat ke arah pintu yang terbuka, menatap Ziddan yang berdiri menatapnya dengan pandangan yang sulit Caca artikan.
Ziddan terus menatap wajah pucat Caca. Meskipun pucat tetep cantik, batinnya. Walau sebenarnya ia enggan mengakui itu. Ziddan mengambil mangkuk bubur dari tangan Cikko. Lalu menyendokkan bubur itu ke Caca.
“Biar cepet sembuh,” ucap Ziddan yang terdengar lembut di telinga Caca, Cikko maupun Ziddan sendiri.
Caca mengangguk lalu menerima suapan dari Ziddan dengan lahap. Dalam hati, ia bahagia melihat Ziddan yang seperti ini.
“Sudah selesai,” ucap Ziddan beberapa menit kemudian. Lalu ia turun dari ranjang, mengambil segelas air putih dan memberikannya ke Caca.
“Cikko, gantiin posisiku di kantor!” perintah Ziddan tiba-tiba. Ia lalu menarik tangan Cikko hingga dari ranjang Caca. “Lo ke kantor, gantiin gue,” ulangnya sambil mendorong tubuh Cikko keluar dari ruang perawatan.
“Oke!! Lo jagain Caca jangan sampai dia kenapa-napa.” Cikko sebenarnya enggan meninggalkan Caca, tapi mau bagaimana lagi. Ia sadar ada orang lain yang lebih berhak menjaga Caca. Siapa lagi kalau bukan suaminya Caca, Ziddan.
“Move on Cikko.” Cikko memantapkan hati agar bisa move on dari Caca.
Sedangkan di ruang perawatan Ziddan menatap Caca dengan tatapan yang sulit diartikan. Ucapan ibunya kembali memutar layaknya kaset rusak. Ziddan akui, ia sudah terlalu lama memendam dendam itu dan membuat hidupnya didominasi warna hitam.
Apa ini waktu untuk mengakhirinya?
“Mas kenapa?” tanya Caca saat melihat Ziddan bengong di depannya.
Ziddan tergagap lalu menatap Caca dan tersenyum lembut. Ia meraih tangan Caca, membawa tangan itu ke depan wajah. “Nggak apa-apa,” jawabnya sambil mengecup punggung tangan Caca.