Sepulang dari restoran Caca langsung pulang dengan naik taxi. Tapi saat sampai rumah ia terkejutmendapati mobil Ziddan sudah terpakir di halaman depan.
“Seneng bisa jalan sama Cikko!!” Ziddan gerah dengan tingkah laku Caca tadi. Sengaja, saat Caca pulang ia juga bergegas pulang juga. Ia tidak sabar memberi hukuman kepada wanita yang ia benci itu.
“A.. Aku bisa je.. jelasin, Mas,” jawab Caca terbata. Ia memilin bagian bawah roknya dengan gugup. Ia ingin menjelaskan semua yang terjadi tapi lidahnya terasa kelu dan sulit digerakkan.
“Jelasin apa, hah!!” bentak Ziddan sambil meninju ranjang yang di duduki Caca. “Jelasin kalau udah jadian sama Cikko? Pengen ngerayu Cikko, heh!!”
“Enggak, Mas,” jawab Caca dengan berlinang air mata.
Ziddan tersenyum mengejek. Ia mencengkeram dagu Caca dengan tangan kanan. “Walau bagaimanapun kau masih istriku,” ucapnya tajam.
Ada sebagian hati Caca menghangat mendengar pernyataan itu. Artinya Ziddan masih menganggap dirinya sebagai istri.
“Walau enggan aku akui. Istri yang paling aku benci!!” desis Ziddan sambil melepas cengkeramannya.
Wajah Caca terdorong ke belakang. Sekarang luka hatinya seperti tersiram air cuka. Caca merasakan dadanya begitu sakit. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak ada isakan yang lolos. Namun apa daya, sekuat ia mencoba isakkan itu akhirnya terdengar juga. “Hiks...”
“Nangis!! Nangis aja terus!!” ucap Ziddan marah. “Atau mau ngadu ke Cikko?”
“Silahkan. Satu kali ngadu artinya sepuluh kali pembalasan!!!” ucap Ziddan emosi.
Caca semakin takut mendengar ucapan Ziddan. Sosok di depannya bukanlah sosok Ziddan yang seperti dulu. Saat mereka pacaran lelaki itu selalu bersikap lembut dan hangat. Tapi setelah menikah sifat itu menguap entah ke mana. Menjadikan Ziddan seperti sosok asing yang tidak pernah Caca kenal. Atau ini sosok Ziddan yang asli? Caca menghapus sisa air matanya dan menatap Ziddan lembut.
“Aku salah apa sama Mas?” tanya Caca lirih. Sejak dulu ia penasaran, apa yang pernah ia perbuat sehingga Ziddan selalu memperlakukannya kasar.
“Salah apa kamu bilang!!” teriak Ziddan marah.
Sekelebat ingatan saat Ziddan di-bully oleh Amelia muncul lembali. Saat melihat tubuh terluka ibunya yang disebabkan ditabrak oleh orang tua Caca. Lalu saat ia berjuang hidup sebatang kara. Saat Amelia tiba-tiba hilang setelah kecelakaan itu, hingga saat ini. Semuanya membuat Ziddan marah, kenapa tidak ada rasa bersalah sedikitpun dari keluarga Debbian?
Plak!!! Ziddan menampar pipi Caca dengan keras.
Caca terdorong dan berbaring menyamping. Air mata yang tadi sempat berhenti, kembali mengalir seiring rasa panas di pipi kirinya. Seumur hidupnya baru pertama kali ini ia ditampar, dan itu dilakukan oleh orang yang paling ia cintai.
“Kau dan keluargamu membuat hidupku sengsara!! Sekarang kau masih tanya apa salahmu, hah!!”
Ziddan menarik pergelangan tangan Caca dengan kasar. Caca berjalan terseok-seok mengikuti langkahnya yang menuju kamar mandi.
“Hiks...” Hanya isak tangis yang keluar dari bibir Caca. Ia tidak ingin meminta penjelasan lagi setelah ini.
Ziddan mendorong Caca, mengambil gagang shower menyalakan air dingin dan meletakkan shower itu ke atas kepala Caca. Dorongan itu membuat tubuh Caca terjatuh ke lantai yang dingin.
Caca menangis sejadi-jadinya. Tidak peduli isak tangis itu didengar Ziddan atau tidak. Guyuran air yang membasahi tubuhnya membuatnya menggigil. Ingin ia berteriak meminta ampun, tapi otak dan bibirnya tidak mampu menjalakan perintah hatinya. Bibirnya mulai bergetar, air mata mulai berhenti mengalir digantikan dengan bibir yang gemetaran.
“Gimana? Enak nggak?” tanya Ziddan sambil mematikan shower. Ia berdiri sambil bertolak pinggang, menatap tubuh menggigil dan bibir Caca yang pucat.
“Dingin?” ejek Ziddan. Ia menarik dagu Caca dan melihat mata sembab itu. “Dingin, ya?”
“Iya, Mas,” jawab Caca begitu lirih.
“Jangan sekali-sekali tanya apa salahmu!! Salah keluargamu begitu banyak!! Jangan sekali-kali menggoda Cikko. Dia nggak pantas bersanding denganmu!! Ingat itu!!” ucap Ziddan tajam kemudian pergi begitu saja.
Selepas kepergian Ziddan tubuh Caca melemas. Ia duduk di lantai dan menangis tersedu-sedu. Kakinya ia lipat dan wajahnya ia sembunyikan di kedua lutut. Bahunya bergetar hebat, ingin sekali ia tidak menangis. Tapi apa daya, hanya itu satu-satunya cara yang ia bisa. Membantah omongan Ziddan, jelas tidak mungkin. Hanya tangis yang mampu ia lakukan atas perlakuan Ziddan.
***
Esok harinya Caca terbangun dengan kepala pening, tenggorokan kering dan hidung yang terasa tersumbat. Ia menoleh ke samping, tangannya terulur ke sisi ranjang sebelahnya. Dingin dan rapi, itu artinya suaminya tidak tidur di kamar. Walau Caca masih kecewa ke suaminya, tapi ia tetap peduli ke lelaki yang ia cintai itu. Pandangannya teralih ke jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
“Astaga!!” pekiknya kaget. Tidak biasanya ia terbangun cukup siang. Ia langsung duduk, dan membuat kepalanya berdenyut nyeri. Caca memegang sisi kepala dan sedikit memijitnya agar nyeri itu reda.
Beberapa menit kemudian Caca berjalan dengan perlahan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajah dengan air dingin lalu menatap wajah pucat yang terpantul dari cermin tepat di hadapannya itu. Mata bengkak, lingkar hitam terlihat jelas dan ada lebam di pipinya. Tangannya terulur menyentuh pipi kirinya yang kemarin ditampar Ziddan. Tiba-tiba air mata berdesakan ingin keluar. Caca menggeleng, tidak ingin mengingat kejadian yang nanti berimbas pada sebuah isakan.
Setelah membersihkan diri, Caca ke lantai bawah hendak memasak. Perutnya dari tadi keroncongan, minta diisi. Mengingat soal memasak, ia tidak enak kepada suaminya. Gara-gara telat bangun ia tidak sempat membuat sarapan. Padahal ia tahu, kemungkinannya sangat kecil masakannya akan dimakan Ziddan. Tapi ia selalu dengan senang hati memasak untuk suaminya itu.
Sejam kemudian Caca sudah berkutat di dapur. Memasak sup jagung untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah menyelesaikan masakannya ia makan dalam keheningan. Rumah semegah ini terlalu sepi bahkan terasa tidak bernyawa. Bagaimana bisa suaminya betah tinggal sendiri di sini, tanpa ada satpam atau pembantu.
Mungkin rumah ini bisa ramai dengan adanya anak kecil.
Caca tersadar oleh apa yang dipikirkan barusan. Ia menggeleng, bagaimana bisa berharap memiliki anak bila rumah tangga mereka tidak beres?
“Suatu saat nanti Mas Ziddan pasti kembali seperti dulu.”
***
“Lo kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Ziddan sakratis ke Cikko yang menatap makanannya dengan senyum-senyum tidak jelas itu.
Cikko mendongak, menatap sahabatnya dengan cengiran. “Entah kenapa gue kangen sama tuh cewek,” jawabnya sambil tersenyum.
“Cewek kemaren maksud lo?” Ziddan menatap Cikko yang mengangguk dengan penuh semangat itu.
Seratus persen Ziddan yakin Cikko tidak tahu, cewek yang dibayangkan itu adalah istri yang kemarin disiksanya. Ia ingat saat tadi pagi masuk ke kamar dan melihat Caca masih tertidur pulas.
“Menurut lo Caca udah punya cowok nggak? “ Tidak biasanya Cikko meminta pendapat kepada sahabatnya yang kaku itu. Jelas pengalaman Ziddan sangat kurang soal cinta, tapi tidak ada salahnya ia minta pendapat sahabatnya yang sudah menikah itu.
“Enggak!!”
“Kok lo bilang enggak?” selidik Cikko.
Karena dia udah punya suami bego!! Suaminya ada di depan lo!! teriak hati Ziddan. “Terus gue harus jawab udah dan ngelihat lo patah hati untuk yang pertama kalinya?”
Ziddan tahu, ini pertama kalinya Cikko jatuh cinta. Demi Tuhan, sahabatnya jatuh cinta kepada istrinya. Ia tidak akan membiarkan Cikko mencintai Caca.
“Gue pulang dulu!! Berkas gue udah nunggu!!” ucap Ziddan sambil berdiri meninggalkan Cikko yang sibuk dengan pikirannya sendiri itu.