5-Sisi Lain

1185 Words
Ziddan menatap foto yang telah usang dengan pandangan menerawang. Foto berisi dirinya saat wisuda SMP ditemani sang ibu. Ziddan ingat kejadian itu, di mana ibunya membuatkannya jas khusus untuknya. “Bu....” panggil Ziddan sambil mengusap foto ibunya dengan sayang. Ziddan memejamkan mata, kembali rasa sesak itu memenuhi dadanya. “Andai kecelakaan itu nggak terjadi. Andai mobil keluarga sialan itu nggak menabrak ibu!!” ucap Ziddan menjadi lebih emosi. Tak lama Ziddan memasukkan foto itu ke dompet yang selalu ia bawa. Ia melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ziddan berjalan menuju ranjang hotel yang terasa nyaman. Matanya nyalang menatap langit kamar dengan berbagai pikiran. “Sepulang dari sini. Ziddan pasti ke makam Ibu,” ucapnya kemudian menutup mata.   ***   Ziddan menatap gundukan tanah yang ditaburi bunga itu dengan sedih. Saat ini ia berada di makam ibunya. Mendoakan sang ibu agar tenang di alam sana. Tangannya mengusap nisan dengan sayang, seolah-olah nisan itu adalah perantara fisik antara dirinya dan ibunya. “Hai, Bu. Ziddan datang lagi,” ucap Ziddan, masih dengan tangan yang mengusap batu nisan. “Ziddan sayang ibu.” Tanpa terasa ia menangis. Sekuat apapun seorang lelaki bila itu menyangkut orang yang dicintainya akan berubah menjadi lemah. Ziddan tidak menghapus air mata yang keluar itu. Bukankah jika lelaki itu menangis maka air mata itu adalah air mata dari hatinya, bukan karena kebohongan semata? Ziddan mendekatkan wajah, mengecup nisan itu dengan lembut. Setelah itu ia berdiri meninggalkan area pemakaman. Hatinya selalu lega setelah berkeluh kesah di makam ibunya. Menyampaikan perasaan rindu yang mendalam kepada sang ibu.   ***   Caca menatap ponsel, melakukan video call dengan kakaknya. Ia melihat kakaknya yang tengah berceloteh ria itu. Hatinya menghangat melihat kakaknya yang terlihat bahagia. Caca bersyukur kepada Tuhan karena memberi kakaknya kebahagiaan. “Pasti lucu banget ponakanku. Kakak kapan pulang? Aku pengen ketemu sama ponakan.” “Kalau Princess udah agak gedean pasti kakak pulang,” jawab Amelia antusias. Sejak Amelia di Spanyol ia tidak pernah pulang. Saat adiknya menikah saja Amelia tidak datang karena menunggu proses kelahirannya. “Janji ya, Kak,” ucap Caca senang. “Kamu sendiri gimana? Udah isi belum?” Bagai tersambar petir disiang bolong, Caca langsung menunduk tidak berani menatap ponsel. Hamil? Jangankan hamil, pegangan tangan saja suaminya enggan. “Ca. Kamu kenapa?” Amelia menatap ponsel yang menunjukkan wajah adiknya tengah menunduk itu. Amelia berkali-kali memanggil nama Caca tapi adiknya itu seperti sibuk dengan dunianya sendiri. “Ca!! Kamu nggak apa-apa kan, Dek?” “Eh...” Caca tergagap. Ia sibuk dengan pikirannya sehingga tidak menyadari kakaknya masih menatapnya. “Kenapa? Kok mukamu jadi sedih gitu?” “Nggak apa-apa kak. Aku lagi kangen Mas Ziddan aja,” kilah Caca tidak ingin terlihat sedih di depan kakaknya. “Memang ke mana suamimu?” Amelia merasa ada yang aneh. Ia tidak pernah bertemu dengan suami Caca. Saat mereka masih pacaran Amelia sudah pindah ke Spanyol. Amelia hanya tahu nama suami adiknya dan foto-fotonya saja. Tapi untuk melihat berbincang dengan adik iparnya, tidak pernah. Bukankah setiap pasangan ingin mengenal keluarga dari pasangannya? Tapi tidak dengan suami Caca, bahkan suami Caca tidak meminta restu kepadanya. Caca menarik napasnya dengan berat. Seminggu sudah ia tidak bertemu dengan Ziddan. Seminggu sudah ia tidak mendengar suara Ziddan. Caca rindu dengan suaminya. “Mas Ziddan lagi di Bali.” Amelia tak tega melihat saudara satu-satunya itu bersedih. “Cie..., yang pasangan baru. Di tinggal seminggu saja udah kayak setahun.” “Apaan sih, Kak,” ucap Caca, pipinya langsung bersemu merah. “Dek, kakak kangen sama mama, papa dan kak Brama,” ucap Amelia. Amelia melihat wajah Caca yang kembali menjadi sedih itu. Bodoh!! Adikmu jadi sedih lagi kan? “Caca juga kangen. Andai masih ada mama, papa dan Brama. Pasti hidup Caca nggak kesepian,” ucap Caca dengan mata berkaca-kaca. “Kak, nanti aku ke makam deh. Sudah lama aku nggak ke makam,” lanjut Caca. “Salam ya. Buat mereka. Sampaiin permintaan maaf kakak karena nggak bisa ke makam,” ucap Amelia dengan sedih. Ia menghapus air mata yang mengalir ke pipinya dengan punggung tangan. “Iya. Ya sudah, Kak, Caca siap-siap dulu. Bye, Kak,” ucap Caca kemudian memutuskan sambungan. Caca menutup mukanya dengan bantal. Air mata yang tadi sempat ditahannya kini mengalir dengan deras. Bahunya bergetar, terisak menangisi orang-orang yang disayanginya.   ***   Caca selesai berdoa untuk mama, papa dan kakaknya. Ia menatap batu nisan ketiganya dengan bergantian. Makam tiga orang yang ia sayangi. “Hai, Ma. Hai, Pa. Hai, Brama.” Caca menatap ke batu nisan milik mamanya. “Ma. Caca dateng lagi. Maaf ya, Caca udah jarang ke makam mama. Oh ya, kak Amelia minta maaf, nggak bisa dateng ke makam. Oh ya, anak Kak Amelia cantik banget loh, mirip banget sama mama,” cerita Caca kemudian tatapannya teralih ke makam papanya. “Hai, Pa. Maafin Caca jarang ke sini. Kak Amelia minta maaf, karena nggak bisa ke makam.” Tatapan Caca teralih ke makam Brama, sang kakak. “Brama!! Aku kangen,” ucap Caca dengan nada manja seperti biasanya saat bersama kakaknya. Dari dulu Caca tidak pernah memanggil kakak lelakinya itu dengan panggilan kak, karena kakaknya itu selalu usil kepadanya dan membuat Caca memanggilnya hanya sebatas nama. “Brama. Kamu kemarin main ke mimpik, ya? Kok malah dateng pas kejadian kecelakaan, sih. Bukannya yang lain,” ucap Caca ingat mimpinya. Entah sudah berapa lama Caca berbincang di depan makam ketiga orang kesayangannya itu. Caca mendongak, menatap langit yang mulai menggelap. Itu artinya setengah hari ia berada di makam. “Hari sudah mulai gelap. Caca pulang ya Ma, Pa, Brama. Semoga kalian tenang dan bahagia di alam sana,” ucap Caca. Caca mengusap batu nisan itu satu persatu kemudian bangkit dan meninggalkan makam dengan perasaan yang begitu ringan. Bercerita dengan orang yang ia sayangi sedikit mengurangi beban di pundaknya.   ***   Ziddan melihat langit mulai menggelap. Saat ia masuk rumah ia sudah dibuat emosi ke istrinya. Bagaimana tidak emosi, ia pulang ke rumah dengan keadaan rumah yang kosong. Tidak tahu istrinya itu pergi ke mana. “Loh!! Mas sudah pulang?” Caca kaget melihat suaminya tengah duduk dengan tangan terlipat di d**a itu. “Kenapa? Kaget aku udah di rumah??” tanya Ziddan dengan tajam. “Dari mana?” Caca menunduk, tidak berani menatap wajah suaminya yang pasti saat ini tengah marah besar itu. “Jalan sama cowok?” bisik Ziddan di telinga Caca. “Jawab!!!” Caca berjingkat kaget mendengar teriakan itu. Ia terus menunduk tidak mampu menatap wajah di depannya itu. Bahkan, menundukpun ia merasakan tatapan tajam Ziddan seolah menusuk ke setiap tubuhnya. “Jawab!!!” Ziddan sangat emosi. “Ca.. Ca.. a.. Ada.. ur.. ursan, Mas.” jawab Caca terbata. “Urusan apa? Urusan dengan lelaki lain?” tanya Ziddan datar. Ia berbalik, berjalan ke sofa dan kembali duduk di sana. Tatapannya lalu meneliti tubuh Caca dari atas hingga bawah. “Pergi sana!! Aku mual melihat wajahmu!!” Caca melangkah dengan berat. Ia berjalan ke kamar dengan air mata yang mulai turun membanjiri pipi. Ini bukan salah Ziddan, ini memang salahnya. Bukannya di rumah dan menunggu suami malah asyik keluar. Tapi bagaimanapun juga Caca rindu dengan keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD