6-Asdos

1569 Words
Pagi hari Caca sudah berkutat di dapur. Ia tidak berharap lebih, suaminya mencicipi masakannya saja sudah membuatnya senang bukan main. Hari ini hari Senin, hari awal tahun ajaran baru di universitas milik suaminya. Hari ini pula Caca mulai kembali beraktivitas menjadi asdos. Srek... Saat sibuk menata piring, ia dikejutkan dengan oleh suara decitan kursi yang beradu dengan lantai. Caca menoleh ke sumber suara, dan melihat suaminya itu duduk dengan manis menghadapnya. “Pagi, Mas.” Caca mengambil piring dan menyendokkan nasi untuk sang suami. “Cepat pergi!!” Ziddan melihat piring di depannya yang sudah penuh dengan nasi, sayur beserta lauk pauk itu. Ia belum makan dari semalam. Melihat masakan Caca yang sangat menggiurkan itu membuat Ziddan ingin segera melahap makanan itu. Tapi ia gengsi ia juga tidak mau Caca besar kepala karena makan masakannya dengan lahap. “Tapi,” ucap Caca tidak mengerti. Biasanya juga Caca tidak pernah pergi dari dapur saat suaminya itu sedang makan. “Aku mual lihat wajahmu!!” “Iya, Mas.” jawab Caca sambil tertunduk lesu. Ia tidak ingin pagi-pagi berdebat dengan suaminya. Caca berjalan dengan gontai ke kamar dan bersiap untuk ke kampus. Ziddan menoleh ke arah Caca yang sudah menghilang ke lantai dua itu. Ziddan langsung memakan makanan yang tersaji. Cacing-cacing di perutnya yang dari tadi berdemo kini mulai melunak setelah diisi.   ***   Caca telah siap dengan setelan pink yang dulu ia beli di mal. Ia lalu menatap sebuah kotak yang berisi dasi. Gara-gara semalam pulang, telat membuatnya mengurungkan niat memberikan dasi itu kepada Ziddan. Keadaan Ziddan yang masih emosi juga membuatnya mundur teratur. “Semoga nanti bisa ngasih,” gumamnya sambil memasukkan dasi itu ke tempat semua. Caca melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit itu. Ia ada kelas jam satu siang. Meski jam satu masih lama, tapi kondisi jalan yang padat membuatnya memutuskan berangkat lebih awal. Ia mengambil tas yang sudah ia siapkan dan berjalan keluar rumah. Matahari yang terik, asap kendaraan yang bertebaran membuat Caca berkali-kali mengusap wajah yang berkeringat dengan tisu. Sudah hampir satu jam ia menunggu taksi, tapi tidak ada satupun yang lewat. “Kenapa lama sekali?” Tin.. Tin.. Caca menoleh saat mendengar suara klakson mobil tidak jauh dari tempatnya. Ia mengernyit melihat SUV hitam yang sejak tadi membunyikan klakson itu. Ia terkejut saat pengemudi itu keluar mobil dan tersenyum ke arahnya. “Mau ke mana?” Caca mengalihkan pandang ke arah jalan raya. Ia berharap ada taksi dan ia bisa pergi. Caca tidak tahu harus bersikap bagaimana ke Cikko. Pernyataan Cikko beberapa hari lalu membuatnya bingung harus bersikap apa. “Hei.. Kok bengong?” tanya Cikko. Cikko baru saja bertemu dengan klien. Dari kejauhan pandangannya langsung tertuju pada wanita yang tengah kepanasan itu. Ia langsung tersenyum, akhirnya bisa bertemu dengan Caca lagi. Sebenarnya Cikko bingung harus bersikap bagaimana. Setelah ungkapan cintanya, Caca langsung pergi tanpa memberikan kepastian apapun. Bisa dibilang cinta Cikko sekarang digantung. “Ayo ikut aku!!” ucap Cikko sambil menarik tangan Caca. Caca tersadar dari lamunannya saat merasakan pergelangan tangannya ditarik. Ia langsung meronta minta dilepaskan. Namun, tenaga ekstra yang ia keluarkan tidak menimbulkan gerakan sedikitpun dari cekalan Cikko. “Kenapa sukanya main tarik-tarik!!” ucap Caca setelah masuk mobil. Cikko melajukan mobilnya dan melirik wanita yang tengah cemberut dan mengusap pergelangan tangannya itu. “Maaf. Habis dari tadi bengong mulu.” “Oh ya, kamu ngapain panas-panasan gitu? Kamu juga rapi banget mau ke mana?” tanya Cikko sambil melirik pakaian yang dipakai Caca. “Berhenti!!” “Kamu mau ke mana?” “Aku bilang berhenti!!” “Nggak mau.” Cikko melirik Caca yang tengah mendengus itu. “Sudahlah nyerah saja. Kamu mau ke mana? Aku antar.” “Kampus Arsitek,” ucap Caca setengah hati. Percuma ia berdebat dengan Cikko. Selalu saja ia kalah. “Kamu kuliah di sana? Wah, itu kampus punya temenku, ada andilku sama temenku lainnya juga, sih. Eh kamu inget nggak si Ziddan?” “Aku asdos,” jawab Caca lesu. Kenapa pula Cikko menceritakan kampus itu milik Ziddan, Caca sudah tahu kampus itu milik siapa. Namun, di kampus tidak ada yang tahu ia istri dari pemilik kampus. Miris memang. “Asdos? Wah, nggak nyangka kamu itu asdos. Kenapa nggak jadi dosen sekalian?” tanya Cikko antusias. “Belum ada pengangkatan.” Cikko kembali melirik Caca lalu tersenyum penuh arti. Suasana mobil sangat hening. Cikko terus melajukan mobil dengan kecepatan sedang tidak ingin buru-buru dan berakibat kehilangan momen bersama Caca. “Sudah sampai,” ucap Cikko tidak bersemangat setelah sampai ke tempat tujuan Caca. Caca menarik tas di pangkuan dan berbalik menatap Cikko. “Terima kasih tumpangannya.”   ***   Setelah mengantar Caca ke kampus, Cikko segera pergi ke kantor dengan senyum yang masih terukir. Ia langsung masuk ke ruangan sahabatnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kebiasaan buruk yang sulit ia hilangkan. “Gue beruntung banget!!” Ziddan yang sibuk menekuni berkas hanya melirik. Ia kembali berkutat dengan kertas di hadapannya tidak memedulikan Cikko. Sepuluh menit berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda Cikko pergi dari ruangannya. Ziddan mulai geram, jika Cikko tidak ingin pergi tidak masalah. Tapi masalahnya dari tadi Cikko senyum-senyum tak jelas. “Lo lupa minum obat atau gimana, sih?” tanya Ziddan yang mulai jengkel. Ia menyatukan kedua tangan, meletakkan di atas meja dan dagunya bertumpu di kedua tangan yang bertaut itu. “Lo tahu, gue seneng banget, Ziddan!!” ucap Cikko antusias. Cikko kembali mengenang saat Caca duduk di mobilnya dan mereka berbincang. Ziddan geleng-geleng melihat tingkah Cikko yang bisa dibilang ajaib itu. “Gue habis ketemu Caca. Lo tahu nggak....” “... gak tahu!!” Ziddan memotong perkataan Cikko. Tangan Ziddan yang semula ada di atas meja kini terkepal di bawah meja. Jadi ini yang membuat sahabatnya senyum-senyum seperti orang tidak waras? “Dengerin gue cerita dulu, deh,” kata Cikko jengkel ucapannya dipotong. “Gue barusan dari kantor Pak Carlos. Lo tahu nggak pas di jalan gue lihat cewek di pinggir jalan. Eh nggak tahunya si Caca. Ya udah gue ajak masuk aja ke mobil.” “Dia mau?” tanya Ziddan datar. “Mau, lah. Pas gue tanya dia mau ke mana, ternyata dia ke kampus Arsitek. Peluang gue deketin dia terbuka lebar, nih,” ucap Cikko dengan senyuman. “Tiga kali gue ketemu dia.” “Tiga kali?” tanya Ziddan kaget. “Kok lo kaget gitu, sih? Oh iya!!” ucap Cikko sambil menepuk kening. “Pas lo di Bali, gue ke toko beli jas. Gue ketemu dia di sana, dia beli pakaian kerja.” “Terus?” tuntut Ziddan. “Ya gitu, gue ketemu dia. Dia beli dasi, tahu deh buat siapa.” “Terus?” Ziddan sebenarnya sudah marah besar kepada Caca tapi ia harus mengorek informasi lebih. “Gue ajak dia makan, gue nyatain perasaan gue!!” ucap Cikko santai. Kemudian ia menyandarkan punggung di sandaran kursi. “Gila!!” Ziddan langsung bangkit. Ia berjalan ke jendela dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya. Ia tidak habis pikir oleh kelakuan sahabatnya. Baru bertemu dua kali dan langsung menyatakan cinta? Pelet apa yang digunakan Caca sehingga membuat Cikko jadi seperti itu Ziddan tidak akan membiarkan hal itu terjadi. “Gue balik ke ruangan dulu deh,” pamit Cikko. “Tunggu!!” ucap Ziddan saat Cikko sudah mencapai ambang pintu ruangan. “Kenapa?” “Kalau lo udah tahu tempat kerja cewek yang lo suka, lo bakal ngapain?” tanya Ziddan. “Gue samperin, lah,” jawab Cikko santai kemudian berbalik meninggalkan ruangan Ziddan. “Oke!! Gue gak akan ngebiarin itu terjadi. Enak aja cewek macem dia dapet cowok kayak Cikko. Mustahil!!” ucap Ziddan dengan seringai menyeramkan.   ***   Caca menyudahi kegiatan mengajar hari ini. Ia melihat jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Ini saatnya ia pulang. Caca meninggalkan kelas yang sudah sepi dengan menenteng dua buku besar di tangan. Saat keluar dari gerbang kampus, Caca dikejutkan dengan kehadiran Cikko yang tengah bersandar di samping mobil. Caca ingin menghindar, ia menoleh ke kanan dan langsung berjalan cepat. Namun, harapan tinggal harapan, pergelangan tangannya sudah ditarik dari belakang. “Mau lari ke mana?” tanya Cikko dengan tersenyum geli. Cikko dari tadi tahu kehadiran Caca, hanya saja ia ingin tahu apa reaksi wanita itu saat melihatnya. Lalu yang terjadi adalah, Caca malah mengindar. “Lepas!! Kenapa suka sekali tarik-tarik!!” ucap Caca jengkel. Posisi mereka yang berada di depan gerbang kampus membuat para mahasiswa yang lewat, menoleh ke arah mereka. “Banyak yang lihat ya?” Cikko menatap sekeliling dan mendapati dirinya menjadi tontonan umum. “Kalau nggak mau jadi tontonan umum lebih baik cepat ikut ke mobilku.. Ayoo.” Mau tidak mau, Caca mengikuti Cikko daripada menimbulkan gosip yang tidak-tidak. Caca masuk ke bangku penumpang dengan setengah hati. Berbeda dengan Cikko yang menyunggingkan senyuman. “Kenapa kamu di kampus?” selidik Caca. “Tadi ada meeting terus lewat sini. Sekalian aja nungguin kamu,” bohong Cikko. Padahal saat dari ruangan Ziddan, ia langsung menghubungi temannya yang bekerja di bagian administrasi. Cikko menanyakan jadwal Caca tentu saja. “Bohong!!” ucap Caca. Bagaimana mungkin ada kebetulan dalam satu hari ini? Oke, yang tadi pagi mungkin hanya kebetulan. Tapi barusan pasti Cikko sengaja. “Ya sudah kalau nggak percaya,” jawab Cikko tak acuh. Suasana mobil kembali hening. Caca menatap jendela tanpa peduli kepada seorang pemaksa yang duduk di sebelahnya itu. Sedangkan Cikko juga tidak ingin berbicara. Ia begitu menikmati suasana damai bersama orang yang ia cintai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD