7-Pengacau

1303 Words
Caca berjalan di area komplek perumahan seorang diri. Setelah diantar Cikko dengan paksa, ia memilih berhenti di pinggir jalan. Alasannya, jelas ia tidak ingin Cikko tahu ia adalah istri Ziddan. Hingga berakibat Ziddan marah kepadanya. Kreek... Caca membuka pintu pagar tinggi itu. Pandangannya tertuju ke mobil milik Ziddan. Mas Ziddan sudah pulang batinnya senang. Lalu ia berlari kecil menuju rumah. Ruang tamu tampak sepi, Caca melangkah mencari keberadaan suaminya. Ia lalu menuju kamar. Caca membuka pintu dengan pelan dan sedikit mengintip ke dalam kamar. Caca segera masuk hendak meletakkan tas. Saat mendekati lemari tiba-tiba rambutnya ditarik ke belakang dengan cukup kuat. Tarikan itu membuatnya meringis kesakitan. “Dari mana kau?” “Sa..Sakit, Mas,” ucap Caca terbata. Kedua tangannya mencoba melepas tangan Ziddan yang menarik rambutnya itu. Ziddan melepas tarikan dari rambut Caca dan bertolak pinggang. Caca mengusap kulit kepalanya yang masih berdenyut nyeri. Ia berbalik, menatap suaminya yang bertolak pinggang. “Dari mana!!!” Mata Ziddan menelusuri tubuh Caca dari atas hingga bawah. “Kam.. Kampus,” cicit Caca. Punggung tangannya mengusap air mata yang hendak menetes keluar itu. Demi Tuhan! Air mata ini jangan turun!! “Kampus atau jalan sama Cikko!!” Ziddan tahu, saat Cikko menjemput Caca. Saat Cikko keluar dari kantor, ia sengaja membuntuti. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana saat Caca masuk ke mobil Cikko. “Dari kampus, Mas.” “Aku tahu Cikko menjemputmu!!” “Maaf..” Hanya itu yang keluar dari bibir Caca. Ia sudah berusaha menjauh, tapi Cikko selalu punya cara untuk mendekat. Ziddan maju satu langkah. Telunjuknya menarik dagu Caca agar terangkat. “Mulai bermain api?” tanyanya diselingi senyum mengejek. “Tidak,” jawab Caca. Bagaimana bisa ia bermain api dengan sahabat suaminya sendiri? Sedangkan hatinya hanya terpatri oleh satu nama. Ziddan. “Lalu, soal pernyataan cinta Cikko?” Ziddan menjauhkan telunjuknya dari dagu Caca. Tidak ingin berlama-lama karena itu membuatnya risih. Tubuh Caca menegang. Suaminya tahu soal pernyataan cinta Cikko? Kenapa semuanya jadi rumit? “Gak bisa jawab? Atau sudah jadian?” tanya Ziddan enteng. Ia duduk di pinggir ranjang tapi tatapannya tidak sedikitpun teralih dari Caca. “Ti.. Tidak..” Bagaimana caranya agar suaminya itu tahu hanya Ziddan yang ia cintai? Masih perlu buktikah suaminya? Tidakkah berada di sebelah lelaki itu sudah cukup? Menerima Ziddan yang meledak-ledak, menerima kekasaran Ziddan dan menerima sakit hati dari Ziddan. Tidakkah itu cukup? “Tidak salah maksudmu!!” teriak Ziddan kembali. “Selalu saja bikin emosi!” Ziddan berdiri, berjalan ke arah lemari. Ia hendak menarik kaus putih di tumpukan tengah, saat matanya menatap sebuah kotak berwarna hitam. Ia mengambil kotak yang telah menyita perhatiannya. Ia membuka kotak itu dengan perlahan. Sebuah dasi berwarna dark blue. “Apa ini!!” Caca melihat Ziddan yang berdiri penuh tanya sambil membawa dasi itu. “Itu dasi buat Mas Ziddan.” Jantungnya berdegup lebih kencang. Menanti ekspresi yang akan ditunjukkan oleh Ziddan. “Buatku?” tanya Ziddan. “Mas suka?” tanya Caca dengan senyum mengembang. Melihat Ziddan yang tersenyum membuatnya berasumsi jika suaminya itu menerima kado darinya. “Suka.. Suka banget,” ucap Ziddan dengan penuh penekanan. Langkahnya kemudian tertuju ke arah nakas. Caca terus mengamati setiap langkah Ziddan. Ia melihat lelaki itu tengah sibuk mencari sesuatu. Karena penasaran, ia mendekat hendak membantu. Ia bingung melihat Ziddan yang membawa gunting itu. “Buat apa, Mas?” tanya Caca saat melihat Ziddan tersenyum melihat gunting yang berada di tangan kanan. Tubuhnya menegang saat tahu senyum itu sejenis senyum yang menyeramkan. Tanpa banyak kata Ziddan langsung menggunting dasi yang ia pegang. Menggunting beberapa bagian hingga bagian itu jatuh ke lantai. Setelah dasi itu habis tergunting, ia menjatuhkan gunting ke lantai kemudian menatap Caca yang menatapnya tidak percaya. “Aku suka. Suka lihat dasi itu nggak berbentuk!!” Caca masih syok melihat apa yang baru saja terjadi. Dasi pemberiannya dipotong di depan matanya. “Ke.. Kenapa Mas lakukan ini?” Ziddan menyeringai. Ia berjalan mendekat dan bersedekap. “Kamu tanya kenapa?” Plak!! Ziddan menampar pipi kiri Caca. Tidak terlalu keras tapi cukup menimbulkan rasa panas. Tangan Ziddan terulur ke pipi yang baru saja ia tampar itu. Ibu jarinya mengusap pipi itu dengan lembut. “Bagaimana bisa kau tanya kenapa!!” “Kamu merayu sahabatku!! Kalian bermain api!! Dan kau.” tunjuk Ziddan tepat di depan muka Caca. “Kamu beli dasi untuk suamimu dengan selingkuhanmu!! Aku sebagai lelaki dengan ego yang tinggi jelas nggak terima itu!!” Caca terisak sambil memegang pipinya yang terasa panas. Hatinya sakit, teremas sehingga tidak berbentuk. Bagaimana bisa ia dituduh selingkuh? Berkali-kali ia ingin menjelaskan hubungannya ke Cikko, tapi ia tidak berani. Takut suaminya marah, takut suaminya malu memiliki istri seperti dirinya. “Dia bukan selingkuhanku, Mas,” ucap Caca lirih tapi masih bisa didengar oleh Ziddan. “Omong kosong!!” geram Ziddan. “Mulai besok, aku antar ke kampus!!” “Ta.. Tapi,” ucap Caca terbata. “Nggak ada tapi-tapian!! Atau kamu lebih suka diantar oleh Cikko daripada aku suamimu sendiri?” Caca mengangguk patuh. Tidak berani membantah atau bertanya apa yang telah diucapkan oleh suaminya.   ***   Sudah tiga hari Ziddan mengantar Caca ke kampus. Tidak peduli jam berapa Caca mengajar, Ziddan selalu mengantar saat lelaki itu akan berangkat ke kantor. Saat Caca akan turun dari mobol, Ziddan selalu berpesan agar tidak mendekati Cikko. Caca berkali-kali melihat jam di ponsel. Masih menunjukkan pukul sembilan. Padahal ia ada jam mengajar jam sebelas. Ia berdiri dan meninggalkan ruang dosen yang senyap itu. Ia berjalan mengelilingi kampus yang selalu ramai lalu-lalang para mahasiswa. Caca terus melangkah ke belakang kampus. Pandangannya teralih saat melihat bangku yang selalu ia duduki semasa kuliah dulu. Ia mendekat dan duduk di sana. Bangku itu, bangku di mana selalu menemani hari-harinya semasa kuliah. Bangku ini menjadi saksi bisu saat dirinya masih berpacaran dengan Ziddan. Di tempat inilah biasanya ia menunggu Ziddan. Sepulang dari kantor Ziddan menjemput dan ia selalu menunggunya disini. Caca menatap bagian bangku di sampingnya. Membayangkan wajah Ziddan saat duduk dengan raut yang sedikit lelah. Lalu ia mendekat dan mengusap kening Ziddan dengan lembut. Tanpa terasa air matanya turun membasahi pipi. “Caca kangen Mas Ziddan yang dulu.” Caca tidak tahu mana sifat Ziddan yang asli. Saat masih pacaran atau saat sudah menjadi suami. Ia sendiri juga tidak tahu apa penyebab Ziddan membencinya. Suaminya hanya berkata “Kau dan keluargamu membuat hidupku jadi sengsara!! Kalau tidak keluargamu banyak salah”. “Tunggu,” gumam Caca. Keluargaku sudah lama tidak ada, lalu apa yang keluargaku perbuat kepada Mas Ziddan? Atau kesalahan ini sudah berlangsung lama? pikir Caca. Caca terus berpikir kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Tangannya  lalu merogoh ponsel di saku blazzer hendak menghubungi kakaknya. Namun, ia menekan tombol merah membatalkan panggilan itu. “Aku nggak boleh tanya ke Kak Amelia. Nanti dia kepikiran,” ucap Caca. Caca kembali meletakkan ponsel di saku dengan pikiran yang masih tertuju kepada Ziddan dan keluarganya.   ***   Ziddan sudah menunggu Caca di depan gerbang tidak jauh dari kampus. Ia memang mengantar dan menjemput Caca hanya sebatas depan gerbang, tidak lebih. Ziddan tidak mau para pengurus kampus tahu bahwa Caca adalah istrinya. Kemudian posisi Caca menjadi dihormati. Tidak, Ziddan tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ceklek. Suara pintu penumpang terbuka membuat pikiran Ziddan terputus. Ia melihat Caca yang sudah masuk dan memasang sabuk pengaman. Ia menyalakan mesin mobil dan mulai melaju menjauhi area kampus. “Nggak ketemu Cikko kan hari ini?” Tatapan Ziddan masih menatap lurus ke depan tanpa repot-repot melirik lawan bicaranya. “Tidak, Mas.” Caca sudah hafal tindak tanduk Ziddan. Selalu bertanya saat melajukan mobil dan selalu menatap lurus ke depan tanpa mau meliriknya sedikitpun. “Bagus!!” Setelah itu tidak ada percakapa. Selalu seperti itu saat mengantar atau menjemput Caca. Ia sendiri juga tidak mau banyak berceloteh daripada membuat suaminya emosi. Di perjalanan, Caca memikirkan bagaimana caranya agar tahu kesalahan keluarganya kepada Ziddan. Aku harus mencari tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD