8-Strategi Cikko

1447 Words
Cikko menegadah ke arah langit, menatap awan yang menghiasi langit biru. Ia lalu menoleh ke apartemen dan memutuskan untuk berjalan masuk kemudian berjalan menuju dapur. Ia membuka lemari es hendak mengambil minuman tapi gerakannya terhenti. Tangannya terulur mengambil kalender di atas lemari es dan melihat sebuah tanggal yang ia lingkari dengan tinta merah. Empat Juni, hari ulang tahunnya. Cikko menepuk kening, bagaimana bisa ia lupa hari ulangnya yang jatuh pada hari esok? Ia meletakkan kalender itu, mengurungkan niat mengambil air minum dan berjalan menuju kamarnya. Ia mengambil ponsel yang ada di ranjang dan mencari kontak seseorang. “Halo...” sapa Cikko setelah orang yang ia hubungi mengangkat panggilannya. “Besok mulai jam tujuh sore kosongin kafe lo. Gue pengen ngadain pesta ulang tahun di sana. Ya besok sore. Sorry gue baru inget kalau gue ulang tahun. Oke, thanks. Satu lagi, gue minta tolong ke temen lobikin undangan. Gue minta besok pagi undangannya udah ada di ruangan gue. Tenang aja berapapun gue bayar. Satu lagi, gue cuma ngundang seratus orang,” cakap Cikko kepada orang di seberang sana. Tak lama Cikko mematikan sambungan dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. “Dia harus nemenin gue!! Harus!!”   ***   Keesokan harinya Cikko membawa dua buah undangan menuju ruang kerja Ziddan. Saat melewati meja sekretaris, ia melihat sekretaris Ziddan yang bernama Maya itu sedang mengoleskan lipstik ke bibir yang sudah merah menyala. Cikko geleng-geleng, kalau bukan karena kinerja Maya yang bagus mungkin sahabatnya itu sudah memecat sekretarisnya itu. “Ziddan ada?” Cikko berdiri di depan meja Maya dan meletakkan sebuah undangan yang ia pegang. “Pak Ziddan sedang ada meeting,” jawab Maya dengan senyuman. “Ini undangan buat lo. Oh, ya titip sekalian buat Ziddan. Bilang sama dia jangan lupa dateng,” ucap Cikko kemudian meletakkan undangan milik Ziddan ke atas meja. “Pasti, Pak. Pasti saya hadir,” ucap Maya semringah. “Oke!!” Cikko kemudian berjalan menuju ruangannya.   ***   Caca memeriksa tugas mahasiswanya. Ia memberikan coretan-coretan kecil di lembar itu. Tak lama ia mendengar suara roda berputar. Ia mendongak menatap suara kursi roda yang mendekatinya. “Selamat sore Prof Ad,” ucap Caca sopan. “Selamat sore, Ca! Lagi ngoreksi?” tanya Prof Adi sambil melihat lembar mahasiswa yang berada di atas meja. Caca mengangguk kemudian tersenyum. Prof Adi adalah dosen favoritnya semasa kuliah. Pembawaan yang tenang membuat Caca nyaman belajar beliau. Caca mulai menjadi asdos saat Prof Adi terkena panyakit stroke membuat ruang gerak prof Adi menjadi terbatas. Prof Adi meminta Caca agar menjadi asdos selama ia dalam masa pemulihan. Caca yang mendengar tawaran itu langsung menyetujui. Sebab menjadi pendidik adalah cita-citanya dari dulu. “Sudah sore, Ca. Cepat pulang. Kamu pasti capek menggantikanku,” ucap Prof Adi dengan senyum kebapakan. Caca melirik arloji yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah waktunya ia pulang. “Ah iya, Prof. Saya harus pulang.” “Pulanglah.. Sudah tidak ada jam lagi kan? Lebih baik pulang dan segera istirahat. Saya duluan ya, Ca.” Prof Adi pamit lalu memutar roda kursi roda dengan kedua tangan. “Hati-hati, Prof.” Selepas kepergian Prof Adi, Caca merapikan kertas yang berserakan dan memasukkan ke map coklat. Ia mengambil tas dan berjalan meninggalkan ruang dosen. Caca tidak sabar sampai gerbang kampus dan melihat suaminya menjemput. Ya, meski bukan dijemput dalam arti yang sebenarnya. Tapi itu sudah membuatnya senang, hal itu mengingatkannya kembali saat masih pacaran. Caca terlarut dalam pikirannya tanpa menyadari seseorang yang sedang membuntutinya dari belakang. Tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dan menariknya mundur “Hempppp...” teriak Caca tertahan. Tubuhnya ditarik ke belakang. Seseorang itu menjauhkan tangan dari bibir Caca dan mendorong Caca masuk ke mobil. Ia lalu bergerak ke sisi kemudi sebelum targetnya mulai tersadar. Setelah sampai di bangku kemudi ia menatap Caca dengan senyum lembut. “Cikko!!!” Jantung Caca berpacu cepat. Ia melotot kaget saat sudah di dalam mobil dan di hadapannya ada Cikko yang terlah tersenyum lembut. “Hai, Ca,” sapa Cikko penuh kerinduan. Cikko tersenyum melihat Caca yang masih kaget itu. Ia dengan cepat menarik tas dari tangan Caca dan membuangnya ke belakang. “Apa-apaan, sih!!” ucap Caca jengkel melihat kelakuan Cikko. Ia membuka pintu, hendak keluar sebelum Ziddan mengetahuinya. “Kenapa dikunci!!” “Ikut aku. Sementara waktu tasmu aku sita. Sekarang diam dan duduk.” Cikko mulai melajukan mobil ke tempat yang ia tuju. “Kenapa kamu suka sekali memaksa?” geram Caca. Ia mulai gelisah memikirkan Ziddan. Bagaimana jika Ziddan sekarang menjemput dan menunggunya? Bagaimana jika Ziddan tahu ia sedang bersama Cikko? Apa yang akan Ziddan lakuka jika ia tidak bisa menghindar dari Cikko? “Kalau nggak dipaksa kamu nggak akan mau,” jawab Cikko sambil melirik Caca. “Ini terakhir kalinya kamu memaksaku, aku nggak mau ada yang marah.” “Siapa yang marah? Pacarmu yang marah?” tanya Cikko sambil menegakkan tubuh. Aku nggak punya pacar. Aku punya suami, dan suamiku itu ZIDDAN. ZIDDAN sahabatmu!!! “Sudahlah aku capek berdebat.” Namun lain dimulut lain dihati. Kalimat itulah yang terucap dari bibir Caca.   ***   “Aku minta dengan sangat malam ini kamu bersamaku. Ini malam penting.” Cikko menodorong pintu butik dan menahannya sampai Caca berjalan masuk. Ia lalu mendekati teman SMA-nya dulu, dan menjabat tangannya. “Sil, gue minta tolong. Tolong dandani Caca secantik mungkin. Sekalian pilih gaun dan aksesorisnya. Siapin pakaian buat gue juga,” ucap Cikko kepada Sesil. Cikko membiarkan Caca ditarik oleh pegawai Sesil sedangkan dirinya menunggu bajunya. Sepuluh menit menunggu akhirnya Sesil keluar dengan setelan yang berada di tangan. “Gue rasa ini cocok buat lo. Sekalian lo mandi biar seger. Nanti biar pegawai gue yang bantu sempurnain penampilan lo,” ucap Sesil memberi instruksi ke Cikko. Cikko mengambil setelan yang berada di tangan Sesil. Ia menatap jas abu-abu dengan kemeja abu-abu tua serta celana kain senada dengan jasnya. “Lumayan.” “Oh, ya, selamat ulang tahun kawan,” ucap Sesil sambil memeluk temannya itu sekilas. “Oh ya siapa cewek tadi? Pacar lo?” “Makasih, Sil. Bukan pacar. Masih calon,” ucap Cikko dengan mata berbinar. Cikko lalu meninggalkan Sesil dan berjalan menuju toilet. Dua jam kemudian Caca dan Cikko sudah rapi dengan penampilannya. Cikko segera melajukan mobil ke cafe tempat ia mengadakan pesta ulang tahun. Sesampainya di kafe, Cikko memakirkan mobil ke parkiran paling ujung. Kemudian ia membuka pintu penumpang dan memegang pergelangan Caca. “Kita ke mana lagi, sih? Gak puas apa nyulik aku? Aku mau pulang.” “Hanya untuk malam ini,” ucap Cikko lembut. Ia mengajak Caca memasuki kafe yang masih sepi itu. Hanya para pegawai yang sibuk menata dan memperindah ruangan. “Apa-apaan ini?” tanya Caca tak mampu menutupi kebingungannya. Tatapannya menelusuri kafe tanpa pengunjung itu. Para pelayan juga tampak sedang mempersiapkan sesuatu. “Hari ini aku ulang tahun Caca.” Cikko melihat wajah Caca terlihat pucat. Kemudian Cikko menarik kursi dan membimbing Caca duduk di sana. Tubuh Caca mendadak lemas setelah mendengar kenyataan itu. Akan ada pesta? Cikko memintanya untuk menemaninya di hari ulang tahun lelaki itu? Cikko sahabat Ziddan. Sudah pasti Ziddan akan hadir. Ziddan akan tahu Caca sedang ada di pesta Cikko. Pikiran itu terus menghantui Caca membuat tubuhnya panas dingin.   ***   Ziddan berjalan menuju ruangan. Meeting kali ini membuat energinya terkuras. Saat hendak membuka pintu ruangan, suara sekretarisnya membuatnya menghentikan langkah. “Pak...” “Ada apa?” “Ada undangan dari Pak Cikko, sudah saya letakkan di meja Bapak. Pak Cikko berpesan agar bapak hadir,” ucap Maya. “Oke!!” jawab Ziddan kemudian masuk ruangan. Bukannya membaca undangan, Ziddan malah sibuk membaca lembar hasil meeting tadi. Saat sudah sampai di lembar terakhir ia membaca dengan saksama kemudian menutup lembar itu dan menjadikannya dalam satu map. Tatapannya lalu teralih ke sebuah undangan berwarna putih itu. Ziddan mengambil undangan itu dan membacanya. Ulang tahun Cikko yang ke 28 diadakan malam ini di Kafe Story. Ziddan melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sedangkan acaranya dimulai pukul delapan. Tidak memungkinkan dirinya untuk kembali ke rumah terlebih dahulu. Ziddan bangkit dari posisinya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia menyediakan beberapa pakaian di ruangannya untuk keperluan mendadak, seperti sekarang.   ***   Ziddan sampai di cafe itu pukul 8.30 PM. Ia memakirkan mobil ke parkiran yang sudah padat itu. Tangannya mengambil sebuah kotak berisi kado untuk Cikko. Ia datang terlambat karena membeli kado terlebih dahulu untuk sahabatnya itu. Sebenarnya Ziddan lupa jika hari ini hari ulang tahun Cikko. Ia tidak ingin menambah kesal Cikko karena datang terlambat. Ziddan masuk kafe yang sudah disulap sedemikian rupa itu. Ia terus berjalan sambil mengedarkan pandang mencari keberadaan sang tuan acara. Matanya menyapu ke penjuru kafe, hingga tatapannya tertuju ke seseorang yang berdiri di samping Cikko. Tangannya langsung terkepal melihat seseorang itu ada di sana, bersama Cikko.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD