9-Bad Party

1412 Words
Ziddan mendekati Cikko dengan langkah mantap. Namun, tatapan tajamnya tertuju kepada Caca yang berdiri di samping Cikko. Hari ini Ziddan lupa menjemput Caca, karena sibuk meeting. Sekali lupa menjemput, ia sudah kecolongan. “Sorry gue telat,” ucap Ziddan saat sampai di depan Caca dan Cikko. Ziddan menjabat tangan Cikko dan memeluknya sekilas. Kemudian tangannya terulur memberikan kado yang ia bawa. “Gue kira lo gak dateng. Thanks. Karena lo udah dateng, mending sekarang acara kita mulai.” Caca ketakutan saat Ziddan berdiri di hadapannya. Ia menelan ludah, gugup kala melihat mata suaminya yang menyorot tajam itu. Ia yakin seratus persen saat ini Ziddan sedang marah. Ting.. Ting.. Ting.. Suara ketukan sendok yang beradu dengan gelas membuat tamu undangan menoleh ke sumber suara. Cikko meletakkan gelas dan sendok itu saat dirasa tatapan semua orang sudah tertuju kepadanya. “Selamat malam semuanya,” ucap Cikko yang langsung dijawab oleh seluruh undangan dengan antusias. “Terima kasih atas waktu berharga kalian untuk menghadiri ke pesta ulang tahun ini. Terima kasih juga buat kalian semua yang udah ngucapin selamat. Thanks.” “Hari ini ulang tahun yang berkesan buat gue. Karena gue ditemani sahabat gue yang super ganteng dan wanita cantik di sebelah gue,” ucap Cikko sambil melirik Ziddan di sebelah kirinya dan Caca di sebelah kanannya. “Oke.. Acara malam ini kita mulai saja. Mau tiup lilin dulu atau giamana, nih?” tanya Cikko kepada seluruh undangan. Kemudian yang terjadi adalah suasana kafe itu berubah menjadi ramai dengan lagu selamat ulang tahun. Suara musik dari band kafe juga menambah nyanyian itu menjadi lebih ramai. Cikko make a wish kemudian meniup lilin. Ia lalu memotong kue dan memindahkan potongan kue itu di piring. “Kue pertama buat...,” ucap Cikko menggantung. Ia menoleh ke kiri ke arah Ziddan. Kemudian Cikko menoleh ke kanan, melihat seseorang yang telah mencuri hatinya. “Buat seseorang yang mencuri hatiku,” ucap Cikko kemudian menyuapkan sesendok roti ke mulut Caca. Caca tergagap saat Cikko menyodorkan sendok berisi kue ke mulutnya. Dari balik bahu Cikko, ia melihat Ziddan menatapnya dengan pandangan menusuk. “Terima!!” Para undangan berteriak. Caca semakin bingung. Ia memejamkan mata dan membuka mulut menerima suapan dari Cikko. Ia tidak berani melihat reaksi Ziddan saat Cikko menyuapinya. “Potongan kedua buat sahabat karib gue,” ucap Cikko setelah menyuapi Caca. Ia beralih ke Ziddan yang hari ini lebih sering diam itu. “Potongan ke tiga buat kalian semua,” ucap Cikko dengan terkekeh. Beberapa pegawai tampak sibuk mengantar makanan ke beberapa meja, dan ada juga yang menyingkirkan kue ulang tahun itu ke sudut ruangan. Cikko menoleh ke kiri yang sudah tidak ada sosok sahabatnya. Ia menoleh ke kanan dan mendapati Caca tengah menatap sebuah panggung tempat band kafe sedang bernyanyi. “Kamu mau bernyanyi?” Caca yang sebelumnya sibuk dengan pikirannya sendiri seketika mengalihkan pandang. Ia mengangguk tanpa tahu pasti apa yang sedang diucapkan Cikko. “Ayoo.” “Ehh... Ngapain?” Caca mulai bingung saat Cikko menariknya ke atas panggung. “Katanya mau nyanyi? Ayoo!” Cikko mengambil mic dan memberikannya kepada Caca. “Selamat malam. Mari kita dengar suara dari Caca.. Semoga kalian suka,” ucap Cikko kepada tamu undangan. Ia mendekati Caca dan mengecup kening wanita dengan lembut. Tubuh Caca membeku saat bibir Cikko menempel di dahinya. Ini masih di atas panggung, kenapa Cikko malah bertindak seperti itu. Perlu diingat dalam ruangan ini masih ada Ziddan. Caca menoleh ke panggung yang kini hanya ada dirinya. Ia berjalan mendekat ke arah band yang berada di sebelah kiri untuk memberitahu lagu apa yang hendak dinyanyikan. Alunan musik itu mulai mengalun memenuhi penjuru kafe yang tadi sempat sunyi itu. Ia mengembuskan napas kemudian mulai bernyanyi. Kau boleh acuhkan diriku Dan anggap ku tak ada Tapi takkan mengubah perasaanku Kepadamu Caca mengedarkan padang. Ia melihat tamu udangan menatapnya. Kemudian tatapannya beralih ke sudut kanan ruangan, di mana Ziddan tengah menatapnya dengan pandangan intens. Kuyakin pasti suatu saat Semua kan terjadi Kau kan mencintaiku Dan tak akan pernah melepasku Lirik itu merupakan ungkapan hati Caca. Ia terus menatap wajah Ziddan yang masih mengeras itu. Sedangkan Ziddan menatap Caca dengan perasaan campur aduk. Antara rasa marah, kesal dan sedikit tersentuh hatinya. Aku mau mendampingi dirimu Aku mau cintai kekuranganmu Selalu bersedia bahagiakanmu Apapun terjadi Kujanjikan aku ada Suara musik masih menggema. Caca masih menatap Ziddan tanpa mengalihkan pandang. Aku mau mendampingi dirimu Aku mau cintai kekuranganmu Aku yang rela terluka Untukmu selalu Tanpa terasa sudah sampai bagian akhir. Caca memutuskan kontak mata dengan Ziddan lalu menatap sekeliling yang tengah memberikan tepuk tangan kepadanya. Caca kembali menatap ke tempat Ziddan tadi berdiri. Namun, Ziddan sudah tidak ada di sana. Pandangannya lantas menyapu ke penjuru kafe. Ke mana perginya? “Ayo.. kamu belum makan, kan?”  Cikko menarik tangan Caca turun dari panggung. Caca kaget saat tiba-tiba Cikko berada di sebelahnya. Ia menurut saja tangannya digenggam Cikko. Sedangkan matanya masih mencari di mana keberadaan suaminya. “Ahh...,” rintihCaca saat ada seseorang menariknya dengan kasar. Ia menoleh, seketika ia menghentikan langkah dan menatap Ziddan dengan takut. “Kenapa berhenti?” tanya Cikko menyadari tiba-tiba Caca menghentikan langkah. Ia menoleh dan mendapati Ziddan dengan tubuh yang terlihat tegang. “Kamu sudah makan? Ayoo makan sama kita,” ajak Cikko kepada Ziddan tanpa sadar bahwa kedua orang itu tengah bersitegang. “Ikut aku!!” Tubuh Caca tertarik oleh Ziddan. Sedangkan tangan satunya lagi masih dipegang oleh Cikko. Entah karena seretan Ziddan yang terlalu kasar atau Cikko yang melepaskan, Caca merasakan tangan Cikko sudah tidak berada di tangannya. Caca tidak berani meronta, ia terus mengikuti langkah Ziddan yang keluar dari kafe lewat pintu belakang. Cikko menatap Caca yang diseret oleh sahabatnya itu. Ia mengernyit, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu ia mengikuti Caca dan Ziddan yang keluar lewat pintu belakang itu. “Ziddan!!!” Cikko berlari mengejar Ziddan yang hampir sampai di area parkir. Cikko langsung menarik tangan Caca membuat wanita itu seketika mengentikan langkah. Ziddanbseketika menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. “Dan!! Apa-apaan, sih!!” ucap Cikko tidak mengerti kelakuan sahabatnya itu. Ziddan melepas tangannya dari tangan Caca. Ia lalu menatap Caca dan Cikko bergantian. Tatapan Ziddan sedikit menunduk dan melihat tangan Cikko yang menggenggam tangan Caca. “Ca!! Sini.” Caca menunduk tidak berani menatap suaminya yang terlihat menakutkan itu. Terlebih setelah mendengar suara datar Ziddan, membuat tubuhnya langsung lemas seketika. Genggaman di tangan kanannya membuat Caca mendongak dan melihat Cikko yang menatap Ziddan penuh tanya. Caca lalu memberanikan diri menatap suaminya. “Sini!!” “Lo kenapa, sih? Caca nggak mau deket lo. Udahlah Dan, lo ada masalah apa sih sama Caca?” “Sini!!” Ziddan tidak menjawab atau menatap Cikko sedikitpun. “Cikko... Lepas!” Caca mencoba melepas genggaman Cikko. Setelah tangannya terlepas dari genggaman itu, Caca berjalan ke arah suaminya. Ia berdiri di samping Ziddan dengan tubuh gemetar. Caca kaget saat tangan Ziddan bertengger manis di pinggangnya, membuat jantungnya berdegup lebih cepat. “Dan!! Lo apa-apaan sih!!”  Cikko mendekat hendak menarik tangan Ziddan yang bertengger di pinggang Caca. Cikko mencoba melepaskan tangan Ziddan tapi sahabatnya itu semakin menguatkan pegangannya. “Aw...” Cikko yang menyadari itu langsung mengentikan pergerakannya dan menatap Caca. “Ca, kamu nggak apa-apa?” “Dan.. Lo nyakitin dia tahu nggak!!” Cikko mulai emosi karena tidak mendapatkan respons apapun dari Ziddan. “Ayo ikut aku, Ca,” ucap Cikko menarik tangan Caca. Namun, Caca bergeming membuat Cikko mengernyit. Ada apa antara mereka berdua? “Ziddan please!! Apa mau lo?” teriak Cikko yang mulai habis kesabaran. “Jauhin dia.” Cikko menatap Ziddan tidak percaya. “Lo nggak berhak ngatur-ngatur hidup gue dan Caca!!” “Gue berhak,” jawab Ziddan dengan santai. “Lo bukan siapa-siapanya, Dan. Lo udah punya istri inget itu!!” ucap Cikko mengingatkan. “Justru wanita yang berhasil mencuri hati lo itu istri gue!!”  Ziddan menunduk menatap tajam istrinya. “Apa!!!” teriak Cikko tidak percaya. “Bilang statusmu, Sayang.” Caca mendongak, menatap Ziddan takut-takut. Kemudian menatap Cikko yang menatapnya frustrasi itu. “Aku.. Is.. istri Mas Ziddan.” “Kegilaan apa yang telah kalian perbuat!” Cikko tidak habis pikir Caca dan Ziddan bertindak seperti ini. Saat pertemuan mereka di restoran jawa, mereka seolah tidak mengenal satu sama lain. Tapi nyatanya, Caca adalah istri Ziddan. Demi Tuhan banyak yang bernama Caca dan kenapa Cikko jatuh cinta kepada Caca—istri Ziddan? “Kado dari kalian memang indah. selamat ini bad party yang pernah gue alami!” ucap Cikko kemudian meninggalkan pasangan suami istri itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD