10-Patah Hati

1306 Words
Pasangan suami istri itu menatap punggung seseorang yang berjalan menjauh. Suasana parkiran yang tadi sempat ramai karena terjadi perdebatan, kini mulai hening kembali. Caca menatap kepergian Cikko dengan perasaan penuh rasa bersalah. Pesta ulang tahun Cikko harus berantakan karena dirinya. Dua sahabat itu baru saja bertengkar, dan itu karena dirinya. Caca menunduk tidak tahu harus bersikap bagaimana. Di sisi lain ia ingin mengejar Cikko dan menjelaskan semua kesalahpahaman sejak awal mereka bertemu. Namun, di sisi lain ia harus menurut dengan suaminya. Suami yang baru saja mengakui bahwa ia adalah istrinya. Ziddan menatap Cikko yang perlahan menghilang ke dalam kafe. Ia tahu, sahabatnya sekarang tengah patah hati. Ziddan menunduk, menatap istrinya yang juga menunduk itu. “Sudah puas membuat kekacauan huh?” Tangan Ziddan yang tadi melingkar di pinggang Caca, kini ia lepas begitu saja. Ziddan langsung masuk mobil tanpa tahu tubuh Caca hampir saja limbung. Ziddan duduk di bangku kemudi. Tangannya ia lipat di atas kemudi, sedangkan wajahnya menatap ke depan dengan tatapan kosong. Baru pertama kali ini ia bertengkar dengan Cikko dan itu karena wanita. Ziddan menoleh ke kursi penumpang yang masih kosong. Ia menatap depan dan melihat Caca masih berdiri di tempat semula. Ziddan mulai geram, ia menekan klakson dengan kencang. “Cepat masuk!!” Jantung Caca berdegup kencang. Ia mendengar perintah suaminya itu agar segera masuk. Ia berjalan dengan pelan, entah kenapa ia enggan untuk pulang. Ia tahu pasti suaminya akan memarahinya. Sesampainya di dekat mobil, tangannya bergetar. Belum sempat tangannya menggapai, pintu mobil sudah terbuka dan memperlihatkan seseorang yang tengah menatapnya marah. “Lelet!!” Caca langsung masuk sebelum suaminya itu meninggalkannya. Belum sempat ia memakai sabuk pengaman, mobil sudah melaju dengan kencang. Mobil Ziddan meliak-liuk melewati satu persatu mobil di depannya. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat. Ziddan terus melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, tanpa peduli istrinya yang berkeringat dingin karena ketakutan.   ***   “Hahh..” Caca menarik napas setelah menahan napas di dalam air. Ia tak henti menangis karena kemarahan suaminya. Untungnya ada air yang menyembunyikan tangisnya. Setelah sampai rumah, Ziddan langsung menyeretnya dengan kasar bahkan Caca sempat terjatuh di anak tangga karena tidak bisa mengimbangi langkah suaminya. Sesampainya di kamar, Ziddan langsung menarik Caca ke kamar mandi dan menyuruh Caca berbaring di bathtub. Setelah ia berbaring, Ziddan mengisi air dalam bathtub hingga air itu perlahan membasahi tubuhnya. “Sudah aku katakan berkali-kali!! Jauhi Cikko. Cikko nggak pantas bersandingmu!!” Telinga Caca meremang mendengar kalimat itu. Air mata kembali menetes membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak. “Aku peringatkan sekali lagi!! JAUHI CIKKO!!” Ziddan bangkit dari posisinya laly menunduk melihat penampilan Caca yang tidak keruan. Bekas make up di wajah saat ini berantakan. Ziddan tersenyum sinis. “Malam ini kau tidur di sini!! Balasan karena kau telah berani berselingkuh!!” Ziddan berbalik menuju pintu, menarik kunci yang menggantung dan mengunci dari luar. “Hiks....” Selepas kepergian Ziddan, Caca menangis sejadi-jadinya. Raung tangisnya memenuhi kamar mandi yang dingin itu. Bahunya bergetar hebat. Caca melipat lutut di depan d**a, wajahnya ia sembunyikan di lutut masih dalam posisi di dalam bathtub. Caca menangis, memikirkan kenapa bisa Ziddan bersikap sejahat itu. Kesalahan yang ia perbuat bisa dibilang kecil. Tapi kenapa Ziddan begitu marah? Ia masih saja menangis tanpa memerdulikan kulitnya yang mulai mengeriput karena terlalu lama berendam.   ***   Cikko memandang tas milik Caca yang sempat ia sita sebagai jaminan. Sejak tadi ia terus memikirkan apakah ia harus membuka tas itu demi rasa penasarannya. Demi Tuhan, dari sekian banyak nama Caca dan ternyata ia jatuh cinta kepada Caca istri Ziddan. “Arghh!!” Sudah lebih satu jam Cikko memandangi tas itu dengan gamang. Ia ingin membuktikan tapi ia takut saat mengetahui kenyataannya. Cikko memundurkan tubuh, punggungnya bersandar di sandaran sofa. Pikirannya memutar bagaimana Tuhan mempertemukan dirinya dan Caca. Cikko langsung menegakkan tubuhnya saat ia ingat wajah Caca yang terlihat tidak asing baginya. “Jadi benar dia istri Ziddan!!!” Cikko mengambil tas itu dan meletakkan di pangkuan. Perlahan ia mulai membuka tas itu lalu mencari dompet milik Caca. Setelah itu ia mulai mengeluarkan dompet itu dengan jantung berdegup kencang. Cikko membuka lipatan demi lipatan dompet. Ia menarik sebuah kartu tanda penunduk, melihat status Caca yang tertulis menikah. Cikko terus mencari sesuatu lagi yang lebih meyakinkan. Ia membuka lipatan selanjutnya yang berisi beberapa foto. Senyumnya terukir melihat foto-foto Caca. Tangannya terus membuka beberapa lembar foto itu, hingga foto berikutnya berisi foto Ziddan. Tangan Cikko berkeringat, ia terus membuka foto-foto lainnya. Foto itu bergambar Caca dan Ziddan saat hari pernikahan mereka. Caca bersenyum lebar dengan tangan Ziddan melingkar di pinggang wanita itu. Latar belakang foto itu di atas pelaminan. Cikko ingat betul dekorasi pelaminan dan ia harus mengakui ia telah kalah. Caca sudah berkeluarga dan ia pantang merebut wanita yang sudah berkeluarga. Buru-buru ia kembali merapikan foto-foto itu dan mengembalikan ke tempat semula. Perlahan Cikko baringkan di sofa. Pikirannya melayang akan kejadian di pesta ulang tahun tadi. Baru beberapa jam yang lalu ia berdoa kepada Tuhan, agar mendekatkan Caca jika gadis itu jodohnya. Namun, jika Caca bukan jodohnya ia akan mundur dengan perlahan. Tuhan telah menjawab doanya dengan begitu cepat. Caca memang bukan jodohnya. Lantas apakah itu artinya ia harus mundur? “Apa aku harus menjauhi mereka!!!” Tangan Cikko mengusap wajah dengan frustrasi. Ia tidak habis pikir kenapa kehidupan cintanya serumit ini. Mencintai istri sahabatnya, bukan ciri seorang lelaki sejati. Andai ia bertemu dengan Caca lebih dulu, mungkin ia akan berada di posisi Ziddan. Ziddan pasti beruntung bisa dapetin Caca. “Tunggu.. Tunggu.. Kalau Caca istri Ziddan. Berarti yang selalu disiksa Ziddan adalah....” Cikko menegakkan tubuh. Pikirannya berkelana ke Ziddan dan Caca. Pertemuan mereka di restoran jawa yang pura-pura tidak saling kenal. Lalu, saat ia meminta saran kepada Ziddan dan sahabatnya selalu menjawab dengan datar. Saat ia bercerita telah jatuh cinta kepada Caca, saat itu Ziddan langsung beteriak kaget. Ia dulu tidak terlalu memikirkan hal itu, tapi saat semuanya terungkap memang benar ada keganjilan yang terjadi. “Apa ini ulah Ziddan?” Cikko melihat jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Ia memutuskan untuk tidur dengan rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya.   ***   Tettt.. Tettt.. Tettt.. Pukul tujuh pagi Cikko bertamu ke rumah Ziddan. Ia terus menekan bel berkali-kali. Sudah sepuluh menit ia berdiri di depan pintu tapi tidak ada sahutan. Cikko terus menekan bel hingga pintu itu terbuka. “Siapa sih!!” ucap Ziddan dengan jengkel. Masih jam tujuh pagi tapi bel rumahnya sudah berbunyi, hal yang jarang terjadi. “Hai, Dan,” ucap Cikko saat pintu terbuka. Ia melihat penampilan Ziddan yang masih memakai celana pendek dengan bertelanjang d**a itu. “Ngapain lo pagi-pagi ke sini?” Ziddan mempersilahkan Cikko sedangkan dirinya langsung duduk di sofa. “Lo nggak mau ganti baju dulu?” sindir Cikko. “Nggak!! Cepet ada apaan. Kenapa nggak diomongin di kantor aja?” “Gue mau ngembaliin ini.” Ziddan menatap tas yang disodorkan Cikko. Alis Ziddan terangkat, tanda ia tidak tahu apa maksudnya. “Sebenernya gue masih marah ke lo,” ucap Cikko menatap Ziddan tajam. Sedangkan Ziddan santai-santai saja menatap Cikko. “Kenapa harus marah? Lo harusnya terima kasih sama gue karena lo belum jatuh cinta terlalu dalam sama w*************a itu.” Tangan Cikko langsung terkepal erat saat mendengar Ziddan mengucapkan 'w*************a'. Cikko tahu,  kata-kata itu tidak pantas untuk Caca. Bukan Caca yang menggoda dirinya, tapi dirinya yang selalu mencari kesempatan agar bisa mendekati Caca. “Dia nggak seperti itu,” protes Cikko. “Gue minta maaf uda jatuh cinta sama istri lo. Tapi demi Tuhan gue nggak tahu itu istri lo!!!” “Oh.” “Demi Tuhan, Ziddan!!! Hati lo ketutup sama dendam!! Tunggu, karma masih berlaku, Dan. Lo sekarang boleh sia-siain istri lo, nggak anggap dia ada. Tapi suatu saat nanti, hal itu akan berbalik. Lo bakal ngerasain gimana nggak dianggep. Kalau hal itu terjadi, lo jangan pernah minta bantuan sama gue!!!!” ucap Cikko penuh emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD