Ziddan sampai di sebuah rumah yang ia bangun dengan jerih payahnya sendiri. Ia memakirkan mobil dan berlari menuju rumah. Jantungnya berdegup lebih kencang, entahlah yang jelas ada perasaan membuncah dan itu terjadi sejak sebulan yang lalu. “Hahaha...” Ziddan hendak menaiki tangga, tapi ia mengurungkan niat saat mendengar tawa renyah. Ziddan berjalan ke pintu dapur dan mendapati istrinya sedang duduk sambil memegang ponsel. “Lihat lucu sekali keponakanku ini,” ucap Caca sambil melihat layar yang menunjukkan wajah anak kecil yang sedang mengerjapkan mata. Ia tertawa bahagia melihat keponakan yang hanya bisa ia lihat via video call itu. “Kamu terlihat pucat, Dek,” ucap Amelia. Caca tersenyum kemudian memejamkan mata sejenak. “Aku sedikit pusing.” Ziddan yang mendengar itu langsung pan

