Bagian 1
•••
Banyu Seno Prihatmoko dengan segala kejahilannya. Sebagai kakak tertua dari lima bersaudara menjahili adik adik adalah kesempatan paling terbuka yang pernah ada. Apalagi ketika Papi sedang sibuk dengan urusan kantornya. Kesempatan itu justru memanggil manggilnya dengan anggun. Lima bersaudara? Betul. Papi bukan penganut sekte banyak anak banyak rejeki. Sama sekali bukan. Mengingat bagaimana pengeluaran Arjuna dan si kembar yang bisa membuat kepala Papi juga Banyu pecah dibuatnya. Jelas rejeki bukan faktor kenapa Papi punya banyak anak.
Papi pernah cerita, katanya dulu mereka pun hanya menginginkan tiga anak saja. Namun karena ketiganya cowok sedangkan Papi ingin sekali punya anak cewek tambah satu lagi mungkin tidak akan membebani. Tapi Mami malah mengandung laki laki lagi, kembar pula. Alhasil, jadilah lima bersaudara. Dalam adat Jawa, lima anak disebut dengan Pandawa Lima.
Pandawa Lima adalah sebutan paling sering dilontarkan nenek dan kakek atau tante tante dari keluarga besar Mami dan Papi. Mirip sekali dengan tokoh pewayangan itu. Kadang mereka juga melontarkan tanya, kenapa tidak diberi nama dengan tokoh wayang Pandawa. Yudistira untuk anak pertama dan seterusnya. Papi juga tidak tau akan punya lima anak, itu jawaban yang sering Banyu dengar.
Banyu bukan pemarah. Baginya, marah sampai meluap luap itu bukan cara yang tepat untuk melepaskan emosi. Namun bukan berarti Banyu tidak pernah marah. Pernah, ketika Arjuna terlibat perkelahian di SMA nya. Banyu adalah orang pertama yang datang dan langsung kalap karena tingkah Arjuna. Jika Abimanyu tidak datang waktu itu, mungkin Arjuna sudah jadi perkedel kentang rasa cuka. Namun setelah itu Banyu adalah orang pertama yang meminta maaf. Seperti ajaran Mami, salah atau tidak. Kebiasaan meminta maaf harus selalu dijunjung. Dan itu berlaku bagi siapa saja. Bahkan Papi kepada si kembar atau sebaliknya.
Namun semua itu karena Banyu sayang. Idih banget. Tapi memang begitu adanya. Terlampaui sayang, Banyu bahkan tidak akan segan berkelahi demi membela keluarganya.
Nama adik pertamanya adalah Abimanyu Gafi Prihatmoko. Biasa dipanggil Mas Abim. Siapapun dirumah memanggilnya begitu. Banyu juga Papi karena mereka membahasakan si kembar agar memanggil Abimanyu dengan sebutan Mas. Seperti Banyu yang diberi kata Abang sebelum Banyu.
Abimanyu ini adalah anak paling pintar diantara kelima bersaudara. Di kamarnya berjejer piala ini dan medali itu. Banyak tempelelan sertifikat di dinding dinding kamar membuat Arjuna atau Banyu kadang mencibir, itu kamar atau galeri sertifikat. Namun semua orang dirumah tetap bangga padanya. Belum lagi gelar lulusan terbaik yang diperolehnya.
Mas Abim ini badanya gede. Kalo kata Banyu, mirip tukang pukul yang biasanya ada di pasar pasar. Wajah Mas Abim dengan dagu runcing dan sorot mata tajam sering membuat orang lain salah paham. Menerka bahwa Mas Abim itu anak nakal yang galak dan menyeramkan. Padahal sebaliknya. Mas Abim adalah anak Mami dan Papi yang paling baik dan yang paling bisa diandalkan. Paling sering menjadi penengah antara perkelahian saudara saudaranya. Namun karena kebaikannya itu Mas Abim justru lebih sering menjadi bahan bullyan dari adik adik. Untungnya Mas Abim sabar.
Anak nomer tiga namanya Arjuna Nayaka Prihatmoko. Dipanggilnya Kak Juna aja. Atau Kak Arjuna juga boleh. Menurut Banyu, Arjuna ini anak paling unik diantara semua anak Mami dan Papi. Banyu tidak ingin menyebutnya nakal atau semacamnya meskipun selama SMA Banyu sudah tak terhitung berapa kali menyelesaikan permasalahan Arjuna di sekolah. Namum di otak Banyu itu bukan kenakalan. Hanya rasa tidak terima yang di lampiaskan dengan permasalahan permasalahan di sekolah.
Kenapa? Banyu juga tidak tau. Namun satu hal yang memicu bisa saja karena kepergian Mami. Mami berpulang karena kecelakaan lalu lintas ketika Arjuna berumur empat tahun. Kecelakaan yang terjadi ketika Mami akan mengantar Arjuna ke rumah nenek. Dan yah, kecelakaan itu terjadi. Arjuna adalah satu satunya saksi bagaimana Mami meninggal ditempat sembari memeluk Arjuna yang duduk di kursi samping. Mungkin itu adalah trauma yang membuat Arjuna seperti itu. Tapi tidak semua hal buruk ada pada Arjuna. Dia itu baik, kok. Apalagi pada si kembar. Rasa Sayang Arjuna pada si kembar mungkin mengalahkan rasa sayang semua anggota keluarga. Banyu juga tidak tau alasannya. Namun Arjuna akan membela Kembar ketika mereka dimarahi.
Dari tadi membicarakan si kembar terus. Jadi mari kita kenalan. Andhika Aji Prihatmoko adalah kakak. Lahir delapan menit sebelum adik namun tetap membuatnya berada di tanggal yang berbeda. Adhitama Ali Prihatmoko adalah adik.
Orang orang tidak percaya jika Aji dan Ali kembar. Namun mereka memang kembar. Dulu Banyu juga tidak percaya. Ia perna tanya ke Papi kenapa Aji dan Ali sangat berbeda. Jawaban Papi sangat membingungkan namun Banyu bisa memahaminya ketika dia SMA.
Katanya, seorang perempuan itu punya dua indung telur. Dan akan bekerja di salah satunya saja untuk membentuk janin. Namun di kasus Mami kedua indung telur itu berhasil memproduksi telur yang juga berhasil dibuahi. Jadilah dua anak dalam satu rahim. Kenapa berbeda antara wajah Ali dan Aji? Ya karena mereka dari telur yang berbeda. Beda lagi jika kembar identik, mereka dari telur yang sama namun dengan pembelahan yang berbeda.
Wajah Aji lebih mirip Papi sedangkan wajah Ali lebih mirip Mami. Namun sifat keduanya itu sama. Ada banyak hal yang membuat Aji juga Ali berbeda namun untuk urusan keras kepala keduanya sama sama kuat.
Sekarang kita bicarakan Papi. Papi adalah direktur dari salah satu perusahaan yang dirintisnya bersama sahabat. Tidak terlalu besar namum sanggup memberikan gaji delapan digit setiap bulan. Jika ada lembur, mungkin bisa sampai sembilan digit.
Papi ini tidak terlalu dekat dengan anak anaknya kecuali Banyu dan Ali. Tentu karena kesibukan Papi. Namun Banyu tetap menjadikam Papi role model apapun yang terjadi.
"Kamu tau kenapa hujan turun saat pemakaman Mami?" kata Papi suatu malam. Ketika Banyu sedang menangis hebat karena rindu dengan Mami. Papi masuk ke kamar tanpa mengetuk, langsung duduk dan berkata begitu saja.
"Karena langit ikut menangisi kepergian Mami?" Banyu menjawab dengan tangisnya.
"Iya, karena langit menangis. Seluruh bidadari di atas sana menyambut kedatangan Mami. Juga agar Banyu tidak kelihatan sedang menangis." ucapan Papi kala itu membuat Banyu berhenti menangis. Bukan karena tidak pantas, namun teringat kata kata Mami.
"Kamu kan Abang, Banyu. Jadi pantang buat kamu menangis. Tapi bukan berarti kamu tidak boleh menangis, berusahalah agar adik adikmu tidak melihatmu menangis."
"Setiap kali Papi menangis dulu, selalu disisi Mami." Papi menatap Banyu teduh. Sorot mata itu masih sangat nyata. "Lihat kan, laki laki juga boleh menangis."
Sejak hari itu Banyu menjadi dekat dengan Papi. Untuk sekedar duduk duduk menatap bulan kesukaan Mami sambil ngobrol. Menceritakam seputar kehidupan kampus dan masalah masalah didalamnya. Termasuk kelakuan adik adiknya yang tidak pernah sempat Papi perhatikan.
Terakhir adalah Mami. Bidadari satu satunya dirumah yang ternyata harus naik ke kayangan lebih cepat. Banyu menangis, namun tidak betulan menjerit seperti Arjuna atau Abimanyu. Banyu berusaha keras menyembunyikan air matanya. Dan untung langit sedang menangis juga kala itu jadi dia bisa menangis sambil bersembunyi dibawah hujan.
Kesan pertama jika kalian melihat Mami adalah wajah teduhnya. Sorot mata tenangnya juga senyum manisnya. Banyu pernah menyangka jika Mami betulan bidadari karena kecantikan itu. Jadi teringat legenda rakyat tentang jaka tarub yang sering ia dengar dari Mami sebelum menidurkan Banyu, Abimanyu juga Arjuna.
"BANG BANYU!!!?? LIHAT TOPI UPACARA ADEK NGGAK?"
Banyu terperanjat mendengar lengkingan suara kembar. Itu Aji, manusia dengan malasnya. Meletakkan seluruh benda sembarangan dan membuat orang lain harus menyingkirkannya. Namun akan mencari dan menyalahkan orang lain jika barangnya tidak dia temukan. Banyu keluar dari kamarnya hanya untuk mendapati rumah yang berantakan.
"Aji? Kamu apain rumah?"
"Bang, topi Aji kemana, ya?"
Banyu menghela napas mendapati bantal bantal sofa kesana kemari. Karpet miring hingga sofa yang sedikit bergeser. "Kan bisa tanya ke abang dulu sebelum kamu hancurin rumah."
"Bang, Mas, Dek? Ambilin handuk, dong. Kak Juna lupa bawa handuk." satu lagi berteriak dari dalam kamar mandi.
Jika Ali atau Abimanyu juga berteriak, Banyu bersumpah akan mengikat mereka di pohon mangga depan rumah hingga besok pagi.
"Bang? Liat Laptop Mas?"
Betulan. Banyu ingin mengikat adik adiknya di pohon mangga depan rumah.