Suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai terdengar menggema, membuat Lizy berbalik dan menatap wanita berambut pirang dan berpenampilan seksi. Wanita yang kemarin ia lihat masuk ke ruangan Lukas.
Wanita itu mendekati Lukas kemudian melayangkan tamparannya di pipi Lukas. Hingga terdengar ngilu.
“Kau!” Napas wanita itu menderu dengan wajah memerah kesal. “Kenapa kau bawa jalang ke sini?” lanjutnya lagi.
“Tutup mulutmu, Emily,” balas Lukas dengan suara rendah dan nada dingin.
Lukas menarik tubuh Lizy mendekat dan merengkuh pinggulnya, hingga tubuh mereka menempel. Dengan tak mengerti, Lizy hanya bisa pasrah dan menurut saja.
“Dia kekasihku, jadi jaga ucapanmu padanya,” desis Lukas dengan dalam.
“Apa?!” Wanita itu menggeram dengan kesal. Ia menatap Lizy dalam rengkuhan Lukas dengan marah. “Gadis jelek ini kekasihmu? Lukas! Kita sudah membicarakan pernikahan ini, kenapa kau ...”
“Aku tidak akan pernah menikahimu, Emily. Kau sudah menipuku, sebaiknya kau pergi dari perusahaanku,” tukas Lukas dengan nada menggeram dalam.
Lizy merasakan pinggulnya di cengkeram dengan kuat oleh Lukas, ia hanya bisa diam karena tak mengerti dengan keadaan saat ini.
“b******k kau Lukas!” teriak wanita itu.
Kemudian wanita itu pergi dari ruangan Lukas, setelah menutup pintu dengan keras dan kasar. Sedangkan Lizy masih menatap pintu yang telah di tutup itu, ia bahkan melupakan rengkuhan Lukas di tubuhnya.
“Kau adalah gadis yang menarik,” ujar Lukas dengan suara rendahnya.
“Ya?” Lizy mendongak hingga tatapan mereka kembali bertabrakan.
Lukas menatap wajah cantik Lizy dengan dalam, dan wajah itu membuatnya terpesona. Gadis muda yang membuatnya terpesona, itu sangat lucu bagi Lukas.
Lukas tak pernah serius menjalani hubungan dengan para wanita, ia masih menganggap bahwa mendiang istrinya masih ada mengawasinya. Meski selama sepuluh tahun ia tak menikah lagi, Lukas seorang pemain wanita yang handal. Tak ada yang membuatnya terpesona ataupun menarik hatinya.
Namun Lizy McKayla, sudah membuatnya tertarik sejak pertemuan pertama mereka di pesta saat itu. Hal yang bagi Lukas sangat lucu adalah ketika ia tertarik pada gadis muda yang berusaha bersikap dewasa seperti Lizy.
“Aku akan memberikanmu satu kesepakatan,” kata Lukas.
Lizy mengerutkan dahinya semakin dalam. “Maksud Presdir?” tanyanya.
Saat sadar dirinya masih direngkuh Lukas, gadis itu buru-buru melepaskan diri dan menjauh dengan wajah merona merah. Juga detak jantung yang masih berdetak keras.
“Jadi kekasihku, dan aku bisa memberikanmu apa saja yang kau inginkan,” ujar Lukas.
Lizy menggelengkan kepalanya semakin tak mengerti, ia pikir Lukas tak akan tertarik oleh gadis seperti dirinya. Perbedaan mereka terlalu jauh, bahkan untuk menjadi sekretaris Lukas saja nyaris tak mungkin, apalagi menjadi kekasihnya. Jika dirinya dibandingkan dengan wanita dewasa tadi, tentu saja kalah.
“Maaf, Presdir. Apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Lizy.
Lukas diam, menatap wajah cantiknya yang merona. Kemudian pria itu mengulas seringainya dengan samar.
“Menjadi kekasih bayaranku?” kata Lukas.
Lizy membulatkan kembali matanya, ia tak menyangka maksud Lukas seperti ini. Jantungnya yang semula berdebar keras, kini terasa hancur, dan wajahnya yang merah merona, kini terasa hendak menangis. Bagaimana bisa ia menyukai pria seperti Lukas? Yang hanya menjadikannya kekasih bayaran?
Jadi Lukas hanya menganggapku w************n? Bisik Lizy dalam hati.
Lizy menatap Lukas dengan wajah siap menangis. “Maaf Presdir, saya bukan w************n,” katanya dengan suara tercekat.
Setelah mengatakan itu Lizy keluar meninggalkan Lukas yang sedang menatapnya dengan tajam dan dalam.
Di sepanjang koridor, Lizy menahan air matanya dan mengepalkan kedua tangannya. Jadi percuma saja ia merubah penampilannya kalau berakhir dengan Lukas menganggapnya w************n.
(*0*)(*0*)
Malam ini Lizy pulang sendiri, ia sengaja memilih lembur dan mengerjakan pekerjaannya sekaligus. Meski Elina dan Calvin melarangnya lembur, namun Lizy masih ingin menyibukkan dirinya. Perkataan Lukas padanya siang tadi, seakan menampar dirinya, bahwa gadis sepertinya tak pantas mendapatkan seorang pria seperti Lukas.
Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri, ia berjalan menuju halte bis untuk pulang ke apartemen. Dinginnya angin malam membuat Lizy sedikit menyesali dirinya yang berpenampilan seperti itu.
“Padahal itu ciuman pertamaku, tapi dia sudah lancang mengambilnya. Kenapa cinta pertama sangat sakit? Kenapa aku harus menyukai pria sepertinya. Kenapa Lizy? Dasar bodoh.” Lizy terus menggerutu dengan kesal pada dirinya sendiri.
“Aku ciuman pertamamu?” Suara bisikan yang dalam dan rendah terdengar dari belakang tubuh Lizy.
Gadis itu mengerutkan dahinya saat mendengar suara seksi Lukas, ia menggelengkan kepalanya dan memukulinya, untuk menghilangkan suara Lukas dari kepalanya.
“Aku menyesal telah menyukainya,” gumam Lizy lagi.
“Jadi kau menyukaiku?” Suara rendah dan setengah serak itu terdengar lagi.
“Ih! Kenapa suara jeleknya selalu muncul,” teriak Lizy dengan kesal. Gadis itu berjalan cepat, namun tangannya ditahan dari belakang.
Lizy berhenti, merasakan sebuah tangan besar dan kokoh menahan tangannya dari belakang. Dengan perasaan gugup, gadis itu menoleh perlahan.
Ketika berbalik , matanya melebar dan rahangnya nyaris terjatuh, melihat Lukas sedang berdiri dengan gagah di belakangnya. Sambil menatapnya dengan dalam dan tajam.
“Pres ...” Bibir Lizy terasa kelu dan tak bisa berkata-kata. Mata bulatnya bergerak gelisah, ia menarik tangannya dan hendak kabur. Namun Lukas menarik tangannya dan merengkuh pinggangnya. Membuat Lizy terjatuh dalam pelukannya.
“Jadi kau menyukaiku? Dan itu ciuman pertamamu? Apa aku mencurinya?” bisik Lukas dengan suara seksinya. Bibirnya menyeringai samar, ia merasa benar-benar tertarik dengan Lizy.
Lizy terdiam dengan wajah pucat dan tangan berkeringat, matanya bergerak gelisah. Sedangkan tangan besar Lukas meraih dagunya dan mendongakkannya. Membawa wajahnya menghadap wajah tegas dan tampan milik Lukas.
“Kenapa kau menyukaiku?” tanya Lukas.
Lizy masih bungkam, ia terlalu terkejut dengan keberadaan Lukas, bahkan pria itu sedang merengkuhnya di trotoar. Sialan sekali, bagi Lizy ini memalukan.
“Aku sudah memiliki anak yang sudah besar, aku seorang duda, dan aku sudah berusia 40 tahun,” ujar Lukas lagi.
Lizy masih bergeming, ia diam karena bingung sekaligus terlalu menikmati rengkuhan tubuh gagah Lukas. Juga suara seksi Lukas yang selalu membuatnya meremang.
Lizy balas menatap Lukas, dengan kerutan di dahinya, “Perasaan suka atau cinta tidak datang karena usia, status bahkan rupa, hati tidak bisa ditebak. Saya menyukai Presdir karena ...”
“Karena uang?” serobot Lukas.
Lizy terkejut sekaligus tersinggung, ia mendorong tubuh Lukas dan mundur, “Kenapa Anda berpikir seperti itu? Saya bukan gadis murahan yang menyukai seseorang karena uang. Maafkan saya, jika saya lancang menyukai Anda, Presdir. Saya mohon jangan pecat saya.”
Lukas melangkah mendekat dan Lizy mundur, sampai beberapa langkah mereka seperti itu. Hingga di langkah terakhir Lizy tersandung dan stilleto nya yang tinggi goyang. Tubuhnya limbung dan nyaris jatuh. Namun Lukas bergerak cepat dan menarik tangannya, hingga Lizy terjatuh dalam pelukannya.
Dada Lizy kembali berdebar, saat ia meletakkan wajahnya di d**a Lukas, bahkan d**a pria itu pun berdebar seperti dirinya. Lukas melepaskan pelukannya dan menarik tangannya dari tubuh Lizy. Mata coklatnya yang tajam menatap wajah Lizy lekat-lekat.
“Kebanyakan gadis dan wanita yang mendekatiku karena uang. Kau tahu? Aku hanya menggunakan tubuh mereka demi kepuasanku, dan mereka mendapatkan uang dariku. Jadi, tak ada yang benar-benar menyukaiku,” ujar Lukas.
Lizy mendekat, ia meraih tangan Lukas dan menatap pria itu, “Tidak semua perempuan hanya menginginkan uang dari laki-laki. Tidak semua perempuan juga menjual dirinya.”
Setelah mengatakan itu, Lizy melepaskan tangan Lukas dan berbalik, untuk meninggalkan pria itu. Namun ternyata Lukas membuka jasnya dan menyampirkannya di bahunya, membuat Lizy harus menghentikan langkahnya.
“Aku terlalu takut memulai sebuah hubungan dengan seorang gadis. Sejak awal aku tertarik padamu,” ujar Lukas. “Jadi, kau mau menjadi kekasihku?”
Lizy berbalik lagi dan menundukkan wajahnya, “Saya hanya gadis biasa, jika bukan sebagai teman tidur Anda, saya tidak pantas.”
Lukas mendekat, menarik tangan Lizy dan mendongakkan wajahnya. Menatap gadis itu dengan tatapan dalam, “Kita memulai hubungan dari awal, aku rasa masalah ranjang hanya sebagai pelengkap.”
Lizy menundukkan wajahnya yang merona, mendengar Lukas mengatakan hal itu. Baginya sangat beruntung mendapatkan pria seperti Lukas, dan impiannya menjadi kenyataan. Ketika Lukas datang dan menawarkan sebuah hubungan, Lizy tak bisa menolaknya.
“Tapi, saya akan mendapat masalah di kantor, Presdir.”
“Sstt.. Tak akan ada yang mengetahuinya. Kita sembunyikan ini dari orang lain, hanya kita berdua. Kau dan aku,” balas Lukas lagi.
Lizy menggigit bibirnya nampak berpikir, kemudian gadis itu mengangguk setuju.
Lukas menarik sebelah sudut bibirnya, pria itu menarik tangan Lizy dan membawanya ke mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan.
(*0*)(*0*)