Chapter 6

1140 Words
Pagi ini Lizy bangun dengan wajah yang lebih ceria, terkadang senyum sendiri dan merona seorang diri. Membuat Elina sedikit ngeri, karena takut Lizy kerasukan. Kemarin Lizy kebanyakan uring-uringan dan tak menerima penampilannya, namun hari ini ia berpenampilan lebih dewasa. Dengan dress bodycon selutut yang membentuk tubuh rampingnya yang sekal, dan bagian depan yang ketat, membentuk belahan dadanya. Sebenarnya ia masih merasa tak nyaman, namun mencoba dibuat nyaman, demi memikat Lukas. “Oh aku tak percaya sudah menjadi kekasihnya,” gumamnya seorang diri. Gadis itu tersenyum dengan wajah merona, sesekali menggigit bibirnya saat bayangan bibir seksi dan hangat milik Lukas memagut bibirnya. “Kau kenapa?” tanya Elina ketika ia melihat Lizy sudah menyelesaikan pekerjaannya dan tersenyum sendiri. “Kau sedang jatuh cinta ya?” tebak Elina. Lizy memudarkan senyumannya dan menatap Elina dengan wajah biasa, ia membenarkan duduknya dan membereskan mejanya. “Ya, dan kami ...” ucapan Lizy terhenti, karena ia teringatan ucapan Lukas semalam, untuk menyembunyikan hubungan mereka. “Kenapa?” Tanya Elina dengan penasaran, gadis itu mendekati Lizy dan menatapnya ingin tahu. “Ah bukan apa-apa, maksudnya pria yang aku suka juga menyukaiku,” jawab Lizy. “What?! So, ada pria yang suka padamu juga? Oh Tuhan terima kasih, akhirnya my bestie Lizy McKayla memiliki kekasih,” ujar Elina. “Kau ini!” Lizy berseru kesal dan memukul kepala Elina dengan bolpoin ditangannya. “Sudah jam makan siang, ayo kita ke kantin,” ajak Elina seraya menarik tangan Lizy. “Aku tak bisa, sebaiknya kau pergi makan sendiri saja ya,” balas Lizy sambil melepaskan tangan Elina. “Kau sedang diet? Tidak biasanya.” Lizy tertawa sumbang, ia tak ingin makan, entah mengapa membayangkan makan siang bersama Lukas terasa indah. Oh dan dia baru saja sadar, mereka tak mungkin terlihat bersama di kantor. Lagi pula, mereka baru memulainya, belum menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Tring! Satu pesan masuk ke ponsel Lizy, dengan cepat gadis itu pun membuka pesannya. Membacanya dan mengerutkan dahinya, karena yang mengirimkan pesan adalah nomor yang tidak dia simpan. Datanglah ke ruanganku, selesai jam kantor. Dan ia tahu siapa yang mengirimkan pesan itu padanya. Sambil mengulum senyumannya, Lizy menaruh kembali ponselnya. Membuat Elina yang ada di depannya mengerutkan dahi. “Kau kenapa? Apa itu dari kekasih barumu?” tanya Elina ingin tahu. Lizy bangun dan melemparkan senyuman manis pada Elina kemudian menggandeng tangan Elina. “Ayo kita ke kantin,” katanya, dan membuat Elina bertambah tak mengerti dengan sikap Lizy.   (*0*)(*0*)   “Aku tak suka dad menikah dengan bibi Emily.” Lukas mendengus, ia meneguk Wine di dalam gelas berkakinya. Mata coklatnya melirik seorang pemuda tampan di depannya, yang sedang bersandar di sofa ruang kerjanya. “Kenapa? Kau tak ingin memiliki ibu baru, Calvin?” tanya Lukas dengan suara beratnya kemudian menaruh Wine-nya. Pemuda itu Calvin, kepala divisi Marketing di perusahaan itu. Calvin adalah anak Lukas satu-satunya dari mendiang istrinya, putra mahkota Clayton Group yang akan mewarisi semua kekayaan Lukas. Kecuali jika Lukas memiliki anak lagi dengan wanita lain, maka Calvin harus membagi harta ayahnya. “Bibi Emily tidak sebaik yang dad lihat. Aku tak menyukainya, karena dia mantan kekasih gelap seorang menteri,” ujar Calvin dengan nada tak suka. Lukas menyeringai dengan tatapan misterius, ia mengambil sebatang rokok dan mematiknya. Menyelipkan diantara bibir seksinya, kemudian menghisapnya kuat-kuat. “Bagaimana dengan wanita lain? Meski ibumu telah tiada, aku masih membutuhkan kehangatan wanita di ranjangku, Calvin,” tanya Lukas dengan sebelah alis yang terangkat. Calvin mendengus dan melipat kedua tangannya di d**a, ia melirik ayahnya sebentar kemudian membuang tatapannya. Keadaan ruangan Lukas pun kembali hening, karena Calvin malas berbicara dengan ayahnya yang keras kepala. “Oke, tapi harus wanita baik-baik, dan cukup menghangatkan ranjangmu saja, tanpa merebut hatimu,” ujar Calvin. Lukas menghembuskan asap rokoknya, kemudian memadamkannya di asbak. Pria tampan dan dewasa itu bangun, berjalan ke sisi lain, di depan dinding kaca yang menghadap gedung lain. Lukas memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Tergantung, jika dia bisa membuatku tertarik sekaligus membuatku puas, aku bisa saja menggunakan hatiku,” balas Lukas. Calvin menghela napasnya dengan kasar, pemuda itu ikut bangun dan menatap punggung sang ayah. Ia menyesali kenapa ayahnya masih sangat tampan dan muda di usianya yang ke 40. Membuat para perempuan seakan luluh pada ayahnya dan berlomba-lomba menjadi ibu tirinya. “Dad, berhenti bermain dengan p*****r. Apa kau tak pernah berpikir bahwa putramu sudah besar dan beranjak dewasa. Aku sudah siap memimpin Clayton Group, sedangkan kau masih suka bermain wanita,” ujar Calvin. Lukas tertawa sumbang, kemudian pria tampan itu berbalik dan menatap Calvin dengan dalam dan tajam, “Dengar Calvin, tak hanya pria sepertiku saja, bahkan pria tua yang masih memiliki istri pun masih senang bermain wanita.” Calvin mengepalkan tangannya tak suka mendengar perkataan Lukas, “Aku menyukai seorang gadis, dan aku berniat mendapatkannya. Aku akan mengenalkannya padamu suatu hari nanti, tapi aku mohon jangan bawa kekasihmu saat aku mengenalkannya padamu.” Setelah mengatakan itu Calvin pun berjalan keluar meninggalkan Lukas, menutup pintunya dengan sedikit kasar. Lukas hanya mengedikkan bahunya, pria itu berjalan ke meja kerjanya dan mulai mengerjakan kembali pekerjaannya.   (*0*)(*0*)   Lizy sedang membereskan meja kerjanya, ia membenarkan pakaiannya dan menyisir rambut sebahunya, kemudian meraih handbag-nya. Gadis itu bersiap akan menghampiri meja Elina, untuk mengatakan ia tak akan pulang bersama. “Lizy, kau pulang saja lebih dulu, aku pulang dengan Alex,” kata Elina mendahului. Lizy langsung mengembangkan senyumannya, bukan merengut seperti biasanya. Gadis itu mengangguk dan buru-buru keluar dari ruangan mereka, tapi saat di pintu Lizy bertemu dengan Calvin yang baru saja datang entah dari mana. “Lizy, kau akan pulang? Bagaimana jika kita pulang bersama?” tawar Calvin. Lizy tersenyum hangat, gadis itu melemparkan tatapan maaf, “Maaf, aku tak bisa, Calvin. Aku ada sedikit urusan. Maaf ya.” Setelah itu Lizy pergi meninggalkan Calvin yang sedang menatapnya dengan heran. Karena penampilan Lizy masih terlihat dewasa dan seksi, tidak seperti biasanya. Gadis itu terus berjalan di koridor menuju lift, saat ia akan masuk lift, wajahnya sedikit terkejut. Mendapati Lukas berada di dalam lift seorang diri. “P-presdir,” ujarnya. Lukas mendekat dan meraih pinggang Lizy kemudian merengkuhnya, hingga menempel dengan tubuh kekarnya. Tatapan tajamnya seperti biasa, begitu tajam dan menusuk. “Panggil aku Lukas jika sedang berdua,” kata Lukas dengan suara rendah. Lukas menekan tombol untuk kembali ke ruangannya di lantai paling atas, membuat Lizy mengerutkan dahinya tak mengerti. “Kenapa kita kembali ke atas?” tanya Lizy seraya menatap Lukas. Pria itu diam, ia semakin merengkuh tubuh Lizy, membawa gadis itu ke pojok lift dan memerangkapnya. Tangan besarnya mengusapi rahang Lizy dengan halus dan sebelah tangannya memeluk pinggulnya. Sedangkan Lizy sedang sibuk menenangkan detak jantungnya sendiri yang berdebar keras. Bibir kecilnya sedikit terbuka, menatap wajah tampan dan rahang tegas Lukas. Ini seperti di drama-drama yang ia tonton selama ini. Saat di lift, si pria akan mencium si gadis dan mereka berciuman. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD