Chapter 7

1026 Words
“Kenapa kau tertarik padaku?” tanya Lukas dengan suara beratnya. Lizy mengerjapkan kedua matanya, masih menatap wajah tampan Lukas, “Karena kau tampan dan seksi.” Lukas menyeringai. “Begitu ya.” “Eh? Bu-bukan! Bukan seperti itu, maksud saya ...” “Sttt .. Sekarang aku kekasihmu, jadi jangan bicara formal jika sedang berdua,” potong Lukas dan diangguki oleh Lizy. Lukas masih menatapnya, merengkuhnya dan menundukkan wajahnya hendak mencium bibir Lizy, namun ternyata pintu lift terbuka. “s**t!” Lukas mengumpat kesal dan melepaskan Lizy. Beberapa pegawai masuk, membuat Lukas dan Lizy berjauhan dengan keadaan canggung. Karena diantara mereka ada yang melihatnya, saat melihat Lukas merengkuh Lizy. Beberapa menit pintu lift kembali terbuka, tiba di lantai tempat ruangan Lukas berada. Pria itu keluar, disusul Lizy yang juga ikut keluar. Namun sebelum pintu tertutup, Lukas sempat mengatakan sesuatu. “Jika orang lain ada yang mengetahui hal tadi, aku akan memecat kalian dan membuat keluarga kalian didepak ke jalanan,” desisnya dengan ancaman yang tak main-main. Orang yang ada di dalam lift hanya mengangguk dan menurut. Mereka tak akan berani menyebarkan gosip apa pun di kantor, mengenai Presiden direktur mereka. Kemudian pintu lift tertutup.  Lukas berjalan dengan begitu gagahnya, dan diikuti Lizy dari belakang, yang diam-diam mengaguminya. Dari caranya berdiri dan berjalan saja sudah membuat perempuan mana pun luluh. Bisiknya dalam hati, dengan wajah kagum. Tiba di depan ruangan Lukas, tak ada sekretarisnya yang biasa duduk dibalik mejanya. Pria itu membawa Lizy masuk ke ruangannya, dan menutup pintunya serta menguncinya dari dalam. Lukas menarik tubuh Lizy mendekat padanya, merengkuh pinggulnya, membuat Lizy mendongak. Gadis itu menahan d**a Lukas agar tidak menghimpit dadanya. Tangan besar Lukas pun meraih rambut Lizy dan menyelipkannya ke belakang telinga. Kemudian mengusapi rahangnya yang halus, naik ke pipinya dan bibirnya, mengusapi bibir kecil Lizy. “Kenapa kau sangat cantik?” bisik Lukas dengan suara yang rendah. Pria itu menahan gairahnya yang meletup dan menggelegak seperti mencekik dirinya, ketika melihat wajah cantik Lizy dan tubuh indahnya. Ia tertarik pada gadis itu bukan hanya tubuh indahnya, Lukas pun bertekad ingin memilikinya. Bukan sekedar gadis penghangat ranjangnya. Dengan sekuat tenaga, Lukas bersikap dingin, dan menahan gelora gairahnya. Tak pernah ia merasakan se-b*******h itu pada seorang perempuan, semenjak kematian istrinya. Lizy menundukkan wajahnya yang merona, gadis itu menggigit bibirnya. Kemudian mendongak lagi, untuk menatap wajah tampan Lukas. Sebelah tangannya terulur, meraih rahang kokoh Lukas dan mengusapnya dengan lembut. “Kau juga sangat tampan, sampai rasanya jantungku hendak lepas dan lututku lemas,” kata Lizy dengan jujur. Lukas menggeram dalam, menahan hawa panas dalam dirinya. Ia berdeham dan menghujam wajah Lizy dengan tatapan tajamnya. Baru kali ini ada gadis sejujur Lizy yang mengatakan tentang keadaannya. “Bagaimana jika kau hanya menginginkan uangku? Dan aku menginginkan tubuh indahmu?” tanya Lukas. Lizy membalas tatapan tajam Lukas, hingga tatapan mereka bertaut, meski Lizy tak dapat melihat apa pun selain tatapan tajam dan dalam. Dahinya sedikit mengerut. “Maka aku akan mundur, aku akan menyerah, karena aku menyukaimu sebelum aku tahu siapa dirimu,” balas Lizy. Dan perkataan gadis itu membuat Lukas mengulas seringai tipis. Tanpa membalas perkataan Lizy, pria itu merundukkan wajahnya dan memagut bibir tipis Lizy. Tangan besarnya semakin merengkuh pinggul Lizy, membawa gadis itu merapatkan tubuh mereka. Bibir tebalnya yang seksi melumat bibir Lizy, memberikannya godaan yang memabukkan, menggigitnya dan menggoda dengan lidahnya. Sedangkan Lizy mengeratkan tangannya di d**a Lukas, dengan kaki yang berjinjit. Mata bulatnya tertutup rapat, dengan bibir yang terbuka, menerima ciuman Lukas. Letupan gairah tiba-tiba muncul dalam diri Lizy. Ia yang belum pernah berciuman, seakan bisa menyeimbangkan ciuman Lukas yang panas dan memabukkan. Ciuman yang dalam dan bisa membakar dirinya. Sesuatu seperti mendesak tenggorokan Lizy dengan kuat. “Engghh..” gadis itu mengerang dalam ciuman mereka. Ia semakin terlena dan lututnya nyaris lemas, dan beberapa kali kakinya turun. Namun Lukas menahan pinggangnya agar tetap di posisinya. Setelah beberapa menit ciuman panas, Lukas melepaskan bibir mereka. Tangan besarnya masih merengkuh pinggang Lizy, tatapan tajamnya masih belum berubah, dengan bibir tebalnya yang mengkilap, juga terdapat noda lipstik yang berantakan. Sedangkan Lizy masih memejamkan matanya, dengan napas menderu, wajah memerah dan d**a yang berdebar keras. Sampai d**a sekalnya menyentuh d**a bidang Lukas. Bibir kecilnya terbuka, mengkilap oleh liur mereka dan lipstik merah yang berantakan. Saat Lizy membuka matanya, ia langsung terpaut dengan tatapan tajam Lukas. Saat matanya bergerak turun, ia nyaris tertawa melihat bibir Lukas yang merah oleh lipstiknya. Lizy pun menahan tawanya. “Kenapa?” tanya Lukas dengan alis terangkat sebelah. Lizy tertawa geli kemudian berdeham, agar Lukas tak marah. “Hahaha, itu bibirmu ada lipstikku.” Lukas mendengus kemudian melepaskan tangannya dari tubuh Lizy, saat ia akan berbalik untuk mengambil tisu, ternyata Lizy lebih dulu mengambilnya. Gadis itu berdiri di depan Lukas, mengulurkan tangannya dan membersihkan noda lipstik di bibirnya dengan tisu hingga bersih. Lukas merasakan debaran itu, debaran seperti yang ia rasakan pada istrinya saat ia jatuh cinta dua puluh satu tahun lalu, kini terulang lagi. Pada seorang gadis seperti Lizy. Ia merasa Lizy adalah gadis istimewa untuk menggantikan mendiang istrinya. Tangan Lukas menggenggam tangan Lizy yang masih membersihkan bibirnya. Tanpa diduga pria itu merunduk lagi dan melumat bibir Lizy, menjilati bibirnya hingga basah dan mengkilap. Kemudian melepaskannya dan merebut tisunya, untuk membersihkan noda lipstik yang berantakan di bibir gadis itu. Lizy tertegun, matanya setengah kosong, karena ia tak menyangka Lukas akan memperlakukannya seperti itu. Ia merasa sedang berada di dalam novel-novel dan drama yang selama ini ia lihat. “Sudah bersih,” kata Lukas kemudian melempar tisunya. “Lain kali kau harus gunakan lipstik natural, agar tidak berantakan saat aku menciummu,” lanjutnya. Lizy menggigit bibirnya dan menyembunyikan wajahnya yang memerah karena digoda oleh Lukas. Sedangkan pria tampan itu hanya mengulas senyum kecil. Lukas meraih wajah Lizy dan menangkupnya dengan kedua tangan besarnya. “Kau ingin hubungan kita di publikasikan?” tanya Lukas. Lizy menggeleng, “Aku belum siap.” “Tidak apa-apa, kita mulai semuanya dari awal untuk mengenal satu sama lain,” balas Lukas lagi dengan suara seksinya yang sangat Lizy sukai. Lizy mengangguk dan mengulas senyumannya, sedangkan Lukas hanya menampilkan wajah datarnya dengan tatapan tajam. Lizy rasa itu sudah ekspresi Lukas, karena itulah yang sangat Lizy sukai.   (*0*)(*0*) 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD