Hari ini kami bersiap untuk pergi menuju gunung Arjuno Welirang, Letti sudah siap dengan karier dan perlengkapannya begitupun aku.
"Han.. Yakin bisa?",
"Hmm, masih nanya?
" kan kamu udah lama ga naik, ganti ucox aja lah Han! ",
" Ya udah, aku ke Semeru aja kalo gitu! ",
" Hmm ya ya ya.. Ayok berangkat! ",
"Hati-hati ya guys.. I have bad feeling!", ujar Plankton
"okay thanks", jawab Letti
Aku membawa mobil range over, dan melaju menuju pandaan.
"Kan dua tim, kamu ke arjuno dulu... Bir aku yang ke welirang", ujar Letti
"Hmm, ya udah.. Kita pisah di pondokan",
"iya.. Ketemu lagi di pondokan selesai keduanya, syukur-syukur di tengah jalan ketemu, hehe",
"Jangan sampai bekal habis, kita ga tau di sana nanti...",
"Iya sayang... Lagian kita kesini ga sekali dua kali loh...", ujar Letti meremehkan
"Iya tau.. Tetap saja, kita berhadapan dengan alam liar",
"iya iya..",
Perlu waktu dua jam untuk sampai di tujuan. Kami memarkirkan mobil di depan perizinan.
Ceklek
Brak
"Pagi mas black..", sapa Letti
"pagi cantik... Udah siap? Itu porter kalian, mas Johan dan mas Uyub. Dua tim ya, tim satu dua cowok dua cewek ke Arjuno ikut Achax, lalu tim dua ada tiga cowok satu cewek ke Welirang dulu ikut Letti. Jangan lupa kasih kabar terus selam ada signal di atas", jelas mas Black
"Oke mas..", jawabku
Kami sudah siap untuk berangkat, kami lewat jalur depan. Tentu lewat pos 1 menuju pet bocor.
Letti berganti pakaian di kamar mandi, dia selalu begitu hanya memakai celana medan yang pendek dan kaos tanpa lengan, rambut di cepol ke atas.
"Han... Hati-hati ya...",
"Kamu juga..",
"Oke tim satu silahkan jalan dulu, disusul tim dua di belakangnya", ujar mas Black melepaskan kepergian kami
"Boleh tau nama kalian?", tanyaku pada timku
"Aku leadernya John, ini Maya, Rina, dan Toni",
"Oke, aku Achax..",
"Kami sudah sering dengar tentang mas Achax dan mbak letti. Makannya kami berani bayar mahal asal kalian yang memandu kami", ujar John memuji
"Ya sudah, sebelum berangkat kita berdoa dulu sesuai agama masing-masing",
"oke let's go", lanjutku
Aku melihat tim Letti di belakangku, kami berjalan perlahan karena hari masih terik.
Sepertinya keempat orang ini sudah pernah melakukan pendakian, kondisi fisik mereka terbilang cukup bagus di medan pertama ini.
"Gimana? Lanjut? Ato rehat?", tanyaku memastikan
"Lanjut aja mas, kita masih sanggup kok", ujar Maya
"Oke..",
Kami sampai di pet bocor dalam waktu lima belas menit.
"Rehat bentar, kasihan ceweknya, mas", ujar Toni",
"Oke, tapi jangan lama-lama ya, nanti keburu sore",
Aku menghampiri Letti, dia nampak biasa saja karena masih sampai pet bocor.
"Han.. Gimana?",
"kok berhenti sih?, jangan lama-lama loh!",
"kasihan ceweknya, Han.. Mereka kan beda ga kayak kamu yang udah tau medan disini!",
"hmm iya iya.. Aku sapa emak dulu deh",
Letti berjalan menuju warung yang ada di pet bocor. Dia sangat mengenal penjga warung disana, kami memanggilnya emak. Beliau adalah ibu dari mas Black. Sedangkan suaminya berjaga di atas, warung yang ada di kokopan. Bisa dibilang kokopan adalah tengah-tengah gunug, atau setengah perjalanan.
"Lanjut ya..", ujarku pada mereka
"Oke mas..",
"Han.. Ayo",aku memanggil Letti yang sedang asik makan ote-ote atau bakwan buatan emak
"Hehe.. Iya ayok, mak aku jalan dulu ya.. Da da...",
Emak hanya tersenyum melihat tingkah Letti.
Kami berjalan lagi menuju kokopan. Membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam untuk sampai disana.
Sampai di wit gede (pohon besar), kami berhenti sejenak untuk sekedar minum.
"Gimana?",tanyaku pada tim
"Lanjut mas.. Masih sanggup kok", jawab John
"oke bentar lagi nyampek kok, tinggal dua belokan dan satu tanjakan",
"Udah dari tadi kayak gitu mas, cuma berapa kali belokan dan tanjakannya yang ga tau", ujar Toni
"hahahahahaha..... Biar lemes... Ga kaku gitu maksudnya..",
"Iya mas.. Yuk mas lanjut",
Aku melihat ke arah Letti, dia mengacungkan jempolnya memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan.
Aku kembali berjalan di depan, memandu tim satu.
Tak lama kami sudah hampir sampai, dengan berkurangnya pohon tinggi dan banyaknya batu besar. Kami hampir sampai di kokopan. Aku melihat penambang belerang tengah berjalan melewati kami, beliau nampak sudah sangat tua namun tenaganya jangan di ragukan.
"Udah deket nih, ayo semangat..", teriakku agar mereka lebih semangat lagi
Akhirnya kami sampai di kokopan.
"Yang mau makan silahkan, yang mau minum juga silahkan, kita istirahat dulu disini, pondokan sekitar dua sampai tiga jam dari sini", jelasku
"Oke mas..",
Ku hampiri Letti yang sedang memberi arahan pada timnya. Begitu selesai dia melihat kearahku dan menghampiriku.
"Makan dulu han",
"iya..",
Kami mengeluarkan bekal yang Letti siapkan sejak di rumah.
"Yang, perasaanku ga enak.. Hati-hati ya..",
"Hmm iya.. Kamu juga.. Sampai di pondokan pasti malem, kita muncak besok pagi",
"iya",
Setelah beristirahat satu jam, kami melanjutkan perjalanan menuju pondokan.
"Ayo lanjut..", ucapku pada John
"Oke mas",
Semua tim bangkit dan berjalan lagi.
"Siapin senternya, bentar lagi gelap", ujarku pada tim
Kami mengeluarkan senter untuk menerangi jalan. Jalanan menjadi sunyi dan gelap, terdengar suara serangga di setiap langkah. Aku tak bisa melihat Letti lagi, namun samar aku mendengar suaranya.
"Kita udah sampai, kita bermalam disini.. Siapkan tenda kalian ya..", ujarku
"oke mas",
Aku berjalan menghampiri Letti, dia terlihat sedang menungguku.
"Han.. Yuk bikin tenda..",
"iya..",
"Capek?",
"Menurutmu? Masih nanyak lagi aku jitak kamu!!",
"hahahaha.... Udah berapa lama Han kamu ga naik?",
"Ehm.. Hampir dua tahun kayaknya",
"Padahal yang ilang aku, yang trauma kamu.. Wkwkwkwk",
"ih... Kamu selalu gitu!! Awas aja sampek hilang lagi!, ogah aku nyari lagi! Entar aku tunggu aja di tempat dulu kamu di temuin..",
"Hahahahaha... Jangan gitu dong Han..",
"Huh..",
Di sela obrolan kami seseorang menghampiri kami.
"Mbak, ini kita ada makanan... Maaf ga bisa kasih yang enak..",
"Kalo enak ke warung aja di bawah.. Hahaha...", jawabku asal
"Makasih ya, Ut",
"iya mbak, sama-sama",
Aku memasukkan barngku dan barang Letti kedalam tenda. Kami melanjutkan obrolan di depan tenda sembari memakan makanan yang kami bawa.
"Tim mu ada sapa aja, Han?",
"Ehm... Tadi cewek Utami, trus yg cowok Leo, Bian, Edo",
"Hmm...",
"rewel ga Han?",
"Sedikit, kyaknya yang Edo baru pertama ikutan",
"Owh..",
"besok tendanya kita tinggal aja ya Han, bawa Air, senter, sama bekal dikit", ujarku
"Ga ah, yang. Aku bawa semua aja barangku.. Tendanya aku aja yang bawa ya?",
"Hmm ya udah.. Tumben?",
"hehe... Pengen aja.. Biar ga enteng terus karier aku!",
"oke..",
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kedua tim membuat api unggun sejak tadi. Aku menghampiri mereka sendirian, Letti memutuskan untuk tidur terlebih dulu.
"Hei.. Belum pada tidur nih? Besok berangkat pagi loh! Kalo ada yang telt aku tinggal langsung ya!",
"Hehe.. Tenang aja mas Achax.. Kita semua sudah biasa bangun pagi.. Jadi pasti bisa..", jawab Toni
"Mas ceritain dong, yang waktu mas Achax hilang disini!", sahut John
"Ngawur ae (sembarangan aja), jangan disini! Ngeri tau!", ujar Toni
"Hahaha... Udah tidur sana..", ujarku sembari berdiri
"Eh jangan lupa, Apinya di matikan!", lanjutku
"Siap mas",
Aku masuk kedalam tenda melihat Letti sudah lelap di bungkus sleeping bag. Aku pun mengikutinya untuk tidur dengan sleeping bag yang kubawa.
Berharap besok cuaca bersahabat, dan kami bisa melanjutkan perjalanan dengan lancar.
"I love you, Hanny",
Cup...
"Ehm.. I love you too yang..",