Ino pov
"Ehm...",
"Wake up.. Om.. Kita harus kuliah!!", suara serak Letti membangunkanku
"Pagi hany...",
Aku melihatnya mengeryitkan dahinya, dia nampak tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"Sejak kapan namaku berubah?", tanyanya seperti mengujiku
"Sejak semalam.. Saat kamu mau terima cinta aku, dan kita pacaran mulai semalam",
Ucapanku membuatnya terdiam kaku, ia seperti sedang bermimpi mendengarnya.
"Hei.. Aku serius semalam! Kau kira aku bercanda?", lanjut ku
"Auh.. Sakit tau! Kok di cubit sih!",
"biar kamu bangun, dan ini bukan mimpi hany!",
"But..."
"what? Kau mau lari setelah menjawabnya semalam?",
"no, of course not... I just, can't believe",
"udah ah.. Aku mau mandi.. Kamu kapan bangunnya kok udah siap aja?",
"aku udah biasa bangun pagi kali!",
Aku berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri dari sisa persetubuhan kami semalam.
Seperti masih bermimpi saja, semalam aku memutuskan Devi. Lalu sekarang aku sudah mendapatkan Letti seutuhnya.
Samar aku mendengar suara seseorang di luar kamar. Aku mempercepat kegiatan mandiku dan keluar hanya dengan handuk yang menutupi bagian bawah badanku.
Ceklek
"Hany...",
"Hmm udah selesai?", jawab Letti
"iya.. Ow ada Rei.. Hai bro.. Wait aku ganti baju dulu",
Secepat mungkin aku memakai baju dan melompat keluar dari kamar. Aku melihat Letti membuat sarapan untuk kami. Ya, aku, Letti, dan Rei.
"Bikin apa Han...?", aku memeluknya dari belakang memperlihatkan pada Rei tentang kedekatan kami
"Nasi goreng.. Duduk gih. Rei sarapan juga ya?",
"No thanks, aku sudah sarapan tadi",
"Ow.. Okay.. Kalo gitu aku sarapan dulu gapapa ya?",
"tentu..",
Letti sedang menghidangkan nasi goreng ke atas piringku, dia tersenyum malu padaku. Baru kali ini aku melihatnya nampak berseri dan terlihat lebih feminim.
"Han.. Semalem aku kesini naik apa ya?",
"what? Aku ga tau... Katanya ga mabuk semalam? Kok lupa naik apa?",
"Hehe.. Oh iya.. Aku pake motornya Plankton ",
"Hah? Tumben pake motor?",
"iya,jazzy masuk bengkel..",
"hmm, ya udah.. Berarti kita ke kampus naik motor?",
"iya..",
"oke.. Udah lama juga ga naik motor.. Hehe..",
Jawabannya membuatku senang, entah kenapa berbeda dengan Devi.
"Letti, aku permisi dulu... Ada meeting pagi ini..", pamit Rei yang sepertinya kesal karena Letti lebih memilihku
"Ow oke, Rei.. Sorry Rei... Kau datang di saat yang tidak tepat..", ujar Letti sedikit menyesal
"It's okay Letti",
Ceklek
Brak
"Hahahahaha..", aku tertawa melihat ekspresi Rei yang tidak terima itu
"Hentikan tawamu! Tidak sopan namanya!",
"Auh.. Han.. Sakit.. Kenapa kamu cubit?",
"so what i call you?",
Cup...
"sebahagiamu aja hany...",
"hufh..",
"ayo berangkat, keburu telat nanti",
"wait, aku ambil tas dulu di kamar",
Aku dan Letti pergi ke kampus menggunakan motor milik Plankton.
***
Sampai di kampus, kami menghampiri teman-teman lainnya di kantin terlebih dahulu.
"tantee... Udah sehat?", sapa Adis
"udah.. Lukanya juga udah kering nih, aku tutup pake poni aja hehe",
"woi bosku... Kemana aja nih?? Kerjaan numpuk tuh di ruko!", ujar Bayu
"hari ini aku selesaikan, okay?!",
"ahsyiap!!!",
Selesai dengan obrolan pagi, kami berjalan menuju kelas. Sebelum sampai di kelas, Devi berjalan mendekatiku, raut wajahnya memperlihatkan jika dia sedang marah.
Plak... Plak...
"kita putus!", bentak Devi
"Bukannya dari semalem aku udah bilang kalo kita putus? Apa kamu sangat mabuk sampai lupa dengan ucapanku semalam?", ujarku yang akhirnya membuat Devi sangat malu
"Damn you!!", umpatnya
"Miss perfect..", panggil Letti
Aku sangat paham dengan wajah Letti yang sekarang, jika aku tak mencegahnya dia bisa saja mencabik cabik Devi.
"Han, ayo masuk kelas!",
Aku menarik tangan Letti, dan memberi isyarat pada yang lainnya juga untuk segera pergi.
"tunggu! Kamu manggil pekcun ini apa? Han? Hany?", Devi nampak tak senang
Plak... Sebuah tamparan mendarat di pipi Devi
Buk... Dan sebuah tinju juga mendarat di perut Devi
"Han, kita pergi sekarang!",
Belum sempat kami menjauh, Devi menarik rambut Letti hingga hampir saja dia terjatuh jika aku tak menahannya.
"s**t!", umpat Letti
"Udah Han.. Jangan di ladenin!",
"kalo bukan karena ada kelas, ga akan aku lepasin kamu!!", ujar Letti yang akhirnya berjalan lebih dulu
Saat di dalam kelas, Letti hanya terdiam memegang kepala bagian belakangnya.
"Sakit?", tanyaku
"Pusing.. Guys.. Pindah posisi dong, aku mau tidur bentar",
"oke tee",
Bayu duduk di depan Letti, sedangkan Ilham di sebelahnya. Tubuh kedua orang ini bisa menutupi Letti agar tidak terlihat dari bangku Dosen.
Aku yang duduk di samping Letti sembari mengusap perlahan kepala bagian belakangnya.
Ddrrtt.. Dddrrtt...
Alleta is Calling...
Ponsel Letti berdering, dan memunculkan nama Al disana. Aku mengambil ear phone bluetooth, dan menerima telepon dari Al.
'mbak.. Dimana?',
'hi Al... Letti sedang tidur, kita lagi di kampus',
'oh... Sampekin aja kalo aku mau ke mall, katanya sih mau ikut',
'okay.. Aku sampaikan nanti',
'thanks',
Tut tut tut
"Baik, kelas hari ini kita akhiri sampai disini, sampai bertemu minggu depan", ujar dosen mengakhiri mata kuliah
"han, bangun gih.. Udah kelar loh",
"ehmm udah selesai?",
"tadi Al telepon, katanya dia mau ke mall.. Kamu ikut ga?",
"iya ikut, yuk... Mall mana?",
"aku lupa tanya, han",
"ihh gimana sih..",
'Al, kamu di mall mana?',
'Lenmarc mbak.. Buruan kesini!',
'iya, aku sama Ino..',
'iya, aku juga lagi sama Rijal',
'ow.. Oke',
Tut tut tut
"berangkat, yang..",
"bentar-bentar dari tadi satu panggil han yang ini panggil yang.. Kalian????!!!!", Adis menerka hubungan kami
"Kita pacaran, Dis", jawab Letti
"widih.... Traktiran dong...", seru Bayu dan Ilham
"Ya udah, aku mau ke Lenmarc ikut sekalian?", lanjut Letti mengajak yang lain
"oke..",
Kami akhirnya pergi ke Lenmarc bersama-sama. Aku boncengan dengan Letti, sedangkan yang lain nebeng mobil Hellen.
Perjalanan butuh waktu sekitar tiga puluh menit, karena lumayan jauh dari kampus.
Sampai di Lenmarc, Letti menghubungi Al adiknya. Dia menanyakan posisi Al dimana, dan kami menyusulnya kesana. Al sedang bersama partnernya, ya Letti pernah cerita bahwa Al juga menjalani hubungan seperti kami, hanya saja pada awalnya Rijal adalah mantan Al sendiri.
"Al dimana Han?",
"Katanya lagi di 3second, udah aku suruh ke XO buat makan sama kita",
"Owh oke..",
Benar saja tak lama Al datang, dia sudah membawa banyak sekali paper bag. Bahkan Rijal juga ikut membawakannya.
"Hi Sis... Borong nih?", goda Letti
"Matanya minta di colok sis... Khilap", jawab Al sambil cengengesan
"khilap tiap berhenti beli!", gumam Rijal kesal
"Hahahaha, sabar ya Jal... Bentar lagi aku ikutan siap-siap aja buat bawain... Ya kan yang?",
Aku hanya bisa tersenyum miris, dan menelan salivaku. Sepertinya sebentar lagi aku akan bernasib sama dengan Rijal.
"Makan dulu yuk!", ajak Letti
"Bagus, habis diisi entar di ambil tenaganya ya Han?",
"Hehehe... Cup... Love you yang",
Letti memesan makanan untuk kami semua, dia sangat hafal dengan menu kesukaan kami masing-masing.
Sela beberapa menit semua menu sudah siap di meja kami.
Ddrrtt.. Ddrrtt...
Ucox is Calling..
'Dimana bos?',
'Lenmarc',
'Ada job, guide ke Arjuno-Welirang. Ambil ga?',
'oke, ambil aja..',
'orangnya minta kamu sama Letti yang berangkat',
'oke, entar di obrolin di store',
Tut tut tut
"Han... Ada job",
"3339??",
"iya",
"kapan?",
"Belum tau..",
"ya udah nanti kita obrolin",
"oke",
Selesai dengan makan siang , kami melanjutkan perjalanan mengelilingi Lenmarc. Benar saja, Letti membeli banyak sekali barang. Meski itu semua bukan hanya miliknya, Letti sangat suka memberikan sesuatu untuk teman-temannya yang sedang bersamanya. Hanya saja dia akan memberikannya saat sudah di Ruko atau saat bertemu kembali.