Segalanya berlangsung sangat cepat. Tiga minggu berlalu begitu saja, dan Michella benar-benar tidak memperdulikannya. Yang Michella pedulikan saat ini adalah kenyataan kalau minggu depan statusnya bukan lagi ‘lajang’ tapi ‘menikah’ dan akan segera menyandang nama ‘Nyonya Lucien’. Michella menjalani sisa harinya menjelang hari pernikahan seperti biasa. Bekerja di rumah sakit setiap pagi dan makan malam bersama Lucien. Selalu. Michella bahkan sudah tidak memikirkan lagi kenapa dia bisa membuka pintu untuk Lucien masuk ke dalam dunianya. “Kalau kau mau makan lebih teratur lagi, kau akan kuizinkan pulang besok. Bagaimana, kiddo?”tanya Michella sambil menatap bocah laki-laki berusia 7 tahun yang terbaring di salah satu ranjang di bangsal anak. “Anda janji, dokter?” “Tentu. Dan ingat, jangan

