Faisya begitu muak ketika melihat Akbar berada di kamarnya ini, ingin ia mengusir Akbar saat ini juga. Namun, tenaganya tak sekuat itu karena kondisi fisiknya pun tidak bisa dikatakan baik-baik saja, ia masih sakit dan tetap berusaha baik-baik saja di hadapan Akbar. Tak hanya luka fisik, melainkan luka batin yang menambah kekacauan di pikirannya. Jelas saja tanpa Faisya tanya, Akbar pasti tidak akan pernah mau jujur dan menjawab pertanyaannya. Hal itu membuat Faisya geram sekaligus lelah, pernikahan apa yang sedang dijalani olehnya ini? Bukankah seharusnya pernikahan itu harus didasari dengan kejujuran dan saling percaya? Tetapi, ia tak mendapatkan semua itu dari Akbar. Faisya lelah jika terus begini, tetapi jelas saja ia tidak ingin bercerai karena perceraian itu sangat dibenci oleh Allah

