‘’Morgan…’’ panggil gadis dengan drees hitam tanpa lengan yang dipinjamkan oleh Martha beberapa waktu tadi.
Alicia belum turun dari kendaraan roda emoat yang sudah terparkin di depan hotel karena masih ada beberapa keraguan dan hal yang tidak membuatnya nyaman.
‘’Morgan…’’ panggil Alicia lagi dengan wajah kusutnya alias tidak bersemangat untuk turut andil dalam pesta yang diadakan oleh sepupu Morgan sebab ia tidak menyukai keramaian yang sengaja dibuat oleh orang-orang kaya ini.
Lelaki yang disapa senbanyak dua kali ini baru merespon, pasalnya ia baru sadar jika wanita yang ikut dengannya tidak ikut serta berjalan di sampingnya dan sontak membuatnya berbalik lagi menemui gadis yang masih duduk di kursi penumpang sebelah kiri.
‘’Ayo turun,’’ ajak Morgan tak lupa mengulurkan tangannya.
‘’Ngga mau, kita jalan sendiri-sendiri aja ya. Aku Cuma mau nganter kue aja setelah itu langsung pulang,’’ ujar Alicia karena ia merasa tidak nyaman.
‘’Lah kenapa? Join aja Ca, ada gue ini.’’ Ujar Morgan yang tidak peka karena sejauh mereka saling mengenal, Alicia tidak banyak menceritakan kisah hidupnya selain kepada Farel.
‘’Ada perlu, plis aku mau pulang abis nganter kue,’’ kata Alicia memohon lalu mau tidak mau Morgan mengangguk dan kemudian Alicia menerima uluran morgan sembari setelahnya membuka bagasi belakang mobil dan mengambil kardus besar berisi kue ulang tahun.
**
Keduanya berjalan beriringan dengan tangan yang masing-masing membawa satu kardus kue pesanan pemilik pesta, di perjalanan menuju auditorium tiba-tiba Alicia penasaran pada suatu hal lalu memutuskan menanyakannya tanpa ragu.
‘’Ibu kamu baik banget, pasti bangga punya orang tua seperti itu ya? Maksud aku ya bisa berteman dengan anak, dan banyak waktu untuk anaknya,’’ cletuk Alicia yang langsung dijawab dengan tawa kecil dari pria di sampingnya.
Suasana hotel masih sepi pasalnya keduanya datang tiga puluh menit sebelum acara sebab kue yang dipesan harus diantar sebelum acaranya dimulai.
‘’Cukup beruntung gue punya nyokap gitu Ca, tapi ya apa yang lo liat ga selamanya itu yang lo pikirin. Di rumah gue ada banyak rahasia yang ngga perlu lo tau. Lo cukup tau kalo gue punya nyokap yang sayang sama gue.’’
Jawaban Morgan membuat Alicia mengerutkan dahinya kemudian ia tak kuasa menahan rasa penasarannya pasalnya ia cukup merindukan sosok ibu dan keluarga dalam hidupnya selama beberapa tahun ini.
‘’Tapi semuanya jauh lebih baik kan kalo ada sosok ibu,’’ cletuk Alicia seolah meratapi nasibnya selama ini.
‘’Iya sih, sekalipun bokap gue suka nyakitin nyokap tapi gue masih bisa ngerasain rumah yang bahagia karna nyokap gue ngga pernah nangis atau ya ngomong apa yang bokap lakuin. ‘’
‘’Seneng yah punya ibu seperti itu,’’ ujar Alicia membuat Morgan berhenti berjalan.
‘’Ca?’’ panggil Morgan membuat Alicia berhenti dan mereka mulai saling menatap satu sama lain.
‘’Um?’’ kata Alicia.
‘’Lo boleh iri atau pengen punya kehidupan yang gue punya atau orang yang lo anggap layak hidupnya.
Tapi inget ca ngga semua yang lo liat adalah hal yang baik, hidup bukan soal ngeluh dan bahagia aja ca.
Pokoknya, lo harus bersyukur dengan kondisi lo saat ini , bahkan gue iri sama lo dan lo pasti heran kan kenapa gue iri sama lo.
Sejauh ini, lo perempuan hebat yang gue kenal setelah nyokap gue, itu artinya hidup lo jauh lebih berharga dari apa yang lo pikirin.’’
‘’Thank you …’’ jawab Alicia lalu memilih berjalan mendahului Morgan.
Seorang gadis nampak lesu setelah mendengar ucapan pria yang membuatnya merasa begitu lemah. Wajahnya menunduk tapi tetap focus berjalan di atas keramik mewah hingga akhirnya berkat bantuan dari denah hotel ia sampai di dalam sebuah dapur yang di dalamnya sudah ramai para team catering yang sibuk menyiapkan makanan mulai dari makanan ringan, berat , hingga penutup.
Alicia meletakan kuenya di atas meja yang sudah dihias berkat arahan seseorang yang juga nampak team dari catering pasalnya mudah dikenali sebab seragam mereka yang sama persis.
Seusai melepaskan tanggung jawabnya dengan baik, si gadis mulai memilih menjauh dari kerumunan, ia Kembali berjalan menuju lift dan mengakirinya dilantai lima tempat area taman dan swimingpool.
Alicia Pov
Hari ini terhitung seribu satu hari, ganjil diakhiri dengan angka satu..
Tepatnya, aku mulai merasa kesepian di tengah-tengah manusia yang tengah menari dan teratwa bahagia meskipun aku tau beberapa di antara mereka tidak memiliki perasaan yang sama.
Hari ini, seribu satu hari aku mulai merasa kosong, hampa, hidupku yang ku pikir akan gemerlap bahagia nyatanya jauh lebih menyedihkan dari yang aku duga.
Pikiranku kalut kala itu, aku haus akan cinta dan kasih sayang yang akhirnya membawaku kemari.
Membawku menemui hidup yang bermakna abadi, menyimpan kenangan dan sejuta ribuan hari penuh derita serta bahagia.
Sesekali aku merasa bahagia laiknya berada di dalam nirwana ciptaan Tuhan, tepatnya kala aku benar-benar menemukan hal yang aku cintai serupa memainkan jariku di atas tuts piano.
Sesekali aku juga merasa hidupku di penuhi derita yang tiada habisnya, dan sialnya derita yang kurasa sesekali datang kini hampir setiap hari menjamahi pikiran dan hatiku, membuatku sulit memejamkan mata, berfikir logis, membuatku sulit melakukan segala hal yang seharusnya ku selesaikan dengan baik.
Sialnya, perasaan ini sudah mulai hadir.
Rindu,
Aku mulai merindukan derita merindukan sosok ibu dalam hidupku.
Aku mulai berfikir nampaknya jalan yang ku ambil sebenarnya dipenuhi jalan buntu, sejauh mana aku pergi aku tetap dihantui rindi yang meradang, tak punya tempat berlabuh, tak punya tempat mengeluh.
Sekarang, aku membenarkan derita ini mulai ada
Aku merindukannya, hal ini bagaikan teracabik oleh benda tumpul.
Tiada pedih yang mengalahkan rindu ini
Author Pov
Gadis yang menghabiskan satu jamnya menatap kota yang ramai dari atas Gedung lantai lima mulai menghembuskan nafasnya, ia mulai merasakan hal yang selama ini ditakutinya yaitu ingin Kembali ke rumah padahal hadirnya tidak diinginkan.
Alicia selalu beranggapan bahwa kehadirannya bukanlah keinginan mereka, ia merasa tidak perlu Kembali ke rumah sebab selama tiga tahun ia meninggalkan hunian mewah tersebut tidak ada seseorang yang mencarinya bahkan membawanya pulang.
Penantian ini akhirnya menjadi perasaan benci yang mengakar di hati gadis ini, dendam dan merasa jika hidupnya memang seharusnya untuknya bukan didedikasikan sebagai putri dari keluarga konglomerat yang bahkan tidak menginginkan hadirnya.
Wajah Alicia nampak lesu dan memutuskan untuk segera Kembali ke hunian sewaannya untuk istirahat dan memilih mengakhiri hari dengan hal yang tidak baik yaitu rasa rindu tanpa Pelabuhannya.