Di tempat yang sama, di sebuah kerumumnan yang sengaja di ciptakan, dan di waktu yang berjalan serupa dengan seorang gadis yang baru saja keluar dari lift.
Erangan seseorang yang mendadak mengisi koridor di lantai satu membuat Alicia berhenti dan mengerutkan dahinya, ia nampak merasa aneh mendengar erangan seorang wanita yang nampak kesakitan tapi mendadak suara itu hilang Kembali dan tidak terdengar lagi selama beberapa menit.
Entah mengapa, wajahnya yang awalnya lesu dengan hati yang begitu ringkih mengingat rindunya ini telah berubah menjadi kacau dan penuh dengan degup jantung yang tidak punya irama, hingga suara degup jantung yang ia khawatirkan lebih keras dari suara hembusan nafasnya benar benar terjadi dan terdengar.
Lagi, Alicia akhirnya mulai mendengar erangan lagi dan kali ini diiringi dengan isakan tangis. Hal ini membuat nya makin penasaran dan memilih berjalan menjauhi lift hingga akhirnya ia menemukan ruangan yang letaknya sebelah kiri tanpa pintu dan ternya ini adalah koridor penghubung ke sebuah kamar kecil dengan ikon wanita serta pria dan air.
Suara yang terdengar makin jelas, membuat Alicia merinding hingga akhirnya ia begitu terkejut melihat suasana di depannya yang membuaut tubuhnya kaku dalam beberapa detik.
Dalam diamnya tubuh yang kaku serta nafas yang mendadak tersenggal, mata pemilik tubuh ini melihat bagaimana hal di depannya nampak membuat nya kaku dan menyesal datang menghapus rasa penasarannya.
Pasalnya, di hadapannya ia melihat perempuan dengan gaun pesta berwarna hitam dan mahkota kecil di kepalanya menangis di sudut ruangan dan terlihat seorang pria dengan setelan jas hitam tengah menangkat sebuah Gucci berukurang lebih besar dari kepalanya.
Tak hanya itu, Alicia juga melihat perempuan yang nampak ketakutan ini menangis sembari menyebut nama yang baru beberapa waktu ia dengar, hingga akhirnya tanpa sadar tubuhnnya yang kaku kini berada di hadapan pria bernama Gleen Fergie, memeluknya dengan hangat sembari menepuk pelan Pundak pria ini, memberikan suara degup jantungnya yang tak beraturan menjadi hal yang menenangkan bagi gleen Fregie, dan bibirnya yang sebelumnya kaku membisu mendadak mampu mengucapkan kalimat.
‘’Sssst …
Hentikan,’’ bisik Alicia mendekap Gleen Fergie yang hendak melemparkan Porselen kepada wanita yang jaraknya tak jauh dari tubuhnya.
**
Gabriella yang menyesal telah menganggu sepupunya kini gemetar hingga rasanya ingin menghilang dari dunia saat ini juga, ia merasa menjadi manusia tersial dan terbodoh karena berani mengganggu sepupunya yang mengidap DID, sebuah penyakit mental yang membuat pemilik penyakitnya memiliki perilaku kasar, mengerikan, bahkan beberapa perilaku yang tidak bisa ia sadari dan tidak dapat di k****l oleh pemilik penyakit mental ini.
Sial, satu kata yang membuat Chyntia Gabriella langsung terbangun dari posisi meringkuknya yang gemetar di sudut ruangan dan berusaha berjalan meninggalkan seorang gadis yang mendadak memeluk sepupunya setelah berlari cukup kencang bahkan membuatkan tubuh gadis itu terbentur sudut tembok demi menahan Gleen melepaskan porselen itu ke wajahnya sendiri.
Diam-diam sembari berjalan keluar koridor yang menghubungkan ke dalam kamar mandi, Gabriell cukup lega bisa kabur dari sepupunya tapi ia mendadak teringat bagaimana nasib gadis yang menyelamatkannya dan bagaimana bisa seorang wanita yang tidak saling mengenal mendadak memeluk sepupunya dengan erat hingga porselen yang shearusnya sudah membunuhnya kini berada di atas lantai dan membuatnya pergi sejauh ini.
Gabriel menggelengkan kepalanya tak mengerti, ia lalu menekan tombol lift dan memilih kabur dari pesta ulang tahunnya sendiri selama beberapa jam.
**
Lima belas menit sebelum Gleen membanting tubuh Gabriella ke sudut ruangan dan hendak membunuh sepupunya.
‘’Sendirian lo ke tempat gue Gleen,’’ tanya Gabriella yang melihat sepupunya keluar dari kamar hotel seorang diri dan harusnya ia Bersama seseorang.
Gleen tidak menjawab, ia terus berjalan mendahului Gabriella yang membututinya sebab kamar hotel mereka berdekatan dan hanya selisih beberapa angka saja serta terletak di posisi yang paling ujung hingga membuat mereka cukup lama menjangkau lift ke auditorium.
‘’Harusnya Selena dateng ke acara gue, tapi karna penyakit lo itu dia ngga dateng ke sini. Ck, lo harusnya bangga masih gue undang.’’ Tiba-tiba Gabriella membahas seseorang yang selama ini ia hindari mendengar Namanya hingga banyak menyebutnya.
Langkah Gleen terhenti membuat Gabriella juga ikut melakukan hal yang serupa, kini Gleen yang sebelumnya berjalna tanpa perduli dengan kehadiran sepupu atau putri dari kakak ibunya ini langsung berbalik menatap Gabriella dengan deru nafas yang tidak stabil, smirik di wajah yang cukup dan sanggup membuat Gabriella tahu jika ini bukanlah sepupunya yang beberapa menit lalu ia ajak bicara.
‘’Gleen!’’ sebut Gabriella dengan wajah ketakutan sebab lelaki di depannya mulai menghilangkan jarak di antara keduanya bahkan Gabriella bisa mendengar bagaimana deru nafas sepupunya semakin tidak teratur terlebih wajahnya semakin emmerah dengan tangan yang mengepal.
‘’Im not Gleen, Gabriella …’’ bisik pria yang masih punya hubungan darah dengannya hingga membuat kakinya lemas hampir tidak bisa berdiri dan benar beberapa detik kemudian rambutnya ditarik atau lebih tepatnya pria yang menganggap dirinya bukanlah Gleen menyeret tubuhnya dengan menarik rambut baik dirinya adalah kain yang tak punya harga.
‘’Akhhh!’’ suara erangan yang muncul dari bibir Gabriella bukanlah berasal dari pelecehan terhadap fisiknya, namun kekerasan dan tubuhnya menabrak tembok dengan keras hingga rasanya tulang belakang tubuhnya hampir lepas.
‘’Gleen, I am sorry.
Glen, please stop.
I asked maad to have mentioned Selena in front of you, really I didn't mean to.
Selena left because it was time God wanted it, not because of you. please, let me go.’’ Bisik Gabriella sembari menutup matanya takut porselen yang diangkat sepupunya mendadak menghantam wajahnya.
‘’No!!!’’ teriakan seorang wanita yang bukan berasal dari Gabriella membuat Porselen yang seharusnya sudah menghantam kepala wanita pemilik pesta kini tertahan.
Seolah memberikan jeda yang cukup kuat tanpa bisa dilanjutkan, Gleen mematung merasakan dekapan hangat dan ketenangan yang dihasilkan dari degup jantung milik wanita yang mendadak memiliki keberanian memeluk dan menenangkannya.
Selena …
Bisik Gleen dalam hatinya mulai merasakan ketenangan dan perlahan-lahan proselen yang ia angkat tinggi-tinggi kini sudah berada di sisi kanannya sedangkan Gabriella yang telah pergi tak dihiraukan lagi oleh lelaki ini.
Gleen, mulai menurunkan porselen ditangannya dnegan brutal lalu memeluk Alicia pelan sembari merasakan aroma tubuh yang hampir serupa dengan gadisnya.
Selena
Bisiknya lagi dalam hatinya lalu membalas pelukan Alicia.
Diam-diam, Alicia ketakutan Ketika dua tangan kekar mendadak berada di tubuhnya dan pelukan terasa semakin erat tapi ia cukup tenang dengan suara detak jantung yang semakin teratur dan berirama daripada di saat awal-awal ia memilih untuk menahan lelaki yang hampir saja membunuh seorang wanita.
Entah keberanian dari mana tapi setidaknya Alicia bersyukur kepedihannya hari ini masih mau memberikan celah untuk berani membantu orang lain meskipun si gadis lupa dengan apa yang dikatakan Morgan tentang pria ini.