Chapter 11

2066 Words
Pelukan yang terasa semakin erat dan sulit dilepaskan membuat Alicia bergerak tidak nyaman, ia berusaha melepaskan tubuhnya dari pria yang beberapa detik lalu enggan menerima pelukannya. ‘’Enghh!” desah Alicia melepaskan pelukannya dengan paksa namun tetap pelukan Gleen Fergie terasa semakin kencang hingga beberapa kali sampai tenaganya terasa habis ia masih terjebak di dalam pelukan pria yang dalam satu dua puluh empat jam ditemuinya tanpa henti, entah takdir apa yang tuhan rencanakan, intinya ia merasa jika posisi ini sangatlah tidak nyaman baginya terlebih ia takut jika Morgan datang mencarinya dan lantas melihat posisi yang sangat tidak diinginkan ini. Wanita ini akhirnya memutuskan menggunakan kakinya, ia angkat sedikit kaki kanannya dan mulai menghentakan kakinya ke atas jari-jari kaki milik pria bernama Gleen ini meskipun ia tahu sepatu yang dikenakan Gleen pasti merk mahal dan harganya bahkan tak bisa ia jangkau. ‘’Arghh!’’ erang Gleen yang sontak reflek melepaskan pelukannya pada tubuh wanita yang mirip dengan kekasihnya. ‘’Sorry,’’ ucap Alicia lalu berniat kabur dan langkahnya terhenti Ketika tubuh Gleen lebih dulu berdiri di depannya sembari mengeluarkan senyum yang mencurigakan. Gleen menatap Alicia tanpa jeda, melihat seluruh wajah hingga tubuh Alicia yang mirip dengan kekasihnya, bahkan saking penasarannya Gleen sampai mulai melangkah maju dan membuat gadis di depannya berada di sudut ruangan, berdiri dengan tubuh yang menegang dan mata yang terbuka lebar, sesekali ia juga mendengar hembusan nafas yang nampak tak teratur , gadis di depannya terlihat gugup tapi ia justru merasa senang jika ada seorang gadis yang membenci atau takut kepadanya termasuk gadis di depannya. Gleen sempat heran mengapa dalam waktu dua puluh empat jam dirinya bertemu dengan wanita yang bolak-balik mangkir di depannya dan seolah sengaja menarik perhatiannya, membuat kerusuhan yang jelas-jelas semua orang tahu ia membencinya, bahkan tak segan-segan anak-anak di sekolah internasional itu memilih menjauh dari Gleen daripada harus berurusan dengan dirinya. Rasa penasarannya semakin tinggi Ketika Alicia justru menanyakan sesuatu yang membuatnya tertawa tidak suka. Di suasana tegang yang sengaja ia ciptakan, gadis di depannya justru bertanya hal yang bahkan dirinya sendiri tidak terpikirkan. ‘’Aku mau ke toilet, plis… kebelet.’’ Ucap Alicia dengan tangan yang membentuk segitiga di depan dadanya. Gleen menahan tawa tapi juga kesal pasalnya ia jelas tak melihat ketakutan di wajah Alicia lalu gadis itu justru memdorongnya kuat ke belakang lalu tak lama pintu toilet wanita yang jaraknya tak jauh dari tempat mereka berdiri berbunyi mendandakan pintu itu tertutup. ‘’Menarik banget,’’ ucap Gleen berbisik dan hanya dirinya yang tahu tentang apa yang ada di isi kepalanya. ‘’Caca!!!’’ teriak seseorang dari jauh yang bisa di dengar dengan jelas oleh Gleen. ‘’Ca! Alicia! Dimana lo!”’ teriak Morgan memenuhi koridor dan cukup membuat Gleen terganggu, tanpa pikir Panjang ia langsung memiliki rencana dan lantas keluar dari lobi toilet sembari menghadang sepupunya. ‘’Apa lo?’’ ucap Morgan dengan wajah sangarnya menutupi rasa khawatirnya pada gadis yang ia bawa kemari dan mendadak menghilang. ‘’Nyari siapa?’’ kata Gleen dengan suara dinginnya. Wajah tampan Gleen Fergie dan Morgan tidaklah jauh, keduanya sama-sama tampan hanya saja Gleen memiliki kulit yang lebih cenderung sawo matang dengan tubuh jauh lebih kekar dan kedua bola mata berwarna indah, sedangkan morgan memiliki tinggi badan yang jauh lebih pendek, kulit jauh lebih putih pucat dan tubuh lebih kecil, dan keduanya sama-sama memiliki otak yang cemerlang, Bahasa inggris yang fasih, dan satu Bahasa yang harus dikuasai oleh keluarga mereka yaitu Spanis sebab kakek mereka berasal dari Spanyol. ‘’Bukan urusan lom’’ ujar Morgan lalu memutuskan berjalan mendahului Gleen dan tak lupa pria yang setahun lebih muda ini menabrakan bahunya ke bahu kekar sepupunya. ‘’Ck, lo nyari cewe? Dia di kamar mandi, dia habis sama gue. Silahkan.’’ Ucap Gleen membuat Langkah Morgan terhenti. Keduanya kini saling menatap satu sama lain, wajahnya sama-sama memerah terlebih Morgan sudah lebih dulu mencengrkam kerah leher sepupunya dengan kuat bahkan hembusan nafasnya bisa dirasakan oleh Gleen dengan jelas. ‘’Why?’’ ucap Gleen berbisik dengan smiriknya dan tatapan mata yang tajam khas pria yang tak ingin dikalahkan oleh keadaan atau siapapun. Gleen, sosok pria muda yang dikenal di kalangan keluarga keturunan Spanyol ini sebagai pria dengan darah dingin, hati dingin, pikiran pucat pasi, dan mata yang seolah hendak membunuh. Selain dikenal dengan lelaki yang tak berhanti hangat, gleen juga dikenal sebagai pewaris keluarga besar mereka sebab Gleen yang paling unggul selama mereka smaa-sama menjalankan perusahaan masing-masing di bawah naungan perusahaan besar milik kakeknya. Keluarga keturunan Spanyol dengan nama belakang EDUARDO yang berarti kaya memiliki perusahaan besar yang banyak bergerak di berbagai bidang, makanan, furniture, textile, hingga bisnis besar kosmetik dan pusat perbelanjaan. PT. ISMAEL EDUARDO yang didirikan oleh Alfonos Eduardo empat puluh tahun lalu kini sudah berkembang pesat, terlebih Ketika Alfanos Eduardo menikahi putri dari pejabat kedutaan Spanyol Indonesia yaitu Isabella Ester. Keduanya dikaruniai lima orang putra yang masing-masing sudah diberikan bekal perusahaan sedari mereka remaja dan kini lima orang putra dari Isabella dan Alfonos telah memberikan keduanya cucu yang cukup banyak yaitu lima belas cucunya dan beberapa di antara lima belas cucunya yaitu Charles Morgan dan Gleen Fergie. Di usianya yang baru enam belas tahun Charles Morgan sudah mulai mengembangkan bisnis yang dihadiahkan Alfanos yang bergerak di bidang textile, begitu juga Gleen yang diberikan perusahaan yang sama dan keduanay dituntut untuk bersaing. Bukan hanya persaingan antar dua orang sepupu, tapi kedua pria tampan ini bersaing dengan enam sepupu lainnya yang seusia dengannya dan sejauh ini selama mereka memegang perusahaan Textile yang paling banyak mendapatkan keuntungan hingga mampu membuka sepuluh cabang baru ialah sosok mafia berdarah dingin seperti Gleen Fergie dan membuat semua remaja di rumah mereka takut kepada sosoknya, tapi tidak dengan Morgan. Morgan selalu berpegang teguh pada pendiriannya untuk tidak takluk dengan Gleen apapun masalahnya termasuk wanita dan kekayaan. Ia yakin bisa menang sekalipun memang sulit jika harus mengalahkan Gleen yang unggul dalam segala hal. Ia yakin ada satu kelemahan yang bisa membuat Gleen tunduk padanya dan membuatnya menjadi the king of Eduardo. ‘’Don’t touch her Gleen Fergie!’’ ucap Morgan penuh penekanan di setiap katanya yang jsutru membuat Gleen tertawa. ‘’Aku sudah menyentuhnya,’’ jawab Gleen dengan santai namun disertai tawa yang membuat Morgan semakin emosional. Bugh! Pukulan mendarat di sisi kanan pipi milik pria dengan brewok tipis di rahangnya lebam tapi pria yang dihadiahi pukulan oleh orang yang lebih muda darinya memilih tidak membalas dan hanya mengucapkan kalimat yang membuat Morgan akhirnya tau jika dirinya dan Gleen akan terus berseteru hingga keduanya bisa berakhir dengan memiliki gadis ini. ‘’ I like him, if you can take him from me. Or so give me a place to get that girl. See you, cousin..’’ ‘’Arghhhh!’’ teriak Morgan mengakhiri pertemuan keduanya. ** ‘’Abis darimana lo?’’ tanya Morgan dengan suara yang jelas tapi memilih tidak melihat ke arah gadis yang berdiri di depannya dan tengah memegang kedua sisi tuxedonya sembari tersenyum dan berkata. ‘’Morgan! Pulang yu,’’ ucap Alicia sengaja tak menghiraukan ucapan temannya ini. ‘’abis dari mana?’’ tanya Morgan sekali lagi dengan cara yang sama membuat Alicia mulai sadar jika untuk pertama kalinya Morgan tidak melihat ke arahnya Ketika berbicara kecuali Ketika sedang menyalin pekerjaan sekolah di waktu yang begitu singkat. ‘’Abis dari taman sebentar terus ke kamar mandi,’’ ucap Alicia dengan jujur. ‘’Kamu marah?’’ tanya Alicia tak lama setelahnya sebab ia melihat gerak tubuh Morgan yang semakin menjauh darinya. ‘’Morgan, kamu marah?’’ tanya Alicia lagi tapi kini sembari melompat lompat kecil agar bisa mesejajarkan tubuhnya dengan tubuh Morgan yang cukup tinggi. ‘’Ngga,’’ jawab Morgan kini focus ke arah parkiran. Keduanya berdiri di lobi pintu masuk hotel, Morgan yang khawatir dengan ucapan Gleen memilih menunggu Alicia di lobi hingga ia melewatkan acara ulang tahun sepupu wanitanya dan benar saja ia bertemu dengan Alicia di sana dengan keadaan yang syukurnya baik-baik saja. Ia sempat khawatir jika yang dikatakan Gleen soal menyentuh Alicia adalah melukai gadis itu sebab ia tahu jika dalam waktu yang tak jeda lama ia bertemu dengan Gabriella dan gadis itu berjalan sempoyongan sembari mengatakan jika Gleen bukanlah Gleen tapi orang lain dan sontak ia segera berlari mencari Alicia tanpa perduli ia dilihat banyak tamu yang juga rekan bisnis sebayanya. Berlari dari lantai satu hingga sebelas menunggu lift yang terbuka membuat Morgan marah pada dirinya sendiri sebab ia tidak menanyakan di lantai mana sepupu wanitanya bertemu dengan Gleen. Rasa frustasi takut terjadi sesuatu pada gadis polos yang hanya hidup untuk banyak orang membuat Morgan kalut hingga akhirnya ia yang baru berada di lantai dua memilih mendatangi ruangan setting dan menemui pegawai yang mengkontrol monitor cctv . Beruntungnya Morgan yang dalam waktu lima menit saja bisa mengenali perawakan Alicia di lantai lima dan kini kekhawatirannya sudah berakhir sebab matanya sudah jelas melihat dengan baik jika Alicia baik-baik saja. ‘’Gue anter,’’ cletuk Morgan membuat Alicia langsung menggeleng dan menepuk d**a Morgan. Posisi keduanya laiknya pasangan kekasih yang tengah merajuk satu sama lain, tapi nyatanya status mereka hanyalah sebatas teman terlebih keduanya punya iman yang berbeda. ‘’Ngga perlu!’’ jawab Alicia cepat. ‘’Kamu marah kan? Kok ngga ngeliat ke sini ngomongnya?’’ lanjut si gadis lalu menangkup wajah Morgan dan membuat pria itu menunduk. Deg deg … Degupan jantung Morgan berdetak keras setelah matanya bertemu dengan mata sayu yang indah milik Alicia dan bodohnya Morgan terhanyut dengan tatapan itu. ‘’Morgan!’’ ‘’Sorry,’’ jawab Morgan. ‘’Kamu kenapa sih? Aku ada salah?’’ tanya Alicia bingung pasalnya ia merasa tidak melakukan kesalahan selain satu hal yaitu menemui Gleen secara tidak sengaja. Dirinya berpikir tidak mungkin Morgan tau sebab tidak ada yang melihatnya Ketika Bersama Gleen lima belas menit yang lalu di lantai lima. ‘’Jujur, lo habis kemana Ca? gue panik nyariin lo dan lo malah nemuin gue tanpa ngerasa salah bilang lo mau balik? Lo tuh egois banget yah Cuma mikirin diri lo sendiri! Gue bolak balik naik turun lift Cuma nyariin lo yang ngilang tanpa ngomong ke gue! Lo mikir ngga sih gue yang bawa lo kesini, kalo lo sampai kenapa-kenapa siapa yang tanggung jawab? Gue ca gue!!!!’’ Morgan kehilangan kontrol emosinya, ia tidak menyangka jika dirinya yang selama ini selalu banyak bercanda dan membuat Alicia tertawa mendadak membuat Alicia mematung menatap ke arahnya sambil menahan tangis terlihat dari matanya yang mulai memerah dan mengeluarkan cairan merah. Alicia tercengang dengan ucapan Morgan, di sisi lain ia membenrkan ucapan teman prianya tapi ia masih berpikir bisakan diucapakan dengan nada yang lebih halus dan tak perlu berteriak hingga membuat orang-orang asing yang hendak melakukan cek in melihat kea rah mereka. Si gadis nampak menarik nafas dan menghembuskan nafasnya berat lalu memutuskan kontak mata dengan pria di depannya seraya berkata. ‘’Maaf, aku ngga bermaksud gitu, tapi aku.’’ ‘’Ck, apa?! Udah jelas-jelas lo punya hp! Bisa kan telfon gue bilang lo dimana! Ngertiin posisi gue dong Ca jangan nyusahin gue terus!’’ ‘’Morgann… ‘’ bisik Alicia tak menyangka dengan ucapan pria di depannya yang kini terlihat frustasi dengan tangan kanan yang berada di dahinya sesekali mengusap rambutnya sendiri. ‘’Apa? Mau balik? Silahkan. Ngga perlu nunggu izin dari gue Ca, barusan aja lo ngilang kemana ngga tau ngga mikirin gue kan? Go, pergi. Gue cape ngurusin lo,’’ ucap Morgan membuat Alicia sudah tidak bisa menahan tangisnya dan kini satu persatu air matanya turun dengan pelan mengalir di sekitar pipi kanan dan kirinya, bahkan saking takutnya dengan ucapan Morgan ia sampai hampir tak mengenali sosok yang ada di depannya hingga bahkan ia ketakutan untuk mengadahkan wajahnya menatap pria di depannya. Alicia bingung, entah apa kesalahannya hingga Morgan berkata demikian. Mendadak Alicia mulai merasa menyesal menerima semua bantuan dari pria di depannya hingga ia merasa jika sebenarnya Morgan menatapnya dengan tatapan yang sama seperti anak-anak lain di sekolahnya, menatapnya dengan tatapan jijik, sebal, hingga berpikir jika dirinya layak untuk tidak mendapatkan hal-hal baik di manapun dirinya berada. Pikiran-pikiran yang selama ini ia takutkan telah terjadi. Morgan, pria yang ia pikir tidak akan menatapnya serendah itu kini sudah terjadi dan entah kesalahan apa yang ia buat hari ini hingga membuat Morgan Lelah dengan dirinya. Dengan berat hati sembari terus menghapus air matanya, Alicia mulai melepaskan satu persatu anting, cincin, kalung, hingga jam tangan lalu meraih tangan kiri Morgan yang menggantung di sisi kiri tubuh pria itu dan memberikan perhiasan milik Martha lalu beberapa detik kemudian Alicia mulai melepaskan sepatu mahal dengan berlian di ujung sepatunya dan hak setinggi tujuh sentimeter itu. ‘’Aku pulang, maaf …’’ ucap Alicia berjalan meninggalkan morgan tanpa alas kaki dan hanya membawa dompet lusuh serta ponsel yang sudah mulai kehilangan daya nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD