“Stop, Chris” kataku pelan dan membalas tatapan Chris.
Kepalanya sedikit memiring tanda Ia keheranan. Bibirnya seakan ingin berbicara namun tertahan.
“Why? I speak the truth tho, you look stu-...”
“No. I am f*ucking not. Stop telling me ... stop giving me that thing, you just embarrased me”
“Embarrased what? Ravenna kamu kenapa?” Chris kebingungan.
Aku paham, tidak seharusnya aku berkata demikian di saat seperti ini. Di saat ada hal lain yang lebih penting yang harus aku prioritaskan, aku malah memikirkan perasaan ku sendiri.
“Waktu tinggal lima menit lagi!” Staff berteriak dan memberi peringatan kepada kami bahwa kami akan segera tampil membawakan dua lagu lagi.
Aku berpaling dari Chris dan hendak berdiri hingga Chris menarik tanganku. “Ravenna?”
Aku menarik kembali tanganku yang digenggam oleh Chris. Aku berusaha menjauh dari Chris saat itu juga.
Haris, Awan dan El sudah bersiap akan segera menuju ke panggung. Aku pun mengikuti mereka dari belakang. Chris juga demikian.
Galang menarik tanganku. “Minum dulu, Ra. You look hella nerv-...”
Aku langsung mengambil botol air mineral dari tangan Galang dan segera meminumnya bahkan sebelum Galang menyelesaikan kalimatnya. Galang kemudian mengelus bahu ku, sepertinya untuk menenangkan diriku.
Sebenarnya Galang tidak mengetahui apapun tentang aku dan Chris, juga tentang hal yang baru saja terjadi.
Aku dan S&T mengambil posisi di panggung. Kami bersiap untuk memulai penampilan selanjutnya. Kali ini, aku lebih kesusahan mengontrol diriku.
Emosi yang tidak karuan membuat air mata mengalir di pipi ku. Entahlah, jika ada seseorang yang menyadari hal ini, aku tidak akan peduli.
Cukup sudah aku memendam perasaan seperti ini. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Chris, namun karena aku terlalu egois, jadi yah seperti inilah.
Aku memaksa diri untuk melihat ke kerumunan fans di depan sana. Aku melihat satu per satu ekspresi yang mereka tampilkan. Persis seperti diriku saat pertama kali menonton konser.
Seseorang di depan sana mengangkat slogan hingga setinggi kepala para penonton festival ini. Slogan itu cukup simpel namun menarik untuk dipandang.
Tanpa sadar aku menatap tepat di netra seorang wanita yang memegang slogan tersebut. Ia tersenyum dan kemudian menurunkan slogannya, mengganti dengan smartphone yang di layarnya tampak tulisan indah.
“You look stunning!”
Seperti itulah tulisan yang tertangkap di netra ku. Di antara kerumunan, wanita itu menyampaikan dukungan pada ku. Meskipun aku tidak mengetahui siapa dirinya, begitu pula dirinya yang tidak mengetahui siapa diriku, namun Ia mendukungku.
Di saat emosi tidak karuan, perasaan tidak stabil, air mata sudah membasahi pipi bercampur dengan keringat, wanita itu memberikan dukungan. Ya, kata-kata yang disampaikan persis seperti apa yang Chris sampaikan, tapi aku tidak peduli.
Kata-kata yang baru saja ku benci tadi, kini berubah menjadi kata-kata yang memberiku kekuatan. Apapun kata-kata yang disampaikan, akan selalu memberi pengaruh yang berbeda, tergantung siapa yang menyampaikannya.
.
Festival diakhiri dengan penampilan seluruh artis yang membawakan lagu ciptaan Adrian yang sudah beberapa tahun sejak dirilis mendapat begitu banyak cinta dari penggemarnya. Aku menyaksikan penampilan itu dari layar televisi di ruang tunggu S&T.
Aku duduk di kursi di depan meja rias. Galang juga duduk di samping ku, menemaniku sambil memakan camilan. Aku hanya diam tanpa mengikutinya mengemil.
“Ra, you look stunning today” Galang berbicara sambil mengunyah wafer roll rasa cokelat.
Aku melihat ke arah Galang. Lagi, kata-kata itu muncul di hadapanku.
Galang mulai menanyai ku mengenai ekspresi yang baru saja ku berikan. “Gak biasanya kamu gak berterimakasih kayak gini”
“Ada apa?” Nada suara Galang merendah seakan Ia berubah menjadi serius.
Saat ini, hanya ada aku dan Galang di ruang tunggu S&T. Aku yang sudah tidak sanggup menahan segala keresahan dan emosi pun meluapkan kepada Galang.
Semua yang ku alami, ku ceritakan kepada Galang. Bercerita dengan setitik air mata di sudut mata ku. Bercerita dengan penuh kesungguhan hingga tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sekumpulan anak band bermandikan keringat.
Muncul dari balik pintu ruang tunggu S&T sambil berteriak meneriakkan kalimat-kalimat entah apa yang ku tahu bentuk dari rasa lega dari mereka.
Aku langsung mengusap titik air mata yang untung saja belum diketahui oleh Galang tadi.
“Ra, sumpah! Lo keren banget gilaa. Slay!” Jay berteriak sambil mengangkat tangan kirinya yang tidak sakit dan menunjukkan gaya ala-ala swag.
Haris menyambut teriakan Jay. “Keren banget lo. Udahlah, Ra, besok-besok lo aja yang gantiin Jay manggung. Bosen sama Jay soal-...”
Sebelum kalimat Haris terselesaikan, Jay sudah memberi tatapan tajam. “Gue gampar ya lo”
“Udah heh. Lo berdua berantem mulu” Awan yang selalu siap siaga melerai pertengakaran dua bocil ini.
“Tapi asli, Wan. Asli lo semua keren banget, kek gue bingung musti kasih pujian kek apa lagi” Jay mulai mengikuti jejak Haris untuk menjadi drama king.
“Itu karena kita nampil bareng Ravenna, lo-...” Lagi, kalimat Haris terputus karena lebih dulu diberi tatapan tajam serta sanggahan oleh Jay.
“Gue nyesel banget sebenarnya cuma nonton dari layar, rasanya gue pengen ke panggung meluk kalian satu per satu”
“Lo modus kan mau meluk Ravenna?” Awan menimpali.
Jay yang diberi pertanyaan seperti itu pun tersenyum salah tingkah. Lucu sekali.
“Makanya lo cepetan sembuh, biar bisa manggung bareng kita lagi”
Jay menoleh ke Chris. “Bang, gue kalo udah sembuh terus mau manggung bareng Ravenna kira-kira gimana ya?”
“Ya silahkan kalo lo mau, Ravenna juga mau”
Manager dan member S&T lainnya juga ikut memberi ejekan kepada Jay. Ruangan jadi cukup berisik dan ramai.
Setelah sesi sorak gembira oleh seluruh staff dan member S&T yang ada di ruangan ini, Chris mulai menyampaikan rasa terima kasihnya. Disambut dengan member S&T lainnya.
Sesi penyampaian terima kasih pun berlangsung cukup haru. Air mata yang tadi gagal keluar, kini bersiap kembali untuk keluar dan membasahi wajahku.
“Makasih banyak ya semua, udah kasih aku kesempatan untuk pengalaman yang benar-benar gak terlupakan ini” Aku mengucapkan terima kasih kepada para member dan teman-teman yang turut berjasa dalam kegiatan ini.
Aku menambahkan. “Hari ini benar-benar pengalaman terindah di hidup aku. Aku gak ngerti harus berterima kasih gimana lagi ke semuanya yang udah sabar banget-...”
Galang mulai mengusap punggungku dan bergerak mendekati ku untuk memelukku, karena saat ini aku sedikit terisak.
“Kalian semua sabar banget ngehadapin kesalahan yang aku buat, kekurangan yang aku tutup-tutupin di depan kalian semua ... hiks ...” Aku mengusap kedua mataku dengan telapak tanganku.