Curhat--Ravenna's POV

1291 Words
Keadaan ruang tunggu sedang sepi, dan hanya ada aku dengan Galang disini. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk menceritakan isi hatiku kepada Galang. Aku yakin, Galang sebenarnya sudah memahami perasaan ku belakangan ini. Ku geser kursi yang ku duduki agar lebih mendekat dengan Galang. Aku mempersiapkan diri untuk mengadu pada manager terbaikku ini. “Kak, aku kesel banget tau sama Chris” “Kenapa? Kamu belakangan baik-baik aja deh sama dia” “Gini loh, Kak. Aku paham sebenarnya aku gak sama sekali ada hak untuk cari tau privacy life nya Chris, tapi gimana ya-..” “Kamu naksir Chris, kan?” Aku terdiam. Pria ini kadang berbicara terlalu frontal, tidak memikirkan situasi. “Sutt! Pelan-pelan, ih!” protesku sambil memukul pelan lengan kekarnya. Yang dipukul hanya meringis dan tertawa singkat. “Bener dong?” “Ih, bentar dulu! Aku masih mau cerita banyak” Ku lanjutkan bercerita, sambil menahan air mata. Entah kenapa, hal sepele seperti ini, nyatanya melukai hati ku. Hingga ingin meneteskan air mata. “Ya gimana ya, Kak. Kan kamu tau sendiri, aku fans S&T udah dari lama. Nah, kebetulan aku sukanya ke Chris. Jadi-..” “Kan bener kamu suka-..” Plak... Lengan kekar Galang ku yakin saat ini sudah memerah, karena beberapa kali kena pukul oleh tanganku. “Iya, iya. Sorry” Galang mengelus lengan miliknya sendiri. “Nah, terus kan... Aku ngerasa kalau perlakuan Chris ke aku tuh kek sweet banget gitu loh” “Aku juga kan sweet ke kamu” “Ih, beda.. Dia tuh kek perasaanku tuh kek... dia kek berusaha nunjukin kalau dia tertarik sama aku, peduli, perhatian dan flirty juga, gemes banget, monangis” “Trus yang buat kamu kesel tuh apa?” “Yang buat aku kesel.... Dia padahal udah punya pacar, Kak” “Tau darimana kamu?” “Ya, tau. Chris udah punya pacar emang” Di tengah sesi curhat ku bersama Galanf, aku tidak menyadari kalau sejak tadi, Jay duduk di sudut ruangan, tertutup oleh closet portable yang berisi outfit untuk manggung. Aku pun perlahan menghentikan bicaraku. Berharap kalau Jay tidak mendengar cerita ku tadi. Jay berjalan ke luar ruangan. Dibukanya pintu tanpa menoleh ke arah kami. Sepertinya, Jay bermain peran pura-pura tidak tahu. “s**t! Ada Jay ternyata, ih kenapa kamu gak bilang, Kak?!” “Lah, aku juga kan gak tau” Aku pun melanjutkan sesi curhat ini. “Dia tuh pacarnya ada, ceweknya juga banyak” “Ya kamu tau darimana sih, Ra? Nuduh orang sembarangan” “Ih siapa yang nuduh. Aku liat dia sering banget jalan bareng cewe rambut pendek yang cantik itu, loh” “Trus jalan bareng bisa disebut pacaran?” “Ya, gimana soalnya ceweknya itu-itu aja, Kak” “Trus kamu kesel karna dia udah punya pacar?” “Iya, eh engga... Maksud aku, kenapa dia harus memperlakukanku semanis itu, kalau dia emang udah punya pacar?” “Ra, coba kamu pastiin dulu itu pacarnya atau bukan” “Belakangan aku ngehindarin dia, Kak. Bahkan pas ngejenguk kamu waktu sakit, itu aku udah males ngomong sama dia” “Sekarang yang bikin kamu kesel tuh apa?” “Ya itu, aku kesel kek aku mikirnya kalo aku terlalu berharap. Sampe aku diem aja diperlakukan manis sama pacar orang. Aku ngerasa jahat banget harus nerima itu semua” “Ra, aku gak gitu paham sama kisah cinta Chris, tapi tindakan kalian sama-sama salah. Menurutku kek gitu” “Hah?” El masuk ke ruangan saat aku tengah terheran-heran dengan ucapan Galang barusan. Ku lihat El sedang membereskan tas nya di atas sofa di ruangan ini. Ia mulai mengambil airpod dan memasangnya di telinga. El mengangkat smartphonenya sejajar muka, sepertinya Ia sedang melakukan video call dengan seseorang. Tanpa bicara dan hanya senyum-senyum di depan smartphonenya. Ternyata pria aneh ini bisa senyum juga ya, batinku. “Ey yoo!” Jay masuk dan membuat kerusuhan. Sebelumnya, keadaan ruang tunggu ini cukup sunyi. Tidak ada suara berisik dan hanya ada aku dan Galang. Begitu Jay masuk, disusul oleh Haris, ruangan ini menjadi berisik dan heboh. “Jay, lo kalo kira-kira gue pelintir tuh bibir lo, masih bisa ngomong ga?” Yang ditanyai hanya nyengir-nyengir tidak jelas. “Eh, Bang Chris mana nih?” Jay bertanya. Seluruh tubuhku menegang. Aku khawatir kalau saja Jay mendengar percakapan ku dengan Galang tadi. Bisa bahaya. “Napa lo? Kangen lo sama cowok orang?” Deg... benar dugaanku. Haris memberitahu bahwa pikiran negatif ku benar. “Nggak sih. Nanya doang” Jay duduk di sofa dan bermain smartphone. Di sebelahnya, ada El yang mulai menurunkan smartphonenya. Jay tersenyum dan menyapa El. “Bang? Sehat?” “Lo kayak bapak-bapak komplek” El menanggapi. “Gue nyapa, salah. Gue tereak, salah. Apasih mau lo semua?” Jay dramatis meskipun tetap menaruh fokus pada smartphonenya. Sebenarnya kedatangan mereka bukan hal yang membuatku kesal, namun malah membuat ku sedikit gembira. Namun, yang jadi masalahnya, curhat ku tadi masih belum sepenuhnya ku keluarkan. Tapi, untung saja mereka datang di saat sekarang. Karena, kalau mereka tidak datang, pasti aku sudah menangis dan mataku pasti akan sembab saat tampil nanti. Jay dan Haris masih berbincang dan bercanda. Aku memerhatikan mereka dari tempat dudukku. Mereka bahkan bermain game dan sempat bertengkar kecil-kecilan. Hanya untuk meriuhkan suasana. Ku lihat wajah El sepertinya cukup terganggu dengan tingkah dua pria bocil ini. Ia bergerak sedikit gelisah sambil memerhatikan smartphonenya. Awan datang dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah El. Awan sedang menelefon pacarnya, Haruna. Mereka sedang bermesra dari smartphone. El terlihat curi-curi melihat layar smartphone Awan. Ting! Terlihat sebuah pesan singkat. “Ntar kita lanjut lagi” Pesan tersebut dikirimkan oleh Galang. Perasaan ku hari ini benar-benar campur aduk. Sama sekali tidak dapat kupahami. Chris datang dan mengambil tempat duduk yang jaraknya 4 kursi dari tempatku duduk. Ku kihat wajahnya muram, tidak seperti biasanya. Aku mengalihkan fokusku ke layar televisi yang ada di ruang tunggu ini. Hal ini ku lakukan agar aku tidak memerhatikan Chris, dan juga tidak bertambah kesal melihat Chris. Sebenarnya, aku sedikit kepikiran dengan perkataan Galang barusan. Ia bilang bahwa aku dan Chris sama-sama salah. Apa yang salah? Aku masih tidak mengerti. Ingin sekali ku tanyakan kepada Galang, namun di ruangan ini sudah banyak orang. Sangat tidak memungkinkan untuk ku melanjutkan curhatanku. Galang mengajakku untuk menonton penampilan artist-artist yang menjadi penampil di festival ini. Ia terus saja mengajakku berbicara. Sepertinya Ia berusaha untuk mengalihkan fokus ku dari pikiran negatif ku yang tidak karuan ini. Di satu sisi, pikiranku memikirkan penampilan kami yang akan datang. Di sisi lain, aku memikirkan perkataan Galang barusan. Dan di sisi lainnya, pikiranku masi berkutat mengenai Chris. Pikiranku bercabang tiga saat ini. Galang masih fokus menonton festivalb meskipun melalui televisi, namun Galang terlihat sangat antusias. Diikuti oleh Jay dan Haris yang berteriak tidak karuan, mengapresiasi penampilan dari balik layar televisi. Bisa saja kami menonton penampilan secara langsung, tetapi dikhawatirkan hal itu akan menyulitkan kami untuk kembali saat kami akan tampil nanti. Kondisi venue sangat ramai saat ini. Baik di dalam gedung, maupun di luar gedung. Jay dan Haris bersahut-sahutan mengapresiasi tiap artist yang tampil. Hingga saat giliran seorang wanita muda. Sepertinya penyanyi baru, karena memang sempat ku dengar kabar mengenai dirinya. “Liat tuh, gebetan bang Chris” Haris meledek. “Christopher Anderson mah gak heran. Semua cewek pasti ngaku jadi gebetan dia sih” Jay menyahuti. Chris hanya diam dan menatap dua bocil. “Kalian kalau kira-kira bibirnya gue kuncir gimana ya?” Yang digertak hanya tertawa dan bahkan terbahak-bahak. Semakin menjadi saja mereka mengganggu Chris. Oh, wait! Gebetan katanya? Hahaha... Semakin bertambah pikiran ku saat ini. Oh, please, Ravenna. Kamu tidak berhak! “Ra!” Jay menggoyang tubuhku dengan pelan. Aku menoleh dan berdehem. “Kenapa?” “Lo kenapa dah? Ngelamun mulu?” Aku menggeleng. Berusaha menetralkan ekspresiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD