Terik matahari mulai menembus ke dalam apartemen kecil tercintaku. Pagi ini begitu cerah, sinar bercahaya kekuningan itu menyambut hari ku.
Setelah tragedi jatuh karena terkejut dan rasa ketakutan malam itu, aku pulang ke apartement diantar oleh Galang. Galang sebenarnya sedikit marah kepadaku, karena lagi-lagi aku terjatuh karena memakai high heels katanya.
Hujan malam itu cukup awet, bahkan sempat menemani tidur ku. Tapi, pagi ini hujannya sudah terganti dengan hangatnya matahari.
Aku meregangkan otot-otot ku, mengangkat ke dua tangan ke atas sembari berteriak kecil. “Euaahkk. Segernya”
Ku perhatikan sinar-sinar yang masuk dan menyentuh tempat tidur ku. Karena kesadaran masih setengah yang menghampiriku, aku hanya bisa termenung melihati satu persatu pembiasan cahaya tepat di atas kasur ku. Merubah warna sprei yang ku gunakan.
Ting! Suara dering pesan dari smartphone menginterupsi kegiatan termenung ku.
“You awake?” Terlihat pesan singkat dari layar smartphone ku.
Aku tersenyum. Tentu saja aku sudah terbangun, dan saat ini sedang tersenyum.
Ku balas singkat pesan yang membuat bibir ku tertarik di kedua sisi kiri dan kanan membentuk lengkungan senyum.
“Hmmm” Sangat singkat. Sejujurnya aku menyembunyikan sikap salah tingkah di balik pesan singkat ini.
Lagi-lagi aku kalah oleh perlakuan manis dari Chris. Pria yang selalu saja membuat hati dan detak jantung ku tidak karuan. Tidak peduli seberapa besar usahaku untuk menghiraukan semua perlakuan manisnya, tapi tetap aku yang kalah.
.
Hari ini adalah D-day. Hari dimana SOS Festive diselenggarakan. Aku dan Galang sudah tiba di agensi. Perasaan ku saat ini sangat gugup, rasanya seperti perut ku mules tanpa henti.
Pikiran bercampur antara takut, khawatir, gugup dan excited. Bahkan, saat menggosok gigi pagi tadi, tanganku seperti gemetaran saking gugupnya.
Saat di mobil pun aku hanya bisa terdiam berusaha menenangkan diri ku. Melihat hanya ke arah jalanan, bahkan saat Galang memanggil pun aku hanya menyahuti dengan singkat.
S&T dan aku sepakat menggunakan baju kaus berwarna hitam dengan tulisan berwarna putih. Desain kausnya cukup simpel, hanya bertuliskan nama S&T di bagian d*ada sebelah kiri, dan logo grup S&T di bagian punggung.
Kali ini aku mengenakan sepatu loafers berwarna hitam mengkilap. Aku memasangkan mini skirt hingga seukuran paha untuk dipadukan dengan kaus S&T. Mini skirt yang ku kenakan berbahan denim dengan warna perpaduan denim dengan kehitaman, menambah kesan anak band di diriku.
Meskipun saat ini aku hanya bertugas menggantikan Jay, tapi aku juga harus menjaga penampilan ku agar sejalan dengan penampilan anggota S&T. Jay juga saat ini mengenakan baju yang sama seperti ku, hanya saja Ia memadukan dengan celana. Haha yang benar saja, masa Jay mengenakan mini skirt juga.
Beberapa rekan kerja di agensi memastikan keadaan ku hari ini. Mereka juga menyampaikan dukungan dan ucapan semangat agar mampu memberikan penampilan terbaik.
Sejak tadi aku hanya terduduk di ruang tunggu S&T, bersama dengan Chris, Awan, El, Haris dan juga Jay yang menemani kami disini. Galang sedang berada di luar mengerjakan entah apa.
Aku hanya bisa terdiam dan mengulang-ulang chord dan lirik di kepala ku. Ku manfaatkan waktu sebelum kami menuju panggung untuk mengingat-ingat bagian ku. Airpod pun sejak tadi terpasang di telinga ku. Aku mendengarkan beberapa lagu milik S&T yang akan kami bawakan hari ini.
Sesekali aku mengganti lagu dengan lagu favoritku yang ku anggap bisa menenangkan diriku. Ku ikuti irama lagu-lagu tersebut berharap dapat membuat keadaan ku menjadi sedikit rileks.
Beberapa orang yang mengajakku berbicara ku sahuti dengan singkat, karena terlalu gugup, sehingga sulit untuk menanggapi orang lain terlalu banyak.
Keadaan di ruang tunggu sekaligus ruang rias ini cukup damai, syukurlah. S&T juga sama seperti ku, merasakan gugup dan juga mengulang-ulang bagian mereka masing-masing. Ini kali pertama mereka tampil dengan orang lain, dan bukan dengan anggota lengkap.
Pintu ruang tunggu yang tertutup tiba-tiba terbuka, menampilkan Galang dengan plastik belanjaan di tangannya. Tanpa rasa penasaran aku melihat ke arah Galang.
Ia datang ke tempat dimana aku duduk, dan membuka plastik belanjaannya. “Nih”
Galang memberikanku cocholate, yoghurt, dan strawberry. Entah apa maksud Galang memberikan ku makanan di tengah kegugupan ku. Aku hanya menerimanya dan meletakkannya di meja yang ada di depanku.
“Makan nih biar gak gugup” Galang membukakan bungkus plastik chocolate yang Ia bawa tadi..
Aku mengambil chocolate yang sudah dibuka dari tangan Galang. Memakannya tanpa suara.
Seisi ruangan ternyata tengah memerhatikan kami. Galang membagikan beberapa makanan ke para staff dan juga S&T yang ada di ruangan.
Berkat bantuan Galang, makanan dan juga kata-kata dari Galang, rasa gugup ku sudah tidak seperti tadi.
Galang terus saja mengajakku berbicara dan bercanda. Sama hal nya dengan Jay dan Haris. Tiga pria itu membantuku mengatasi rasa gugup ini.
.
“Make some noise!” Chris berteriak dan kemudian mengarahkan microphonenya ke keramaian di bawah panggung.
Keadaan venue saat ini cukup ramai, sungguh ramai. Semua penggemar dari seluruh artist yang bernaung di agensi ini berkumpul.
Aku melihat dengan gugup penggemar yang ada di depan kami. Saat ini kami akan membawakan lagu ke dua.
Sejauh pengamatan singkat yang ku lakukan, penggemar sepertinya tidak terlalu menganggap bahwa aku merupakan pengganggu di penampilan ini. Tidak seperti ekspektasiku, dimana pikiran negatif menghantui ku. Menganggap bahwa penggemar akan membenci penampilan ku di antara S&T.
Suara teriakan menyambut setiap lagu yang kami bawakan. Penggemar bersahutan bersorak meramaikan suasana di venue ini.
Setelah membawakan tiga lagu berturut-turut, kami beristirahat. Aku melihat penampilan para artist dari layar yang terdapat di ruang tunggu.
Penampilan beragam konsep, dan beragam perasaan yang disampaikan. Konsep mature, love song, sad song bahkan hingga konsep semi rock ditampilkan di venue ini.
Hari ini, untuk ke dua kalinya. Aku dapat melihat penampilan S&T secara langsung. Bahkan ikut tergabung dalam setiap penampilannya. Rasa gugup tadi masih bersarang tentu saja di diriku, namun sedikit tertutupi oleh perasaan haru.
Beberapa waktu lalu, rasanya aku sedang dikuasai sesak akibat kesepian dan perasaan tidka mampu menemukan pencapaian di dalam hidup ku. Tapi, hari ini, semua terbayarkan. Semua keinginan ku, pencapaian ku, kemampuan ku ditampakkan dan diwujudkan tepat di hari ini.
Chris datang dan duduk di sebelah ku. “Masih gugup? Engga kan?”
“Engga kok”
“You look stunning” Chris menatap ke arah ku. Matanya menatap lekat pada netra ku.
D*amn! Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi. Sepertinya aku memang harus memberi peringatan kepada Chris, agar tidak kebiasaan dan terlalu sering berlaku demikian di depan ku.