Derasnya suara air hujan masih setia menemani malam ini. Menemani aku dan Chris di agensi ini. Entah kenapa saat ini terasa seperti tidak ada penghuni di agensi ini.
Chris sibuk berjalan sambil sesekali memperbaiki posisi tubuhku di punggungnya. Aku juga fokus membantu Chris, membantunya memberi penerangan agar kami tidak terjatuh.
Sejujurnya, aku tidak bisa fokus mengarahkan flashlight dari smartphone ku dan Chris yang saat ini hidup. Kaki ku saat ini benar-benar sakit dan mendenyut. Kaku rasanya dan sangat sangat menusuk tulang pergelangan kaki ku.
Aku tahu, kalau saja aku menampakkan rasa sakit ini nantinya pasti akan merepotkan Chris. Karena itu, aku menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibirku sendiri.
Kami hanya diam, tidak ada yang bersuara selain suara langkah kaki dan juga suara hujan di luar sana. Kegelapan di antara kami semakin memberi rasa canggung.
“Ravenna?”
Aku hanya berdehem. Sepertinya aku terlalu sering menanggapi Chris hanya dengan deheman singkat belakangan ini.
“Masih sakit?”
Aku menggeleng. Jelas saja hal itu tidak dapat dilihat oleh Chris. Hal itu membuat Chris berhenti dan menoleh sedikit ke arah ku. Menjadikan pipi Chris hampir menyentuh wajahku.
“Sh*it!” batinku. Dengan cepat aku menoleh ke arah lain untuk memberi jarak antar wajah kami.
Aroma Chris yang selalu jadi candu ku, saat ini menjadikan perasaan ku tidak karuan. Jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku berharap Chris tidak mengetahui keadaan hatiku saat ini.
“Ravenna?” Chris memanggil nama ku lagi. Kali ini, Ia masih berhenti dan menoleh ke arah ku.
Aku terbata dan hampir saja turun dari gendongan Chris. “H-ha ... eum engga k-kok”
Chris diam dan melanjutkan berjalan menuruni tangga. Kami masih berada di lantai tiga. Karena keadaan gelap dan beban di punggung Chris sebesar 46 kg sepertinya hal itu menjadi alasan kenapa kami berada di sini terlalu lama.
Lagi, diam di antara kami.
Setelah di lantai empat, aku meminta Chris untuk membiarkan ku kembali ke studio sendiri. Aku tahu, Chris pasti capek karena baru saja selesai latihan, namun Ia menawarkan bantuan untuk membantu ku.
“Chris?”
“Ya?”
“Aku bisa jalan sendiri” kataku frontal.
Chris diam. Ia semakin mengeratkan pegangannya di antara paha dan lutut ku. Ia bahkan membenarkan posisi ku di punggung nya yang semakin menurun tadi.
Chris berhenti dan menyentuh tangan ku yang tadinya ku letakkan di kedua bahunya. Ia tarik satu tanganku ke depan d*adanya. Kemudian, Ia tarik lagi tangan ku yang satunya untuk Ia bawa ke depan d*adanya.
“Pegangan yang erat, ntar jatuh”
Bagaimana mungkin otak ku bisa waras jika begini? Mau tidak mau aku menuruti kemauan Chris. Mengeratkan pegangan dan fokus menerangi jalan kami.
“Kamu ngapain emangnya tadi?” Nafas Chris terdengar seperti terengah.
Wajar saja, Ia harus berjalan dan mengangkat beban di punggungnya.
“Tadi di lantai lima sama empat gak ada orang”
“Trus, kamu takut?”
“E-engga”
Chris tertawa kecil. Tawanya mengundang senyum di bibir ku. Sh*it pria ini tidak bisa sehari saja tidka membuatku gila.
Padahal beberapa hari ini, sukses sudah niat ku untuk mengurangi interaksi dengan Chris. Meskipun tidak seratus persen berhasil, tapi minimal sudah tercapai enam puluh persennya.
“Kamu kenapa gak nelfon aku?”
“Nelfon?”
“Kamu belum save nomor aku?”
“Hah? A-aku-...”
Chris tertawa lagi. Lalu membenarkan posisi ku di gendongannya, lagi.
Chris berhenti dan mengambil smartphone nya dari tangan ku. Entah apa yang dilakukannya, karena aku sengaja tidak memerhatikan kegiatan yang Ia lakukan di smartphonenya.
Smartphone ku berdering. Karena tadi aku menerangi jalan kami menggunakan smartphone Chris, akupun menyimpan smartphoneku di kantong celana ku.
Aku bergerak merogoh kantong celana ku untuk mengambil smartphone. Tertulis jelas di layar, Chris yang menelepon.
“Itu nomor ku, save aja kalo mau” katanya dan mematikan teleponnya.
Diberikannya lagi smartphone nya kepada ku dalam keadaan tidak terkunci. Layarnya bahkan masih berada di aplikasi telepon. Terlihat oleh ku riwayat telepon di smartphonenya.
“Joey” Nama yang tertulis di riwayat telepon Chris.
Aku dengan cepat membalikkan smartphone Chris, dan menyimpan smartphone ku di balik smartphone Chris.
Joey adalah seorang penyanyi. Wanita muda sukses dan cantik yang bertalenta memiliki vokal yang indah. Joey lah orang yang menjadikan Chris tidak tidur karena mengaransemen lagu milik nya beberapa hari lalu, saat Chris meminta bantuan Sam dan tim ku.
“Lain kali, kalau kamu takut di agensi sendirian, telfon aja aku”
“Aku gak takut”
Chris tertawa lagi. “Aku seneng”
“Kenapa?”
“Kamu udah mau ngomong sama aku lagi”
Aku sedikit terkejut saat Chris mengatakan itu. Aku membenarkan sedikit posisi pegangan tanganku. “Kapan emangnya aku gak mau ngomong sama kamu?”
“Entah cuma perasaanku aja atau gimana, tapi aku ngerasa akhir-akhir ini kamu ngejauhin aku”
“Engga kok”
Chris diam. Kami saat ini sudah berada di depan studio ku. Aku berusaha membuka pintu studio.
Chris mendudukkan diriku di sofa. Ia juga ikut terduduk, sepertinya Ia capek karena menggendong ku dan berjalan menaiki tangga dari lantai tiga hingga ke lantai lima.
“Makasih ya, maaf aku-..”
“No worries” katanya sambik tersenyum.
Sekali lagi, aku mengagumi ketampanan Chris dalam gelap.
Chris bergerak dan melihat ke arah kaki ku. “Yang ini?”
Aku berusaha menghindari tangan Chris. Sejujurnya kaki ku masih terasa sakit, tapi karena tadi sempat ku istirahatkan dan tidak bergerak cukup banyak, jadi rasa sakitnya sedikit mereda.
“Udah gak sa-...”
“Ini? Lebam loh ini”
Chris menunduk dan duduk di lantai. Ia angkat sedikit kaki ku, Ia minta izin terlebih dahulu untuk membuka sandal ku.
“Sakit?” Disentuhnya pergelangan kaki ku yang terlihat sedikit lebam.
Aku menarik kembali kaki ku yang saat ini dipegang oleh Chris. “Udah gak sesakit tadi, gak apa-apa kok, aku ada obatnya”
“Ada? Dimana?” Chris langsung bangkit dan menelusuri studio ku. Mencari kesana kemari obat yang ku maksud.
“Di lemari itu, bentar biar aku aja yang ambil” Aku berusaha berdiri dan mengambil obat tersebut.
“Hati-hati, Ravenna. Biar aku aja, disini kan? Ku buka ya”
Chris melangkah ke arah yang tadi ku sebutkan. Aku hanya bisa terduduk dan membiarkan Chris melakukan semuanya. Jujur saja, rasa sakitnya bertambah saat ini.
Chris duduk di lantai dan menyentuh pergelangan kaki ku. “Sini, maaf ya”
Chris mengoleskan krim pereda lebam ke kaki ku. Tiba-tiba smartphone ku berdering. Menampilkan nama Galang di layarnya.
“Halo?”
“Iya, disini gelap banget.”
“Kamu kapan kesini? Aku mau balik ke apart aja deh”
“Oke. Aku tunggu di studio ya”
Chris masih mengoleskan krim di kaki ku, dan sesekali memijatnya pelan. Sentuhannya gentle dan mild.
Keadaan agensi masih gelap. Kami hanya memanfaatkan penerangan dari smartphone.
“Kamu suka pake high heels ya?”
“Ya”
“Kenapa?”
“Gak apa-apa. Cantik soalnya”
“Ya, cantik” Chris menoleh melihat ke arah ku.
Chris mengalihkan pandangannya ke arah pintu studio, arah sebaliknya dari posisi ku duduk. Ia bergumam pelan. “Kamu ... cantik”
“D*amn!” batinku.