“Kamu gak capek, Ra?” tanya Galang sambil membukakan botol minuman green tea yang kami beli saat menuju ke agensi.
Aku lebih dulu menenggak green tea kesukaan ku setelahnya baru ku berikan gelengan kepada Galang. Galang hanya menatapku dan memilih duduk di sofa sedangkan aku duduk di kursi kerja.
“Aku balik ke venue lagi ya, mau bantu-bantu” kata Galang.
Sebenarnya aku juga ingin membantu orang-orang yang ada di venue, tapi karena aku juga memiliki pekerjaan lain di agensi. Jadi, Galang tadi hanya mengantarkan ku ke agensi.
Aku melanjutkan apapun yang dapat ku kerjakan di studio ku. Bermain bersama layar komputer di meja kerja ku. Menikmati lagu-lagu yang telah ku ciptakan. Berniat untuk mengecek kembali apakah terdapat kesalahan atau tidak.
Sebelum ke agensi, aku meminta Galang untuk berhenti di swalayan di pinggir jalan. Aku ingin membeli beberapa chips dan minuman yang akan menemani ku di studio.
Ku buka chips yang ku beli tadi. Ku nikmati sebelum aku melanjutkan kembali kegiatan ku. Aku menikmati waktu sendiri ini sambil mendengarkan masterpiece dari band favoritku.
Jika kalian ingat, band itu yang pernah ku tanyakan ke Chris saat di mobil. Yang sempat membuatnya salah paham.
Keadaan agensi yang cukup sunyi tadi membuatku memberanikan diri untuk menyanyi dengan sedikit lebih keras. Aku menggumamkan lirik-lirik indah dari lagu yang berjudul Affection. Bukan contoh yang baik memang, saat ini aku menyanyi sambil mengunyah chips haha.
Aku membuka jendela studio ku yang mengarah ke luar. Memberikan angin malam yang sejuk menerpa kulit ku. Suara kenderaan yang melewat agensi menyahuti nyanyianku.
Saat ini baru pukul 20.00, namun angin malam sudah snagat menyejukkan studioku. Ditambah dengan dinginnya air conditioner yang ku setel hingga 18 derajat celcius.
“I think of you”
“I want you too”
“I’d fall for you”
Lagunya cukup mendamaikan malam ku. Untung saja mood ku malam ini menyanyikan lagu-lagu dream pop dengan alunan santai. Jadi tidak terlalu menyebabkan suara berisik jika ku dengarkan di malam seperti ini.
Hujan ternyata menyambut nyanyian ku. Dari jendela terasa rintik-rintik yang tanpa seizin ku hadir di studioku.
Aku bangkit dan menutup jendelanya, tapi tidak dengan tirainya. Jendela yang basah dialiri air hujan merupakan salah satu pemandangan favoritku. Memberikan kesan healing di diriku.
Suara deras hujan juga menembus studio ku malam ini. Lagu-lagu yang ku putar berpadu dengan derasnya suara air hujan yang menampar jendela kaca studio ku.
Malam ini hujannya terlalu deras. “Semoga gak mati listrik” gumamku.
Dan...
Deg! Studio ku sepenuhnya gelap.
Hanya ada penerangan dari luar jendela dan smartphone ku. Untung saja tadi aku tidak menutup tirainya.
Aku meraba sekitar ku untuk bangkit dari kursi kerja yang ku duduki. Ku bawa smartphone ku untuk keluar dari studio.
Entah kenapa studio jadi benar-benar mati listrik setelah ku gumam kan tadi. Kukira hanya studioku yang gelap, ternyata seisi agensi juga gelap.
Ku beranikan diri untuk berjalan ke luar, memastikan tiap ruangan juga mati listrik. Sekaligus mencari teman, gelap seperti ini membuat bulu kuduk ku meremang.
Berjalan dengan pelan aku menuju ke lantai bawah. Di lantai lima sama sekali tidak ada orang. Hanya aku sendiri ternyata sejak tadi.
Karena keadaan listrik yang mati, aku pun menggunakan tangga untuk turun. Cukup menyeramkan, berjalan sendirian, sedang hujan, dan juga gelap seisi agensi.
Pikiran takut pun menguasaiku. Cepat-cepat aku menuruni tangga untuk melihat di lantai berapa dan ruangan mana yang berpenghuni untuk menemaniku.
Dengan kecepatan kilat, aku tiba di lantai tiga. Di sini ku lihat ada penerangan di salah satu ruangan, sepertinya ada orang di sana.
Aku berjalan menuju ruangan itu. Karena gelap, jadi aku tidak dapat membaca nama ruangannya. Meskipun ada penerangan dari smartphoneku.
Tiba-tiba terdengar suara decitan pintu, menandakan seseorang membuka pintu.
Perasaan takut yang sejak tadi menguasaiku membuat aku mengambil langkah ceroboh.
Dan...
Brug!
Aku terjatuh karena hendak segera berlari mendengar suara pintu itu. Bodohnya aku.
Aku pun segera bangkit, tapi kaki ku terasa sakit.
Untung saja aku mengenakan celana hari ini. Jadi, tidak akan ada lagi kejadian rok ku yang robek.
Aku berusaha bangkit dan memijat pelan pergelangan kaki ku yang sakit. Lagi, aku terjatuh di agensi ini.
Sepatu yang ku kenakan saat ini memiliki hak 5 centimeter. Tentu saja hak tersebut memiliki andil besar dalam membuatku terjatuh.
“Ah! S*hit!” gumam ku pelan saat ku rasa ada seseorang menyaksikan aku terjatuh di koridor ini.
Terdengar suara langkah kaki dari belakang ku. Sepertinya orang itu berjalan ke arahku. Terlihat juga cahaya flashlight ke arah ku. Sudah pasti Ia berjalan ke arahku.
D*amn!
Aku tidak berani membalikkan tubuh untuk sekedar melihat siapa orang itu. Perasaan takut dan malu bercampur jadi satu.
Suara langkah kakinya semakin dekat, seirama dengan detak jantungku dan denyut di kaki ku. Aku masih berdiri membelakangi sumber suara tersebut.
Hingga tiba-tiba seseorang menepuk bahu ku. “Ravenna, kamu gak apa-apa?”
D*amn! It’s Chris.
Dengan pelan aku membalikkan tubuhku melihat ke arah Chris. Dalam hati aku berharap Ia tidka menyadari jika aku yang terjatuh disini.
Aku masih diam dan berusaha melihat dengan jelas ke wajahnya.
Chris menyenter ke arah lantai, memerhatikan sekeliling dan juga kaki ku.
“Tadi aku denger suara keras, kamu jatuh? Kamu gak apa-apa?” katanya masih memerhatikan kaki dan wajahku.
“Aku gak apa-apa kok” kataku sambil berusaha berjalan menjauhi Chris. Berniat untuk berjalan ke tangga menuju ke studio ku kembali.
“ah! Aww!” pekikku ketika kurasakan sakit di pergelangan kaki ku.
Rasanya sakit sekali. Seperti saraf-saraf di kaki ku tertekan.
Chris langsung sibuk memerhatikan diri ku. Sepertinya Ia berusaha untuk menemui titik sakit yang menyebabkan aku memekik kesakitan tadi.
Refleks aku memegang pergelangan kaki ku. Menekannya untuk mengurangi rasa sakitnya. Tidak ada darah atau apapun terlihat di pergelangan kaki ku, tapi rasanya sakit bukan main.
“Kaki kamu sakit? Yang ini?” katanya berusaha memegang pergelangan kaki ku.
Aku menggeser sedikit kaki yang disentuh oleh Chris. Berusaha melawan sentuhan dari Chris.
“Gak apa-apa gimana? Kamu dari tadi nahan sakit kan? Pegang ini” Chris memberikan smartphone nya untuk ku pegang.
“Mau ngapain?”
“Mau bawa kamu ke dalem biar bisa duduk”
“Engga, aku balik ke studio aja”
“Yaudah aku gendong ya” Chris langsung membungkukkan badannya. Tanda Ia akan menggendongku.
“Hah? Ih gak usah”
“Terus maksud kamu aku bakal biarin kamu naik tangga ke lantai lima sendirian? Dengan kaki kamu yang sakit kayak gini?”
Chris masih membungkukkan dirinya, dan menghadapku. “Gak usah, Chris. Aku gak-..”
“Gak ada penolakan, Ravenna. Ini gelap, ntar kamu jatuh lagi” Chris langsung mengangkat tubuhku di punggungnya.
Mau tidak mau aku menerima permintaan Chris. Benar katanya, ini gelap. Lagipula, sakit kaki ku semakin menjadi saja.
“Chris, ini naik tangga loh”
“Ya memang, siapa bilang naik lift”
Kami berjalan menaiki tangga ke studio ku. Lebih tepatnya hanya Chris yang berjalan.