Rehearsal--Ravenna's POV

1040 Words
Suara berisik dari peralatan dan properti yang digeser kesana kemari menghiasi venue. Orang-orang lalu lalang melewati ku sambil berteriak entah apa. Hari ini adalah hari dimana para penampil melakukan rehearsal. Salah satunya S&T dan itu berarti aku akan mengikuti rehearsal. Kali ini, Jay juga ikut hadir untuk memonitor penampilan kami. Ia datang dalam keadaan hati senang sepertinya, wajahnya tersenyum ceria. Ya, meskipun Jay juga akan selalu menampilkan wajah ceria setiap waktunya seperti biasa. “You can do it!” Jay mengangkat tangan kirinya yang dikepal sejajar kepala. Jay menyemangati ku. Ia tahu bahwa aku gugup, karena ini kegiatan rehearsal pertama ku setelah dua puluh tiga tahun aku hidup. Galang menemani ku di sini. Syukurlah, saat ini Galang sudah sembuh, jadi Ia bisa menemaniku sekaligus membantu menghilangkan gugup ku. Tangan ku rasanya dingin. Jantung berdegup kencang tidak karuan, bahkan mengalahkan suara drum milik El. Sejak hadir di venue, aku memegangi tangan ku, menautkan jari jemari dan memijitnya. Saking gugupnya, aku memijit jari-jari ku terlalu kuat hingga memunculkan kemerahan di sana. “It will be okay” Chris datang dan mengambil tangan ku yang sudah memerah. Aku memberi tatapan tajam kepada Chris. Berani-beraninya pria ini menggenggam tanganku. Gugup ku semakin bertambah kalau seperti ini. Susah payah aku mengatur hati ku agar tidak terperdaya oleh perlakuan Chris, tapi dirinya dengan santai menggenggam erat tanganku. Oh Tuhan. El datang dan berbicara kepada Chris. Aku hendak melepas genggaman Chris, tapi Ia malah menyembunyikannya di balik tubuhnya. Tanganku bahkan Ia genggam dengan ke dua tangannya di balik tubuhnya. Aku berusaha menyembunyikan wajah kesal ku pada Chris. Kesal karena Ia bahkan tidak terlihat mengkhawatirkan pandangan orang lain jika melihat kami. Aku mencoba menampilkan wajah netral pada El yang berada tepat di depan Chris. Chris mengelus pelan punggung tangan ku di genggaman nya. Cukup lama, hingga El pergi dan Ia bawa tanganku ke depan tubuhnya untuk Ia genggam kembali. “Gak papa kalau kamu gugup. Ini pengalaman pertama mu kan? Gak papa, ikuti alurnya, kontrol diri mu. Kalau kamu buat kesalahan juga gak apa kok. Anggap kita disini untuk bersenang-senang” jelasnya dengan suara pelan. Syukur saja kami berdiri di belakang dan tertutup dengan beberapa properti besar. Jadi, tidak terlalu banyak orang yang bisa melihat kami saat ini. Keadaan venue juga cukup gelap. Aku menatap tanganku yang digenggam oleh Chris. Sesekali ibu jari Chris mengelus punggung tanganku. Membuat hati ku melemah, gugup ku juga dengan ajaib mereda. Chris menautkan jari-jemarinya ke milikku. “Maaf ya, aku genggam tangan kamu kayak gini. Aku gak mau kamu nyakitin tanganmu sendiri untuk meredakan gugup mu” Ku pandang lekat wajah pria yang menautkan jari-jarinya ke jari ku. Ia terlihat fokus memerhatikan orang-orang yang sibuk membereskan venue. Wajahnya lurus ke depan. Tampan. Aku hanya bisa terdiam. Berharap gugup ku mereda. Ajaibnya, genggaman dan elusan Chris di tanganku bisa meredakan gugup ku. Setidaknya tidak segugup tadi, saat aku memijat dengan kuat jari-jari ku. Chris menoleh dan menatapku. Diberikannga senyuman paling manis yang selalu jadi candu ku. Setelahmya Ia meninggalkan ku dan berpesan untuk selalu mengontrol diriku. Aku terdiam di antara properti yang sedari tadi memisahkan ku dari kerumunan di venue ini. “Terima kasih, Chris” cicitku pelan sambil melihat tangan yang sedari tadi nyaman di genggaman Chris. Aroma Chris tinggal di tanganku. Saat ini, tangan ku penuh dengan wangi pria itu. Wangi sensual dan sweet serta mature persis seperti karakternya. Sayangnya, aku tidak dapat memiliki pria yang luar biasa sempurna menurut ku. Andai saja... “Ra..” Terdengar suara Haris memanggil ku dari kejauhan. Aku menoleh dan mendapati Haris bersama Awan berjalan ke arah ku. “Kamu ngapain di sini. Dicariin tadi sama bang Galang” Aku pun mengikuti langkah Haris dan Awan. Terlihat El dan Chris sedang mengecek peralatan untuk tampil. Galang dan manager juga terlihat berdiri di depan stage untuk membantu Chris dan El mengatur posisi sesuai kemauan mereka. El menatapku datar saat aku memasuki stage. “Gak ada kesempatan salah chord buat lo, walaupun ini masih rehearsal” Aku hanya mengangguk mendengar warning dari El. Chris yang sepertinya mendengar perkataan El, memberikan tatapan pada diri ku. Kemudian Ia tersenyum. Senyum itu yang menjadikan gugup ku mereda setelah diwarning oleh El. “Ok! On your position!” Produser directing memerintah dari microphone yang terdengar jelas di in-ear ku. Rehearsal dimulai dari lagu pertama yang kami bawakan. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk mengontrol diriku. Aku memastikan pada diriku untuk sebisa mungkin tidak berbuat kesalahan. Pikiran ku dibayangi oleh kalimat Chris. Aku pun mengikutinya, meganggap bahwa kami disini sedang bersenang-senang. Ku beranikan diri untuk menatap kerumunan di depan stage. Di sana terlihat Galang dan Jay juga manager S&T memonitor penampilan kami. Dari lagu pertama hingga lagu terakhir yang kami bawakan, Haris, Chris dan Awan berusaha membantu ku tampil lebih percaya diri di stage ini. Mereka bergantian mendatangi ku berusaha menambah keseruan, jadi aku bisa melupakan rasa gugup ku. Biasanya aku hanya dapat melihat mereka dari layar smartphone. Melihat penampilan dan berbagi keseruan melalui sebuah video. Kali ini, aku merasakan secara langsung bagaimana keseruan itu. Bagaimana serunya menampilkan lagu-lagu, bagaimana serunya bermain gitar di atas panggung, bagaimana serunya berbagi kebahagiaan atau kesedihan melalui lirik lagu. Jujur, ingin rasanya aku menangis. Jika tadi rasa gugup menghantui ku, kali ini rasa haru yang datang. Meskipun ini masih rehearsal. Rehearsal berakhir ditandai dengan tepukan tangan dari produser director yang mengarahkan kegiatan kami. Ia juga ikut memonitor penampilan kami yang tadi direkam oleh kameraman. “Oke bagus. Jangan lupa banyak istirahat, dan kontrol diri kalian sebelum dan saat di hari h” kata produser mengakhiri sesi rehearsal untuk S&T. Sebelumnya kami juga diberi pesan-pesan singkat mengenai penampilan saat festival berlangsung nantinya. Masih ada dua hari lagi untuk kami menuju ke hari diadakannya festival. Semua berjalan baik-baik saja sesuai dengan ekspektasi kami. Kesalahan yang dikhawatirkan pun tidak terjadi. Aku berterima kasih pada anggota S&T yang sudah dengan sabar menghadapi kecerobohan ku yang selalu saja menyebabkan masalah saat sesi latihan. Kalau saja mereka tidak sabar menghadapiku, mungkin aku sudah dicabut dari label pengganti Jay Arkan si gitaris sekaligus vokal dan rapper di S&T. Tanpa terasa hari sudah menemui bulannya. Rehearsal tadi membuat kami tidak sadar, ternyata hari sudah malam. Aku kembali ke agensi bersama Galang. Keadaan agensi cukup sunyi. Karena kebanyakan ornag berada di venue mempersiapkan segala keperluan festival.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD