Aku? Kenapa emang?--Ravenna's POV

1624 Words
Chris kembali ke studionya untuk membereskan barang-barang miliknya. Sebelumnya, Ia berpesan untuk menunggu di dekat lift di lantai satu saja. Karena studionya di lantai tiga dan studio ku di lantai lima. Ku lanjutkan membereskan barang-barang ku yang tadi sempat tertunda. Ku lipat juga selimut yang tadi melilit tubuh ku. Niatnya, aku akan mencuci selimut ini sesampainya di apartement Galang. Suasana agensi sudah kembali ramai. Padahal hari ini adalah akhir pekan. Tapi, sekali lagi ku beri tahu bahwa semua pekerja disini memiliki jiwa workaholic. Selama tiga menit aku menunggu di dekat lift di lantai satu. Untung saja, ada tempat duduk di sini. Soalnya aku sepertinya sedikit pusing. Entah karena belum sarapan atau karena kurang istirahat. “Ravenna” Aku menoleh ke belakang, mendapati Chris yang baru saja keluar dari lift. Chris memberi tanda untuk segera mengikutinya ke parking area di seberang gedung agensi. Kami berjalan beriringan. Keadaan jalan yang ramai memaksa kami untuk menunggu sejenak. Jujur, aku takut ketika dihadapkan dengan jalanan. Aku terlalu takut melihat jalanan yang banyak dilalui kenderaan. Setiap kali akan menyeberang, rasa gugup pasti menghampiriku. Biasanya, Galang akan menggandeng tangan ku ketika kami akan menyeberang. Kali ini, Galang tidak bersama ku, melainkan Chris. Sudah pasti Chris tidak tahu kegugupanku tiap bertemu dengan jalanan yang ramai seperti pagi ini. Aku melihat dengan fokus jalanan di depan ku. Menoleh ke kanan dan kiri berulang-kali, memastikan kenderaan yang akan lewat masih jauh dan mengizinkan kami lewat. Chris memegang tanganku. D*amn! Chris memegang lembut tanganku. Ia bahkan menautkan jari jemariku. Ah bukan, bukan jari jemari. Hanya memegang tanganku lembut dan menuntut. Pria ini begitu d*ominan sepertinya. Aku terkejut bukan main. Ku kira Chris tidak akan mengetahui rasa gugup ku. Tapi, ternyata Ia membantu ku dalam mengatasi rasa gugup ku ini. Ku ikuti langkah Chris saat menyeberangi jalan, masih dengan tangan kami yang bertaut. Chris melepaskan tautan tangan kami, dan mempersilahkan ku untuk masuk ke mobil. Padahal baru saja aku memikirkan untuk tidak terbawa perasaan atas segala perlakuan Chris. Tapi bagaimana mungkin aku bisa. Di mobil, aku lebih memilih diam. Sebenarnya ingin ku tolak tawaran Chris saat ini. Tapib tadi Ia mengaku ingin sekalian menjenguk Galang. Mau tidak mau, aku harus menerima tawaran Chris. Mobil sudah keluar dari parking area. Sejak tadi aku khawatir berada di dekat Chris. Bagaimana jika orang-orang melihat? Bagaimana jika pacar Chris mengetahui hal ini. Ya walaupun sebenarnya aku yakin, Chris tidak mungkin memiliki niat lain selain hanya memberi tumpangan sekaligus ingin menjenguk Galang. Selama mobil berjalan, aku dan Chris hanya diam. Bahkan tidak terdengar suara musik atau suara apapun, hanya suara kenderaan di jalanan yang sayup terdengar di telingaku menemani sesi diam antara kami berdua. Chirs menoleh sebentar ke arah ku. Aku hanya melihat dari sudut mata ku. Aku tidak sama sekali merespon Chris. Apapun gerak-gerik Chris, aku memutuskan untuk tidak lagi terbawa perasaan atau merasa dispesialkan. Ini demi kebaikan hati ku. Chris berbicara pelan. “Ravenna” Aku pun menoleh ke arah nya dan hanya berdehem tanda merespon panggilannya. “Kamu kenapa?” tanya Chris to the point. “Aku? Kenapa emang?” Aku bertanya kembali kepada Chris. Jujur, aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku ini. Chris diam. Kemudian berdehem dan masih menatap jalanan dengan fokus. Tidak lagi terlihat bahwa Chris melirik-lirik ke arahku. Chris terlihat hanya fokus ke jalanan yang cukup ramai. Tangannya mengetuk-ngetuk setir mobil dengan pelan dan tanpa irama, kakinya juga terlihat bergoyang-goyang di tempatnya. Jika dari pengamatan ku selama mengenal Chris, Ia baisanya melakukan hal itu ketika sedang gugup atau ketika suasana di sekitarnya sedikit terasa canggung. Samrtphone ku berdering dan menampilkan nama Galang di layar. “Halo, iya kak. Aku lagi di jalan” Belum sempat Galang bersuara dari balik telepon, aku langsung mengatakan hal tersebut. Galang jika sudah berjauhan denganku, akan jadi lebih cerewet dari biasanya. “Aku sama Chris” “Belum kayaknya. Chris kamu udah sarapan? Belum kan?” “Belum” jawab Chris singkat masih dengan tatapan fokus ke jalanan. “Bentar lagi sampe ih manja banget, kangen ya sama aku?” “Iya sabar, aku bentar lagi sampe” Chris menoleh dan bertanya kepadaku. “Galang ya?” “Heem” Aku menjawab dengan deheman singkat dan tanpa menoleh ke arah Chris. Aku masih memainkan smartphone ku. Menggulirnya dan membuka aplikasi sosial media favoritku. Tanpa sadar Chris berhenti di sebuah lampu merah dan ternyata wajahnya sepenuhnya menghadap ke arah ku. Aku menoleh juga ke arah Chris. Melihat bagaimana wajahnya menegang namun sedikit datar. Seperti tersimpan banyak pertanyaan di wajah Chris. Masih menoleh ke arah Chris, dan dengan smartphone masih di tangan ku. Aku terheran melihat wajah Chris yang seperti ini. Awalnya aku bingung kenapa mobilnya berhenti. Setelah ku lihat di depan, ternyata sedang menunggu perintah jalan dari lampu lalu lintas. Karena itu, Chris mengambil kesempatan untuk melihat ke arah ku. Cukup lama Ia melihat ke arah ku. Aku dan Chris hanya saling melempar tatapan. Tanpa ada yang bersuara. Hingga kemudian lampu lalu lintas menyalakan hijaunya tanda kami harus segera melanjutkan perjalanan. Mobil pun kembali berjalan. Kali ini temponya sedikit lebih kencang dibanding sebelumnya. Bahkan, Chris dengan agresif menekan klakson saat ada kenderaan lain menghalangi jalannya. Aku hanya bisa diam dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa di jalan ini. Semoga segera tiba di apartement Galang dengan selamat. Sepertinya Chris kesal terhadap ku. Beberapa kali aku memberikan jawaban cukup singkat tiap kali Chris bertanya. Bahkan tadi malam saat di agensi pun aku berlaku demikian. Sebenarnya aku yang memulai semua ini. Aku yang pada awalnya terlalu bahagia dipelakukan manis oleh Chris, aku yang bahkan hingga merasa dispesialkan dan terbawa perasaan ketika melihat Chris. Namun, setelah mengetahui bahwa Chris sudah memiliki seorang wanita pujaan hati, aku pun berniat untuk mulai menunjukkan ketidaktertarikan ku akan Chris. Meskipun sebenarnya belum jelas kanar mengenai siapa wanita cantik seperti cleopatra itu. Mobil berhenti di parking area apartement Galang. Aku membuka pintu mobil tenpat aku duduk dan segera berjalan ke dalam apartement. Ku dapati Chris juga berjalan cepat mengiringi langkah kaki ku. Saat akan ku tekan tombol lift, tangan Chris lebih dulu menekannya. Saat di dalam lift pun, Chris mendahului ku menekan tombol lift. Lagi, hanya diam di antara kami. Saat menunggu pintu apartement dibuka oleh Galang pun kami hanya saling diam. Galang langsung mempersilahkan kami untuk sarapan bersama di meja makan. Terlihat wajah Galang pucat persisi seperti orang sakit. Sudah dua hari ini Galang hanya bisa menghabiskan waktu di apartementnya. Sendirian tidak ada yang menemani. Maklum saja pria dewasa ini sudah melajang sejak lama, jadi tidak ada yang mengurusnya. “Gimana kak? Demamnya masih?” “Udah lumayan kok, Ra” “Bohong kamu” kataku sambil meletakkan tangan di atas dahi Galang. Aku langsung mengambil termometer oral yang ada di di meja dekat dengan televisi, dan meminta Galang untuk mengulumnya agar bisa mengetahui suhu tubuhnya pagi ini. Yang dimintai mengulum awalnya menolak dan mengatakan bahwa dirinya sudah sembuh, namun dengan tatapan ku saja Galang sudah pasrah. “Udah sembuh apaan. Nih liat” Aku menunjukkan angka yang terlihat di termometer menunjukkan angka 38 derajat celcius. Galang hanya tertawa kecil saat melihat suhu tubuhnya sendiri. “Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus makan. Aku suapin sampe habis nasi nya” Aku menyajikan makanan yang sebelumnya sudah dibeli oleh Galang. Ku sajikan semua makanan di atas meja makan. Galang dan Chris sudah menunggu di kursi makan masing-masing. Ku buka lemari pendingin di apartement Galang. Aku berniat untuk mencari buah apel yang sehari lalu sempat ku kirimkan untuk Galang. Ternyata belum satu pun disentuh oleh Galang. “Ya ampun ini apelnya kenapa gak dimakan?” Aku mengangkat bungkusan berisi buah apel untuk menunjukkan kepada Galang. Galang hanya beralasan yang entah benar atau tidak. Dirinya bilang bahwa Ia lupa memakannya, kemudian menjawab tidak sempat, ada saja alasannya. Ku cuci apel-apel tersebut dan memotongnya untuk dimakan bersama. Terkhusus untuk Galang. “an apple a day keeps the doctor away” kataku sambil menyuapkan potongan buah apel ke Galang. Galang hanya bisa pasrah menerima perlakuan ku. Chris juga sudah ku persilahkan memakan buah apelnya sebelum menyantap nasi. Chris hanya menatap ku yang sejak tadi sibuk menyuapi Galang dengan apel-apel. Sedangkan Galang hanya bisa membuka mulutnya pasrah dan mengunyah dengan pelan. Aku paham jika saat ini Galang tidak memiliki selera makan, tapi mau bagaimana pun aku harus memastikan Galang mendapat asupan kalori dan gizi yang baik serta cukup, agar demamnya segera turun dan Galang bisa bekerja kembali. “Udah. Tuh makan nasi kamu, habis ini minum obat” dikte ku pada Galang. Galang hanya mengangguk-angguk. Aku, Chris dan Galang melanjutkan sesi sarapan yang sebenarnya sudah tidak dapat dikatakan sarapan. Saat ini sudha pukul 11.00, sudah bukan waktunya sarapan. Tapi tetap saja aku dan yang lain menikmati makanan yang kami sebut sarapan ini. “Obatnya pasti gak ada kamu minum kan?” Galang diam dan pura-pura sibuk menata piring bekas makannya. “Kak? Udah gak usah sok sibuk, biar aku yang beresin. Kamu minum obat” Aku mengambil alih piring kotor yang ada di meja. Ku bawa piring-piring itu ke tempat mencuci piring. Chris pun turut membantu. Aku membiarkan Chris membantu ku, karena sejujurnya aku lumayan capek jika harus membersihkan sendirian. Ternyata di wastafel cuci piring, masih ada bekas makan tadi malam sepertinya. Masih ada beberapa piring dan gelas kotor di sini. Mau tidak mau, aku harus mencucikannya. Chris datang dan berdiri tepat di samping ku. Chris mencoba membantu membilas piring dan gelas yang sudah ku cuci bersih dengan sabun. Diambilnya piring dan gelas tersebut, tanpa suara. Aku pun tidak menolak saat Chris bersedia membantu. Sehabis mencuci piring ini, aku harus mencuci selimut yang ku gunakan tadi malam. Ku susun piring dan gelas yang sudah dibilas oleh Chris ke rak piring yang bersih. Ku lihat di depan televisi, Galang mengistirahatkan tubuhnya. Terlihat Ia sudah tidak terlalu pucat seperti saat kami datang tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD