Aku berjalan memasuki lift menuju ke lantai lima. Sam dan tim sudah menunggu ku di studio. Sebenarnya, sudah tidak perlu kerja extra untuk hari ini, hanya saja aku sudah beberapa hari tidak ikut bekerja bersama mereka.
Tim di studio menyambutku dengan baik dan ramah. Mereka sempat bertanya mengenai progress latihan bersama S&T. Sudah larut memang, tetapi semangat kami tidak terasa sedikit pun berkurang.
Kalau ditanya, sudah pasti jawabannya capek. Namun, semua kami lakukan karena kecintaan terhadap profesi dan tanggung jawab kami. Agensi ini beroperasi setiap waktu, karena kebanyakan pekerja yang sering menghabiskan lembur dan bahkan menginap di agensi.
Aku dan tim melanjutkan pekerjaan yang memang hanya perlu sedikit sentuhan lagi. Lagu-lagu yang diamanahkan kepada kami untuk diaransemen sudah selesai.
“Wah, Ra. Thanks banget” Restu berterima kasih dan menerima satu cup americano dari ku.
Jack juga langsung mendatangi Restu untuk mengambil miliknya. “Tau banget ya kamu,ini yang kita mau haha”
Sam juga mengambil miliknya dan mengatakan terima kasih. Baru saja aku membawakan mereka americano grande size. Karena aku tahu, mereka butuh caffeine.
Saat sesi pembagian americano sambil berbincang, pintu studio tempat kami bekerja terbuka dan menampilkan Chris.
“Eh, Chris” sapa Jack dan Restu.
“Ey gimana? Dah kelar?”
“Ntar lagi nih, udah smoot sih semuanya ga perlu banyak sentuh sana-sini”
Aku tidak mengerti maksud pembicaraan mereka. Entah apa yang dibicarakan, sepertinya sebuah lagu.
“Duduk, Chris” Sam mempersilahkan Chris duduk.
Chris pun duduk di tempat yang satu-satunya bisa ditempati, tepat di sebelahku. Melihatnya ikut duduk dan bergabung dengan tim, aku pun memberikannya americano.
Aku hanya membeli tiga cup americano sebelumnya. Karena itu, aku memberikannya milikku. Chris sempat menolak, tapi karena aku memaksa untuk mengambilnya, maka Ia pun mengambilnya. Lagipula, aku tahu bahwa Chris menyukai kopi.
Ternyata Chris meminta bantuan tim untuk mengaransemen lagu miliknya yang akan dibawakan oleh seorang penyanyi. Jadi, Chris beberapa hari selama aku tidak bergabung dengan tim, Ia berada di studio untuk membicarakan lagu ini.
Sam membuka sebuah music video dan menampilkan seorang wanita cantik. Sepertinya aku pernah melihat wanita ini. Oh, Ia teman dari Jay. Aku melihatnya di postingan i********: milik Jay.
“Kalau dari sini, menurut aku suara dia cocok kekgini sih” Sam menampilkan lagu yang sepertimya sudah diaransemen olehnya di layar komputer sebelahnya.
Chris memajukan dirinya untuk melihat dan mendekat kepada layar komputer Sam. Ia hanya berdehem dan mengangguk.
Restu kemudian memberi masukan kepada Chris dan Sam. Melihat mereka berlomba memberi masukan, aku pun tertarik untuk memberikan salah satu masukan atau ide yang tiba-tina saja muncul di kepala ku.
Semuanya setuju akan ide milikku, begitu juga ide dari yang lainnya. Kami melanjutkan untuk bekerja.
Tanpa sadar, kami bekerja hingga benar-benar larut. Satu persatu dari tim sudah tertidur di sofa, menyusul juga hampir tertidur di kursi kerja, dan ada yang tertidur di lantai dengan memanfaatkan selimut tipis.
Chris, aku dan Sam masih terjaga. Sepertinya mereka berdua sudah setengah sadar, karena kantuk telah menguasai keduanya.
Studio tempat tim kami bekerja ini cukup lebar untuk diisi oleh 3-6 orang dewasa. Ruangannya juga cukup nyaman. Air conditioner disini juga masih berfungsi dengan baik, sehingga jika malam seperti ini pasti rasanya dingin sekali.
Jack dan Restu sudah mengambil posisi lebih dulu untuk beristirahat. Sam bilang bahwa mereka berdua sudah seharian penuh bekerja dan tidak pulang ke rumah masih-masing. Jadi, mereka terpaksa merasa nyaman-nyaman saja tidur di tempat seadanya dan bukan di kasur. Karena sudah kecapekan sepertinya.
Sam sepertinya sudah mengantuk, namun Ia menahannya. Tadi aku melihatnya hampir tertidur di kuris kerja. Di depan layar komputer miliknya, Ia sempat terpejam dan kepalanya sedikit menyandar pada kursi. Namun, entah apa yang membuatnya bangun kembali dan melanjutkan pekerjaannya.
Chris sejak tadi duduk di kursi sebelah Sam. Memainkan laptopnya dan mengecek pekerjaan yang tampak di layar komputer Sam di meja di depan dirinya. Sepertinya tidak ada rasa kantuk di diri Chris. Atau belum terasa kantuk entahlah.
“Ra, kamu tidur aja disini. Ada selimut tuh di drawer yang tingkat ke dua” Sam menunjuk letak selimut yang dimaksud.
“Iya, Kak. Ntar lagi, masih nanggung”
Setelahnya tidak terdengar suara apapun di studio, selain suara difusser di studio ini. Aku melihat sekeliling untuk memastikan apakah semuanya sudah tertidur atau belum.
Sebenarnya aku juga sudah mengantuk dan cukup lelah bekerja seharian. Tapi, aku hari ini mengenakan crop top dan celana denim, aku takut tim di studio merasa tidak nyaman jika menyadari aku tidur di sekitar mereka. Dan juga, aku khawatir kalau tubuhku terekspos aneh karena tidak sadar.
Chris memutar tubuhnya untuk melihat ke belakang. Aku berada tepat di belakang Chris, kemudian Ia memintaku untuk tidur.
“Kamu lebih baik istirahat dulu, udah seharian kamu latihan pasti badan kamu capek” katanya pelan. Tim di studio sudah terlelap, makanya kami berbicara dengan berbisik-bisik.
“Iya, ntar lagi”
Chris bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju drawer yang dimaksud Sam tadi. Pelan-pelan Ia berjalan dan sedikit berjinjit, karena ada Restu tertidur di lantai dekat dengan drawer. Dibukanya pelan drawer itu, dan diambilnya selimut yang ada di dalamnya.
Dibukanya lebar selimut tadi, entah untuk apa. Sepertinya Chris ingin tertidur di lantai seperti Restu.
Chris berjalan melewati Restu lagi. Dibukanya selimut yang cukup lebar itu tepat di depan posisiku duduk. “Cukup ini untuk kamu pake tidur”
Aku terheran-heran tentu saja melihat Chris. Ku kira Ia mengambil selimut untuk dirinya sendiri, ternyata selimut itu diberikannya kepadaku.
Chris menarik lembut tangan kanan ku, mengangkat laptop yang sedari tadi di pangkuan ku. Dibawanya aku berjalan ke sofa di sebelah sofa yang ditempati Jack. Disingkirkannya beberapa tas kami yang ada di sofa tersebut.
“Kamu tidur disini aja untuk sementara” katanya mempersilahkan ku duduk di sofa.
Sofanya cukup panjang jika untukku berbaring. Kemudian, Chris memberikan selimut dan memberikan tas nya untuk dijadikan bantal tidur ku.
“Damn! Wangi tas nya khas dia banget” batinku.
Chris balik ke tempatnya duduk dan melanjutkan pekerjaannya.
“Kamu kenapa gak tidur?” tanyaku
Chris menoleh ke arah ku. “Aku masih ini bentar lagi tidur”
“Udah larut banget, Chris”
Chris menatapku lama. Aku terdiam, ku kira Ia marah karena aku menyuruhnya tidur dan tentu saja hal itu mengganggu pekerjaannya.
“Imma stare at you until you fall asleep” katanya datar masih dengan mata yang fokus menatapku.
Melihat nada bicara Chris yang datar namun menuntut, aku langsung membaringkan tubuhku. Segera ku pejamkan mata agar bisa tertidur.
Perlahan ku buka mata ku dan ku dapati Chris masih melihat ke arah ku. Bahkan Ia memutar kursinya menghadap ke arah ku. Oh Tuhan.
Aku memaksa diriku untuk tidur. Walaupun dengan pikiran khawatir. Khawatir akan Chris yang hingga selarut ini belum tertidur. Sam sudah tertidur lelap di kursinya. Kepalanya Ia tumpukan pada tangannya yang terletak di atas meja. Layar komputernya pun sudah gelap.
Tidak ada lagi suara-suara di studio ini. Agensi sebenarnya tidak mengharuskan pekerjanya untuk lembur, hanya saja kami para pekerja ini kalau sudah diberi tanggung jawab, jiwa workaholic kami langsung menguasai seisi tubuh dan fungsi organ kami.
Aku memberanikan diri membuka mata, dan melihat ke arah Chris. Benar, Ia tertidur dengan laptop masih setia terbuka di pangkuannya.
Chris saat ini mengenakan kaus tanpa lengan berwarna hitam dengan celana pendek berwarna hitam juga. Kulit putihnya sekilas terlihat memerah karena terpaan dingin dari Air Conditioner yang ku lihat suhunya disetel hingga 16 derajat celcius.
Aku yakin dan sangat yakin, Chris kedinginan. Aku langsung bangkit dan memberikan selimutku pada Chris. Dengan pelan ku lampirkan selimut yang tadi Chris berikan untukku ke tubuhnya.
Chris terbiasa menggunakan baju kaus tanpa lengan sepasang dengan celana pendeknya. Tidak peduli cuaca dingin sedang hujan ataupun cuaca sedang terik-teriknya.
Aku meninggalkan studio tempat kami bekerja, hendak menuju ke studio ku di ujung lorong di lantai lima ini. Dengan pelan aku berjalan dengan sedikit berjinjit, khawatir mereka akan sadar karena suara yang ku buat.
Pelan-pelan aku membuka pintu studio ini, sambil memastikan mereka masih tertidur. Sesekali kepala ku menoleh memastikan orang-orang yang ada di studio ini tertidur lelap.
Aku berniat untuk tidur di studio ku saja. Lagipula, jarak studio ku dengan studio tempat tim ku bekerja tidak cukup jauh. Jadi, sepertinya tidak akan jadi masalah kalau aku menghilang dari mereka untuk malam ini saja. Hahaha.
Aku berjalan sendirian di koridor lantai lima ini. Cukup menyeramkan juga ternyata. Tidak ada satupun orang tampak di lantai lima ini. Sepertinya, mereka memilih beristirahat di studio masing-masing. Ya, jelas lah. Tidak mungkin kan kalau mereka istirahat di koridor.
Ku buka pintu studio ku. Ku hidupkan lampu dan Air Conditioner serta difusser untuk menjaga kelembaban udara di studio ini.
Menguar aroma citrus di studio ku. Aku sengaja memilih pewangi ruangan dengan aroma citrus. Beberapa sumber mengatakan bahwa aroma citrus baik untuk merelaksasi pikiran dann mampu mengatasi depresi serta kecemasan yang sering kali muncul di diriku. Juga, aroma citrus bisa mengatasi flu dan pilek. Aku memiliki kebiasaan akan mengalami flu atau pilek jika berada di tempat yang terlalu dingin.
Ruangan yang tidak terlalu luas dilengkapi satu unit air conditioner tentu terasa sangat dingin untuk ku. Makanya, aku sering kali mengalami flu jika terlalu lama di studio ini.
Aku memposisikan diriku berbaring di sofa. Di studio ku tidak terdapat satupun selimut, hanya ada bantal. Jadi, mau tidak mau aku harus menahan rasa dingin ini.
.
Aku terbangun karena suara smartphone ku berdering. Sepertinya sudah beberapa kali berdering, namun karena aku tidur terlalu lelap, jadi aku tidak mendengarnya.
“Halo” jawabku tanpa melihat siapa yang menelepon.
Ternyata Galang yang meneleponku. Ia menanyakan apakah aku sudah di apartemen atau masih menginap di agensi. Ia juga bertanya apakah aku sudah sarapan atau belum.
Galang akan jadi sangat cerewet persis ibu-ibu yang kehilangan tupperware, jika aku masih bekerja hingga larut. Apalagi, jika Galang tidak berada di dekat ku, pasti setiap waktu Ia meneleponku, menanyakan apapun yang muncul di pikirannya. Ia terlalu khawatir.
Selesai menerima telepon dari Galang, aku pun bangkit hendak bersiap untuk pergi ke apartemen Galang. Aku sudah janji untuk membantu Galang di apartement. Saat ini Galang sedang sakit, hanya demam tapi tetap saja Ia membutuhkan bantuan.
Ku buka selimut yang menutupi tubuh ku. Aku berdiri dan mengambil tas yang ku letakkan di atas meja kerja ku. Oh, tunggu.
Sejak kapan aku memiliki selimut. Aku terdiam mematung di depan meja kerja ku. Berusaha mengingat selimut milik siapa ini.
Ku dekati selimut yang tadi ku lempar sembarangan di atas sofa, ku coba mencari tahu siapa pemilik selimut ini. Dan aku baru ingat, ini adalah selimut yang tadi malam ku gunakan dari studio milik Sam.
Warna dan motifnya sama. Hanya saja, aromanya yang sedikit berbeda. Aromanya seperti...
Ah, ini aroma Chris. Oh Tuhan, ini selimut yang tadi malam ku berikan untuk Chris di studio Sam.
Kenapa bisa sampai ke studio ku? Bahkan saat bangun tadi, selimutnya sudah ada di atas tubuhku melilit rapi. Apa jangan-jangan Chris yang memberikannya?
Sejak kapan Chris masuk ke studio ku? Sejak kapan juga Ia menyelimuti tubuh ku dengan selimut ini?
Sibuk aku berkecamuk dengan pikiran ku sendiri, tiba-tiba pintu studio terbuka.
“Good morning!”
Ternyata Sam yang datang. Ia menyampaikan pesan dari Galang. Ternyata Galang meminta Sam untuk memberi tahu aku bahwa Ia sudah membelikan ku sarapan.
“Kenapa gak bilang langsung ke aku deh kak Galang ngerepotin orang aja. Makasih ya kak”
“Kamu gak angkat telepon katanya, gak balas chat juga. Jadi minta tolong ke aku deh”
“Ya ampun itu udah kek emak-emak aja ya heran deh”
“Hahaha. Kamu ke apart Galang naik apa, Ra?”
“Aku naik taksi, Kak”
Di tengah perbincangan pagi aku dengan Sam, terdengar suara seseorang seperti sedang menjerit dari luar studio. “Sam!”
Orang itu datang bergabung bersama kami di sini. Aku dan Sam melihat ke arah orang itu yang ternyata adalah Chris.
“Napa?” Sam bertanya singkat.
“Itu, gue udah kirim ke email lo. Ntar diliat ya”
“Ok-...”
Belum sempat Sam menjawab, Chria bertanya kepadaku. “Kamu pulang ke apart, Ravenna?”
Aku yang tadi sibuk terpaku melihat Chris sambil berpikiran mengenai Chris yang menyelimutiku tadi malam pun menjawab dengan terbata. “A-aku ... iya. Eum Engga deh, aku ke apart kak Galang”
“Ngapain? Masih pagi-...”
Belum sempat Chris menyelesaikan pertanyaannya, Sam memotong. Sepertinya balas dendam. “Kepo bener lo! Kek pacar posesif banget ya lo, Chris. Baru sadar gue”
“Hah... engga ini g-gue...”
“Kak Galang sakit, demam. Jadi mumpung hari ini aku libur, jadi aku ke apartnya seklian bantu dan nemenin kak Galang”
Wajah Chris berubah menjadi datar kembali. Sebelumnya terlihat seperti penasaran haha lucu sekali.
“Bareng aku aja” Chris dan Sam sama-sama menawarkan tumpangan.
Aku membulatkan mata tanda aku terkejut dengan mereka berdua. Mereka pun bertatapan satu sama lain. Cukup lama bertatapan, hingga akhirnya salah satu dari mereka mengalah.
“Yaudah, sama Chris aja. Aku masih ada urusan”
“Nah iya bener. Lo harus ngurus kerjaan lo. Tadi malam gue begadang biar lo bisa lanjutin pagi ini”
Sam meninggalkan aku dan Chris di studio setelah sesi otot-ototan dan ledek-ledekan antara mereka berdua.